Bahasa Kasih Itu Ampuh Menjauhkan Anak dari Narkoba

Manusia memiliki kebutuhan secara lahiriah maupun batiniahnya. Tidak hanya butuh makanan fisik untuk memberikan kekuatan bagi tubuh luarnya namun manusia juga membutuhkan makanan batiniah untuk menguatkan jiwanya. Seringkali terlewatkan oleh kita tentang hal ini dan cenderung mengabaikannya atau mungkin kita kurang paham bagaimana memberikannya.

Banyak terdengar oleh kita bahwa para artis mendekati narkoba dan dibui hingga beberapa tahun, keluar dan mengulanginya lagi. Mungkin juga tetangga atau bahkan keluarga kita sendiri pernah melakukannya. Sebenarnya tindakan mendekati narkoba ini bukan karena mereka kelebihan uang atau untuk kesenangan semata namun terdapat sisi yang kosong dari segi batiniah mereka.

Para pecandu narkoba adalah refleksi dari kurangnya “Bahasa Kasih”  dalam keluarga intinya. Tak hanya pada kalangan borju saja, bisa terjadi di kalangan biasa. Mereka mencari pelarian ke dalam komunitas tersebut untuk merasa dianggap, dan melarikan diri dari dunia nyata hanya untuk melupakan hal yang tidak mereka sukai.

Segala yang terjadi terdapat sebab dan akibat. Sebenarnya ada apa dengan para pecandu hingga terjerumus dalam kehidupan semu tersebut?. saya menemukan empat orang mantan pecandu dan bertanya kepada mereka, pendapat keempatnya hampir sama yaitu tidak diperhatikan, dikucilkan, sering dimarahin, dibandingkan, dan tidak dianggap.

Menurut ahli neuroscience, dr. Aisah Dahlan, otak manusia terdiri dari 100Milyar Neuron, 1000 triliyun byte atau 1 juta gigabyte merupakan jumlah memori yang sanggup disimpan dalam otak manusia selama hidupnya. Dalam format video, 1 juta gigabyte setara dengan video berdurasi 300 juta tahun. Proses pengolahan informasi dalam otak terjadi melalui loncatan informasi antar syaraf satu ke syaraf yang lain dan terjadi dengan kecepatan 400 km/jam, 1 detik ada 2 juta informasi tersambung.

jantung memiliki kekuatan 5 kali lebih besar dari kekuatan otak. Ketika otak manusia menyimpan emosi negatif atau positif, jantung akan merasakan hal yang lebih kuat. Contohnya seperti ingatan tentang cinta yang indah maka jantung merasakannya hingga timbul debar yang kuat dan membuat wajah bersemu merah dan senyuman, karena pompaan darah dari jantung (reaksi jantung ketika mengingat memori). Pada saat memori mengeluarkan ingatan yang menyakitkan debar jantung akan menimbulkan rasa nyeri yang dalam dan membuat reaksi menangis pada mata.

Mengapa manusia bila ditanya hal-hal yang menyakitkan, mereka selalu berkata “jangan diingat lagi”, “jangan ngomongin itu lagi”, dll. Otak berusaha mengubur memori tersebut dalam-dalam, namun tidak melepaskan emosi negatifnya. Orang-orang yang mengalami luka batin saat masa kecil dan remajanya cenderung mengubur memori itu dengan berbagai cara termasuk mendekati narkoba.

Kebutuhan Lahiriah Manusia

Kita sering beranggapan bahwa kesuksesan untuk menopang kehidupan ini dengan banyaknya harta, nama besar, makan dan minum yang mewah, pakaian bagus, mobil mewah, tas bermerk, dll merupakan sumber kebahagiaan. Semua itu hanyalah alat pendukung saja namun bukan sumber utama kebahagiaan. Sumber utama kebahagiaan langsung menyentuh hati dan membuat senyum itu lama berada “disana”.

Benda-benda yang berbentuk ini merupakan alat untuk menuju bahagia. Namun tidak mengisinya. Alat-alat itu dipandang oleh mata dan hanya sampai pada otak, memberikan anak kebutuhannya secara lahiriah sudah merasa cukup, tidak berhenti hanya pada kebutuhan luarnya saja.

