Menilik Potensi Kampung Beting Menjadi Kawasan Wisata Religi

Menilik Potensi Kampung Beting Menjadi Kawasan Wisata Religi

Kampung Beting yang berada di kota Pontianak selama ini kerap dianggap sebagai salah satu sarang peredaran Narkoba. Data BNN juga memasukkan wilayah ini sebagai salah satu dari 23 kawasan rawan peredaran gelap Narkoba di Kalimantan Barat.

Dalam kunjungan kerja ke Kesultanan Pontianak, Rabu (6/112019), Kepala BNN Heru Winarko mengatakan Kampung Beting memiliki potensi untuk dibangun menjadi kawasan wisata religi. “Kita bisa mencontoh Singapura, di Kampung Arab di sana, masjid selain menjadi tempat sholat juga tujuan wisata bagi turis asing,” ujarnya.

Masjid Jami Pontianak atau dikenal dengan nama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman adalah masjid tertua dan terbesar di Pontianak. Masjid yang dekat dengan Istana Kesultanan (Keraton Kadriyah) ini merupakan satu dari dua bangunan yang menjadi pertanda berdirinya Kota Pontianak pada tahun 1771 Masehi.

Menurut Heru, Kampung Beting menjadi salah satu fokus program pemberdayaan alternatif di wilayah perkotaan. Bentuk pemberdayaan yang dilakukan bagi masyarakat di sini adalah dengan memberikan pelatihan pembuatan produk kerajinan tangan.

 

Sementara itu Sultan IX Pontianak Syarif Mahmud Melvin Alkadri menyambut positif dan ucapan terima kasih atas kehadiran program BNN di wilayahnya. “Semoga melalui upaya-upaya ini dapat membawa hal positif, terkait maraknya Narkoba di wilayah Kalimantan Barat,” kata Sultan.

Senada dengan Sultan, Walikota Pontianak Edi Rusdi Kamtono yang turut hadir mengatakan bahwa masyarakat Kampung Beting cenderung tidak mengakui bahwa wilayahnya termasuk dalam kategori rawan Narkoba, mereka merasa aman dan nyaman dengan kondisi saat ini. “Kita akan kaget pada saat membaca berita di media massa, biasanya kasus Narkoba yang terjadi di wilayah ini mempunyai relevansi dengan kriminalitas,” ungkap Edi.

Oleh karenanya, menurut Edi, Pemkot Pontianak berkomitmen untuk terus menjalin sinergi dengan BNN Kota Pontianak setiap tahunnya. “Kita rutin lakukan tes urine bagi ASN, sopir truk, pekerja tempat hiburan malam dan cafe-cafe. Dari 4600 orang yang kita tes, 1 orang positif terpapar Narkoba,” jelasnya.

Edi menambahkan bahwa pihaknya juga melakukan pengentasan kawasan kumuh seluas kurang lebih 24 hektar, melalui program bedah rumah, WC dan lingkungan.
“Salah satu lokasi program kita adalah Kampung Beting ini. Kita upayakan kampung ini menjadi kawasan yang tertata dan teratur, tidak kumuh,” tandas Edi.
Saat ini, Pontianak memiliki jumlah penduduk sekitar 664.000 orang, yang terbagi dalam 6 kecamatan, 29 kelurahan. Kampung Beting berada di Kecamatan Pontianak Timur, suatu wilayah ketiga terbesar di Pontianak dan sangat padat.

Edi berharap melalui kolaborasi pemerintah kota dengan BNN ini kedepannya dapat menghilangkan stigma Kampung Beting sebagai kawasan rawan Narkoba. (Khrisna Anggara)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *