Kepala BNN RI Launching Terobosan Kreatif BNNP Sulawesi Utara

Badan Narkotika Nasional (BNN) RI menyelenggarakan Launching Terobosan Kreatif BNNP Sulawesi Utara bersama Gubernur, Wakapolda dan Forkopimda Sulut, Kamis (11/11).

Kepala BNN RI, Dr. Petrus Reinhard Golose bersama Gubernur Provinsi Sulawesi Utara, Olly Dondokambey, Wakapolda Sulut, Brigjen Pol Jhonny Eddizon Isir, dan Kepala BNNP Sulut, Brigjen. Pol. Drs. Victor Joubert Lasut, M.M., secara resmi meluncurkan Program Terobosan Kreatif BNNP Sulawesi Utara, Pencanangan Desa/Kelurahan Bersinar, Pemberian Penghargaan kepada Pihak Pendukung P4GN serta Drugs Free Exhibition Day tersebut di Mapolda Sulut.

Kepala BNN RI mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam upaya perang melawan narkoba.

“Secara khusus saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Gubernur Sulawesi Utara atas kepedulian yang besar terhadap masalah penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba”, tutur Kepala BNN RI.

Kepala BNN RI berharap Gubernur beserta jajaran pemerintah daerah hingga Kepala Desa terus mendukung upaya BNN RI dalam melindungi masyarakat Indonesia dari bahaya penyalahgunaan dan perdaran gelap narkoba.

Dalam sambutannya, Gubernur Sulut menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada BNN RI dan BNNP Sulut yang telah bekerja keras dalam upaya penanggulangan narkoba di Bumi Minahasa. Secara khusus, Gubernur memberikan penghargaan kepada Kepala BNNP Sulut yang telah membuat kolaborasi hebat sehingga penanggulangan narkoba di Provinsi Sulut ini menjadi lebih kuat.

Gubernur Olly Dondokambey juga menambahkan bahwa dukungan pihaknya dalam upaya penanggulangan narkoba sangat serius yaitu dengan mengeluarkan Peraturan Gubernur Nomor 07 Tahun 2010 tentang Pengembangan Desa/Kelurahan Peduli Bahaya Narkoba.

Sementara itu Kepala BNNP Sulut, Brigjen. Pol. Drs. Victor Joubert Lasut, M.M., berharap diberikan dukungan penuh dan mendoakan keberhasilan program terobosan tersebut sehingga dapat merehabilitasi masyarakat yang terpapar narkoba.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemberian penghargaan kepada pihak pendukung program P4GN, diantaranya :

  1. Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey
  2. Walikota Manado, Andrei Angouw
  3. Walikota Bitung, IR. Mauritis Mantiri, MM
  4. Bupati Minahasa, IR. Royke O. Roring, M.Si
  5. Camat Singkil, Zainal Naway, SE
  6. Lurah Wawonasa, Husein Masiaga
  7. Lurah Sindulang Dua, Putera Djaja Salendah, SE
  8. Lurah Karombasan Selatan, Deesye Tulenan, S.Sos
  9. Lurah Girian Weru Dua, Y0ukefin Marthin, SE
  10. Kepala Desa Sea Tumpengan, Filadelfus Kukihi
  11. Hukum Tua Desa Raringis, Rany Posumah

Mengakhiri kegiatannya, Kepala BNN RI dan rombongan menyempatkan diri untuk mengunjungi serta membeli produk-produk para peserta Drugs Free Exhibition Day di Mapolda Sulut. (YDW)

Biro Humas dan Protokol BNN

Survey is loading…

PERAN KELUARGA DALAM PENANGGULANGAN PECANDU NARKOBA (ANALISIS BUKU NAK, DENGARKAN IBU KARYA SRI HAYUNI)

Nak, Dengarkan Ibu merupakan sebuah buku yang menceritakan pengalaman seorang ibu yang anaknya menjadi pecandu narkoba. Sejak awal mengetahui anaknya terjerumus ke dalam pengaruh buruk narkoba, ia berusaha untuk menerima dan menjalaninya dengan sabar dan optimis demi agar anaknya bisa kembali pulih. Meski luka, sedih, dan kecewa ia rasakan namun beliau berkeyakinan bahwa keterpulihan sang buah hati dari adiksi narkoba berkaitan erat dengan peran orang tua yang selalu hadir mencari jalan, mendampingi dan mendoakan.

