Super User

Super User

Page 2 of 13

Tahukah Anda, bila jalur laut menjadi jalur favorit bagi penyelundupan narkoba?

Jalur ini dipilih para penyelundup narkoba lantaran dianggap lebih aman bila dibandingkan dengan jalur darat maupun udara. Hal ini mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki bibir pantai yang panjang, serta memungkinkan adanya pelabuhan tersembunyi atau “pelabuhan tikus”. Pelabuhan-pelabuhan seperti ini yang dapat mempermudah para penyelundup untuk mendistribusikan barang haram tersebut.

Bila dilihat lebih dalam, pasokan narkoba yang datang ke Indonesia berasal dari sejumlah negara di dunia. Ini meliputi jaringan Amerika Latin, Afrika, Asia Timur, dan negara-negara Asia Barat seperti Iran, Irak, dan Afghanistan. Namun, pasokan paling besar justru datang dari Tiongkok.

Narkoba biasa diselundupkan melalui  Sungai Mekong, yang melintasi negara-negara Asia Tenggara seperti Myanmar, Kamboja, dan Laos. Oleh karena itu memang dibutuhkan kerja sama antara Indonesia, dalam hal ini Badan Narkotika Nasional (BNN) dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara untuk menghadang distribusi narkoba tersebut.

Salah satu kerja sama yang dapat dilakukan adalah dengan prenotification precursors, berupa pemberian data informasi mengenai distribusi pasokan, sehingga Indonesia sendiri dapat melakukan antisipasi di pelabuhan-pelabuhan. Kerja sama ini sendiri telah dilakukan Indonesia dengan Tiongkok. Sebagai contoh, adalah dalam kasus Freddy Budiman. Tiongkok memberikan informasi mengenai keterlibatan 131 perusahaan di Beijing dalam kasus ini.

Selain kerja sama yang dilakukan dengan otoritas luar, BNN di daerah juga mengadakan kerja sama dengan otoritas dalam negeri seperti Angkatan Laut dan Direktorat Polair Polda setempat untuk menghadang distribusi narkoba melalui jalur laut. Namun demikian, yang tak kalah penting juga sebenarnya adalah peran serta masyarakat setempat dalam mencegah masuk dan beredarnya narkoba di dalam negeri. Tentu  saja, dengan kontribusi semua pihak, upaya pencegahan distribusi narkoba di Indonesia diharapkan dapat terlaksana dengan baik

Narkoba sudah seperti penyakit yang kian mewabah dan dapat menjangkiti siapa pun. Ia tak pandang bulu, miskin atau kaya, muda atau tua dapat menjadi korbannya. Terlebih, di Indonesia. Dengan jumlah penduduk yang banyak dan wilayah yang amat luas, negara ini telah menjadi pangsa pasar bagi peredaran narkoba. Hal ini tentunya meresahkan semua pihak, karena narkoba bukanlah barang yang dapat membawa kebaikan, melainkan keburukan di semua aspek.

Mengantisipasi peredaran barang haram ini tentunya bukan hanya tugas dari aparat yang berwenang saja, melainkan juga semua pihak. Masyarakat perlu tahu dan paham posisinya dalam mencegah peredaran dan penyalahgunaan narkoba. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan ikut aktif dalam sosialisasi yang dilakukan di lingkungan-lingkungan, seperti sekolah dan kampus.

Mengapa kedua tempat ini penting?

Karena banyak usia pelajar dan mahasiswa yang dijadikan target dari pemasaran narkoba. Rasa ingin tahu mereka di usianya membawa mereka untuk mencoba segala hal, dan narkoba bisa sangat mungkin salah satunya. Maka tak mengherankan bila kampus sering dijadikan arena transaksi jual-beli narkoba. Seperti halnya terungkapnya penyalahgunaan narkoba di kampus Universitas Nasional (Unnas), Jakarta.

Dalam kasus ini, aparat menemukan 8,5 kilogram ganja, berpuluh-puluh senjata tajam, serta alat kontrasepsi. Hal ini tentunya ikut mencoreng nama institusi pendidikan dan telah meresahkan siapa pun. Bagaimana tidak, kampus yang seharusnya menjadi tempat mencetak generasi penerus bangsa telah berubah menjadi sarang kotor tempat jual-beli barang yang dapat membahayakan jiwa dan raga seseorang.

Pihak kampus tentunya lagi-lagi harus paham akan masalah ini. Jangan bersikap acuh dan percaya diri bahwa narkoba tak akan menghampiri institusinya. Peraturan yang telah ada dan ditujukan kepada mahasiswa, janganlah dijadikan hanya sebagai wacana semata, namun juga harus diterapkan. Pengawasan perlu dilakukan dengan baik. Pada hakikatnya, peredaran narkoba kini tak hanya di tempat-tempat hiburan malam, karena institusi pendidikan pun bisa saja tak luput dari bahayanya.

Pengedar narkoba akan datang dengan tangan terbuka dan senyum merekah bagi siapa pun yang mau membeli barang haram tersebut. Mereka akan memakai 1001 rayuan demi meyakinkan Anda untuk membeli narkoba. Namun, harus dipahami bahwa yang mereka lakukan adalah rayuan palsu.