Kebutuhan Batiniah Manusia

Sering juga tentunya kita menemukan orang yang hidup pada tahun sebelum milenial ini. Cenderung tegas, otoriter dan merasa tabu dengan pujian, membelai, menemani anak bermain, memberi dukunga penuh. Berbeda dengan masa sekarang yang cenderung lebih mudah karena telah memahami banyak ilmu pengetahuan.

Sesuatu yang abstrak tak terlihat dengan mata namun hati atau jantung merasakannya. Itulah makanan batin makhluk hidup. Perbuatan positif yang langsung mengenai sasaran yaitu hati.

Bahasa kasih ini merupakan makanan batin atau kebutuhan batin manusia. Bila batin tidak diberi makan maka batin akan kosong dan lapar, luka dan bersedih. Pada saat mengalami luka tersebut mata mengirim informasi tersebut kepada otak dan tersimpan selamanya.

Memori negatif itu mengirim signal ke jantung dan mengakibat kebencian yang dalam dan membuat manusia menjadi apatis. Kebencian itu terakumulasi hingga merusak diri sendiri dan orang lain dengan cara mengajak masuk kedalam komunitas tersebut. Menularkan kebiasaan karena memiliki problem yang seolah sama.

Penyebab Narkoba

Kecanduan narkoba ini bermula dari perilaku orang terdekat, mendorong mereka menjauh dari realita. Membiarkan mereka menghadapi hidup sendirian dengan penuh luka yang tidak disadari. Sesuatu yang tidak disadari itu tersimpan di alam bawah sadarnya.

Cara mereka lari dari kenyataan hidup yang membuat mereka terkucil, terhina, tidak dianggap, atau mungkin hal yang sangat remeh menurut kita tapi besar artinya bagi otak dan jantung manusia. loncatan informasi yang sangat kuat ketika mengingat kejadian tersebut tidak mampu dibendung oleh mereka. Sehingga membuat mereka berusaha menguburnya dalam-dalam dengan cara “tidak sadar” menjalani hidupnya.

Mereka hidup dalam level emosi yang sangat rendah dibawah dari level putus asa. Untuk berada pada level manic mereka menggunakan zat terlarang tersebut dan menurut mereka itulah kebahagiaannya. Ketidaktahuan mereka terhadap bagaimana cara untuk bahagia hingga mereka merusak hidupnya sendiri.

Berilah keluarga kita pujian, dukungan yang kuat, sentuhan fisik berupa elusan dan belaian dikepalanya, layani mereka dengan baik, dan beri apresiasi dari setiap perbuatan baiknya kepada orang lain berupa hadiah. Agar mereka merasa keluarganyalah tempat mereka berlari, tidak ada tempat yang lebih baik daripada keluarganya sendiri. Sehingga trauma itu terhenti hanya sampai disitu.

Kalimat pujian mampu memberikan semangat hidup dan enggan untuk merusak dirinya, karena mereka tahu tentang kelebihan yang mereka punyai, dukung agar mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian. Belai kepalanya, agar mereka tahu bahwa mereka juga bagian dari keluarga itu. Layani dengan baik, agar mereka merasa disayangi dan beri hadiah sebagai apresiasi perilaku baik, karena hadiah adalah sesuatu yang sangat berharga untuk hati mereka.

Penulis: Zairiyah kaoy CH CHt

Deputi Pencegahan BNN: Keluarga Garda Terdepan Mewujudkan SDM yang Unggul juga Benteng Utama Memerangi Penyalahgunaan Narkoba

Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Barat mengadakan Seminar Online dengan tema “Memperkokoh Ketahanan Keluarga dari Bahaya Penyalahgunaan Narkoba” (19/05/20) melalui video pertemuan virtual.

Lebih dari 170an peserta dan berbagai komunitas ikut bergabung seminar ini.

