BNNP Bengkulu Gelar Sosialisasi Bahaya Narkoba di Desa Padang Ulak Tanjung

Untuk mencegah masuknya narkoba masuk ke wilayah pedesaan, Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Bengkulu menggelar sosialisasi bahaya penyalahgunaan narkoba dengan melibatkan aparat desa, tokoh agama dan pemuda setempat.

Hal ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat agar mampu menolak penyalahgunaan narkoba. Pada kesempatan ini Kabid Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNNP Bengkulu Ridwan Arief mengutip prevalensi penyalahguna narkoba yang tergolong tinggi. Untuk itu Ridwan mengajak masyarakat untuk bersama-sama melakukan upaya pencegahan untuk menekan angka prevalensi tersebut.

BNNK Aceh Tamiang Minta Siswa Pahami Bahaya Narkoba

BNNK Aceh Tamiang hadir dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) kepada pelajar SMAN 2 Percontohan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang. Hal ini bertujuan untuk menanamkan persepsi kepada siswa efek yang sangat buruk jika terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba mengingat Narkoba sudah masuk ke lingkungan sekolah.

Hadir sebagai narasumber Staf Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNN Aceh Tamiang, Putri Zufina dan  tim.

Dalam paparannya Putri menekankan  tentang penyebab penyalahgunaan  narkoba yang mengintai generasi muda. salah satunya karena minumnya informasi serta ketidam mampuan dalam mengendalikan diri.

Oleh karena itu putri meminta siswa untuk mengetahui dan memahami bahaya penyalahgunaan narkoba. Caranya bisa melalui website BNN atau mendatangi kantor BNN untuk mencari informasi yang benar tentang bahaya penyalahgunaan narkoba.

Pentingnya Peran Orang Tua dalam Upaya Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba

Masalah penyalahgunaan narkoba yang melibatkan generasi muda menjadi momok yang menakutkan bagi bangsa ini. Generasi muda yang menjadi penerus cita-cita bangsa harusnya bebas dan bersih dari penyalahgunaan narkotika.

Hasil penelitian terakhir BNN (tahun 2017) jumlah penyalahgunna narkoba di kalangan generasi muda (Pelajar) mencapai 24 persen atau setara dengan 810.267 orang. Jumlah tersebut sangat besar dan memerlukan penanganan yang serius. Penanganan tidak hanya dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) sebagai leading sector pencegahan penyalahgunaan narkoba, tetapi unit kecil dalam masyarakat seperti keluarga juga memegang peranan penting dalam mencegah generasi muda menjadi korban penyalahgunaan narkoba.

Upaya pencegahan yang dapat dilakukan dalam keluarga antara lain menciptakan kedekatan dan komunikasi antara orang tua dan anak. Salah satu investasi waktu terbaik dan yang paling bijaksana adalah meluangkan waktu bersama keluarga. Mengapa demikian?

Interaksi orang tua dan anak sangat penting untuk menumbuhkan kedekatan di antara mereka, misalnya dengan mengobrol atau pergi bersama di waktu luang. Kedekatan ini penting untuk menciptakan rasa nyaman bagi anak-anak. Mereka semestinya dapat menganggap orang tua selayaknya teman, dimana setiap permasalahan dapat mereka sampaikan kepada orang tua. Nah, yang berbahaya adalah ketika anak tidak berani menceritakan permasalahan yang ia dihadapi kepada orang tua. Salah satu bentuk komunikasi yang dapat dilakukan orang tua adalah dengan meluangkan sedikit waktunya untuk sekadar sms atau menelepon anak-anak mereka. Anak akan merasa diperhatikan.

Banyak penelitian yang menunjukan bahwa orangtua yang sering meluangkan waktu bersama anak-anaknya seperti saling bercerita, mendengarkan dan menjawab pertanyaan mereka, maka prestasi anak akan jauh lebih baik dan memiliki sikap yang tegas dalam menolak pengaruh negatif disekitar mereka. (Oscar)

(Disunting dari beberapa sumber)

Terapkan Lingkungan Kerja Bebas dan Bersih dari Narkoba

Menjadi bagian dari suatu instansi atau perusahaan mengharuskan kita beradaptasi dengan lingkungan kerja dimana kita berada.  Menurut Sedarmayanti (2001:12) kondisi lingkungan kerja bisa disebut baik atau sesuai jika manusia bisa menjalankan aktivitas dengan optimal, sehat, aman dan nyaman. Lingkungan kerja menjadi faktor penting dalam mendukung segala kegiatan di dalamnya.