Sebuah penelitian menunjukkan, alasan utama seseorang menggunakan narkoba adalah dorongan dari teman-temannya. Oleh sebab itu, pengedar narkoba selalu datang bak penolong atau teman baik yang perhatian dengan Anda. Namun, motif utama bukanlah untuk menolong, melainkan menjadikan Anda sebagai sapi perahan. Ya, sekali saja menggunakan narkoba, maka efek ketergantungan atau ketagihan akan membuat pemakai rela mengeluarkan uang berapa pun demi kenikmatan sesaat. Tidak berbeda seperti sapi perah.

Menurut Yayasan Dunia Bebas Narkoba, para pengedar memang menargetkan orang-orang yang sedang dalam kondisi terpuruk. Misalnya saja orang yang baru putus cinta, mereka yang baru dipecat dari pekerjaan, maupun orang yang sekadar ingin terlihat beken. Orang-orang seperti itulah merupakan mangsa empuk pengedar narkoba.

Salah satu rayuan para pengedar narkoba adalah, “Ayo pakai ekstasi karena barang ini akan membuat Anda populer dalam pertemanan.”

Padahal, patut dipahami, para pengedar merupakan hamba uang. Mereka tidak akan memikirkan nasib Anda, andai ketergantungan akan narkoba menghabiskan seluruh harta kekayaan. Begitu pula dengan kesehatan, para pengedar tidak ambil pusing bila ada kliennya yang meninggal akibat overdosis (OD).

Adapun salah satu cara untuk menangkis rayuan pengedar narkoba adalah memiliki pengetahuan yang cukup tentang obat-obatan terlarang ini. Kadang kala pengedar tidak akan secara gamblang mengatakan menjual narkoba, melainkan mengaku menjual vitamin. Pengetahuan ini penting untuk membentengi Anda dari bahaya narkoba.

“Sekitar 27,32 persen pengguna narkoba di Indonesia berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Data tersebut didapat dari penelitian Puslitkes Universitas Indonesia (UI) dan Badan Narkotika Nasional (BNN) pada 2016 lalu. – Dikutip dari republika.co.id

Salah satu ciri khas anak muda adalah “pencarian jati diri”. Kalau dulu kesempatan untuk mengeksplorasi potensi diri terbatas, kini kesempatan justru dibuka selebar-lebarnya. Apalagi didukung dengan semakin menjamurnya media sosial.

Sayangnya, media sosial yang mampu merekam segala aktivitas kita, seakan menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi kamu bisa mengeksplorasi potensi diri, sedang di sisi lain, bullying dan “nyinyiran” juga makin mudah terlontar. Orang-orang bisa dengan mudah mengkritik “pencitraan”, “B (re: biasa) aja”, atau “alay” lewat sosial media.

Alhasil, banyak di antara kaum muda yang justru tertekan karena merasa nggak diterima. Perasaan tersebut mendorong kaum muda untuk kemudian melakukan segala cara agar diterima. Sayangnya, jalan yang ditempuh nggak selalu baik. Banyak yang justru terjerumus di lembah hitam pergaulan bebas.

Alih-alih menekuni hobinya, free sex dan narkoba malah jadi “jalan keluar” agar ia diterima oleh pergaulan. Padahal, andai saja hobi yang dicap ‘alay’ dan ‘pasaran’ itu ditekuni, suatu saat bisa jadi jalan sukses, lho. Nggak percaya? Nih silahkan kamu baca sendiri.

  1. Hobi sharing Instastory jadi awal bakat akting? Bisa jadi!

Jangan berkecil hati kalau ada yang komentar “Alaaaah... begitu doang di”story-in, norak!”. Hobi update Instastory nggak lantas bikin kamu norak, hal ini bisa jadi satu modal potensial yang mungkin bisa kamu kembangkan. Siapa tahu nantinya kamu justru makin andal bikin vlog, hingga meraih mimpi di dunia seni peran!

  1. Suka “dandan” = ganjen? Make Up Artist ternama tenar justru karena hobi ini

Generasi pendahulu sering nyinyir “anak SMA kok sudah kaya tante-tante”. Nah, padahal hobi tersebut kalau ditekuni bisa jadi ladang uang. Sebut saja Vivi Thalib, Astrid Marcella, atau Vizzily, ketiga nama tersebut adalah sedikit dari deretan nama tenar MUA Indonesia yang berhasil meraih sukses berawal dari hobi “dandan”.

  1. Pilih kecanduan narkoba, atau kecanduan main game?

Ya, kalau sampai menjadi pecandu game sih sebenarnya enggak bagus juga. Mungkin lebih tepat kalau disebut “gamers sejati”. Gamers pasti sering diceramahi orang tua “Tiap hari kerjannya nge-game melulu, mau jadi apa kamu?, itu tandanya bukan kamu dilarang bermain game. Main boleh. Tapi jangan lupa kewajiban lainnya. Kendati demikian, kalau kamu mendalami hobi ini, bukan tidak mungkin suatu saat kamu bisa menjadi atlet e-gaming. Zaman sekarang gim sudah menjadi salah satu cabang olahraga profesional baik berskala nasional maupun internasional. Hadiahnya pun terbilang fantastis, nggak heran kini banyak orang yang kemudian menjadikan gim sebagai profesinya.

