Super User

Super User

Page 10 of 13

Rabu, 6 November 2013, DEPOK - Ketua Puska Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Indonesia, Inaya Rakhmani, Ph.D, mengungkapkan,  strategi komunikasi yang paling utama dalam upaya pencegahan narkoba adalah dengan pendekatan sosiologis dan antropologis,"Mantan pengguna yang telah pulih sepenuhnya, dapat menjadi komunikator secara persuasif bagi pengguna yang masih dalam proses pemulihan untuk menciptakan suatu komunitas, guna menghasilkan sebuah karya,” ungkap Inaya, dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Direktorat Diseminasi Informasi Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN), di Aula Prodi Ilmu Komunikasi, Kampus Universitas Indonesia, Depok (6/11).

Selanjutnya Inaya menjelaskan, kita adalah aktor yang aktif maupun pasif untuk dapat mengendalikan lingkungan. Memberikan pemahaman tentang narkoba, lalu meminta feedback sejauh mana pengetahuan masyarakat, serta bagaimana peran aktif dalam partisipasi dalam pencegahan narkoba, “Tiga hal itu dianggap menjadi langkah penting dalam upaya melakukan pencegahan,” jelas Inaya.

Sementara itu, para mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia, (ISKI) memberikan pernyataan bahwa pencegahan narkoba itu berasal dari dalam diri sendiri, dengan berpikir ke masa depan tentang apa dan bagaimana kita selanjutnya setelah ini,”Selain itu, media massa pun sangat berperan, dimana segala sumber informasi dapat diterima atau diakses,” kata Doni, salah satu perwakilan dari ISKI.

Sedangkan menurut Yudi Kusmayadi, Penyuluh Madya BNN, untuk melakukan pencegahan penyalahgunaan narkoba, strategi komunikasi termasuk cara paling tepat. Dapat melalui strategi komunikasi berbasis keluarga, pendidikan, instansi atau lembaga, keagamaan dan media massa, “Sedangkan dalam penanggulangannya terdapat dua cara, yakni rehabilitasi bagi korban dan hukum bagi pengedar," ujar Yudi.

Pada dasarnya, narkoba memang menyasar para remaja tanggung yang rentan dengan tingginya rasa keingintahuan akan hal-hal baru. Untuk itulah strategi komunikasi tidak hanya cukup diberikan hanya hari ini, melainkan secara berkelanjutan dan berkesinambungan.

"Pentingnya strategi komunikasi dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba salah satunya dengan membangkitkan jaringan komunikasi aktor yang secara aktif ataupun pasif," tutur Irwansyah.

Komunikasi sejatinya memang alat ampuh dalam menyebarkan informasi apapun, baik dalam lingkup yang luas ataupun sempit. Melalui komunikasi tak ada pesan yang tak tersampaikan. (pas)

Rabu, 6 November 2013, JAKARTA - Salah satu permasalahan besar yang masih menjadi polemik saat ini adalah masih banyaknya mantan pecandu narkoba yang sulit mendapatkan pekerjaan atau mata pencaharian. Para mantan pecandu narkoba terkurung dengan stigma negatif sehingga mereka kurang produktif dan tidak mampu bersaing dalam dunia kerja atau usaha.

Dalam upaya membantu dan mendukung para mantan pecandu atau penyalahguna narkoba untuk bangkit dan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri, Badan Narkotika Nasional (BNN) telah melakukan serangkaian terobosan dan program penting. Direktorat Pasca Rehabilitasi Deputi Bidang Rehabilitasi telah menjalin kerjasama  dengan beberapa pihak yang dapat memberikan pelatihan keterampilan kerja bagi para mantan pecandu narkoba.

“Belum lama ini kami sudah menjalin kerjasama dengan Pusat Pelatihan Kerja Pengembangan Industri (PPKPI) Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi  Pemda DKI Jakarta dan Community Development Center PT Telkom, mengadakan pelatihan wirausaha,” kata Direktur Pasca Rehabilitasi Deputi Bidang Rehabilitasi BNN, Drs. Suyono, ketika ditemui di ruang kerjanya, kemarin.

