Sinergitas Pemberantasan Narkoba, Korupsi dan Terorisme untuk Pembangunan Sumber Daya Manusia Unggul di Era Vuca

Kejahatan Narkotika, Korupsi dan Terorisme merupakan extraordinary crime yang berdampak penghancuran sebuah bangsa. Kejahatan ini bersifat sistematis dan memiliki jaringan yang kuat sehingga mampu mempengaruhi siapa saja untuk terlibat didalamnya. Oleh karenanya perlu penguatan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh dengan tiga kejahatan tersebut diatas.

Diinisiasi oleh Kepala Badan Narkotika Nasional, Dr. Petrus R. Golose, BNN menggelar Silaturahmi Nasional dengan tema “ Sinergitas Pemberantasan Narkoba, Korupsi dan Terorisme untuk Pembangunan Sumber Daya Manusia Unggul di Era Vuca”. Acara tersebut digelar di Gedung Perkasa Raga Garwita (PRG), Polda Bali, Rabu, 24/11/2021.

 

Hadir Gubernur Provinsi Bali, Dr. Ir. Wayan Koster, MM, Kapolda Bali, Irjen. Pol. Drs. Putu Jayan Danu Putra, SH. MSi dan Tokoh Masyarakat Bali.

VUCA adalah singkatan dari Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity dan dapat artikan dimana dunia yang kita hidupi sekarang berubah denga sangat cepat, tidak terduga dan dipengaruhi oleh banyak factor yang sulit dikontrol dan kebenaran serta realitas menjadi sangat subyektif. Pengaruh terbesar dari pergeseran dunia adalaha karena pengaruh teknologi yang berkembang sangat pesat.

Kepala BNN RI, Dr. Petrus R Golose dalam orasinya mengatakan Indonesia merupakan pasar potensial peredaran gelab narkoba karena prevalensi penyalah guna narkoba yang mencapai 1.8 persen atau setara dengan 3.4 juta orang. Delapan puluh persen narkoba masuk melewati jalur laut yang sulit untuk dideteksi karena radar yang mereka pakai di matikan ujar mantan Kapolda Bali ini.

Sementara itu Ancaman Narkotika Jenis Baru atau New Psychoactive Substances (NPS) setiap saat bertambah jumlahnya. Dampaknya sangat berbahaya dan sulit untuk di deteksi.

Sejauh ini BNN telah menyita 3 ton Sabu. Apabila diakumulasi dengan pengungkapan instansi lain jumlahnya mencapai 8 ton. Dengan demikian kita telah menyelamatkan 8 juta orang dengan asumsi 8 juta ton tersebut di pakai masing-masing 1 gram setiap orang ujar Jenderal bintang 3 tersebut.

Kedepan lanjut Kepala BNN akan diatur bahwa korban penyalahguna narkoba tidak dimasukan kedalam Lembaga Pemasyarakat (LP) melainkan akan di rehabilitasi tegasnya.

Adapun upaya pencegahan yang gencar dilakukan saat ini oleh BNN salah satunya adalah pembentukan Desa bersinar (bersih narkoba) menuju Indonesia bersinar tambah Kepala BNN.

Semenara itu Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Drs Firli Bahuri, MSi mengatakan persoalan mendasar bangsa ini adalah penyalahgunaan narkoba, terorisme dan korupsi. Institusi yang lahir pasca reformasi tersebut memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar dalam menjaga bangsa ini dari tiga kejahatan tersebut diatas ujar ketua KPK memulai pidatonya.

Masalah Penyalahgunaan narkoba, terorisme dan korusi ini harus diselesai secara bersama-sama ujarnya. Ketua KPK mengajak semua anak bangsa untuk bahu membahu menyelesaikan masalah diatas.

Korupsi sambung Ketua KPK merampas Hak Asasi Manusia dan mengancam Ekonomo Bangsa. Setiap anak bangsa harus berperan menurunkan angka korupsi.

“Semua anak bangsa harus menjadi pelaku sejarah pemberantsan korupsi” ajak Ketua KPK.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorise (BNPT) Dr. Boy Rafli Amar memulai orasinya dengan menjelaskan ideologi sesat terorisme. Menurutnya

Terorisme adalah ideologi dari luar yang dipaksakan masuk ke negara kita dengan memasukan teks agama. Tujuan teroris adah menghancurkan Negara kita ujar Kepala BNPT.

Kepala BNPT mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai silaturahmi kebangsaan untuk bersama membangun bangsa.

Ideologi teroris lanjut Kepala BNPT menyebar dengan sangat cepat dengan dan korbannya banyak yang asal dari generasi muda. Mereka dilatih kemudian dikirim ke daerah konflik untuk dilatih berperang ujarnya.

“Virus terorisme sangat berbahaya tanpa kita sadari bisa masuk dan mempengaruhi seseorang paparnya.

Untuk menghindari semakin berkembangkannya ideologi terorisme Kepala BNPT mengingatkan tentang pentingnya pempedomani Empat Konsensus Nasional yaitu Melindungi segenap bangsa indonesia dan seluruh tumpah darah indonesia, mensejahterkan dan memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

BNPT berupaya memberikan penyadaran kepada generasi muda atau milenial agar mereka tidak lupa dengan sejarah bangsa ini. Dengan menyadari konsensus kebangsaan itu harapannya mereka memiliki ketangguhan dalam persaingan global di era VUCA urai Kepala BNPT.