Permasalahan yang terangkum di dalam buku Nak, Dengarkan Ibu karya Sri Hayuni adalah tentang goresan hati ibu seorang pecandu narkoba. Seorang anak yang masuk ke dalam pengaruh buruk narkoba hingga menjadi pecandu narkoba akan turut membawa orang tua atau keluarganya pada putaran permasalahan tersebut. Bagaimana tidak, ketika diketahui seorang anak terperangkap dalam jeratan narkoba, keluarga khususnya orang tua akan merasa sedih dan kecewa. Ketika diketahui anaknya telah menjadi pecandu, keluarga akan berjuang lama, banyak dan panjang untuk mendampingi dan mencari jalan keluar demi anaknya bisa terlepas dari adiksi. Ketika runtutan permasalahan yang dialami oleh pecandu semakin hari semakin bertambah maka peran keluarga sudah jelas sangat dibutuhkan.

Menganalisis setiap catatan yang terdapat dalam Buku Nak, Dengarkan Ibu mulai dari kesaksian ibu seorang pecandu narkoba, penjelasan mengenai adiksi sebagai penyakit di dalam keluarga, upaya untuk bangkit menyelamatkan pecandu hingga harapan orang tua terhadap anaknya yang menjadi korban adiksi terdapat satu kekuatan utama dan terbesar dalam menghadapi anggota keluarga yang terpapar narkoba adalah menerima dan melawan. Menerima dalam artian adalah kita menerima kenyataan bahwa narkoba memang telah masuk ke dalam keluarga kita. Berlari dari masalah tanpa adanya usaha untuk menghadapinya adalah suatu jalan yang tidak tepat. Melawan, keluarga tidak boleh kalah dengan narkoba. Narkoba harus dilawan dengan segala upaya yang kita bisa. Melawan dengan berbagai cara seperti mengetahui dan memahami apa itu narkoba dan dampak buruknya karena bagaimana mungkin seseorang dapat melawan suatu hal tanpa mengetahui apa dan siapa yang ia lawan. Melawan dengan tetap berdiri tegak tidak goyah untuk selalu berusaha dan berdoa dan berkomitmen “Kita tidak boleh kalah dengan narkoba sebelum kita melawannya.” Dan ketika seorang anak menjadi pecandu narkoba maka keluargalah yang paling utama untuk menginternalisasikan nilai-nilai atau fungsi keluarga dalam penerimaan dan perlawanan terhadap adiksi yang menimpa.

Solusi dalam penanggulangan anggota keluarga yang terpapar narkoba akan selalu ada. Karena setiap permasalahan tentu ada solusinya. Untuk memperoleh solusi tersebut tentunya harus disertai dengan cara dan upaya. Adalah suatu upaya yang seharusnya kita lakukan bahwa mencegah adalah lebih baik daripada mengobati. Namun, jika permasalahan narkoba dimana ada anggota keluarga yang terpapar narkoba atau telah menjadi pecandu narkoba maka mengetahui akar penyebabnya menjadi hal yang harus diperhatikan. Siapa yang harus mengetahui? Tentu keluarga, orang terdekat dengan anak yang menjadi korban narkoba tersebut. Siapa yang harus melangkah di awal dalam penanggulangan pecandu narkoba? Kembali lagi kepada keluarga, sebagai orang terdekat yang memiliki ikatan darah dan tali cinta terkuat, terutama orangtua. Berdasarkan hasil analisis yang saya lakukan terhadap buku Nak, Dengarkan Ibu, ada satu hal yang saya garis bawahi dalam penanggulangan pecandu narkoba di lingkaran keluarga yaitu penerapan CINTA TEGAS.

Penerapan cinta tegas oleh keluarga adalah melalui penerapan kolaborasi dan hubungan yang seiring sejalan antara Ibu dan Ayah dan anggota keluarga yang lain dalam mengupayakan terlepasnya si pecandu dari adiksi narkoba. Satu hal juga yang harus diketahui oleh orang tua atau keluarga adalah tentang pemahaman adiksi narkoba. Orang tua atau keluarga yang hanya sekedar berkutat pada bagaimana anaknya mendapat pemulihan di tempat rehabilitasi semata tanpa dirinya terlibat tentang apa itu adiksi dan bagaimana menghadapi pecandu maka keterpulihan anak dari adiksi narkoba tidak akan berjalan dengan baik. Karena pada dasarnya, tempat rehabilitasi pecandu narkoba hanya sebuah jembatan untuk mengobati dan mengembalikan fungsi sosial pecandu narkoba, dan setelah pulang dari tempat rehabiltasi keberlanjutan pemulihan yang sebenarnya adalah di dalam rumah yautu melalui penguatan peran keluarga.  Dengan demikian, ketika seorang anak menjadi pecandu narkoba maka orang tua dan keluarga memiliki peran penting dalam penanggulangannya. Ini dilakukan agar cita-cita war on drugs dalam penanggulangan pecandu narkoba dapat tercapai, yaitu bukan semata tentang berorasi menyampaikan apa itu adiksi dan apa itu pecandu melainkan tentang bagaimana masyarakat mau dan semangat dalam memahami adiksi narkoba dan mampu melihat sosok pecandu narkoba dengan kacamata bijaksana tanpa penghakiman dan pendiskriminasian.