Narasumber yang hadir melalui virtual ini antara lain Deputi Pencegahan BNN, Irjen Pol Anjan Pramuka Putra SH., M.Hum, Direktur Peran Serta Masyarakat Deputi Pemberdayaan Masyarakat Brigjen Pol Drs. Mohamad Jupri, MM, Kepala BNN Jabar Brigjen Pol Drs. Sufyan Syarif, M.H., Rektor UNPAS (Ketua Artipena) Prof. Dr. Ir. H. Eddy Jusuf Sp, M.Si., M.Kom, dan Kepala Perwakilan BKKNN Prov Jabar Drs Kusmana. Para narasumber yang berkompeten dibidangnya ini dalam seminar dimoderatori ini oleh Dr. Eki Baihaqi, M.Si dari Dosen Pasca Sarjana UNPAS.

Deputi Pencegahan BNN, Irjen Pol Drs Anjan Pramuka Putra berkesempatan mengisi pertama dalam urutan penyaji seminar online ini, dengan mengambil tema: “Membangun Keluarga Berkualitas Guna Mewujudkan Ketahanan Keluarga”.

Disampaikan bahwa Keluarga adalah garda terdepan untuk mewujudkan manusia yang unggul sebagaimana arahan presiden RI, dan tentunya keluarga menjadi benteng terdepan juga dalam memerangi segala bentuk penyalahgunaan narkoba yang menyasar anggota keluarga terutama anak dan remaja.

Jenderal bintang dua ini menggambarkan bagaimana membentuk ketahanan keluarga dengan cara : Komunikasi antara hubungan orang tua dan anak yang hangat dibangun melalui komunikasi yang efektif.

Komunikasi yang efektif dapat mendorong keterampilan pengasuhan bagi orang tua sehingga disini peran orang tua dapat lebih dominan untuk membuka komunikasi dengan anak.

Kualitas orang tua yang dibentuk untuk mendukung ketahanan keluarga disampaikan dengan lugas oleh Bapak yang putrinya sedang kuliah di salah satu universitas negeri di Yogyakarta ini. Anjan menyampaikan bagaimana orang tua dapat terus memotivasi anak dengan hal yang positif, sehingga orang tua perlu memahami perkembangan anak, memahami diri ketika anak mengalami stres, dan bagaimana mengubah perilaku agresif dan tekanan teman sebayanya.

Orang nomor 1 di jajaran Deputi bidang Pencegahan ini mengupayakan untuk mempromosikan pencegahan bahaya penyalahgunaan narkoba secara massive dengan cara menekan laju angka penyalahguna coba pakai, salah satunya adalah melalui intervensi ketahanan keluarga.

Program yang telah dilaksanakan uji intervensi di tahun 2018 ini bekerja sama dengan UNODC dan UNJ dalam pelaksanaannya. Bahkan disampaikan dalam seminar hasil pelaksanaan hasil intervensi ketahanan keluarga pada tahun 2018 itu, Myanmar menyampaikan akan mengadopsi program ini untuk dilaksanakan di negaranya.

Selain itu, dalam pemaparannya Deputi Pencegahan di ruang Social Media Center menguraikan bagaimana perkembangan New Psycoactive Substance (NPS) yang cukup banyak di dunia sekitar 892 jenis, dan perkembangan telah masuknya tambahan 1 jenis yang terdaftar di Permenkes sehingga menjadi 73 jenis.

Hal senada juga diilustrasikan berbagai perkembangan penyalahgunaan narkoba pada anak-anak. Pada akhir sesi pemaparannya Anjan mengharapkan anak dan keluarga dikuatkan dengan kualitas diri dan kualitas keluarga dalam mencegah penyalahgunaan narkoba.