Menurut Suyono, mantan pecandu narkoba bukan untuk dikucilkan. Mereka justru memerlukan bantuan dan dukungan untuk bisa bangkit dan diterima di masyarakat, “Untuk itu kegiatan yang kami selenggarakan bertujuan untuk memberikan bekal ketrampilan kepada mantan pecandu narkoba agar mereka punya keahlian dan penghasilan supaya tidak kembali terjerumus ke lingkaran narkoba,’’ jelas Suyono.

Sebenarnya pemerintah sudah menyiapkan pelatihan secara paripurna mulai dari makan, modal, alat alat teknik, pelatihan lanjutan, jaringan usaha, jaringan penyaluran tenaga kerja, dan jaringan penyediaan spare parts untuk mendukung terciptanya 10.000 lapangan kerja baru setiap tahunnya, yang dicanangkan oleh pemerintah.

Pada dasarnya bentuk pendidikan yang dilakukan adalah pelatihan teknik terapan, pelatihan ini menumbuhkan semangat dan keterampilan sebagai modal.

Setelah evaluasi berakhir dapat disaring untuk menjadi teknisi maupun instruktur. Peserta diberi kesempatan untuk mendapat pelatihan lanjutan dan diberi kesempatan untuk mengajukan pinjaman modal usaha atau direkomendasikan untuk bekerja kepada perusahaan. (pas)

Rabu, 6 November 2013, BANDUNG - Kegiatan Bubun Benyamin, pantas mendapatkan apresiasi. Ia bersama teman-temannya membuka tempat rehabilitasi di Bandung. Ide itu mencuat karena merasa prihatin dengan banyaknya generasi muda yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba dan sulit sembuh karena terbatasnya sarana rehabilitasi.

“Dengan adanya tempat rehabilitasi yang kami dirikan ini, alhamdulillah banyak  anak jalanan dan para pecandu narkoba yang berdomisili di Bandung kita rekrut dan kita bantu agar dapat keluar dari ketergantungan narkoba melalui pendekatan spriritual,” ujar Bubun, ketika ditemui di Bandung Barat, kemarin.

Selanjutnya Bubun menjelaskan, tanpa kepedulian masyarakat dan generasi muda terhadap para korban narkoba yang saat ini jumlahnya sudah mencapai 4 juta lebih, cita-cita mewujudkan Indonesia Negeri Bebas Narkoba, mustahil tercapai, “Ini perlu didorong agar masyarakat dan generasi muda yang belum terlanjur menyalahgunakan narkoba untuk peduli, peka dan waspada terhadap merebaknya peredaran gelap narkoba di lingkungannya,” jelas Bubun.

Menurut Bubun, wujud dan peran nyata masyarakat lainnya yang dapat dilakukan adalah dengan mengetahui modus operandi peredaran narkoba yang semakin komplek, “Salah satu modus yang perlu diwaspadai adalah orang asing yang memacari gadis Indonesia untuk dijadikan kurir narkoba. Makanya saat ini Indonesia tidak hanya menjadi negara transit tetapi sudah berkembang menjadi negara pasar narkoba yang besar, apalagi dengan harga yang tinggi, sehingga menjadi rawan dan surga bagi sindikat narkoba,” kata Bubun.

Apapun aksi yang dibuat, tentunya peran serta masyarakat akan sangat membantu pemerintah. Komitmen tinggi setiap warga negara untuk tidak menggunakan narkoba dan kepedulian dalam melihat setiap hal yang mencurigakan di lingkungan sekitar dengan melaporkan kepada pihak berwajib menjadi salah satu langkah nyata mewujudkan Indonesia sehat tanpa narkoba. (pas)

Rabu, 6 November 2013, MALUKU - Pecandu Narkoba setiap tahun memiliki kecenderungan meningkat. Diantara jumlah itu ternyata kalangan pelajar menduduki posisi kedua tertinggi setelah kalangan pekerja dalam hal pengguna Narkoba. Jumlah ini sangat luar biasa karena mereka adalah generasi penerus bangsa yang dipersiapkan untuk mengambil estafet kepemimpinan nasional dimasa mendatang, “Apa jadinya bangsa ini kalau banyak dari pelajarnya yang ternyata merupakan pencandu Narkoba akut dan berat?” kata Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Maluku, Benny Pattiasina, saat menghadiri sosialiasai cegah narkoba di Politeknik Negeri Ambon, Senin (4/11).