Kepala BNN: Peran Penyuluh Narkoba Sebagai Disseminator Informasi P4GN Kepada Masyarakat

Deputi Bidang Pencegahan BNN RI menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis Penyuluh Narkoba. Kegiatan ini bertujuan untuk mewujudkan penyuluh narkoba yang profesional sebagai garda terdepan dalam upaya penyampaian informasi dan edukasi tentang Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).

Kegiatan Bimbingan teknis mengusung tema “Optimalisasi Peran Penyuluh Narkoba melalui Program Desa Bergerak dalam rangka Perang Melawan Narkoba Menuju Indonesia Bersinar”, yang diselenggarakan secara virtual dengan mengundang seluruh Penyuluh di lingkungan BNN baik ditingkat Pusat, Provinsi maupun di Kabupaten / Kota (25/8).

Saat ini permasalahan narkotika di Indonesia masih memerlukan perhatian dan kewaspadaan tinggi dari seluruh elemen bangsa Indonesia. Tercatat bahwa angka prevalensi tahun 2019 mencapai 1,8% atau 3,41 juta jiwa. Tentunya dibutuhkan strategi dalam menghadapi permasalahan tersebut. Selain itu tentunya dibutuhkan juga peran Penyuluh Narkoba sebagai garda terdepan BNN dalam pencegahan bahaya penyalahgunaan nakona. Hal tersebut dikemukakan oleh Dr. Petrus Golose, selaku Kepala BNN dalam sambutannya.

Kepala BNN menyampaikan bahwa untuk menjawab permasalahan narkotika di Indonesia, BNN saat ini telah menjalankan program P4GN serta mengeluarkan tagline War On Drugs – perang melawan narkoba untuk mewujudkan Indonesia bersinar bersih narkoba. Terdapat tiga pendekatan dalam menjalankan program tersebut yaitu soft power approach (upaya bidang pencegahan, pemberdayaan masyarakat dan rehabilitasi), hard power approach (upaya di bidang pemberantasan) dan smart power approach (upaya pemanfaatan teknologi informasi dan litbang). Tentunya para Penyuluh Narkoba memainkan peranan penting dalam upaya P4GN tersebut.

Kepala BNN menekankan pentingnya peran Penyuluh Narkoba sebagai disseminator informasi P4GN kepada masyarakat yang diharapkan secara efektif dapat mengurangi sisi supply dari peredaran narkoba. Diakhir sambutan, Kepala BNN berharap agar seluruh jajaran pencegahan termasuk penyuluh narkoba dapat terus membangun inovasi dan sinergi dalam rangka menghadirkan program pencegahan yang optimal. Untuk itu Kepala BNN meminta Penyuluh Narkoba untuk terus mengasah kemampuan dan keterampilan serta kompetensi di Bidang Penyuluhan Narkoba.

Kepala BNN Ajak Trisakti Muda Untuk War On Drugs

Universitas Trisakti menyambut tahun ajaran baru dengan  mengajak seluruh Mahasiswa baru Tahun Akademik 2021/2022 untuk mengikuti acara PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru) tahun 2021 dengan tema Trisakti Muda menuju Young Generation of Entrepreneurs yang  dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus 2021.

PPKMB ini dihadiri 2.000 mahasiswa baru Trisakti dengan berbagai narasumber yang menginspirasi salah satunya Kelapa Badan Narkotika Nasiona (BNN) RI Komjen Pol Dr. Drs. Petrus Reinhard Golose, M.M yang akan menyampaikan materi tentang Strategi Penanggulangan Narkoba dalam Perspektif Pencegahan Menuju Indonesia Bersih Narkoba (Bersinar).

Dalam paparannya Kepala BNN menyatakan saat ini jumlah pengguna narkoba berdasarkan hasil penelitian LIPI bekerjasama dengan BNN pada tahun 2019 adalah 1,80 persen atau setara dengan 3.419.188 jiwa. Hal tersebut harus menjadi perhatian semua pihak untuk melindungi generasi muda dari penyalahgunaan narkoa ujar kepala BNN.