Nah itulah tiga kegiatan yang banyak diremehkan orang lain, namun justru dapat mendatangkan kesuksesan apabila diseriuskan. Jadi, nggak ada alasan lagi ya untuk mendekatkan diri pada pergaulan lewat narkoba.

Keluarga memiliki peran penting dalam proses tumbuh dan berkembangnya anak. Melalui keluarga, seorang anak belajar mengenai nilai-nilai untuk pertama kalinya. Termasuk di dalamnya pemahaman berbagai macam hal, tidak terkecuali narkoba. Pendidikan dan sosialisasi mengenai bahayanya narkoba memang bukan hanya tugas dari aparat dan sekolah. Lingkungan rumah, dalam hal ini keluarga, memiliki posisi yang penting, bahkan strategis untuk membentuk karakter, sikap dan pemahaman seorang anak terhadap narkoba.

Orang tua tidak perlu segan dalam berkomunikasi dengan anak. Komunikasi memang menjadi hal yang sangat krusial, apalagi bila dihadapkan pada posisi sang anak yang tengah beranjak remaja. Rasa ingin tahu atau “coba-coba” dari anak-anak remaja sering meresahkan orang tua. Padahal, rasa resah saja tak cukup andaikan sang orang tua tidak tahu dan tidak mau untuk terjun langsung dalam memahami sang anak. Oleh karenanya, berkomunikasi dengan anak perlu dilakukan orang tua untuk memberikan pemahaman terhadap anaknya.

Berkomunikasi pun jangan diterapkan secara satu arah semata. Lakukanlah dengan dua arah. Orang tua harus menjadi pendengar yang baik bagi anak-anaknya. Memasuki usia remaja, misalnya, dimana problematika hidup mulai dirasakan – di sini lah orang tua harus hadir dan siap memberikan solusi atas masalah yang dihadapi.

Hal semacam ini sebenarnya sudah menjadi bentuk pengawasan tersendiri bagi berkembangnya anak. Dengan menjadi teman bagi anak, orang tua tentunya dapat lebih mudah dengan memberikan pemahaman tentang narkoba. Diharapkan, orang tua tak hanya berbicara terkait melarang ini itu soal narkoba, melainkan dapat memiliki pemahaman lebih jauh tentang bahayanya mengonsumsi barang haram ini.  Sehingga, kesadaran anak pun diharapkan dapat terbentuk untuk tidak sekali pun menyentuh narkoba, apalagi mencicipinya.

Daun kering dari tanaman Indian hemp itu biasanya dipadatkan, kemudian dibakar, lantas asapnya diisap hingga mengisi rongga paru-paru. Sekali isap, dapat membawa efek relaksasi hingga halusinasi. Itulah mariyuana atau narkoba yang lebih dikenal dengan sebutan ganja.

Beberapa kalangan masyarakat mendorong agar dilakukan legalisasi mariyuana. Hal ini terjadi di dunia internasional dan  di Indonesia. Dalam batas tertentu, mariyuana memang dapat dipakai untuk pengobatan. Namun, usaha untuk melegalkan mariyuana dilakukan demi menggunakan obat tersebut dengan cara yang salah.

Efek menggunakan mariyuana akan langsung terasa pada 30 menit pertama. Sayangnya, efek itu baru akan hilang dari tubuh setelah dua atau tiga jam berhenti mengonsumsinya. Para penikmat tumbuhan ini menilai, tidak ada dampak negatif yang ditimbulkan karena merasa hanya akan memberikan rasa relaks saja.

Beberapa macam penyakit berbahaya dapat menyerang pemakai mariyuana, antara lain alzheimer, skizofrenia, gagal jantung, hingga risiko osteoporosis yang semakin tinggi. Bahkan, di beberapa kasus ditemukan volume otak pemakai mariyuana ini lebih kecil dibanding orang yang tidak mengonsumsinya. Sementara, pengguna mariyuana dari kalangan anak muda menderita efek rendahnya kemampuan berpikir.

Menurut laman Narconon.org, narkoba jenis ini populer di kalangan anak muda atau remaja. Para orang tua pun diminta waspada dan memberikan perhatian lebih supaya anak mereka tidak menggunakan mariyuana. Salah satu cara mudah mendeteksi adalah dengan mengenali beragam nama lain dari mariyuana. Beberapa nama yang populer beredar, di antaranya cimeng, gelek, pocong, mary jane, pot, weed, grass, hemp, dan astro turf.

Bagi para orang tua yang mendengar buah hatinya mengucap nama-nama alias mariyuana di atas, sebaiknya segera bertanya dengan detail. Jangan takut untuk menegur anak Anda, sebelum mereka menjadi korban mariyuana.

Page 2 of 13
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…