BNN Gelar Seminar Nasional Pengembangan Model Intervensi Keluarga Anti Narkoba

Direktorat Advokasi Deputi Bidang Pencegahan mengadakan Seminar “Hasil Pelaksanaan Rumusan Pengembangan Model Intervensi Ketahanan Keluarga Anti Narkoba Dalam Rangka Prioritas Nasional” di Hotel Bidakara Jakarta, Rabu (18/12). Acara dihadiri oleh Kepala BNN RI Komjen Pol Drs. Heru Winarko, S.H, Direktur Jenderal Pendidikan Usia Dini & Masyarakat Kemendikbud Harris Iskandar. Acara ini juga menghadirkan 4 (empat) narasumber yaitu Deputi Pencegahan BNN Irjen Pol Drs Anjan Pramuka, SH, M.Hum, Ketua Pengkaji Modul Ketahan Keluarga DR. Aip Badrujaman, M.Pd, Pemerhati Anak Seto Mulyadi dan Praktisi Parenting Melly Kiong, serta lebih dari 200 peserta terdiri dari kementerian & lembaga terkait, perwakilan UNODC Indonesia, fasilitator kegiatan intervensi, mahasiswa dan para stakeholder lainnya.

Acara dimulai dengan sambutan & pembukaan seminar oleh Kepala BNN yang berpesan agar keluarga harus menjadi benteng utama dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba. Para orang tua juga diharapkan untuk menjaga komunikasi dengan anak-anak dan menjaga keharmonisan keluarga agar anak jauh dari penyalahgunaan narkoba. Harris Iskandar dalam sambutannya menyampaikan bahwa pendidikan di Indonesia mulai diarahkan untuk mengembangkan kapasitas dan kompetensi yang dimiliki setiap anak. Harris juga berharap agar orang tua harus dapat berperan aktif dalam tumbuh kembang anak.

Seminar dilanjutkan dengan diskusi panel oleh para narasumber dengan moderator Mirabai Bhana. Dalam diskusi ini Deputi Pencegahan BNN menyampaikan bahwa di era digital ini pencegahan penyalahgunaan narkoba bisa dilakukan oleh siapa saja dari smartphone mereka. Baru-baru ini baru saja diluncurkan REAN.id, platform yang ditujukan agar kaum milenial membuat sendiri konten pencegahan penyalahgunaan narkoba.  penyampaian Executive Summary Implementasi Model Ketahanan Keluarga di Provinsi Jawa Barat Dan Jawa Timur oleh Dr Aip Badrujaman, Pemerhati Anak Keluarga Seto Mulyadi menyampaikan materi “Orang Tua Sebagai Benteng Pertama Pencegahan Narkoba pada Anak” dan, “Memaknai Kebersamaan dalam Keluarga” oleh Melly Kiong.

Diharapkan dengan adanya seminar ini untuk menguatkan keluarga sebagai institusi terdepan untuk membangun generasi bangsa melalui rumah dengan hati & cinta, serta keluarga menjadi kunci utama dalam mencegah segala pengaruh buruk dari lingkungan sosial serta mempunyai ikatan kuat antara semua anggota keluarga agar kecil kemungkinan untuk jatuh dalam penyalahgunaan narkotika.

Tips Efektif Menjauhkan Anak dari Narkoba

Orang tua memiliki andil sangat besar dalam melindungi anak-anak dari ancaman narkoba yang merupakan barang ilegal dan berbahaya tersebut. Ingin tahu bagaimana caranya? Berikut adalah tips efektif menjauhkan anak dari narkoba yang bisa Anda coba.

  1. Jalin komunikasi tentang bahaya narkoba

Salah satu cara paling efektif untuk mencegah penyalahgunaan narkoba pada anak adalah dengan cara melakukan komunikasi tentang bagaimana zat ini berbahaya bagi mereka. Jelaskan selengkapnya tentang efeknya bagi tubuh, psikologis, dan masa depannya.

  1. Fokus pada hal positif

Diskusikan dengan sang buah hati, bagaimana cara mengambil keputusan yang bertanggung jawab tanpa terpengaruh dari perilaku lingkungan sekitar dan teman sebaya. Jangan ragu juga untuk memuji prestasi yang dilakukan sang buah hati supaya membangun harga dirinya. Dorong mereka untuk aktif terlibat dalam kegiatan positif seperti olahraga, seni lukis, dan kegiatan lain yang disukainya. Jangan lupa juga untuk selalu luangkan waktu bersama anak, baik itu hanya sekedar makan malam bersama dan mengetahui kegiatannya di sekolah atau rumah.