 

Di akhir orasinya Kepala BNPT mengajak pemerintah daerah dan tokoh masyarakat yang hadir agar tidak menganggap remeh ideologi terorisme. Menurutnya ideologi terorisme tidak memandang profesi dan jabatan. Kalau kita lengah terorisme bisa masuk tutup Kepala BNPT. (Oscar)

#webinar #vuca #narkoba #terorisme #korupsi #corruption #narcotics #terrorism #teror #synergy #bersinar #sinergi #warondrugs #indonesiabersinar #BNN #KPK #BNPT

Deputi Pencegahan BNN Ajak Awak Media Gelorakan #HIDUP100PERSEN

Tagar #Hidup100Persen yang menjadi tagline baru BNN terus digelorakan oleh Deputi Bidang Pencegahan BNN melalui acara ‘Forum Diskusi Trending Topic di Kalangan Media’. Tagar #Hidup100Persen merupakan inovasi BNN dalam menyampaikan suatu ajakan kepada masyarakat untuk terus Produktif, Sadar, Sehat dan Bahagia. Kegiatan tersebut digelar pada Kamis (22/10) di Ruang Binakarna, Hotel Bidakara dengan menerapkan protokol kesehatan ketat dengan mewajibkan seluruh peserta dan panitia mengikuti rapid tes dan memakai masker dan menjaga jarak aman.

Deputi Pencegahan BNN, Drs. Anjan Pramuka Putra S.H., M.Hum dalam sambutannya mengatakan selama puluhan tahun masyarakat dicekoki informasi bahaya, akibat serta larangan  berbagai penggunaan Narkoba. Namun kenyataannya penyalahgunaan Narkoba masih saja marak terjadi. Anjan menerangkan bahwa dengan berbagai fenomena yang terjadi tersebut membawa perubahan (re-branding) citra BNN  dalam menggunakan slogan atau tagline baru yaitu #Hidup100Persen sebagai garda utama Pencegahan dan Pemberantasan Narkoba.

Berbicara mengenai kampanye Nasional, #Hidup100Persen yang digaungkan pada saat HANI (Hari Anti Narkotika Internasional) tahun 2020 ada empat komponen yaitu sadar, sehat, produktif, dan bahagia tanpa Narkoba. BNN mengajak untuk lebih aspiratif dalam menentukan pilihan hidup dan diharapkan menjadi sebuah gerakan massal, terutama bagi para pekerja media dan lingkungan Kementerian/Lembaga untuk bersama-sama digelorakan tagar ini di berbagai lapisan masyarakat”, lanjut Anjan.

Selain itu, kegiatan yang mengambil tema “Menggelorakan Kampanye Nasional #Hidup100Persen, Sadar, Sehat, Produktif, Bahagia Tanpg Narkoba” ini turut mengadirkan Direktur Informasi dan Edukasi BNN, Drs. Purwo Cahyoko, M.Si. Beliau menjelaskan bahwa yang menjadi latar belakang dalam perubahan citra BNN ini karena adanya pembangunan SDM yang unggul yang merupakan salah satu program yang dijalankan dalam 5 (lima) tahun kedepan, kemudian adanya bonus demografi di tahun 2030 – 2040 serta karakter generasi millennial atau generasi Z, “Hal inilah yang bisa dilakukan seorang generasi millennial untuk menjadikan perubahan sebagai teman dalam mencapai tujuan, yang tentunya mengarah kepada pilihan hidup 100 persen. Masyarakat atau kaum millennial ini juga membutuhkan contoh atau role model untuk hidup dengan segala alasan dan motivasi mereka, tanpa Narkoba”.

Pada kesempatan yang sama, pilihan #Hidup100Persen juga menjadi pilihan terbaik bagi Suci Arumsari, Co-Founder dan Director Alodokter yang turut hadir sebagai Narasumber dan berbagi pengalaman pribadi dalam menjalankan gaya hidup 100 persen. “Pada tahun 2011, saya mengalami kelumpuhan dan kecacatan selama 20 hari dan melihat berbagai informasi dari media yang ujung-ujungnya menggunakan obat dan menyerang tulang belakang saya, sehingga bersama dengan rekan saya,  di tahun 2014 kami membangun website Alodokter yang turut mengaktualisasi gaya hidup 100 persen. Dengan informasi-informasi yang kami bagikan melalui artikel bahwa kita perlu menjauhkan diri dari hal yang kurang bermanfaat seperti Narkoba serta Turut berkontribusi untuk menciptakan suasana kondusif di lingkungan sosial, karena kita dapat mewujudkan apapun tanpa Narkoba”, cerita Suci.

Dalam menggelorakan kampanye nasional tagar #Hidup100Persen ini pun, Deputi Bidang Pencegahan mengajak Head of Content Narasi TV, Amanada Velani untuk berbagi ilmu bagi peserta yang hadir dalam mengajak melakukan pilihan gaya hidup 100 persen. “Tujuan membuat kampanye, salah satunya adalah menarik animo masyarakat dan mengukur keberhasilan apakah kampanye kita berhasil atau tidak. Hal pertama yang bisa kita lakukan adalah kita harus mengerti target audience. Setelah itu, perlu membangun konten-konten yang inspiratif kepada masyarakat khususnya generasi Z supaya mereka bisa men-share kembali tagar yang sudah kita buat tersebut”, terang Amanda. Pada akhirnya, dibutuhkan kekonsistenan untuk membuat konten karena dengan membagikan real content, kita bisa membagikan penampilan yang menarik sehingga tagar #Hidup100Persen akan diingat dan menggelora bagi masyarakat dan mulai melakukan gaya hidup 100 persen untuk sadar, sehat, produktif dan Bahagia tanpa Narkoba di lingkungan kita masing-masing, tutup Amanda.

Peserta yang berjumlah 100 dari berbagai kalangan media, blogger, kementerian/Lembaga ini diharapkan dapat ikut menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam hal ini BNN, kepada masyarakat untuk bersama-sama memiliki pilihan #Hidup100Persen

Deputi Bidang Pencegahan Ikut Ambil Bagian Dalam Webinar Pencegahan Se-Asia Tenggara

Deputi Bidang Pencegahan BNN mengikuti webinar “Rethinking Preventive Drug Education For The New Normal” yang diselenggarakan oleh ASEAN Training Center for Preventive Drug Education (ATCPDE) yang bekerjasama dengan Dangerous Drugs Board Republic of Philippines.  Webinar ini diikuti oleh badan negara yang menangani program pencegahan narkoba dari se-Asia Tenggara yang digelar dari tanggal 7 Oktober – 11 November 2020. Deputi Bidang Pencegahan BNN diwakilkan oleh Eva Fitri Yuanita (Kasi Pendidikan), Yona Janesia (Kasi Media Daring), MSL. Senithio, Tri Agustinasari, Ratih Frayunita Sari, Wenny Juanita, Yulia Angelina dan Sri Murjiati.

 

 

Pada Rabu (21/10) perwakilan dari Deputi Bidang Pencegahan BNN, Eva Fitri menjelaskan tentang program – program Pencegahan yang dilaksanakan di tengah masa pandemi Covid-19. Sama seperti dengan negara lainnya, ada beberapa kegiatan yang terkendala dengan Covid-19, namun hal ini tidak menjadi hambatan dalam menyebarkan informasi tentang pencegahan penyalahgunaan narkoba. Kegiatan tatap muka untuk meneruskan Program Ketahanan Keluarga yang telah dilaksanakan di tahun sebelumnya serta  KIE keliling yang dilaksanakan untuk menyampaikan pesan pencegahan narkoba dan Covid-19 tetap dilanjutkan dengan memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku.

Selain itu, pemanfaatan media juga menjadi kunci dalam penyebaran informasi selama masa pandemi ini. Selain pemasangan media luar ruang dan berupa billboard dan branding moda transportasi, media sosial yang sedang menjadi tren saat ini juga dilaksanakan dengan menargetkan anak muda sebagai sasaran utama. Pada kesempatan kali ini, , Deputi Bidang Pencegahan BNN juga memperkenalkan Rumah Edukasi Anti Narkoba (REAN.id) yang merupakan platform digital yang mengajak anak muda untuk membuat konten pencegahan narkoba mereka sendiri. Program-program ini mendapat sambutan yang cukup baik dari negara ASEAN dan pihak ATCPDE berharap program-program seperti ini dapat berjalan dengan baik sehingga mungkin dapat di contoh oleh negara lain di ASEAN.

Penguatan Pembentukan Relawan Anti Narkoba

Selasa (25/08/2020) Deputi Bidang Pencegahan melalui Direktorat Advokasi kembali mengadakan asistensi untuk 40 Relawan Anti Narkoba di Hotel Bidakara, Jakarta. Para relawan ini nantinya akan menjadi agent of change (Agen Perubahan) untuk perpanjang tangan BNN dalam mengerakkan partisipasi masyarakat dalam mencegah penyalahgunaan narkoba. Asistensi kali ini dihadiri oleh Deputi Pencegahan BNN, Drs Anjan Pramuka Putra S.H M.Hum, dan Direktur Advokasi, Supratman S.H.

Mengawali acara, Deputi Pencegahan BNN memberikan sambutan dan pesan agar perwakilan dari 40 Relawan Anti Narkoba dapat memberikan informasi dan edukasi tentang P4GN dari mulai tingkatan SD sampai SMA, karna merekalah pangsa pasar potensial narkoba. Selanjutnya beliau memberikan materi tentang narkoba dan permasalahannya yang membahas bahwa Indonesia Darurat Narkoba karna demand atau pengguna narkona di Indonesia masih sangat tinggi dan berharap melalui Relawan Anti Narkoba ini dapat menurunkan demand tersebut.

Dari total pengguna narkoba, 50.3% penyalahguna narkoba adalah pekerja, ini disebabkan para pekerja sudah memiliki uang sendiri dan salah satu faktornya dipengaruhi oleh lingkungan seperti tingkat stres yang tinggi, memiliki uang & gaya hidup yang berlebihan.

Relawan Anti Narkoba juga diberikan informasi tentang NPS (New Psychoactive Substances) yang sampi saat ini sudah terdapat 892 jenis baru diseluruh dunia. Para relawam juga diperlihatkan jenis-jenis narkoba golong 1,2,3 serta efek penggunaannya yang sangat merusak tubuh. Hal lain yang harus diketahui oleh Relawan Anti Narkoba adalah Inpres No.2 tahun 2020 tentang seluruh lembaga/instansi pemerintah melaksanakan aksi Nasional P4GN. Tes urine kesetiap pekerja/karyawan merupakan contoh aksi dari Inpres serta dapat mendeteksi dini penyalahgunaan narkoba. Diakhir paparannya, Anjan Pramuka Putra memperkenalkan tagline baru dari BNN yaitu #hidup100persen dengan 4 elemen, yaitu Sadar, Sehat, Produktif dan Bahagia yang dapat diterapkan ke kehidupan sehari-hari.

Diharapkan pembekalan dan pemberian materi Relawan Anti Narkoba dan Sistem Pelaporan Relawan Anti Narkoba (SiParel) yang sudah diberikan kepada 40 peserta dapat berkomitmen dan berperan serta untuk mengajak semua masyarakat agar peduli terhadap bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba untuk menjadikan Indonesia negeri bersih narkoba.