Umumnya, seseorang menghabiskan waktu 8 jam per hari untuk bekerja, sehingga sangatlah penting untuk menciptakan kondisi yang kondusif. Kondisi tersebut dapat tercipta apabila tiap individunya mampu berkoordinasi dengan baik untuk sama-sama membangun keadaan yang nyaman dan tidak mengganggu kolega lain dalam bekerja.

Tak jarang, terdapat beberapa pekerja yang terperangkap dalam dunia penyalahgunaan narkotika. Faktor lingkungan kerja yang buruk, ketidakmampuan individu untuk menolak ajakan kawan yang menawarkan narkotika, tekanan dari atasan, banyaknya pekerjaan yang belum terselesaikan dianggap sebagai penyebab pekerja menggunakan narkotika. Padahal, penggunaan barang haram tersebut tidaklah menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi. Justru menambah masalah yang membahayakan diri.

Perlu diingat, kemampuan menciptakan lingkungan kerja yang baik datang dari kerja sama tiap-tiap pegawai. Ruang kerja yang layak, tingkat kebisingan yang rendah, menyediakan fasilitas pendukung seperti tempat ibadah dan dapur serta atasan yang mampu mengapresiasi pegawainya, merupakan beberapa indikator yang berpengaruh untuk kinerja pegawai.

Cerdas bekerja dimulai dari lingkungan kerja yang aman, nyaman dan bersih dari narkoba!. (Asri)

#cegahnarkoba #stopnarkoba

Ibu Pecandu Narkoba, Bayi Terkena Dampaknya

Mengetahui bahwa seorang wanita sedang mengandung buah hati tercinta adalah hal yang sangat membahagiakan. Apalagi jika kehadiran seorang anak sudah lama dinantikan. Semua calon ibu akan sangat menjaga janin dalam kandungannya dan memperhatikan tiap asupan makanan yang ia konsumsi. Namun, bagaimana jadinya jika ibu tersebut adalah seorang pecandu narkoba?

Saat seorang wanita sedang mengandung, apapun yang dikonsumsinya juga turut dikonsumsi si janin melalui aliran darah ke plasenta. Oleh sebab itu, narkoba yang dikonsumsi oleh ibu hamil tidak hanya berbahaya bagi dirinya sendiri, namun juga memiliki efek buruk bagi si buah hati. Bahkan efek buruk penyalahgunaan narkoba oleh ibu hamil  ini juga akan dirasakan hingga si kecil tumbuh dewasa. Lalu apa sajakah dampaknya?

Saat masa kehamilan, janin sangat rentan keguguran hingga berakibat janin mati dalam kandungan. Kelainan atau cacat fisik juga dapat terjadi apabila bayi telah lahir. Jika ibu mengonsumsi narkoba dengan cara diminum, bayi juga ikut mengonsumsinya melalui ASI. Dampaknya, pertumbuhan dan daya tahan tubuh si bayi sangat lemah, ia rentan terkena penyakit. Sementara, apabila si ibu menggunakan jarum suntik sebagai media untuk pemakaian narkoba, bayi akan mudah tertular HIV dan Hepatitis C. Saat tumbuh dewasa, si anak cenderung mudah gelisah, tidak dapat berkonsenterasi dengan baik, tidak dapat mengontrol emosi dan masalah lainnya.

Penting untuk diketahui, bahwa seorang wanita yang sedang hamil kondisi fisiknya lebih rentan dibanding wanita normal. Para dokter kandungan menganjurkan agar wanita hamil banyak mengonsumsi sayur, buah-buahan segar dan susu. Tidaklah dianjurkan untuk minum obat-obatan secara berlebihan, apalagi narkoba. Sebab efek buruk bukan hanya dirasakan oleh sang ibu tetapi juga bayi dalam kandungannya hingga si bayi tumbuh dewasa.

