Page 2 of 2

Indonesia sebagai bangsa besar dan dihuni ratusan juta manusia tidak bisa lepas dari kenyataan pahit tentang budaya narkoba. Laporan yang dibuat oleh tim Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkapkan, ada lima juta orang pengguna narkoba yang terdeteksi di Indonesia. Dari jumlah tersebut, setiap harinya diperkirakan ada 50 orang yang meninggal akibat narkoba. Lantas, bagaimana awal mula narkoba bisa masuk ke Indonesia?

Narkoba rupanya telah masuk jauh sebelum Indonesia berdiri dan merdeka. Hal ini pun erat kaitannya ketika Bumi Pertiwi  masih dijajah oleh Belanda terutama di era VOC. Indonesia yang kala itu masih disebut pemerintahan Hindia Belanda turut andil dari perdagangan opium. Setidaknya 164 ton opium mentah diperdagangkan pada 1877. Tak hanya menjual produknya, 850 rumah candu legal di Pulau Jawa pun dipersiapkan untuk menarik pengunjung. Pemasukan dari narkoba saat itu digunakan untuk modal perang.

Budaya narkoba pun kian mengakar sejak saat itu, meski negara ini hidup berlandaskan dengan Pancasila dan agamais. Pemerintah Indonesia di bawah Presiden Jokowi pun terus menyatakan perang terhadap narkoba. Sejumlah langkah telah diambil guna menurunkan angka pemakai narkoba, antara lain menerapkan hukuman mati pengedar narkoba dan tidak memberikan hukuman bagi pemadat yang mau ikut program rehabilitasi BNN.

Langkah-langkah yang dilakukan pun mulai menunjukkan hasil nyata. Berdasarkan survei BNN, sebanyak 8,6 persen anak muda di Indonesia terutama dari wilayah perkotaan mengonsumsi narkoba pada 2006. Setelah satu dekade berlalu, angka tersebut turun menjadi 3,8 persen.

Selain itu, sebuah fakta mengejutkan adalah semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin besar pula potensi seseorang menggunakan narkoba. Mahasiswa menempati peringkat pertama dengan total 54 persen pada 2016 sebagai pihak paling rentan mengkonsumsi narkoba. Oleh karena itu, perlunya langkah khusus bagi mereka agar tidak terjerumus dalam jerat barang haram itu. Kesadaran bahwa mereka penerus bangsa perlu ditekankan

Banyak salah kaprah beredar di masyarakat terkait penggunaan narkotika dan obat-obatan. Salah satunya, menganggap ganja sebagai jenis yang aman untuk dikonsumsi. Bahkan, sebuah organisasi bernama Lingkar Ganja Nusantara (LGN), baru-baru ini membuat gerakan utnuk melegalkan penggunaan cannabis sativa (atau cannabis indica) di Indonesia.

Penggunaan ganja sendiri dikategorikan berbahaya bagi tubuh. Efeknya, terbagi menjadi jangka panjang dan pendek. Adapun lembaga Drug Free World mengkategorikan ganja sebagai jenis yang berbahaya bagi tubuh, dengan ragam dampak negatif seperti paranoid, depresi, cepat lupa, sering cemas, halusinasi, dan risiko serangan jantung.

Lebih lanjut, pemakaian ganja biasanya dilakukan dengan cara menghisap asap dari hasil pembakaran tumbuhan yang sudah dikeringkan. Hal ini dapat menyebabkan gangguan pernapasan. Terlebih, bagi mereka yang secara berkala menggunakan ganja. Asap yang masuk ke dalam tubuh membuat iritasi lapisan saluran pernapasan manusia. Itu sebabnya, pengguna ganja kerap menderita batuk  kronis, hingga yang paling ekstrem: infeksi paru-paru.  

Dilansir dari Drugabuse.gov, sebuah penelitian yang dilakukan di Selandia baru menemukan, pemakaian ganja jangka panjang sejak usia muda menyebabkan penurunan intelegensi. Bahkan, sekalipun individu telah berhenti menggunakan ganja, kemampuan IQ tersebut tidak akan kembali ke level normal. Dengan kata lain, pengguna ganja amat berisiko mengalami penurunan kemampuan berpikir.