Di hari kedua, Rabu (26/08/2020) acara dimulai dengan materi yang diberikan oleh Direktur Intelijen Brigjen. Pol. Drs. Adityawarman, M.Si yang membahas tentang Narkotika Dalam Perspektif Hukum. Sebagai Relawan Anti Narkoba tentunya ketentuan-ketentuan hukum yang terkait narkotika haruslah diketahui dan dipahami sehingga dibahaslah terkait keadaan tangkap tangan, klasifikasi narkoba dan prekusor, sumber dari Narkotika, daerah rawan peredaran narkotika, rute penyelundupan narkotika, serta sistem penegakan hukum yang berlaku yang didalamnya juga terdapat ancaman pidana serta modus operandi dalam penyelundupan narkoba.

Materi dilanjutkan oleh Dedi Dwitagama yang membahas tentang Teknik Presentasi & Komunikasi Efektif. Beliau berharap dapat menginspirasi peserta agar dapat menjadi pembicara yang hebat setelah materi yang diberikannya. Dengan melakukan games di awal materinya, Dedi meminta peserta membentuk kelompok untuk membuat sebuah presentasi singkat yang berisikan tentang bagaimana membuat suatu presentasi yang inspiratif dan bermanfaat versi mereka.

Dalam materi yang dipaparkan, Dedi memberikan manfaat yang luar biasa dari presentasi dan komunikasi seperti meningkatkan profesionalisme, memperluas jaringan, membuka kesempatan berkembang, serta meningkatkan peercayaan diri, kemampuan mempengaruhi, kemampuan belajar, serta banyak manfaat hidup lainnya. Tidak hanya itu, beliau juga memberikan banyak sekali tips-tips untuk menjadi pembicara yang sukses.

Kembangkan REAN.ID: Deputi Bidang Pencegahan dan SCI Tandatangani Perjanjian Kerjasa Sama

Senin, 24/8 Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama Sobat Cyber Indonesia (SCI) menandatangi Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang berisikan tentang Pengelolaan Rumah Edukasi Anti Narkoba (REAN).

Penandatanganan Kerjasama ini disaksikan langsung Oleh Kepala BNN Drs. Heru Winarkoa. SH, dan Pejabat Utama dilingkungan BNN diruang Patimura, Lantai 1 Gedung BNN Cawang, Jakarta Timur.

Maksud penandatanganan Perjanjian Kerja Sama ini adalah sebagai landasan kerja sama dalam melaksanakan upaya Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) secara terpadu dan saling menguntungkan guna mewujudkan masyarakat Indonesia bersih dari penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika.

Kepala BNN Drs. Heru Winarko. SH memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya Rumah Edukasi Anti Narkoba atau disingkat REAN.ID merupakan media edukasi untuk remaja Indonesia yang mampu mengekspresikan karya, menggali potensi, membangun kepercayaan diri guna memperkuat citra remaja dan untuk sumber informasi dan edukasi difokuskan untuk remaja yang membuat konten-konten positif untuk mengembangkan kreatifitas untuk hidup 100% produktif.

Sejak awal membangun Rumah Edukasi Anti Narkoba (REAN.ID) konsentrasinya adalah melindungi Generasi Muda atau Generasi Millenial dari bahaya penyalahgunaan narkoba. Oleh karena itu Generasi Muda harus sehat dan bebas dari penyalahgunaan narkoba ujar Heru.

“Awal masuk ke BNN saya berharap kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan dimana anak muda harus kita doktrin bahwa memakai narkoba itu tidak keren” ujarnya menjelaskan.

Heru berharap kerjasama dengan SCI dapat lebih maksimal dalam menyebarkan konten-konten hidup 100 persen  kepada generasi muda. Hidup 100% merupakan transisi citra BNN sebagai garda utama pencegahan dan pemberantasan narkoba yaitu dengan mengubah pola pikir otoritatif menjadi aspiratif, beku menjadi hangat,dan kaku menjadi flexibel.

Sementara itu Deputi Pencegahan BNN, Drs. Anjan Pramuka Putra. SH.M.Hum dalam laporannya  mengatakan REAN.ID merupakan flatform digital yang khusus dibuat untuk muda denga slogan “dari anak muda untuk anak muda”.

Menurut Anjan REAN.ID saat ini terdapat 1.765 orang kontributor sejak tahun lalu hingga agustus 2020 dengan kisaran usia antara 15-30 tahun.

Untuk meningkatan kapasitas REAN.ID lanjut Anjan maka Deputi Bidang Pencegahan menggandeng Sobat Cyber Indonesia dengan maksud mengajak generasi muda yang aktif bersama Sobat Cyber Indonesia untuk membuat dan menyebarkan konten positif tentang hidup 100 persen serta pencegahan penyalahgunaan narkoba. Sehingga dengan demikian masyarakat khususnya generasi muda semakin banyak yang mendapatkan informasi dan edukasi tentang bahaya penyalahgunaan narkoba ujar Anjan.

 

Ketua Umum SCI Firna Lim mengatakan pihaknya sangat termotivasi dengan adanya penandatangan perjanjian kerjasama ini.

Menurutnya konsep yang akan diberikan dalam kegiatan Rean.id ada Offline Activity dan Online Activity. kegiatan ini melibatkan kaum muda yang memiliki integritas, komunitas millenial, influencer lokal, pelajar dan mahasiswa. Target dari peserta dari mengikuti kegiatan Rean.id sebanyak 200 peserta dari berbagai komunitas, kaum millenial dan masyarakat sekitar ujar Virna.

Diakhir tahun lajut Virna ada REAN Festival yang nantinya Rean Community se-Indonesia akan berkumpul dan juga ada Rean Award dengan kategori  The Best Rean Community Of The Years, Content Rean Of The Years, Pentas Seni dari Rean Community, dan Rean Exhibition. Rean Festival ini menargetkan 10.000 peserta dari berbagai kalangan.