(Asri Gartika)

Selipkan Obrolan Mengenai Bahaya Narkoba Saat Family Trip

Pentingnya komunikasi dan interaksi orang tua dengan anak menjadi kunci utama dalam membangun kedekatan emosional. Komunikasi yang baik mempengaruhi pembentukan karakter anak dalam perkembangannya. Anak menjadi lebih terbuka dan menganggap orang tua selayaknya teman sebagai tempat bercerita. Namun, dewasa ini sering kali ditemukan adanya gap antara anak dan orang tua yang disebabkan minimnya rasa percaya dan komunikasi. Terlebih, pergaulan anak zaman sekarang kerap kali lepas dari pengawasan orang tua.

Mengatasi hal tersebut, ada beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua untuk mendekatkan diri dengan anak. Agar tak terasa kaku, orang tua dapat mengadakan perjalanan wisata atau family trip. Dalam waktu-waktu senggang ajak si anak berbicara dengan santai, salah satunya tentang bahaya penyalahgunaan narkoba. Sebab, orang tua tidak pernah tahu pergaulan anak di luar rumah dan seperti apa teman-temannya.

Salah satu bentuk komunikasi yang dapat dilakukan saat family trip adalah dengan mengingatkan si anak untuk tidak menerima apapun dari orang yang tidak dikenal, memperingati mereka sedini mungkin untuk tidak merokok serta dampak yang akan didapatkan apabila hal tersebut tetap dilakukan. Menolak secara halus apabila ditawari minuman beralkohol atau diajak ke club malam.

Mendeteksi masalah narkotika sedari dini dapat dimulai dari lingkup lingkungan yang paling kecil, seperti keluarga. Peran keluarga dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkotika sangatlah penting. Selain itu, orang tua kerap kali kecolongan atas perilaku anak yang kemudian dianggap menyimpang atau aneh. Atas dasar itu lah, family trip dapat dipilih sebagai salah satu upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba. Buatlah suasana sesantai mungkin dan perlakukan si anak layaknya teman, sehingga si anak tidak merasa tertekan.

(Asri Gartika)

#HANI2018 #ListenFirst #WorldDrugDay #stopnarkoba #cegahnarkoba

Waspada Jika Anak Tunjukkan Perubahan Sikap Drastis

Sumber : Dok.Humas BNN

Jakarta, Indonesia Bergegas.com – Maraknya masalah narkoba saat ini menuntut semua orang tua harus waspada terhadap perkembangan buah hatinya. Ada empat hal yang harus diantisipasi, pertama cara dia bicara, cara dia berpikir, bertingkah laku dan emosinya. Perubahan sikap yang drastis bisa jadi dipengaruhi penyalahgunaan narkoba.

Anggota Kelompok Ahli BNN bidang rehabilitasi, dr Kusman Suriakusumah mengatakan, jika cara berbicara sang anak sudah di luar kebiasaanya orang tua harus pahami dan melakukan antisipasi. “Atau jika ada perubahan yang drastis dari bertingkah laku, berpikir dan emosinya, maka itu juga perlu untuk diantisipasi”, imbuh Kusman.

Satu hal yang juga harus pahami oleh para orang tua adalah jika sang anak menunjukkan sikap yang bandel maka itu juga bisa dipengaruhi oleh depresi. “Depresi itu karena ada sesuatu yang hilang dari dirinya, bisa perhatiannya dari orang tua yang hilang, atau hal-hal yang lainnya”, kata pria yang pernah menjabat sebagai Deputi Rehabilitasi BNN.

Hal-hal tersebut di atas harus menjadi perhatian yang ekstra karena ada kaitan yang sangat erat dengan penyalahgunaan narkoba. Karena itulah, orang tua diminta untuk lebih bijak dalam memantau tumbuh kembangnya sang anak.

Senada dengan hal tersebut, Adrian, Komisioner Komnas Perempuan juga menghimbau agar para orang terutama ibu agar menguatkan perannya dalam mendeteksi kerentanan anak-anak dari penyalahgunaan narkoba.

Berbicara masalah proteksi terhadap anak dari ancaman narkoba, Adrian juga berharap agar pihak penyelenggara pendidikan mulai memikirkan tentang program penguatan imunitas untuk anak-anak agar mereka bisa menolong diri sendiri saat sakit atau saat menghadapi rayuan dari para bandar atau pengedar.

“Dengan program seperti itu, mereka bisa menolong diri sendiri dan juga menolong orang lain”, ungkap Adrian. (bd_oen)

Hantu HIV/AIDS Dibalik Penggunaan Narkoba

Penggunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba), tidak pernah membawa dampak positif. Pasalnya, penggunanya jadi rentan terhadap banyak risiko, salah satunya HIV/AIDS–penyakit yang hingga kini, belum bisa disembuhkan.

Data yang dikeluarkan World Drug Report (2016) menyebutkan, setidaknya satu dari tujuh pengguna narkoba menderita penyakit HIV/AIDS. Kemungkinan seseorang terjangkit penyakit mematikan ini bahkan akan meningkat sebanyak tiga kali lipat, terlebih jika ia mengonsumsi kokain dengan cara menyuntikkannya ke dalam tubuh.

Sementara itu, penyebaran HIV/AIDS di kalangan pemadat termasuk cepat, lantaran didukung hubungan seksual berisiko (tidak menggunakan kondom/pengaman). Masalah lain muncul, sebab gairah seksual pengguna narkoba biasanya merupakan dampak dari narkoba itu sendiri. Adapun penggunaan narkoba jenis kokain, methamphetamine, dan inhalasia nitrit mendorong si pemakai untuk melakukan hubungan yang berisiko.

Tidak Berhenti

Risiko semakin bertambah, apabila perempuan yang berhubungan badan dengan pemakai hamil. Kendati tidak 100%, dapat dipastikan bayi yang ada di dalam kandungan memiliki risiko besar terjangkit virus HIV. Adapun risiko lain yang mungkin dialami, yakni tumbuh kembang yang tidak sempurna (cacat bawaan) atau justru terlepasnya plasenta sebelum melahirkan. Itu sebabnya, segera lakukan pemeriksaan menyeluruh pada ibu dan bayi, agar keduanya bisa melahirkan dalam kondisi sehat.

Selain HIV/AIDS, laporan yang sama juga merilis fakta mengejutkan, yakni sebanyak 50% pengguna narkoba yang menggunakan jarum suntik, pasti menderita penyakit Hepatitis C. Penyakit ini sulit dideteksi karena gejala yang ditunjukkannya termasuk ringan, seperti mual, pusing, kehilangan nafsu makan, cepat lelah, dan warna mata serta kulit berubah menjadi lebih kuning. Tanpa penanganan yang tepat, penderita Hepatitis C dapat mengalami kanker hati maupun sirosis. Jika sudah begini, transplantasi hati merupakan satu-satunya jalan keluar

Keluarga, Garda Pertama dalam Pencegahan Narkoba

Keluarga memiliki peran penting dalam proses tumbuh dan berkembangnya anak. Melalui keluarga, seorang anak belajar mengenai nilai-nilai untuk pertama kalinya. Termasuk di dalamnya pemahaman berbagai macam hal, tidak terkecuali narkoba. Pendidikan dan sosialisasi mengenai bahayanya narkoba memang bukan hanya tugas dari aparat dan sekolah. Lingkungan rumah, dalam hal ini keluarga, memiliki posisi yang penting, bahkan strategis untuk membentuk karakter, sikap dan pemahaman seorang anak terhadap narkoba.

Orang tua tidak perlu segan dalam berkomunikasi dengan anak. Komunikasi memang menjadi hal yang sangat krusial, apalagi bila dihadapkan pada posisi sang anak yang tengah beranjak remaja. Rasa ingin tahu atau “coba-coba” dari anak-anak remaja sering meresahkan orang tua. Padahal, rasa resah saja tak cukup andaikan sang orang tua tidak tahu dan tidak mau untuk terjun langsung dalam memahami sang anak. Oleh karenanya, berkomunikasi dengan anak perlu dilakukan orang tua untuk memberikan pemahaman terhadap anaknya.

Berkomunikasi pun jangan diterapkan secara satu arah semata. Lakukanlah dengan dua arah. Orang tua harus menjadi pendengar yang baik bagi anak-anaknya. Memasuki usia remaja, misalnya, dimana problematika hidup mulai dirasakan – di sini lah orang tua harus hadir dan siap memberikan solusi atas masalah yang dihadapi.