Rendahnya kemampuan berpikir pun akan berimbas pada kehidupan sehari-hari si pengguna. Mereka akan cenderung sulit berpikir dan menyelesaikan sesuatu yang kompleks sehingga menyebabkan rendahnya pencapaian dalam hidup. Lambat laun mereka akan minder, mengucilkan diri dari lingkungan sosial, dan terus mencari kenyamanan melalui konsumsi ganja. 

Jadi, jangan pernah mengatakan ganja “ramah” bagi tubuh. Mulai sekarang, katakan “tidak” pada konsumsi ganja, atau justru tawaran untuk coba-coba.

Penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang atau narkoba memang dapat berujung fatal. Barang haram ini tidak hanya menyerang kesehatan fisik saja, melainkan juga memengaruhi kondisi kesehatan jiwa si pemakai. Bahkan, sekali terjerat dalam belengu narkoba, kondisi kejiwaan si pengguna lebih sulit untuk dipulihkan.

Ada dua dampak negatif utama penyalahgunaan narkoba terhadap kondisi psikis seseorang. Hal ini akan dijabarkan, agar Anda semakin yakin untuk tidak mencoba narkoba. Berikut ulasannya.

Pertama, pengguna narkoba kerap berhadapan dengan sugesti untuk terus memakai obat-obatan terlarang itu. Sugesti ini seperti suara-suara yang terdengar di dalam kepala seseorang dan membuat orang tersebut sulit untuk berhenti mengkonsumsi narkoba. Walau sudah melalui proses rehabilitasi, bekas pengguna narkoba pun bisa kembali jatuh di lubang yang sama. Salah satu cara untuk menghilangkan sugesti menggunakan narkoba kembali adalah punya keteguhan untuk “berhenti”, menjauhi narkoba, mengisi waktu luang dengan aktivitas, dan tidak sendirian atau ditemani dengan orang-orang yang mendukung proses pemulihan.

Kedua, bila tahap sugesti dibiarkan begitu saja, pengguna dapat dikategorikan termasuk dalam individu dengan pikiran dan perilaku obsesif kompulsif. Di tahap ini, gangguan kejiwaan seseorang mulai termanifestasi melalui tindakan yang di luar akal sehat dan sulit untuk diprediksi. Sebagian individu ada yang berupaya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan narkoba. Ada pula individu yang malah kecewa dengan diri sendiri, kemudian mulai menyakiti diri, dan berujung pada bunuh diri. Di sisi lain, ada pula kasus di mana si pecandu narkoba merasa diri paling hebat sehingga ringan tangan terhadap sesama.

Terkait dengan kondisi kejiwaan akibat efek negatif narkoba, Ketua Tim Assessment Badan Narkotika Nasional (BNN) dr. Benny menegaskan, rehabilitasi merupakan solusi jitu untuk mengatasi masalah ini. Lama waktu rehabilitasi pun tidak sembarangan. Masa pemulihan itu disesuaikan dengan berapa lama si pecandu menggunakan narkoba. Adapun lembaga anti narkoba itu siap untuk memberikan rehabilitasi gratis bagi pengguna obat-obatan terlarang selama tiga bulan pertama.

Keberadaan Narkoba saat ini memang sudah masuk pada level darurat, barang haram itu banyak tersebar dan dikonsumsi oleh semua kalangan, tak terkecuali kalangan pelajar, data Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat pengguna narkoba dikalangan pelajar mencapai 22 persen dari total penduduk Indonesia.Itu artinya bahwa Narkoba sudah meracuni generasi penerus bangsa.

Berdasarkan Undang-ndang nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika (Narkoba) disebutkan bahwa narkotikaadalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintesis maupun semi sintesis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Meski situasinya sudah pada level tertinggi, penyalahgunaan barang haram ini sudah seharusnya dilakukan tindakan preventif, karena mencegah jauh lebih baik dibanding mengobati bukan ? orang tua menjadi peran penting dalam upaya pencegahan narkoba terhadap anak. Dan berikut langkah pencegahan narkoba secara dini:

1. Mempelajari masalah Narkoba 

Tidak mungkin kita  mencegah, jika kita tidak tahu apa yang sedang kita coba untuk mencegahnya. Ambillah kesempatan untuk mempelajari masalah narkoba. Dengan membaca, mendengarkan ceramah, berdiskusi, dan membahas masalah narkoba di majalah, koran, atau pada program televisi dan radio. Anda harus mengerti jenis-jenis narkoba dan bahaya menggunakan narkoba yang nantinya kita akan sampaikan kepada anak kita sebagai proses pendidikan tentang narkoba.

