BNNP Sulbar Target Rehabilitasi 1.103 Penyalahguna Narkoba

0
68

Mamuju, Indonesiabergegas – Status Darurat Narkoba yang dialami oleh bangsa Indonesia membuat Badan Narkotika Nasional (BNN) terus memperkuat lembaga rehabilitasi untuk menjangkau penyalahguna narkoba agar mendapat layanan terapi dan rehabilitasi. Hal ini sesuai dengan amanah UU 35 Tahun 2009 Tentang narkotoka dimana penyalahguna narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan sosial.

Melalui Direktorat Penguatan Lembaga Rehabilitasi Instansi Pemerintah (PLRIP), Deputi Bidang Rehabilitasi menggelar kegiatan peningkatan asesmen bagi petugas rehabilitasi instansi pemerintah di Provinsi Sulawesi Barat 16 sampai 20 Juni 2015. Acara ini ini di ikuti oleh RSUD Kab Mamuju, RSUD Kabupaten Mamuju Utara, RSUD Kondo Sapata Mamasa, PKM Binanga, PKM Bambu, RS Satelit Kabupaten Mamuju Tengah, RSUD Majene, RSUD Polewali, lapas Polewali, Rutan Mamuju Dan Lain-lain.

Topik yang disampaikan dalam kegiatan ini adalah Ketergantungan Narkotika, Asesmen dan Diagnosis Ketergantungan Narkotika, Penatalaksanaan Terapi dan Rehabilitasi, Konseling Dasar dan Tahap-tahap Perubahan Perilaku, dan Pencatatan dan Pelaporan.

Kepala BNN Provinsi Sulawesi Barat, Supratman mengatakan tahun 2015 Provinsi Sulawesi Barat ditargetkan dapat memberikan layanan rehabilitasi kepada 1.103 pecandu dan korban penyalahguna.

“Untuk mencapai target itu BNNP Sulawesi Barat perlu bekerjasama dengan RSUD dan Puskesmas non IPWL yang terdapat di kabupaten dan kota untuk menjadi tempat rehabilitasi rawat jalan” ujar Supratman.

Salah satu upaya BNN yaitu memberikan pelatihan asesmen bagi petugas rehabilitasi di RSUD dan Puskesmas non IPWL tersebut dengan harapan adanya layanan rehabilitas rawat jalan yang optimal sambung Supratman.

Pada kesempatan yang sama Direktur PLRIP, Brigjend Pol Ida Oetari Poernamasasi mengapresiasi kerjasama yang terjalin antara BNNP, RSUD, Lapas, Rutan dan Puskesmas dalam menangapi penyalahguna narkoba.

“setelah adanya pelatihan ini saya harap kedepan pelayanan rehabilitasi rawat jalan bagi pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika dapat berlangsung dengan optimal. Oleh karena itu penyalahguna narkoba jangan ragu untuk melaporkan diri agar mendapat layanan terapa dan rehabilitasi” tutup Ida.

Hadir sebagai nara sumber praktisi layanan rehabilitasi dr. Ary Faddila dari RSKO, Jakarta. Dalam paparannya dia mengatakan tentang peran penting seorang konselor.

“Setelah mengetahui ketergantungan narkotika, petugas rehabilitasi wajib mengerti cara mengasesmen pecandu dan korban penyalahguna narkotika. Melalui asesmen, dapat ditegakkan diagnosa terkait penggunaan zat rencana terapi yang tepat” ujar Ary.

“Dalam penentuan rencana terapi, petugas rehabilitasi perlu memperhatikan beberapa hal prinsip terapi dan tujuan dari pemberian terapi, seperti abstinensia, pengurangan frekuensi dan keparahan kekambuhan, serta memperbaiki fungsi psikologi dan sosial pecandu tutup Ary. (osc_ant)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here