  1. Selalu mencontohkan kebiasaan yang baik

Orangtua adalah contoh bagi anaknya. Karena itulah anak tak jarang meniru perilaku orangtuanya. Kalau Anda merokok, ada kemungkinan sang anak juga berpeluang untuk merokok juga. Sama halnya dengan mengonsumsi alkohol ataupun narkoba. Itulah sebabnya, selalu lakukan kebiasaan positif supaya sang buah hati mencontoh hal positif pula.

  1. Terapkan peraturan di rumah

Melarang sang buah hati memakai narkoba harus menjadi peraturan yang diterapkan keluarga. Peraturan yang dibuat harus spesifik, konsisten dan masuk akal. Contoh, Anda wajib menjelaskan konsekuensi kepada tiap anggota keluarga kalau melanggar aturan. Apa hukumannya, bagaimana pelaksanaanya, dan apa tujuan hukuman tersebut. Jangan lupa untuk menjelaskan kepada buah hati jika aturan yang dibuat itu sifatnya tetap dan berlaku di mana saja dan kapan saja.

  1. Kenali pergaulan anak

Jangan abaikan lingkungan pergaulan anak di luar rumah, termasuk saat ia sekolah. Kenali siapa saja teman mainnya, teman sekolah atau teman hang out. Cari tahu latar belakang keluarga teman-teman anak Anda. Bukan bermaksud mengajarkan anak untuk sombong, namun untuk lebih selektif dalam bergaul itu penting.

Pastikan sang buah hati bergaul dengan mereka yang memberi pengaruh positif. Kalau Anda mencurigai ada temannya yang berperilaku aneh dan terindikasi memakai narkoba, jangan ragu memintanya untuk menjauhi temannya tersebut. Ingat, pengaruh teman pada anak remaja begitu besar. Bahkan tidak jarang mereka lebih percaya pada temannya, daripada pada orangtuanya. Jadi, jangan ragu bertindak tegas.

Semoga informasi ini bermanfaat!

(A. Rakhmanto)

Broken Home Bukan Alasan untuk Pakai Narkoba!

Memiliki keluarga yang broken home memang tidak mudah dan tidak ada satu anak pun di dunia yang ingin keluarganya tercerai-berai. Harus menjalani hidup dengan keluarga yang tidak utuh menyebabkan beberapa anak menjadi depresi dan merasa sangat sedih sehingga kemudian memilih untuk melakukan hal yang dianggap bisa menjadi solusi tapi justru berdampak negatif untuk hidupnya, seperti memakai narkoba.

Kita harus selalu ingat bahwa memakai narkoba bukan jalan keluar dan berikut adalah cara yang bisa kamu lakukan agar dapat selalu semangat menjalani hidup tanpa harus terjerumus ke dalam jeratan narkoba.

1. Fokus pada tujuan hidup

Tujuan hidupmu harus terus diperjuangkan, tak peduli sebesar apapun masalah yang kamu hadapi kamu harus tetap fokus pada tujuan utama. Berusahalah semaksimal mungkin untuk meraihnya, karena tidak ada yang tidak mungkin jika kamu terus berusaha dan berdoa agar tujuan hidupmu tercapai.

2. Berpikir positif

Cobalah untuk bisa selalu berpikir dan melakukan hal-hal yang positif. Stop sekarang juga berpikir negatif, karena bisa menghancurkan dirimu sendiri. Percaya bahwa kamu bisa berhasil dalam memenuhi tujuan hidupmu.

3. Selalu bersyukur

Selalu awali harimu dengan mengucap syukur, karena di luar sana masih banyak orang yang mungkin tidak seberuntung kamu. Walaupun keluarga sudah tidak utuh lagi, tapi kamu masih diberi kesehatan oleh Tuhan. Kamu memang tak pernah diberi kesempatan untuk memilih terlahir di keluarga yang utuh seperti yang kamu inginkan, tapi kamu punya kesempatan untuk mengubah hidupmu menjadi lebih baik.