2. Mengajarkan Anak tentang Masalah Narkoba 

Umumnya anak dan remaja menerima informasi tentang narkoba dari luar rumah, sebagian besar dari teman sebayanya. Sangat berbahaya ketika anak mengetahui suatu hal yang baru hanya setengah-setengah. Kita katakan setengah-setengah karena biasanya anak hanya tahu enaknya saja tidak mengerti dampak yang ditimbulkan akibat penyalahguanan narkoba. Untuk itu orang tua perlu mengajarkan tentang narkoba secara detai kepada anak sehingga anak mengerti secara utuh dan mampu mengambil langkah yang benar.

3. Melarang Pemakaian Narkoba

Melarang anak melakukan pemakaian narkoba jenis apapun, termasuk rokok dan minuman beralkohol,dan ini harus menjadi peraturan keluarga, orang tua juga harus menjelaskan tentang peraturan larangan memakai narkoba. Selain itu Jelaskan pula pada anak bahwa peraturn ini berlaku tetap, kapan saja, dan dimana saja, baik dirumah, di sekolah, maupun dirumah teman dan ditempat lainnya.

4. Cegah Pengaruh Negatif Berita Kriminal

Amati apa yang ditonton anak di televisi. Anda tidak perlu menyensornya, akan tetapi anda perlu mengambil kesempatan untuk menjelaskan kepadanya tentang berita kriminal. Berita kriminal  yang ditanyangkan ditelevisi hanya sepenggal dan sekilas saja, hal ini membuat anak penasaran dan akan mencari tahu informasi itu diluar. Sebelum itu terjadi berilah penjelasan dan informasi dari berita-berita itu. Hal ini dapat mecegah anak untuk mencoba-coba khususnya tentang penyalahgunaan narkoba. 

5. Mewaspadai Sikap dan Perilaku Sendiri

Keluarga adalah lingkungan terdekat yang mempengaruhi perkembangan perilaku anak. Anak akan meniru perilaku orang tuanya karena anak memandang orang tua adalah sebagai figur mereka. Hingga usia remaja anak akan meniru perilaku orang tuanya jadi yang perlu diwaspadai adalah sikap dan perilaku anda. Apakah anda merokok? Apakah anda minum-minuman keras? Atau bahkan anda memakai narkoba? hmm…Sangat disayangkan jika hal itu masih anda lakukan. Jangan salahkan anak jika mereka nantinya mengunakan narkoba, karena mereka mendapat contoh perilaku yang seperti itu. Jadi hemat saya, jadilah teladan yang baik bagi anak. Jika anda merokok mulai dari sekarang berhentilah. Jika anda suka minuman keras, hentikanlah. Sayangilah anakmu, generasimu!

6. Pola Hidup Sehat dalam Keluarga

Hal yang perlu diwaspadai dalam lingkunagn keluarga adalah keharmonisan. Penyalahgunaan narkoba merupakan salah satu bentuk kenakalan anak. Faktor penyebab kenakalan remaja yang utama adalah keluarga yang tidak harmonis. Maka dari itu, ciptakan keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang. Jika anak mendapatkan kasih sayang dirumah sendiri mereka tidak anak mencari diluar yang akhirnya lari ke narkoba.

Indonesia saat ini sudah masuk menjadi Negara darurat narkoba. Hal ini disebabkan angka penyalahgunaan di Indonesia pada survey tahun 2015 mencapai 2,20% dari seluruh penduduk Indonesia atau lebih dari 5 juta orang, diantara dari mereka akibat coba pakai, dan pecandu. Jumlahnya sangat fantastis, dan bukan perkara mudah bagi bangsa Indonesia untuk mengatasi masalah penyalahgunaan narkoba ini.Presiden Joko Widodo bahkan berkali-kali menegaskan bahwa Bandar narkoba harus dihukum seberat-beratnya untuk mengatasi penyakit masyarakat ini.

Sementara itu disektor lain Badan Narkotika Nasional (BNN) juga menargetkan akan merehabilitasi 100 ribu pecandu dan penyalahguna narkotika dan obat-obatan berbahaya (narkoba) sesuai amanat Undang-Undang No.35 tahun 2009 tentang narkotika.Dalam masalah ini BNN berusaha menekan jumlah pecandu sampai titik terendah lewat program-program rehabilitasi.

Selain itu para pengedar dan Bandar harus dihukum seberat-beratnya, masalah narkoba ini bukan permasalahan yang dianggap sepele, karena akibat masalah ini, berbagai kejahatan dan kriminal terjadi.Hal itu dikarenakan pecandu narkoba tidak dapat berpikir dan berfungsi secara normal sehingga kemudian melakukan tindakan diluar batas.

Banyak alasan pecandu kenapa mereka bisa terjatuh ke dunia narkoba satu diantaranya adalah tidak mendapatkan kenyamanan di dalam keluarganya. Apabila dalam rumah tangga terjadi disfungsi keluarga, maka perkembangan anak dan remaja beresiko untuk menyimpang.

Sejumlah Penelitian membuktikan bahwa dalam keluarga yang mengalami disfungsi keluarga, kemungkinan terjadi, apabila ayah yang meninggal maka pengaruh negatif terhadap anak laki-laki bisa terjadi sebesar 35%, sedangkan anak perempuan pengaruh negatifnya hanya 13%.sementara apabila yang meninggal ibu maka pengaruh negatif pada anak laki-laki hanyalah 18%, sedangkan pada anak perempuan pengaruh negatifnya jauh  lebih kecil.Sementara Kondisi keluarga yang masih buruk atau dapat dikatakan tidak ada perubahan, maka resiko anak dan remaja laki-laki maupun perempuan menjadi nakal 60%.

Hal lain yang bisa mempengaruhi perkembangan anak atas kondisi itu adalah disebabkan dari hubungan antara ayah dan ibu yang kurang baik, dari data tersebut menunjukan akan berpotensi resiko cukup signifikan 40% terhadap kenalakan antara anak dan remaja laki-laki maupun perempuan.Sementara itu jika hubungan antara anak dan remaja laki-laki maupun perempuan dengan kedua orangtuanya baik, resiko anak dan remaja laki-laki maupun perempuan potensi kenakalnnya hanya10%.

Apabila keluarga memberikan hal positif terhadap anak maka akan tercipta tingkah dan perilaku yang positif bagi anak begitu pula sebaliknya.Karena sebagian besar sebab seseorang jatuh kedunia gelap seperti narkoba, banyak mendominasi akibat disfungsi keluarga. Kondisi keluarga yang baik-baik tentu akan memberikan tingkah dan prilaku yang baik namun sebaliknya jika kondisi keluarga yang buruk potensi anak melakukan tindakan tidak baik bukan tidak mungkin terjadi.

Oleh karena itu peran keluarga dalam pemulihan pecandu sangatlah besar, karena pecandu sangat membutuhkan sosok yang namanya dorongan atau motivasi dari keluarga agar bisa bebas dan  keluar dari jerat gelap barang haram bernama narkoba.

Istilah narkoba sudah menjadi bahasa umum di telinga masyarakat Indonesia.Secara Terminologi makna narkoba adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa sakit hingga menimbulkan efek ketergantungan.  

Di Indonesia sendiri, barang haram jenis narkoba sudah dianggap sebagai musuh besar peradaban manusia. Pasalnya tak sedikit kasus-kasus besar seperti penyelundupan terbongkar, bukan hanya warga biasa melainkan artis papan atas juga terlibat menggunakan, atau lebih jauh lagi terungkapnya tempat-tempat produksi narkoba secara masal. Namun satu hal yang kadang tak luput disadari adalah proses terstruktur dan pasti penjajahan budaya suatu bangsa melalui narkoba. Proses penjajahan ini bukan hanya terjadi saat ini, tapi sudah berjalan lama bahkan sejak bangsa bermata biru Eropa memasuki nusantara.

Sejarah masuknya narkoba di nusantara telah berlangsung lama sebelum masa modern Indonesia. Menurut buku Opium to Java yang ditulis James Rush, penggunaan opium atau candu telah dikenal sejak abad ke-17. Penyebaran ini dibawa oleh pedagang-pedagang Arab dari daerah Bulan Sabit Emas di sekitar Afganistan dan Pakistan. Meski yang menggunakan secara aktif adalah warga keturunan Tionghoa, namun proses penyebarannya meluas hingga menembus pulau jawa.

Di pulau Jawa terutama kalangan bangsawan, penggunaan madat atau narkoba ini sudah menjadi seperti Life Style dan cukup popular pada masa itu. Setiap seorang bangsawan Jawa berkunjung ke kediaman bangsawan lainnya, kudapan tambahan seperti madat kerap ditemukan. Bahkan ketika bangsa Belanda mulai menginvasi nusantara, mereka melihat gaya hidup menggunakan madat ini sebagai salah satu peluang pemulus niat mereka menanamkan kekuasaan. Impor madat atau narkoba mulai dilakukan secara besar besaran, distribusinya tidak dilarang sama sekali. Malah ditemui pos-pos penjualan madat di pasar, pos penjagaan Belanda, dan tempat keramaian lainnya. Usaha Belanda ini bukan sia-sia. Disinyalir pada saat perang diponegoro, sebagian bangsawan dan prajurit jatuh sakit karena kurang pasokan madat atau Narkoba. Oleh karena itu, penggunaan madat ini pula menjadi salah satu factor langgengnya kekuasaan Belanda di nusantara selama tiga setengah abad.

Di era modern, madat atau yang biasa dikenal dengan narkoba tidak lagi hanya menjamah para dewasa yang ada di kalangan atas. Tujuan dari diproduksinya barang haram ini pula tidak hanya menyebabkan bangsa menjadi lemah secara fisik, namun lebih ke penghancuran mental dan psikis generasi muda. Salah satu efek dari penggunaan narkoba yaitu halusinogen, membuat generasi muda pemakainya senang berkhayal tentang hal-hal yang tidak nyata. Mereka terbuai dengan imaginasi yang lama kelamaan akan menghancurkan semangat hidup dan kekuatan mental dan psikis seseorang. Lebih jauh lagi, dampak kecanduan atau addicted dari narkoba menjadikan seorang pencandu akan melakukan apa saja ketika membutuhkannya. Seorang rela mencuri uang orang tua, menjual barang-barang pribadi, bahkan menipu untuk mendapatkan uang.

Hal ini sudah barang tentu sangat merugikan bagi kelangsungan eksistensi suatu negeri. Di kala generasi muda sudah dapat dihancurkan, maka bangsa itu bisa kehilangan generasi penerus dan dengan mudah dikuasai oleh bangsa lain. Namun jika diperinci lagi,terlihat bahwa aspek-aspek dasar suatu negara seperti ekonomi, sosial, iptek, dan kenegaraan akan terdegradasi oleh pengaruh narkoba.

Ketua MPR RI Zulkifli Hasan mengakui bahwa Narkoba merupakan faktor terdepan yang merusak moral dan budaya bangsa Indonesia. Kasus-kasus peredaran barang haram narkoba di tanah air sepertinya sudah sangat membahayakan kelangsungan hidup generasi muda bangsa. Untuk meminimalisir hal itu semua pihak harus bergerak dan bersatu terutama para orang tua untuk mendidik dan memberikan pondasi agama lebih kuat, sehingga nilai-nilai budaya bangsa tetap bertahan.

Satu setengah abad yang lalu, tepatnya pada tahun 1834-1842, sejarah telah mencatat begitu berbahayanya narkoba. Salah satu peristiwa sejarah yang menarik perhatian diantaranya ialah perang Candu yang berlangsung di Cina.

Inggris memang cerdas dalam menerapkan taktik untuk mendapatkan hasil alam Cina. Tanpa mengeluarkan banyak uang, Inggris cukup menawarkan sutra dan teh yang Cina miliki dengan ganja. Cina tentu tidak mau menukar ganja dengan sutra dan teh yang dimilikinya. Pada saat itu, Cina hanya ingin sutra dan tehnya ditukar dengan uang, alias dibeli bukan dibarter. Akhirnya didapatlah strategi untuk mengenalkan candu kepada rakyat Cina oleh Inggris.

Semakin hari, semakin banyak rakyat Cina yang terjerat candu karena ketagihan. Banyaknya rakyat Cina yang ketagihan inilah yang pada akhirnya membuat Cina bukan hanya rela, melainkan dengan senang hati sutra dan tehnya dibeli dengan ganja! Proses transaksi ini pun berlangsung dengan cukup lama dan makin hari makin banyak saja pasokan candu ke Cina.

Rakyat Cina dibuat semakin ketagihan, dan akhirnya disadari juga oleh sang raja bahwa efek candu telah merusak rakyatnya. Tak ada pilihan lain, China akhirnya menutup hampir semua pelabuhannya bagi kapal-kapal dagang Eropa. Tujuannya tiada lain untuk menghentikan pasokan candu yang masuk ke wilayah Cina.

Inggris tidak langsung kehabisan akal,mengingat tingginya tingkat ketagihan rakyat China terhadap candu, Inggris berani menyatakan perang. Satu persatu wilayah Cina jatuh ke pangkuan Inggris. Tak lama setelah ini, Cina menyatakan diri menyerah kalah. Kecanduan rakyat Cina termasuk anggota militernya membuat mereka mudah ditaklukan Inggris. Bisa dibilang, mereka sudah kalah sebelum berperang akibat efek candu yang masih menjerat mereka.

Akibat kekalahan ini, Cina harus mengikuti berbagai ketentuan yang semakin merugikan bangsanya! Itulah episode kelam bangsa Cina. Uraian Peristiwa tersebut hanyalah satu dari beragam cerita yang menyuratkan bahayanya mengonsumsi obat terlarang. Kita jelas tidak ingin seperti yang dialami oleh Cina kala itu. Kita tak ingin bangsa ini hancur dari dalam karena jerat narkotika dan obat-obat terlarang (narkoba). Kini obat bernama Narkoba sudah menjadi musuh dunia, anehnya barang haram itu tetap saja ada dan terus berusaha diproduksi secara masal.

Dari sumber catatan Kompasiana menyebutkan Narkoba merupakan obat dari golongan analgesik atau penghilang rasa sakit jenis opium (morfin, heroin), ganja, amfetamin (shabu-shabu, ekstasi atau DMDA), kokain, dan obat-obat penenang seperti senyawa turunan barbital. Paling sedikit, kelima jenis inilah yang sering disalahgunakan karena sifatnya yang tidak hanya addiktif, tetapi juga sangat merusak tubuh.

Sebelum mengetahui bahaya narkoba, maka sangat penting bagi kita untuk mengetahui terlebih dahulu tahapan-tahapan dalam penyalahgunaan narkoba. Sedikitnya Ada empat tahap dalam penyalahgunaan narkotik dan obat-obat terlarang.

Pertama ialah sekedar tahap coba-coba alias ingin tahu, pada tahap ini banyak dari mereka yang bisa berhenti. Kedua adalah pemakai regular alias memakainya kadang-kadang namun tak sering,  pada tahap ini belum ada perubahan mendasar yang dialami pemakai, mereka umumnya tetap melakukan rutinitas sebagaimana mestinya seperti sekolah, kuliah serta ngantor, sementara pada tahap ketiga adalah ketagihan, disini Pemakai sudah mulai merasa berkeinginan untuk memakainya berulang-ulang karena
merasa  nyaman.

Namun, pada tahap ini pengguna masih memiliki kesempatan untuk berhenti. Dan terakhir adalah tahap ketergantungan, Pada tahapan ini yang sangat berbahaya. Pasalnya hal ini meliputi ketergantungan dibagian psikis dan fisik.Jika telah mencapai ketergantungan fisik, ini lebih berbahaya lagi, karena pada tahap ini pengguna sangat sulit untuk bisa berhenti dari obat. Dan Jika dilepas begitu saja, akibat yang muncul adalah rasa sakau yang amat sakit. Namun apabila diteruskan, fungsi fisiologis tubuh juga semakin rusak dan peluang mendekati ajal semakin dekat. Jalan utamanya ialah tiada lain dengan memberikan obat tersebut terus menerus dengan penurunan dosis berkala untuk menghilangkan rasa sakaunya. Sayangnya, di Indonesia sendiri pengguna narkoba sudah sangat banyak. Para pelajar SMA bahkan SMP rawan akan hal ini.

Si pengedar sudah sangat berani menjual barang yang disalahgunakan di sekitar sekolah serta komplek kampus. Namun tetap saja polisi masih kesulitan meringkusnya karena teknik yang dilakukan antara pengedar dan pengguna tergolong professional! Inilah yang menyebabkan jumlah pemakai narkoba di Indonesia terus terjadi peningkatan,  fenomena ini ibarat gunung es dimana Jumlah pengguna, pengedar, dan bandar yang tampak di permukaan hanya sebagian kecil dibandingkan yang tidak
tampak di permukaan.

"Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia." (Ir. Soekarno)

Jika menilik sejarah, bangsa Indonesia dapat bangkit dari segala bentuk penjajahan tak lain karena jasa para pemuda. Sejarah mencatat, pada 20 Mei 1908 berdiri organisasi pergerakan pemuda bernama Budi Utomo yang dimotori Dr. Soetomo. Hal tersebut menjadi tonggak lahirnya pergerakan pemuda dan menginspirasi pemuda-pemuda lain untuk bersatu menentang segala bentuk penjajahan di Indonesia. Sampai saat ini, setiap 20 Mei selalu diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Namun kini peringatan tersebut hanya bersifat seremonial. Tak ada lagi yang namanya pergerakan pemuda seperti 107 tahun silam. Pemuda saat ini telah bertransformasi menjadi pemuda yang tak punya jati diri. Banyak dari mereka terjerumus ke lubang hitam. Mereka semakin dimanjakan dengan perkembangan era globalisasi yang membuatnya buta. Buta akan kebenaran.

Kata pemuda secara bahasa dalam KBBI didefinisikan sebagai seseorang yang akan menjadi pemimpin bangsa. Namun, sekarang definisi tersebut telah bergeser. Pemuda kian identik dengan hal-hal buruk, salah satunya yakni narkoba. Memang tak bisa dimungkiri, maraknya penyimpangan perilaku generasi muda tersebut dapat membahayakan keberlangsungan hidup bangsa Indonesia di kemudian hari. Karena pemuda sebagai generasi yang diharapkan menjadi penerus bangsa malah semakin hari semakin rapuh digerogoti zat-zat adiktif penghancur syaraf. Akibatnya, generasi harapan bangsa yang tangguh dan cerdas hanya akan tinggal kenangan.

Banyaknya pemuda pecandu narkoba tersebut didasari oleh gaya hidup instan yang menjadi impian mereka tanpa memikirkan dampak buruknya ke depan. Belum lagi perkembangan teknologi dan informasi yang begitu pesat membuat mental pemuda dimanjakan oleh berbagai fasilitas. Terkadang karena tidak adanya filter iman dan takwa, pemuda mudah terlena oleh fasilitas tersebut.

Pergerakan bandar narkoba di negeri ini memang sangatlah cantik. Ironisnya, hal tersebut didukung oleh para aparat negara. Pemasaran narkoba dilindungi secara “laten” oleh pihak pengaman negeri ini. Bahkan di kota-kota besar pasarnya sudah dibuat sedemikian baik. Orang yang bertugas sebagai pelindung negara malah menjadi penghancur negara.

Berkaca dari hal tersebut, penegakan hukumlah yang menjadi kekuatan untuk memberantas peredaran narkoba. Namun, semua tetap kembali kepada kesadaran pribadi masing-masing khususnya pemuda untuk menjauhi bahaya narkoba yang dapat mengancam nyawa, menghabiskan waktu, menyita banyak materi dan menghapuskan harapan yang telah dibangun sejak dini.

Pemuda zaman sekarang seharusnya dapat mencontoh semangat dan perjuangan pemuda zaman dulu ketika mereka berjuang mati-matian mengusir para penjajah. Sudah saatnya pemuda zaman sekarang juga berjuang mati-matian memberantas peredaran narkoba sampai ke akar-akarnya.

Pemuda pada hakikatnya adalah agen perubahan yang sudah lama didambakan oleh rakyat Indonesia. Seseorang yang selalu dielu-elukan keberadaannya sebagai generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, dengan kombinasi semangat masa lalu dan tren masa kini mari mulai langkah kecil kita dengan selalu menjauhi narkoba serta selalu memberikan sosialisasi mengenai bahaya narkoba. Semoga ke depannya benar-benar tercipta generasi bangsa yang dapat menjawab tantangan zaman dengan tindakan yang nyata dengan melakukan gerakan melawan Narkoba semoga bias terwujud, Amin

Sobat sehati, mengonsumsi sarapan sangat penting bagi kamu untuk mendapatkan energi guna memulai aktivitas harian kamu. Nah, dari sekian banyak jenis makanan yang baik untuk dikonsumsi saat sarapan pagi, salah satunya adalah telur, yang merupakan sumber protein berkualitas tinggi.