Kepala BNN menegaskan narkotika amat sangat berbahaya, secara klinis narkotika memiliki daya rusak yang menyerang otak dan tidak ada jaminan untuk sembuh walaupun sudah melalui upaya rehabilitasi. Oleh karena itu Pencegahan harus dikedepankan dalam menjaga generasi muda terutama generasi Trisakti Muda dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba ujarnya.

Lebih lanjut mantan Kapolda Bali ini berujar untuk menghasilkan pemimpin bangsa yang hebat maka diperlukan kesadaran berbangsa dan bernegara dan kesadaran mencintai keluarga dengan cara menjauhi narkoba. Generasi muda Trisakti harus memiliki ketegasan untuk menolak penyalahgunaan narkoba sambung Kepala BNN.

Jenderal Bintang 3 yang memiliki banyak penghargaan ini berpesan agar Generasi muda tidak terpengaruh dengan masalah-masalah yang dianggap sedang buming  oleh rekan-rekan dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu ia mengajak civitas akademi Trisakti bersama-sama BNN mendeklarasikan War On Drugs menuju Indonesia Bersih Narkoba. (Oscar)

Bahasa Kasih Itu Ampuh Menjauhkan Anak dari Narkoba

Manusia memiliki kebutuhan secara lahiriah maupun batiniahnya. Tidak hanya butuh makanan fisik untuk memberikan kekuatan bagi tubuh luarnya namun manusia juga membutuhkan makanan batiniah untuk menguatkan jiwanya. Seringkali terlewatkan oleh kita tentang hal ini dan cenderung mengabaikannya atau mungkin kita kurang paham bagaimana memberikannya.

Banyak terdengar oleh kita bahwa para artis mendekati narkoba dan dibui hingga beberapa tahun, keluar dan mengulanginya lagi. Mungkin juga tetangga atau bahkan keluarga kita sendiri pernah melakukannya. Sebenarnya tindakan mendekati narkoba ini bukan karena mereka kelebihan uang atau untuk kesenangan semata namun terdapat sisi yang kosong dari segi batiniah mereka.

Para pecandu narkoba adalah refleksi dari kurangnya “Bahasa Kasih”  dalam keluarga intinya. Tak hanya pada kalangan borju saja, bisa terjadi di kalangan biasa. Mereka mencari pelarian ke dalam komunitas tersebut untuk merasa dianggap, dan melarikan diri dari dunia nyata hanya untuk melupakan hal yang tidak mereka sukai.

Segala yang terjadi terdapat sebab dan akibat. Sebenarnya ada apa dengan para pecandu hingga terjerumus dalam kehidupan semu tersebut?. saya menemukan empat orang mantan pecandu dan bertanya kepada mereka, pendapat keempatnya hampir sama yaitu tidak diperhatikan, dikucilkan, sering dimarahin, dibandingkan, dan tidak dianggap.

Menurut ahli neuroscience, dr. Aisah Dahlan, otak manusia terdiri dari 100Milyar Neuron, 1000 triliyun byte atau 1 juta gigabyte merupakan jumlah memori yang sanggup disimpan dalam otak manusia selama hidupnya. Dalam format video, 1 juta gigabyte setara dengan video berdurasi 300 juta tahun. Proses pengolahan informasi dalam otak terjadi melalui loncatan informasi antar syaraf satu ke syaraf yang lain dan terjadi dengan kecepatan 400 km/jam, 1 detik ada 2 juta informasi tersambung.

jantung memiliki kekuatan 5 kali lebih besar dari kekuatan otak. Ketika otak manusia menyimpan emosi negatif atau positif, jantung akan merasakan hal yang lebih kuat. Contohnya seperti ingatan tentang cinta yang indah maka jantung merasakannya hingga timbul debar yang kuat dan membuat wajah bersemu merah dan senyuman, karena pompaan darah dari jantung (reaksi jantung ketika mengingat memori). Pada saat memori mengeluarkan ingatan yang menyakitkan debar jantung akan menimbulkan rasa nyeri yang dalam dan membuat reaksi menangis pada mata.

Mengapa manusia bila ditanya hal-hal yang menyakitkan, mereka selalu berkata “jangan diingat lagi”, “jangan ngomongin itu lagi”, dll. Otak berusaha mengubur memori tersebut dalam-dalam, namun tidak melepaskan emosi negatifnya. Orang-orang yang mengalami luka batin saat masa kecil dan remajanya cenderung mengubur memori itu dengan berbagai cara termasuk mendekati narkoba.