Semoga tips di atas bermanfaat dan ingat untuk tetap semangat menjalani hidup dan selalu katakan tidak pada narkoba, apapun jenisnya!

(A. Rakhmanto)

BNNK Deli Serdang Mengajak Ibu-Ibu PKK Berperan Aktif Dalam Upaya Pencegahan Narkoba

BNNK Deli Serdang melaksanakan sosialisasi bahaya narkoba di Kecamatan Sibiru-biru pada Rabu (4/9) di Kantor Kepala Desa Namu. Hadir dalam sebagai narasumber kegiatan ini adalah Tiarlina Manik, SH, Kepala Seksi P2M BNNK Deli Serdang. Kegiatan ini juga dihadiri seluruh Kepala Desa dan Pengurus PKK se-kecamatan Sibiru-biru.

Sosialisasi ini adalah salah satu upaya dalam menekan peredaran gelap Narkoba di Deli Serdang khususnya kecamatan Sibiru-biru, Tiarlina mengatakan bahwa peran serta para ibu-ibu sangat dibutuhkan dalam kelangsungan rumah tangga khususnya anak-anak, yang dimana narkoba sudah sangat marak dan merasuki anak-anak kita. Pada sosialisasi tersebut ibu-ibu dihimbau untuk rangkul, ikuti dan tuntun anak kita kemana arahnya dan jika sudah terindikasi segera laporkan ke BNN agar direhabilitasi, agar para ibu jangan takut atau malu untuk melaporkan jika ada keluarga yang terindikasi lebih baik mencegah daripada mengobati.

Peran serta ibu PKK sangat penting untuk mencegah juga dapat menjadi penyuluh Anti narkoba dan juga sebagai perpanjangan tangan BNN dalam mengedukasi Masyarakat tentang bahaya narkoba serta mengajak seluruh masyarakat khususnya kabupaten Deli Serdang untuk bersama-sama bergerak memberantas Narkoba untuk menuju masyarakat sehat dan bersih dari narkoba.

BNNP Bengkulu Gelar Sosialisasi Bahaya Narkoba di Desa Padang Ulak Tanjung

Untuk mencegah masuknya narkoba masuk ke wilayah pedesaan, Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Bengkulu menggelar sosialisasi bahaya penyalahgunaan narkoba dengan melibatkan aparat desa, tokoh agama dan pemuda setempat.

Hal ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat agar mampu menolak penyalahgunaan narkoba. Pada kesempatan ini Kabid Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNNP Bengkulu Ridwan Arief mengutip prevalensi penyalahguna narkoba yang tergolong tinggi. Untuk itu Ridwan mengajak masyarakat untuk bersama-sama melakukan upaya pencegahan untuk menekan angka prevalensi tersebut.

BNNK Aceh Tamiang Minta Siswa Pahami Bahaya Narkoba

BNNK Aceh Tamiang hadir dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) kepada pelajar SMAN 2 Percontohan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang. Hal ini bertujuan untuk menanamkan persepsi kepada siswa efek yang sangat buruk jika terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba mengingat Narkoba sudah masuk ke lingkungan sekolah.

Hadir sebagai narasumber Staf Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNN Aceh Tamiang, Putri Zufina dan  tim.

Dalam paparannya Putri menekankan  tentang penyebab penyalahgunaan  narkoba yang mengintai generasi muda. salah satunya karena minumnya informasi serta ketidam mampuan dalam mengendalikan diri.

Oleh karena itu putri meminta siswa untuk mengetahui dan memahami bahaya penyalahgunaan narkoba. Caranya bisa melalui website BNN atau mendatangi kantor BNN untuk mencari informasi yang benar tentang bahaya penyalahgunaan narkoba.

Pentingnya Peran Orang Tua dalam Upaya Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba

Masalah penyalahgunaan narkoba yang melibatkan generasi muda menjadi momok yang menakutkan bagi bangsa ini. Generasi muda yang menjadi penerus cita-cita bangsa harusnya bebas dan bersih dari penyalahgunaan narkotika.