Turut hadir Prof. Yudho Giri Sucahyo, Ketua Umum Pengelola Domain Internet Indonesia (Pandi). Dalam kapasitasnya sebagai pakar, Yudho memberikan masukan terkait dengan pengelolaan REAN.ID. Menurutnya REAN.ID dalam bentuk rumah edukasi anti narkoba virtual dapat menjangkau sasaran (anak muda) mulai dari Sabang sampai merauke-dari miangas sampe pulau Rote. Konten yang ada harus menarik dan tidak terlalu formal ujar Yudho.

Dalam mengelola REAN.ID, aura pemerintah harus dihilangkan, karena kalau ada aura pemerintah makan generasi Z langsung berpikir yang mudah menjadi ribet ujar Yudho menambahkan. Itulah sebabnya mengapa tidak menampilkan logo BNN di REAN. ID tutup Yudho. (Oscar)

 

 

Mobile Campaign “Hidup 100 Persen” BNN dengan Komunitas Blank Blend Thonk

Sabtu (25/07/2020) Komunitas Blank Blend Thonk (BBT) bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional melalui Deputi Bidang Pencegahan melakukan Road Campaign #Hidup100persen dan Bakti Sosial di Desa Mancak, Serang, Banten.

Acara dimulai dengan Flag Off (Pelepasan) para anggota BBT yang dihadiri oleh Deputi Pencegahan, Irjen Pol. Drs. Anjan Pramuka Putra M.Hum, Direktur Informasi & Edukasi, Brigjen Pol. Drs. Purwo Cahyoko, M.Si, Ketua Pengurus Komunitas Blank Blend Thonk, James Narande dan 27 kendaraan siap berangkat untuk mengkampanyekan tagline baru dari BNN #hidup100persen.

Dalam kesempatan ini Anjan Pramuka Putra menjelaskan bahwa saat ini masih banyak narkoba yang masuk ke Indonesia ditengah pandemi Covid-19. Oleh karena itu Anjan mengajak #hidup100persen dengan komponen sadar, sehat, produktif dan bahagia yang semua harus berkesinambungan. “Karna kalau tidak sadar, kita tidak akan tahu mana yang bahaya mana yang tidak dan kita akan terpapar bahaya narkoba. Begitu pun jika kita tidak sehat tentunya akan terpapar pandemi Covid-19” ujar orang nomor satu di Deputi Bidang Pencegahan BNN itu.

Melalui Deputi Pencegahan, Kepala BNN mengapresiasi kegiatan bakti sosial yang dilakukan pada hari ini kepada Blank Blend Thonk karena merupakan bentuk nyata kepedulian sesama ditengah kondisi yang memprihatikan seperti saat ini.

Acara flag off dilanjutkan dengan pemasangan stiker #hidup100persen oleh Deputi Pencegahan pada perwakilan mobil Komunitas Blank Blend Thonk lalu secara resmi para anggota dilepas untuk berangkat menuju Serang, Banten.

Rombongan Komunitas Blank Blend Thonk beserta jajaran Deputi Bidang Pencegahan tiba di BNNP Banten untuk melanjutkan rangkaian acara campaign melalu virtual video conference, yang hadiri oleh 2 Narasumber yaitu Deputi Pencegahan, Anjan Pramuka Putra, Direktur Informasi & Edukasi, Purwo Cahyoko melalui virtual Zoom serta Kepala BNNP Banten yang diwakili oleh Kabid Pemberantasan Banten, Jemmy Suatan dan dipandu oleh Kasubdit Media Non Elektronik Deni Dharmapala selaku moderator.

Campaign dimulai oleh Anjan dengan penyampaikan apa tujuan dari #hidup100persen kepada pesera yang hadir di BNNP Banten, lalu dilanjutkan Purwo Cahyoko menginformasikan dan mengulas tagline baru dari BNN, yang bertujuan untuk mendorong dan mengajak generasi penerus bangsa agar dapat melakukan hidup yang produktif, tidak setengah-setengah. Dan tujuan terakhir dari campaign ini adalah Bakti Sosial di Desa Mancak.

Road Campaign #Hidup100Persen merupakan momentum bagi terbangunnya keikutsertaan masyarakat untuk menerapkan gaya #Hidup100Persen dengan sadar menunjukkan kepedulian mereka terhadap masalah-masalah narkoba baik yang ada sekitar mereka atau secara nasional maupun global.

Melalui semangat #Hidup100Persen, saatnya melakukan kampanye sebagai bentuk aksi nyata satu gerakan sosial hidup sehat, sadar dan produktif dalam rangka melindungi lingkungan bermasyarakat dari ancaman bahaya narkoba serta menciptakan dan mempertahankan wilayahnya untuk tetap bersih dari Narkoba.

Hidup 100 Persen dan Budaya Bersepeda

Melihat fenomena bersepeda yang merupakan salah satu pilihan dan gaya hidup dalam berolahraga dan bekerja saat ini, Direktorat Informasi dan Edukasi P4GN bekerjasama dengan Bike To Work Indonesia, menggelar Talkshow Digital Komunitas dan Masyarakat, dengan mengusung tema “Hidup100persen dan Budaya Bersepeda.

Menghadirkan pembicara, Deputi Pencegahan, Irjen Pol Drs. Anjan Pramuka Putra, S.H., M.Hum, Ketua Bike To Work (B2W) Indonesia, Poetoet Soedarjanto, Musisi sekaligus Aktivis Pencinta Alam Nugie dan Prince of Ska Denny Frust, kegiatan webinar kali ini berlangsung menarik dengan dihadiri anggota komunitas Bike To Work Indonesia.