Kebutuhan Lahiriah Manusia

Kita sering beranggapan bahwa kesuksesan untuk menopang kehidupan ini dengan banyaknya harta, nama besar, makan dan minum yang mewah, pakaian bagus, mobil mewah, tas bermerk, dll merupakan sumber kebahagiaan. Semua itu hanyalah alat pendukung saja namun bukan sumber utama kebahagiaan. Sumber utama kebahagiaan langsung menyentuh hati dan membuat senyum itu lama berada “disana”.

Benda-benda yang berbentuk ini merupakan alat untuk menuju bahagia. Namun tidak mengisinya. Alat-alat itu dipandang oleh mata dan hanya sampai pada otak, memberikan anak kebutuhannya secara lahiriah sudah merasa cukup, tidak berhenti hanya pada kebutuhan luarnya saja.

Kebutuhan Batiniah Manusia

Sering juga tentunya kita menemukan orang yang hidup pada tahun sebelum milenial ini. Cenderung tegas, otoriter dan merasa tabu dengan pujian, membelai, menemani anak bermain, memberi dukunga penuh. Berbeda dengan masa sekarang yang cenderung lebih mudah karena telah memahami banyak ilmu pengetahuan.

Sesuatu yang abstrak tak terlihat dengan mata namun hati atau jantung merasakannya. Itulah makanan batin makhluk hidup. Perbuatan positif yang langsung mengenai sasaran yaitu hati.

Bahasa kasih ini merupakan makanan batin atau kebutuhan batin manusia. Bila batin tidak diberi makan maka batin akan kosong dan lapar, luka dan bersedih. Pada saat mengalami luka tersebut mata mengirim informasi tersebut kepada otak dan tersimpan selamanya.

Memori negatif itu mengirim signal ke jantung dan mengakibat kebencian yang dalam dan membuat manusia menjadi apatis. Kebencian itu terakumulasi hingga merusak diri sendiri dan orang lain dengan cara mengajak masuk kedalam komunitas tersebut. Menularkan kebiasaan karena memiliki problem yang seolah sama.

Penyebab Narkoba

Kecanduan narkoba ini bermula dari perilaku orang terdekat, mendorong mereka menjauh dari realita. Membiarkan mereka menghadapi hidup sendirian dengan penuh luka yang tidak disadari. Sesuatu yang tidak disadari itu tersimpan di alam bawah sadarnya.

Cara mereka lari dari kenyataan hidup yang membuat mereka terkucil, terhina, tidak dianggap, atau mungkin hal yang sangat remeh menurut kita tapi besar artinya bagi otak dan jantung manusia. loncatan informasi yang sangat kuat ketika mengingat kejadian tersebut tidak mampu dibendung oleh mereka. Sehingga membuat mereka berusaha menguburnya dalam-dalam dengan cara “tidak sadar” menjalani hidupnya.

Mereka hidup dalam level emosi yang sangat rendah dibawah dari level putus asa. Untuk berada pada level manic mereka menggunakan zat terlarang tersebut dan menurut mereka itulah kebahagiaannya. Ketidaktahuan mereka terhadap bagaimana cara untuk bahagia hingga mereka merusak hidupnya sendiri.

Berilah keluarga kita pujian, dukungan yang kuat, sentuhan fisik berupa elusan dan belaian dikepalanya, layani mereka dengan baik, dan beri apresiasi dari setiap perbuatan baiknya kepada orang lain berupa hadiah. Agar mereka merasa keluarganyalah tempat mereka berlari, tidak ada tempat yang lebih baik daripada keluarganya sendiri. Sehingga trauma itu terhenti hanya sampai disitu.

Kalimat pujian mampu memberikan semangat hidup dan enggan untuk merusak dirinya, karena mereka tahu tentang kelebihan yang mereka punyai, dukung agar mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian. Belai kepalanya, agar mereka tahu bahwa mereka juga bagian dari keluarga itu. Layani dengan baik, agar mereka merasa disayangi dan beri hadiah sebagai apresiasi perilaku baik, karena hadiah adalah sesuatu yang sangat berharga untuk hati mereka.

Penulis: Zairiyah kaoy CH CHt

Deputi Pencegahan BNN: Keluarga Garda Terdepan Mewujudkan SDM yang Unggul juga Benteng Utama Memerangi Penyalahgunaan Narkoba

Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Barat mengadakan Seminar Online dengan tema “Memperkokoh Ketahanan Keluarga dari Bahaya Penyalahgunaan Narkoba” (19/05/20) melalui video pertemuan virtual.

Lebih dari 170an peserta dan berbagai komunitas ikut bergabung seminar ini.

Narasumber yang hadir melalui virtual ini antara lain Deputi Pencegahan BNN, Irjen Pol Anjan Pramuka Putra SH., M.Hum, Direktur Peran Serta Masyarakat Deputi Pemberdayaan Masyarakat Brigjen Pol Drs. Mohamad Jupri, MM, Kepala BNN Jabar Brigjen Pol Drs. Sufyan Syarif, M.H., Rektor UNPAS (Ketua Artipena) Prof. Dr. Ir. H. Eddy Jusuf Sp, M.Si., M.Kom, dan Kepala Perwakilan BKKNN Prov Jabar Drs Kusmana. Para narasumber yang berkompeten dibidangnya ini dalam seminar dimoderatori ini oleh Dr. Eki Baihaqi, M.Si dari Dosen Pasca Sarjana UNPAS.

Deputi Pencegahan BNN, Irjen Pol Drs Anjan Pramuka Putra berkesempatan mengisi pertama dalam urutan penyaji seminar online ini, dengan mengambil tema: “Membangun Keluarga Berkualitas Guna Mewujudkan Ketahanan Keluarga”.

Disampaikan bahwa Keluarga adalah garda terdepan untuk mewujudkan manusia yang unggul sebagaimana arahan presiden RI, dan tentunya keluarga menjadi benteng terdepan juga dalam memerangi segala bentuk penyalahgunaan narkoba yang menyasar anggota keluarga terutama anak dan remaja.

Jenderal bintang dua ini menggambarkan bagaimana membentuk ketahanan keluarga dengan cara : Komunikasi antara hubungan orang tua dan anak yang hangat dibangun melalui komunikasi yang efektif.

Komunikasi yang efektif dapat mendorong keterampilan pengasuhan bagi orang tua sehingga disini peran orang tua dapat lebih dominan untuk membuka komunikasi dengan anak.

Kualitas orang tua yang dibentuk untuk mendukung ketahanan keluarga disampaikan dengan lugas oleh Bapak yang putrinya sedang kuliah di salah satu universitas negeri di Yogyakarta ini. Anjan menyampaikan bagaimana orang tua dapat terus memotivasi anak dengan hal yang positif, sehingga orang tua perlu memahami perkembangan anak, memahami diri ketika anak mengalami stres, dan bagaimana mengubah perilaku agresif dan tekanan teman sebayanya.

Orang nomor 1 di jajaran Deputi bidang Pencegahan ini mengupayakan untuk mempromosikan pencegahan bahaya penyalahgunaan narkoba secara massive dengan cara menekan laju angka penyalahguna coba pakai, salah satunya adalah melalui intervensi ketahanan keluarga.

Program yang telah dilaksanakan uji intervensi di tahun 2018 ini bekerja sama dengan UNODC dan UNJ dalam pelaksanaannya. Bahkan disampaikan dalam seminar hasil pelaksanaan hasil intervensi ketahanan keluarga pada tahun 2018 itu, Myanmar menyampaikan akan mengadopsi program ini untuk dilaksanakan di negaranya.

Selain itu, dalam pemaparannya Deputi Pencegahan di ruang Social Media Center menguraikan bagaimana perkembangan New Psycoactive Substance (NPS) yang cukup banyak di dunia sekitar 892 jenis, dan perkembangan telah masuknya tambahan 1 jenis yang terdaftar di Permenkes sehingga menjadi 73 jenis.

Hal senada juga diilustrasikan berbagai perkembangan penyalahgunaan narkoba pada anak-anak. Pada akhir sesi pemaparannya Anjan mengharapkan anak dan keluarga dikuatkan dengan kualitas diri dan kualitas keluarga dalam mencegah penyalahgunaan narkoba.

Ngabuburit Kreatif Ala Milenial

Milenial selalu penuh dengan ide kreatif termasuk dalam mengisi bulan Ramadhan Bulan Ramadhan tahun ini memang beda dari bulan Ramadhan biasanya. Pandemic covid-19 menjadi alasan utama mengapa Ramadhan kali ini berbeda dengan Ramadhan sebelum-sebelumnya. Kebijakan physical distancing yang diterapkan pemerintah menyebabkan orang-orang mau tidak mau harus berada di rumah demi mengurangi dan memutus mata rantai penyebaran virus corona.