Salah satu jenis olahan telur sederhana yang direkomendasikan untuk sarapan adalah telur rebus. Selain tinggi protein, telur juga mengandung berbagai vitamin dan asam amino yang baik untuk otak.

Namun, nggak cuma itu saja sobat sehati, masih ada 5 alasan perlunya mengonsumsi telur untuk sarapan, seperti dikutip dari laman Boldsky:

Sarapan berprotein tinggi

Bahkan, dua butir telur yang disajikan dengan dua iris roti panggang gandum mengandung setidaknya 20 gram protein. Ini berarti, konsumsi telur di pagi hari setidaknya dapat memenuhi 25% kebutuhan protein kamu untuk beraktivitas seharian.

Sumber yang kaya nutrisi

Lupakan sereal olahan, minuman sarapan dan yoghurt manis, karena nutrisi tinggi yang dibutuhkan pada saat sarapan ada pada telur. Selain mengandung lebih dari 20 vitamin dan mineral termasuk lemak esensial dan antioksidan, telur juga praktiks dikonsumsi hanya dalam beberapa menit dengan sayuran segar.

Kenyang lebih lama

Sebagian dari kita mungkin telah mengetahui kalau protein juga dapat membantu menjaga kita kenyang lebih lama. Fakta ini ternyata pernah dipublikasikan dalam European Journal of Clinical Nutrition yang menemukan bahwa individu yang mengonsumsi telur sebagai menu sarapannya, makan jauh lebih sedikit sepanjang hari.

Membantu menurunkan berat badan

Dalam penelitian yang diterbitkan International Journal of Obesity, disebutkan, pelaku diet yang menikmati telur melaporkan hasil penurunan berat badan yang lebih baik selama 8 minggu sebagai bagian dari diet kalori terkontrol.

Menurunkan risiko diabetes

Secara khusus, asam amino leusin yang ditemukan pada telur dapat membantu mengontrol kadar insulin dalam tubuh. Insulin adalah hormon yang mengatur metabolisme lemak dalam tubuh dan tingkat insulin yang terkontrol dengan baik dapat membantu pengendalian berat badan dan mengurangi risiko terkena diabetes tipe 2. **MS

Sobat sehati, upaya pemberantasan peredaran dan penyalahgunaan narkoba kian marak dilakukan berbagai pihak. Salah satunya adalah Rektor Universitas Hasanuddin, Prof Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu, yang mempersilakan petugas merazia kampus, untuk memastikan ada tidaknya narkoba.

Hal ini ditegaskan Dwia di sela-sela kegiatan penandatanganan MoU Penanggulangan Penyalahgunaan Bahaya Narkoba bersama Kepala BNN Komjen (Pol) Budi Waseso, di kantor PT Pelindo IV di Makassar beberapa waktu lalu.

“Salah satu bentuk kerja sama yang bisa kita lakukan bersama BNN setelah penandatanganan MoU ini adalah dengan mempersilakan petugas masuk ke kampus untuk gelar razia, sweeping yang bukan hanya terhadap mahasiswa tapi juga civitas akademik lainnya,” terang Dwia, seperti dilansir dari Merdeka.com.

Selanjutnya, ujar Rektor Unhas ini, penjagaan dan pengawasan ketat ini akan dimulai dengan tes urine terhadap mahasiswa baru yang sudah diberlakukan. Kemudian secara terstruktur akan dites lagi saat mahasiswa naik tingkat semester dan saat hendak dilantik jadi sarjana akan dilakukan tes urine, darah maupun rambut.

“Kita akan buat sistemnya sehingga akan terbentuk efek-efek pengawasan dan penjagaan yang ketat,” tandasnya mengulang.

Ditambahkan, perguruan tinggi selama ini steril dari pengawasan petugas, karenanya perguruan tinggi jadi sasaran paling empuk untuk pengedaran narkoba padahal civitas akademika khususnya mahasiswa adalah kader bangsa yang harus dijaga, jangan sampai lengah.

“Kita ingin kampus ini clean dan clear. Sanksinya berat jika terbukti terlibat. Mahasiswa bisa diberi skorsing hingga pemecatan. Jika PNS yang terlibat maka kita akan usulkan ke kementerian untuk diberikan sanksi. Ada regulasinya,” pungkas Dwia. **MS

Page 2 of 2
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…