Dalam paparannya, Deputi Pencegahan menyampaikan bahwa dalam situasi pandemi saat ini yang membatasi ruang gerak dan sulitnya perekonomian membuat tingkat stres meningkat sehingga kecenderungan konsumsi narkotika juga meningkat. “Dalam situasi pandemi, jaringan Narkotika memasukkan barang haram ini ke Indonesia. Dalam beberapa bulan yang lalu, Polri, BNN mengungkap kasus Narkoba dengan jumlah yang sangat mengejutkan. Nah, hal inilah yang kita masyarakat perlu lakukan untuk mengontrol diri yaitu sejalan dengan misi BNN dalam mengimplementasikan P4GN melalui #Hidup100Persen ”, ujar Anjan.

“Elemen #Hidup100Persen yang terdiri dari sadar, sehat, produktif dan bahagia yang merupakan semangat baru BNN dalam melindungi masyarakat Indonesia dari ancaman Narkotika melalui ajakan dan menjadi role model demi kebiasaan baik, kebiasaan yang teratur dan memberikan manfaat bagi diri sendiri serta lingkungan ”, lanjut Anjan.

Om Poetoet, demikian sapaan santai ketua B2W juga mengajak peserta yang hadir untuk melakukan kebiasaan dan hal yang baik, salah satunya adalah bersepeda. “Saya kalau stress, saya bersepeda, itu cara saya mengatasi kelelahan dalam bekerja, setelah bersepeda dan beristirahat, bangun tidur saya menjadi bugar lagi, stresnya hilang tanpa Narkoba. Bersepeda merupakan salah satu alternatif sehari-hari dalam mengimplementasikan #hidup100persen”.

Hal sama juga disampaikan oleh Nugie, yang merupakan role model dalam budaya bersepeda dari kalangan artis dan aktivis, “Sepeda merupakan sarana aktualisasi diri dari kecil, karna saya adalah anak BMX dan tumbuh besar dengan teman-teman saya yang tidak melakukan gaya #hidup100persen karna mereka terjerat penyalahgunaan Narkoba. Disini, saya mau bersaksi bahwa saya bisa dikatakan selamat dari penyalahgunaan Narkoba tersebut, karna saya melakukan kegiatan bersepeda. Sepeda merupakan faktor hemat, sehat bugar dan hebat dalam hidup saya, semoga hal ini pun bisa menyuarakan ayok #hidup100persen, ayo bersepeda dan jadikan transportasi bukan hanya sebagai hobi dan tentunya terhindar dari penyalahgunaan Narkoba”, ajak Nugie.

Lebih lanjut disampaikan oleh Denny Frust sebagai penutup mengajak peserta untuk bergerak melakukan gaya #hidup100persen melalui salah satu ciptaan lagunya berjudul “Mari Bergerak Kawan”, dalam memotivasi peserta untuk semangat menjalani hidup.

Acara yang berlangsung seru dan disertai dengan tanya jawab dari para peserta ini, ditutup dengan nyanyian yang dibagikan oleh  Nugie berjudul “Sepeda”, dan BNN sendiri tetap berupaya untuk mendorong tren bersepeda menjadi budaya dan alternatif #hidup100persen dan memulai menikmati apa yang ada dengan cara yang sederhana, dan jauh dari pikiran untuk menyalahgunakan Narkoba.

Deputi Pencegahan BNN: Dalam Sekejap Uang Hasil Penjualan Narkotika Mengalir ke Luar Negeri

Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN), Kementrian Keungan menggelar Webinar dalam rangka DJKN menuju wilayah bebas dari Korupsi dengan mengusung tema “Hidup Sehat Tanpa Narkoba Dalam Tatanan Normal Baru”. Webinar tersebut menghadirkan Deputi Pencegahan BNN Drs. Anjan Pramuka Putra, SH. M,Hum dan Ivanka Slank sebagai narasumber.

Lebih dari 800 ratus peserta mengikuti kegiatan tersebut diantaranya para Direktur di lingkungan Kementrian Keuangan, Kepala Kanwil DJKN dari Aceh sampai Papua .

Kepala DJKN  Isa Rachmatarwata dalam pengantar diskusi mengatakan permasalahan narkoba menjadi ancaman serius yang mengancam kesehatan mental masyarakat. Dia berharap kegiatan webinar ini dapat menghindarkan pegawai dan peserta webinar dari penyalahgunaan narkoba.

Penyalahgunaan narkotika lanjut Isa sangat tergantung terhadap individu itu sendiri, terutama bagaimana mengelola perilaku , stres dan tekananan dalam dirinya. Apabila tidak mampu mengendalikan itu semua maka seseorang bisa terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika ujar Isa.

DJKN yang memayungi sekitar 400 karyawan terus berupaya menjaga kesehatan fisik maupun mental pegawai agar dapat bekerja lebih produktif sambung Isa.

Deputi Pencegahan BNN Drs. Anjan Pramuka Putra. SH, M,Hum dalam paparannya mengambil tema Hidup Sehat Tanpa Narkoba dalam Tatanan Normal Baru. Diawal paparannya Anjan menyampaikan tentang kerugian ekomoni yang timbul akibat penyalahgunaan narkoba. Kerugian ekonomi menurut Anjan meliputi biaya privat dan sosial yang mencapai 84, 7 trilyun.

Saat ini transaksi narkotika papar Anjan dipermudah dengan hadirnya teknologi. Misalnya seseorang transaksi narkotika maka uang hasil transaksi tersebut dalam sekejap mengalir keluar negeri .

“Dengan bermodalkan ponsel melalui M-banking uang hasil transaksi narkotika langsung dikirim pada saat itu juga keluar negeri. Ini sangat berbahaya sekali” ulas Anjan. Pada masa pandemi ini lanjut Anjan sindikat narkoba tetap menyelundupkan narkoba ke Indonesia. Hal ini terlihat dari pengungkapan kasus oleh aparan penegak hukum.

Data BNN pada tahun 2019 tercatat 77% penyalahguna narkoba adalah kalangan pekerja. Penyebabnya adalah gaya hidup yang tidak sehat, kemampuan ekonomi yang memadai, tekanan pekerjaan yang menuntut untuk overtime dan pandangan yang keliru tentang narkoba papar Anjan.

Untuk mencegah penyalahgunaan narkoba Anjan mengajak seluruh kementrian dan lembaga melaksanakan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2020 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).

Kegiatan yang dapat dilakukan antara lain menampilkan konten-konten pencegahan penyalahgunaan narkoba di setiap kantor (melalui videotron, spanduk, banner dll),  pemeriksaan urine secara mendadak, membentuk relawan anti narkoba serta membuat aturan yang tegas terhadap pegawai atau karyawan yang terlibat dalam penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba ajak Anjan.

Sementara itu Ivan Kurniawan Arifin atau yang lebih dikenal sebagai Ivanka Slank mengatakan permasalahan penyalahgunaan di Indonesia  tidak bisa diserahkan kepada BNN maupun Polri saja. Semua elemen harus harus ikut dalam mencegah penyalahgunaan narkoba ujar Ivanka.

Menurut Ivanka, faktor coba-coba dan kondisi lingkungan yang buruk menjadi penyebab utama seseorang menyalahgunaan narkoba.

“Personil Slank mulai menggunakan narkoba diawali dengan coba-coba” kemudian mengalami ketergatungan. Pada saat itu informasi soal narkoba masih jarang jelas Ivanka.

Dalam kondisi ketergantungan narkoba, bunda Iffet (ibunda dari Bim Bim Slank) kemudian menjadi penyelamat sambung Ivanka. Atas bantuan Bunda Iffet  personil Slank mulai menjalankan rehabiltasi secara mandiri. Pada tahun 2000 Slank mendeklarasikan diri bebas dari penyalahgunaan narkoba. Hal ini dilakukan untuk menyelamatkan penggemar Slank yang ikut menggunakan narkoba sambung Ivanka.

“Setelah melewati perjuangan yang panjang kemudian Slank bebas dari penyalahgunaan narkoba. Tanpa dukungan keluarga dan teman-teman sulit untuk keluar dari jeratan narkoba,” tutup Ivan.(oscar)

BNN : Artis Bukan Target Operasi Narkoba, Dijamin!

Mengusung tema “Artis, Target Operasi Narkoba?” Deputi Bidang Pencegahan BNN menggelar Webinar pada hari Selasa, 30 Juni 2020. Menghadirkan pembicara Direktur Informasi dan Edukasi BNN, Brigjen. Pol. Drs. Purwo Cahyoko. M.Si dan public figure Rian D’Masiv, Bucek Depp dan dr. Lula Kamal, pembicaraan berlangsung cukup hangat dan mengungkap beberapa sisi lifestyle dunia keartisan. Purwo Cahyoko yang mewakili BNN mengungkapkan bahwa tema yang diangkat ini dilatari oleh masih berulangnya peristiwa keterlibatan artis dalam penyalahgunaan narkoba yang menimbulkan kesan seolah artis dijadikan sebagai target operasi.

“Hal ini tidak benar. BNN maupun Polri tidak pernah menjadikan figur tertentu sebagai target operasi kecuali bila ia memang merupakan bagian dari sindikat narkoba. Apalagi untuk sekedar menjadikan artis sebagai bahan kampanye atau mencari popularitas,hal ini tidak benar, saya jamin,” ujar Purwo saat ditemui setelah acara berakhir.

Di dalam acara, Purwo juga menjelaskan mekanisme yang dijalankan oleh aparat penegak hukum dalam mengungkap dan memproses sebuah perkara narkoba, mulai dari adanya laporan, penyelidikan, dan diikuti dengan penyidikan, dan dalam setiap tahapan ada proses-proses yang harus dijalani.

“Dalam undang-undang, selalu disebutkan “barangsiapa” atau “setiap orang”, jadi bukan setiap artis, bisa siapa saja. Bila kemudian publik figur yang terkena, kepopuleran merekalah yang membuat kasus itu kemudian terekspos luas.”ujar Purwo.

 

Dari sisi artis dan praktisi kesehatan, dr. Lula Kamal lebih menekankan kepada kehati-hatian dari kalangan artis untuk mengkonsumsi obat atau sesuatu yang meningkatkan atau menambah stamina. Memang ditenggarai tingginya tekanan fisik dan mental bagi para artis, termasuk jam kerja yang tinggi membuat artis untuk lebih hati-hati untuk mengkonsumsi obat atau vitamin.

Terkait dengan target operasi, Lula juga memandang bahwa narkoba tidak memandang bulu, siapa saja bisa terkena. “Bila ada yang mengatakan bahwa artis merupakan target operasi, sebenarnya semua yang menjadi pemakai adalah target operasi. Dan sangat menyedihkan sebenarnya saat artis yang menjadi panutan banyak orang, dan sangat berbahaya bila kemudian anak-anak muda yang mengidolakan menjadi menganggap penggunaan narkoba bukan apa-apa atau masalah,”tegas Lula.

Rian D’Masiv yang hadir langsung di BNN untuk acara ini mengharapkan artis atau publik figur untuk dapat lebih menyebarkan citra positif khususnya bagi fans-fansnya. Rian sendiri beranggapan bahwa situasi keterlibatan artis belakangan ini bisa berdampak buruk bagi profesi itu sendiri.

“Saya sebenarnya jadi kasian sama profesinya, karena artis atau musisi saat ini menjadi profesi yang menjanjikan dan banyak yang sekarang sudah menjalani pola hidup yang sehat. Jadi kita jangan menyalahkan profesinya, balik lagi ke individunya,” ujar Rian. Lebih lanjut juga dia menyarankan untuk memperkuat di tiap-tiap keluarga, memberikan contoh yang baik yang berawal dari rumah, termasuk dengan memperhatikan pola makan dan istirahat.