Kalau biasanya, jadwal buka puasa bersama rekan maupun teman-teman lama sudah numpuk dan suasana ngabuburit sering diisi dengan jalan-jalan atau keliling komplek sambil nyari takjil menunggu adzan maghrib berkumandang, kali ini sudah pasti berbeda. Namun, masuk seminggu pertama Ramadhan ini sudah terlihat aktivitas milenial yang justru makin kreatif di sosial media.

Kamu bingung mau isi ngabuburit sambil nunggu buka puasa? Yuuk simak aktivitas berikut ini!

  1. Live instagram bareng teman

Platform instagram menjadi salah satu sosial media terbesar yang paling banyak diminati hampir semua kalangan. Mengadakan siaran langsung secara kolaborasi menjadikan hari-hari #dirumahajah menjadi lebih produktif dan berwarna. Kamu bisa memulai pembahasan yang ringan dan dekat dengan keseharian, misal menceritakan aktivitas selama di rumah ajah atau mulai membicarakan hobi dan film-film terbaru. Serius, ngabuburit kamu nggak akan kaku lagi, dan waktu adzan maghrib menjadi hal yang tidak lagi lama untuk ditunggu.

  1. Membaca buku

Kalau biasanya waktu berlalu begitu cepat dengan segala kesibukan yang menemani, selama #dirumahajah sambil menunggu adzan maghrib berkumandang, kamu bisa memanfaatkan waktu untuk kembali membaca tumpukan buku yang sering kali baru dibaca setengah halaman. Membaca buku juga menjadi aktivitas yang menyenangkan dan lupa akan waktu. Dan jangan lupa, selesai membaca buku, kamu bisa menulis resensinya dan membagikannya di akun sosial mediamu. Membaca buku menjelang berbuka puasa akan membuat kamu bahagia karena tahu-tahu suara adzan maghrib sudah terdengar.

  1. Melakukan Instajam

Kebijakan #dirumahajah membuat orang-orang makin kreatif dan produktif, salah satunya sering ditemui aktivitas instajam. Aktivitas yang dilakukan oleh para musisi atau kamu yang hobi nyanyi dengan mengupload gabungan video dari para musisi dan video kamu yang sedang bernyanyi. Duh seru, kapan lagi kamu bisa nyanyi diiringi para musisi tanah air?

  1. Ikutan #videohalu

Memang milenial tidak pernah kehilangan akal untuk membuat hal-hal menjadi seru dan menyenangkan. Kreativitas semakin tumbuh ketika terlalu lama berdiam di rumah, banyak video halu di sosial media. Video halu ini juga bisa kamu pilih untuk mengisi waktu ngabuburit, khusus buat kamu yang merasa kesepian dan nggak punya banyak teman apalagi anak rantau yang jauh dari orang tua dan keluarga, kamu bisa ikutan video yang dibuat seolah-olah seseorang sedang melakukan video call bersama kamu. Asyiknya, kamu bebas menjawab apa saja dari video yang sudah dibuat, hal tersebut membuat kamu semakin kreatif dalam menggabungkan video tersebut. Kurang berfaedah yah? Tapi setidaknya bisa bikin kamu tertawa dan merasa ditemani.

Nah, sobat cegah .. ternyata masih banyak hal yang bisa dilakukan sambil menunggu buka puasa. Walaupun #dirumahajah, ngabuburit tetap seru dengan banyak kreatifitas! Yuuuk .. isi hari-hari #dirumahajah dengan berkarya!

Bingung Ramadhan Mau Ngapain? Yuk simak tips berikut..

Ramadhan hadir ditengah pandemic covid-19, sebagai generasi muda yang biasanya padat jadwal buka puasa bersama ataupun kumpul bareng teman menjadi harus taat kebijakan dengan memutus mata rantai penyebaran corona virus untuk di rumah aja serta menghindari kerumunan. Puasa tahun ini pun terasa lebih berat karena menuntut untuk lebih tangguh menjaga kondisi fisik dan mental ditengah pandemic dengan tetap produktif dari rumah.

Nah, apa saja sih yang bisa dilakukan selama bulan ramadhan di tengah pandemic covid-19?

  1. Evaluasi Diri

Perlu banget untuk mengevaluasi diri dalam melaksanakan bulan ramadhan tahun sebelumnya. Disadari atau tidak, banyak target yang belum tercapai dalam bentuk ibadah di bulan ramadhan.

  1. Perencanaan

Waktunya untuk membuat target apa saja yang harus dipenuhi selama menjalankan ibadah ramadhan di rumah ajah. Perencanaan juga menjadi bagian sangat penting, hal tersebut merupakan salah satu proses tahapan peningkatan produktivitas dimana suatu proses menentukan hal-hal yang ingin dicapai serta menentukan berbagai tahapan yang diperlukan untuk mencapai tujuan pada bulan ramadhan tahun ini.