Hasil penelitian terakhir BNN (tahun 2017) jumlah penyalahgunna narkoba di kalangan generasi muda (Pelajar) mencapai 24 persen atau setara dengan 810.267 orang. Jumlah tersebut sangat besar dan memerlukan penanganan yang serius. Penanganan tidak hanya dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) sebagai leading sector pencegahan penyalahgunaan narkoba, tetapi unit kecil dalam masyarakat seperti keluarga juga memegang peranan penting dalam mencegah generasi muda menjadi korban penyalahgunaan narkoba.

Upaya pencegahan yang dapat dilakukan dalam keluarga antara lain menciptakan kedekatan dan komunikasi antara orang tua dan anak. Salah satu investasi waktu terbaik dan yang paling bijaksana adalah meluangkan waktu bersama keluarga. Mengapa demikian?

Interaksi orang tua dan anak sangat penting untuk menumbuhkan kedekatan di antara mereka, misalnya dengan mengobrol atau pergi bersama di waktu luang. Kedekatan ini penting untuk menciptakan rasa nyaman bagi anak-anak. Mereka semestinya dapat menganggap orang tua selayaknya teman, dimana setiap permasalahan dapat mereka sampaikan kepada orang tua. Nah, yang berbahaya adalah ketika anak tidak berani menceritakan permasalahan yang ia dihadapi kepada orang tua. Salah satu bentuk komunikasi yang dapat dilakukan orang tua adalah dengan meluangkan sedikit waktunya untuk sekadar sms atau menelepon anak-anak mereka. Anak akan merasa diperhatikan.

Banyak penelitian yang menunjukan bahwa orangtua yang sering meluangkan waktu bersama anak-anaknya seperti saling bercerita, mendengarkan dan menjawab pertanyaan mereka, maka prestasi anak akan jauh lebih baik dan memiliki sikap yang tegas dalam menolak pengaruh negatif disekitar mereka. (Oscar)

(Disunting dari beberapa sumber)

Terapkan Lingkungan Kerja Bebas dan Bersih dari Narkoba

Menjadi bagian dari suatu instansi atau perusahaan mengharuskan kita beradaptasi dengan lingkungan kerja dimana kita berada.  Menurut Sedarmayanti (2001:12) kondisi lingkungan kerja bisa disebut baik atau sesuai jika manusia bisa menjalankan aktivitas dengan optimal, sehat, aman dan nyaman. Lingkungan kerja menjadi faktor penting dalam mendukung segala kegiatan di dalamnya.

Umumnya, seseorang menghabiskan waktu 8 jam per hari untuk bekerja, sehingga sangatlah penting untuk menciptakan kondisi yang kondusif. Kondisi tersebut dapat tercipta apabila tiap individunya mampu berkoordinasi dengan baik untuk sama-sama membangun keadaan yang nyaman dan tidak mengganggu kolega lain dalam bekerja.

Tak jarang, terdapat beberapa pekerja yang terperangkap dalam dunia penyalahgunaan narkotika. Faktor lingkungan kerja yang buruk, ketidakmampuan individu untuk menolak ajakan kawan yang menawarkan narkotika, tekanan dari atasan, banyaknya pekerjaan yang belum terselesaikan dianggap sebagai penyebab pekerja menggunakan narkotika. Padahal, penggunaan barang haram tersebut tidaklah menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi. Justru menambah masalah yang membahayakan diri.

Perlu diingat, kemampuan menciptakan lingkungan kerja yang baik datang dari kerja sama tiap-tiap pegawai. Ruang kerja yang layak, tingkat kebisingan yang rendah, menyediakan fasilitas pendukung seperti tempat ibadah dan dapur serta atasan yang mampu mengapresiasi pegawainya, merupakan beberapa indikator yang berpengaruh untuk kinerja pegawai.

Cerdas bekerja dimulai dari lingkungan kerja yang aman, nyaman dan bersih dari narkoba!. (Asri)

#cegahnarkoba #stopnarkoba