Lembaga Sensor Film Siap Bersinergi dengan BNN

Jumat, 1 November 2013, JAKARTA – Maraknya peredaran narkoba saat ini telah menjadi keprihatinan berbagai pihak, berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dan komponen masyarakat untuk memerangi dan menolak penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, namun ancaman dan tantangannya semakin memprihatinkan. Hal inilah yang melatarbelakangi Badan Narkotika Nasional menggandeng Lembaga Sensor Film dalam acara diskusi interaktif di Kantor Lembaga Sensor Film, Jakarta, Kamis, 31 Oktoberl 2013.

Lembaga Sensor Film berfungsi melindungi masyarakat dari kemungkinan dampak negatif yang timbul dalam peredaran, pertunjukan, dan/atau penayangan film dan reklame film yang tidak sesuai dengan dasar, arah, dan tujuan perfilman Indonesia.  Mulai dari film Bioskop, TV, Sinetron, Film Pendek, Iklan, dll, sebelum tayangan muncul di masyarakat harus melalui lembaga sensor film yang memiliki kewenangan, seperti;  Meluluskan sepenuhnya suatu film, Memotong atau menghapus film, Menolak sesuatu film, Membatalkan atau memusnahkan potongan film hasil penyensoran, dllnya. Tayangan yang ditonton, tentunya dapat membentuk opini masyarakat. Terkait dengan upaya pembentukan opini masyarakat, BNN menganggap Lembaga Sensor Film  mempunyai peranan penting dalam menyampaikan pesan-pesan pencegahan narkoba.

Jamalul Abidin, yang hadir dalam diskusi mengenai Peran Film dalam Pencegahan Narkoba, menegaskan bahwa narkoba sudah menjadi permasalahan bangsa yang harus melibatkan semua komponen masyarakat, “Oleh karenanya, Lembaga Sensor Film juga mempunyai peran dan tanggung jawab melalui program pembinaan masyarakat, untuk itu akan melakukan sinergi dengan BNN tentang konten-konten bahaya narkoba,” katanya.

Selanjutnya Jamalul menyarankan agar BNN mengambil langkah strategis untuk menyampaikan pesan bahaya narkoba lewat film.

Kasubdit Masyarakat BNN, Siti Alfiasih, merespon positif dengan menyatakan kesiapannya melakukan sinergi program pencegahan dan penanggulangan bahaya narkoba dengan Lembaga Sensor Film.

Sementara itu, Direktur Diseminasi dan Informasi, Gun Gun Siswadi, menyampaikan bahwa narkoba sudah menjadi ancaman serius bahkan dapat menghilangkan satu generasi,”Persentase penyalahgunaan narkoba 78 % adalah pekerja, yang dimulai dari coba-coba menyalahgunakan narkoba pada saat masih pelajar, sehingga setelah bekerja dan memiliki penghasilan masih terus pakai narkoba. Hal tersebut, tentunya sangat memprihatinkan,” kata Gun Gun.

Sedangkan Tami, merasa sangat pesimis terhadap penanganan narkoba di Indonesia, dikarenakan hukuman bagi sindikat dan pengedar narkoba tidak berjalan optimal, sehingga tidak ada efek jeranya, “Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapore, yang kedapatan membawa narkoba dengan jumlah tertentu akan di vonis mati, dan eksekusinya-pun di ekspos ke berbagai media, kenapa Indonesia tidak demikian?” tanya Tami.

Tami juga menambahkan, kalau di Eropa; pabrik narkoba adanya di tempat terpencil seperti di hutan, “Tapi di Indonesia pabrik narkoba ada di penjara, Apartemen dan Rumah Mewah, ini kan aneh?” tandasnya.

Sedangkan Suyanto, berharap agar BNN memberikan acuan tentang tayangan yang mesti di sensor, terkait permasalahan narkoba yang terindikasi sebagai penyebab tawuran dan pornografi yang bisa mengarah kepada seks bebas yang harus diwaspadai,  “Perkembangan ini harus menjadi perhatian kita bersama,” ujarnya. (pas)

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Anda boleh menggunakan HTML tags dan attribute:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>