  1. Strategi Produktif

Perlu adanya strategi khusus dalam pelaksanaannya karena kita sudah mengevaluasi diri dan membuat perencanaan, seperti; melaksanakan skala prioritas dari daftar yang sudah dibuat dalam perencanaan, mencari support system atau teman-teman yang mendukung lancarnya target-target yang sudah direncanakan. Dalam situasi dan kondisi saat ini, orang-orang serumah bisa dijadikan pilihan, atau teman-teman virtual bisa menjadi pengingat ketika rasa malas mulai menggelayuti.

  1. Alat dan Metode Produktif

Alat produktif yang digunakan untuk menyusun to do list dapat menggunakan manual maupun digital yang template-nya bisa ditemukan di jejaring internet. To do list juga bisa dibuat secara langsung maupun bertahap.

  1. Komitmen dan Konsisten

Dua hal ini menjadi bagian utama dalam sebuah produktivitas, komitmen yang kuat dan konsistensi yang harus dipertanggung jawabkan. Dengan menggenggam komitmen dan konsisten, akan memudahkan strategi berjalan.

Jadi, sobat cegah .. yuk tetap produktif selama bulan ramadhan di rumah ajah!

BNN Gelar Seminar Nasional Pengembangan Model Intervensi Keluarga Anti Narkoba

Direktorat Advokasi Deputi Bidang Pencegahan mengadakan Seminar “Hasil Pelaksanaan Rumusan Pengembangan Model Intervensi Ketahanan Keluarga Anti Narkoba Dalam Rangka Prioritas Nasional” di Hotel Bidakara Jakarta, Rabu (18/12). Acara dihadiri oleh Kepala BNN RI Komjen Pol Drs. Heru Winarko, S.H, Direktur Jenderal Pendidikan Usia Dini & Masyarakat Kemendikbud Harris Iskandar. Acara ini juga menghadirkan 4 (empat) narasumber yaitu Deputi Pencegahan BNN Irjen Pol Drs Anjan Pramuka, SH, M.Hum, Ketua Pengkaji Modul Ketahan Keluarga DR. Aip Badrujaman, M.Pd, Pemerhati Anak Seto Mulyadi dan Praktisi Parenting Melly Kiong, serta lebih dari 200 peserta terdiri dari kementerian & lembaga terkait, perwakilan UNODC Indonesia, fasilitator kegiatan intervensi, mahasiswa dan para stakeholder lainnya.

Acara dimulai dengan sambutan & pembukaan seminar oleh Kepala BNN yang berpesan agar keluarga harus menjadi benteng utama dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba. Para orang tua juga diharapkan untuk menjaga komunikasi dengan anak-anak dan menjaga keharmonisan keluarga agar anak jauh dari penyalahgunaan narkoba. Harris Iskandar dalam sambutannya menyampaikan bahwa pendidikan di Indonesia mulai diarahkan untuk mengembangkan kapasitas dan kompetensi yang dimiliki setiap anak. Harris juga berharap agar orang tua harus dapat berperan aktif dalam tumbuh kembang anak.

Seminar dilanjutkan dengan diskusi panel oleh para narasumber dengan moderator Mirabai Bhana. Dalam diskusi ini Deputi Pencegahan BNN menyampaikan bahwa di era digital ini pencegahan penyalahgunaan narkoba bisa dilakukan oleh siapa saja dari smartphone mereka. Baru-baru ini baru saja diluncurkan REAN.id, platform yang ditujukan agar kaum milenial membuat sendiri konten pencegahan penyalahgunaan narkoba.  penyampaian Executive Summary Implementasi Model Ketahanan Keluarga di Provinsi Jawa Barat Dan Jawa Timur oleh Dr Aip Badrujaman, Pemerhati Anak Keluarga Seto Mulyadi menyampaikan materi “Orang Tua Sebagai Benteng Pertama Pencegahan Narkoba pada Anak” dan, “Memaknai Kebersamaan dalam Keluarga” oleh Melly Kiong.

Diharapkan dengan adanya seminar ini untuk menguatkan keluarga sebagai institusi terdepan untuk membangun generasi bangsa melalui rumah dengan hati & cinta, serta keluarga menjadi kunci utama dalam mencegah segala pengaruh buruk dari lingkungan sosial serta mempunyai ikatan kuat antara semua anggota keluarga agar kecil kemungkinan untuk jatuh dalam penyalahgunaan narkotika.