Hal semacam ini sebenarnya sudah menjadi bentuk pengawasan tersendiri bagi berkembangnya anak. Dengan menjadi teman bagi anak, orang tua tentunya dapat lebih mudah dengan memberikan pemahaman tentang narkoba. Diharapkan, orang tua tak hanya berbicara terkait melarang ini itu soal narkoba, melainkan dapat memiliki pemahaman lebih jauh tentang bahayanya mengonsumsi barang haram ini.  Sehingga, kesadaran anak pun diharapkan dapat terbentuk untuk tidak sekali pun menyentuh narkoba, apalagi mencicipinya.

Ini Faktor Penyebab Pelajar Berani Coba Narkoba

Indonesia saat ini sudah masuk menjadi Negara darurat narkoba. Hal ini disebabkan angka penyalahgunaan di Indonesia pada survey tahun 2015 mencapai 2,20% dari seluruh penduduk Indonesia atau lebih dari 5 juta orang, diantara dari mereka akibat coba pakai, dan pecandu. Jumlahnya sangat fantastis, dan bukan perkara mudah bagi bangsa Indonesia untuk mengatasi masalah penyalahgunaan narkoba ini.Presiden Joko Widodo bahkan berkali-kali menegaskan bahwa Bandar narkoba harus dihukum seberat-beratnya untuk mengatasi penyakit masyarakat ini.

Sementara itu disektor lain Badan Narkotika Nasional (BNN) juga menargetkan akan merehabilitasi 100 ribu pecandu dan penyalahguna narkotika dan obat-obatan berbahaya (narkoba) sesuai amanat Undang-Undang No.35 tahun 2009 tentang narkotika.Dalam masalah ini BNN berusaha menekan jumlah pecandu sampai titik terendah lewat program-program rehabilitasi.

Selain itu para pengedar dan Bandar harus dihukum seberat-beratnya, masalah narkoba ini bukan permasalahan yang dianggap sepele, karena akibat masalah ini, berbagai kejahatan dan kriminal terjadi.Hal itu dikarenakan pecandu narkoba tidak dapat berpikir dan berfungsi secara normal sehingga kemudian melakukan tindakan diluar batas.

Banyak alasan pecandu kenapa mereka bisa terjatuh ke dunia narkoba satu diantaranya adalah tidak mendapatkan kenyamanan di dalam keluarganya. Apabila dalam rumah tangga terjadi disfungsi keluarga, maka perkembangan anak dan remaja beresiko untuk menyimpang.

Sejumlah Penelitian membuktikan bahwa dalam keluarga yang mengalami disfungsi keluarga, kemungkinan terjadi, apabila ayah yang meninggal maka pengaruh negatif terhadap anak laki-laki bisa terjadi sebesar 35%, sedangkan anak perempuan pengaruh negatifnya hanya 13%.sementara apabila yang meninggal ibu maka pengaruh negatif pada anak laki-laki hanyalah 18%, sedangkan pada anak perempuan pengaruh negatifnya jauh  lebih kecil.Sementara Kondisi keluarga yang masih buruk atau dapat dikatakan tidak ada perubahan, maka resiko anak dan remaja laki-laki maupun perempuan menjadi nakal 60%.

Hal lain yang bisa mempengaruhi perkembangan anak atas kondisi itu adalah disebabkan dari hubungan antara ayah dan ibu yang kurang baik, dari data tersebut menunjukan akan berpotensi resiko cukup signifikan 40% terhadap kenalakan antara anak dan remaja laki-laki maupun perempuan.Sementara itu jika hubungan antara anak dan remaja laki-laki maupun perempuan dengan kedua orangtuanya baik, resiko anak dan remaja laki-laki maupun perempuan potensi kenakalnnya hanya10%.

Apabila keluarga memberikan hal positif terhadap anak maka akan tercipta tingkah dan perilaku yang positif bagi anak begitu pula sebaliknya.Karena sebagian besar sebab seseorang jatuh kedunia gelap seperti narkoba, banyak mendominasi akibat disfungsi keluarga. Kondisi keluarga yang baik-baik tentu akan memberikan tingkah dan prilaku yang baik namun sebaliknya jika kondisi keluarga yang buruk potensi anak melakukan tindakan tidak baik bukan tidak mungkin terjadi.

Oleh karena itu peran keluarga dalam pemulihan pecandu sangatlah besar, karena pecandu sangat membutuhkan sosok yang namanya dorongan atau motivasi dari keluarga agar bisa bebas dan  keluar dari jerat gelap barang haram bernama narkoba.