Turut hadir secara virtual dari Bali, Bucek Depp, memberikan pandangannya mengenai apakah artis menjadi target operasi. Mengenai hal ini ia menekankan kepada resiko para pekerja seni yang mendapat ekspose dari media dalam banyak hal, pada hal bila dilihat secara statistik penangkapan kasus narkoba tiap hari akan lebih banyak yang bukan artis.

Bila dikaitkan dengan argumen beratnya beban dan jam kerja yang menyebabkan artis menggunakan narkoba, Bucek menyarankan untuk selalu memberikan batasan jam kerja yang pada intinya memberikan waktu bagi para artis untuk beristirahat. Karenanya, harus ada batasan waktu dalam bekerja.

Lebih lanjut Bucek juga menyatakan kesetujuannya dengan tagline baru BNN, Hidup 100 persen. “Hidup ngga boleh setengah-setengah. Dalam berkat ya kita harus 100 persen, hidup harus 100 persen. Caranya dengan memperbaiki lebih dulu pola hidup kita,” tegas Bucek.

Acara ini berlangsung hangat dan disertai juga dengan tanya jawab dari para peserta. BNN sendiri tetap berupaya untuk memberikan pencerahan kepada segala lapisan masyarakat untuk selalu menjaga diri dan keluarga kita dari bahaya penyalahgunaan narkoba.

Deputi Pencegahan BNN: Tanpa Sadar Masyarakat Bisa Menjadi Bagian dari Mata Rantai Bisnis Narkotika

Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI)  bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Jumat, 26/06 menggelar Web Seminar (Webinar) dengan mengusung tema, “Pencegahan Dini Penyalahgunaan Narkoba di Masa Pandemi COVID-19 dan Persiapan New Normal”. Ratusan peserta dari berbagai daerah mengikuti webinar tersebut.

Webinar yang dimoderatori oleh Dr. Endang Mariani, M.Psi Ketua ILUNI UI menghadirkan narasumber Deputi Pencegahan BNN Drs. Anjan Pramuka Putra, SH, M.Hum dan Spesialis kedokteran kerja DR.dr Ray Basrowi, MKK, Psikolog Anak dan Remaja, Vera Itabiliana.

Anjan mengawali paparannya dengan menjelaskan kondisi darurat narkoba yang terjadi di Indonesia. Menurut Anjan geografis yang terbuka  menyebabkan narkoba  mudah masuk dan menyebar di seluruh wilayah Indonesia. Sementara itu kerugian yang timbul akibat  penyalahgunaan Narkoba  mencapai 84,7 trilyun rupiah  termasuk biaya privat dan sosial.

Saat ini sindikat narkoba tidak hanya menyasar orang dewasa, tapi sudah menyasar para remaja. Awalnya mereka terpapar sebagai pengguna dulu, apabila didiamkan maka mereka bisa menjadi kurir atau bandar narkoba ujar Anjan. Demografis yang sangat  besar  (260 juta jiwa) menjadi  pasar potensial peredaran  gelap narkoba papar Anjan.

Kondisi saat ini setiap lapisan masyarakat tanpa disadari berpotensi menjadi bagian dari rantai bisnis peredaran gelap narkoba. Kita bisa melihat mulai dari konsumsi, distribusi dan produksi.

Konsumsi narkoba melibatkan pelajar atau remaja yang masih rentan karena mudah terpengaruh ajakan untuk menyalahgunakan narkoba. Distribusi adalah adanya kelompok masyarakat dari perbatasan yang melakukan penyelundupan pengiriman ilegal. Misalnya penyelundupan ganja dari Aceh yang memanfaatkan sarana angkutan darat dan udara untuk menyelundupkan narkoba. Kemudian dalam produksi adanya masyarakat pedesaan yang masih memasok tanaman narkotika khususnya ganja. Seperti yang kita ketahui bahwa ganja merupakan tanaman yang tumbuh subur di wilayah Aceh. Namun itu sudah menjadi perhatian dari BNN melalui program Alternatif Development.

“BNN mengajak masyarakat agar tidak menanam ganja lagi dan beralih kepada komoditi stategis,” jelas Anjan

Khusus untuk remaja, lanjut Anjan, BNN telah menyiapkan flatform digital berupa website Rumah Edukasi Anti Narkoba (Rean.id) dimana melalui website tersebut menjadi wadah bagi remaja untuk menyalurkan aktivitas positif seperti membuat artikel, video dan photografi.

Sementara itu dokter Spesialis Kedokteran kerja Ray Basrowi mengatakan darurat narkoba tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi sudah menjadi krisis global. Menurut dr. Ray ada empat bidang yang sangat rentan terhadap peredaran gelap narkoba,empat bidang tersebut adalah bidang konstruksi (construction), perkebunan/pertanian (farming), manufaktur (manufacturing)  dan nonprofit. Untuk mencegah penyalahgunaan narkoba dikalangan pekerja Ray menyarankan agar adanya protokol yang jelas dan tegas untuk melindungi pekerja dari penyalahgunaan narkoba.

Narasumber lainnya Vera Itabiliana, S.Psi. dalam paparannya menjelaskan “mengapa seorang remaja menggunakan narkoba”. Menurut Vera ada beberapa hal yang memicu seorang remaja menggunakan narkoba.

Hal tersebut antara lain kebiasaan menggunakan narkoba merupakan “kelanjutan dari kebiasaan buruk lainnya, pelarian sesaat, bosan, kurang percaya diri, salah informasi dan adanya contoh yang tidak baik jelas Vera. (Oscar)