Dalam sosialisasi yang diikuti oleh mahasiswa dan dosen serta mengangkat tema Menuju Indonesia Bebas Narkoba 2015, Benny mengungkapkan, berbagai upaya telah dilakukan di daerah seribu pulau ini, khususnya kota Ambon guna menyukseskan program Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) yang dipelopori oleh civitas akademika sebagai lembaga pendidikan demi menciptakan kampus bebas Narkoba di kota tercinta ini, “Inisiatif untuk terus memasukan program-program yang bertujuan membekali para mahasiswa tentang Narkoba dan dampaknya terus dikumandangkan, hal ini terlihat dalam kegiatan sosialisasi yang dilakukan oleh Politeknik Negeri Ambon hari ini,” kata Benny.

Menurut Benny, dalam upaya mencegah meningkatnya pengguna Narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa, selain dengan pemberian pengetahuan tentang bahaya Narkoba, salah satu solusinya adalah dengan mengaktifkan pembelajaran ekstra dan non kurikuler dengan meningkatkan kualitas dan kuantitasnya, “Berbagai kegiatan yang mengandung kreativitas dan dapat menumbuh kembangkan bakat dan kepiawaian pelajar perlu difasilitasi dan diakomodasi sedemikian rupa oleh pihak kampus. Dengan terus diberi perhatian maka Pelajar (mahasiswa) yang aktif melakukan kegiatan ekstra kurikuler yang positif  akan menjauhkan mereka dari godaan-godaan Narkoba,” ujar Benny. (pas)

Senin, 4 November 2013, JAKARTA - Kemenkopolhukam menaruh perhatian khusus terhadap kinerja Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, meski BNN bukan bagian dari kementerian tersebut.

"Namun, masalah narkoba masalah hukum dan keamanan, dan Menkopolhukam mendukung dalam hal ini. Bagaimana pun narkoba adalah bahaya yang mencakup keamanan Indonesia saat ini," ujar Sekretaris Menkopolhukam Letjen TNI Tatang Langgeng Sulistiyono dalam keterangan persnya kepada sejumlah wartawan di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin (4/11).

Lanjut Langgeng, Menkopolhukam mendukung BNN dalam strategi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN), "Terutama tantangan baru yang dihadapi BNN dalam mengahadapi narkoba jenis baru (new psikotropika) dan masalah narkoba sudah masuk ke desa," ujar Langgeng.

Diakui Langgeng, dalam pemberantasan narkoba tidak bisa dilakukan BNN sendiri saja, tapi adanya kerja sama dengan instansi terkait lainnya, dan lapisan masyarakat,"Ke depan diutamakan pencegahan, ketimbang penindakan dan setiap pecandu wajib dimasukkan ke dalam rehabilitasi. Adalah kewajiban bersama dalam memerangi narkoba, dan berjuang dalam ancaman narkoba," harap Langgeng.

Sementara itu anggota Komisi III DPR RI Aboe Bakar, yang ditemui terpisah di Gedung DPR mengatakan, DPR sangat mendukung pemberantasan narkoba yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN). Namun, hal ini tidak bisa dilakukan BNN seorang diri, harus ada kebersamaan, "Kami dukung upaya BNN dalam melakukan pembangunan tempat rehabilitasi. Dalam pencegahan dan pemberantasan narkoba BNN tidak bisa seorang diri, harus bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Sosial," katanya.

Apalagi, lanjut Nurdin, perkembangan teknologi membuat peredaran narkoba semakin menjadi-jadi. Karenanya, BNN harus serius melakukan kerjasama dengan kementerian lain, "Bisa saja tidak muncul dalam Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dalam lampiran tersebut, tapi UU tentang Narkotika masih relevan," ujar politikus PKS ini. (pas)

Senin, 4 November 2013, JAMBI - Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Pol Anang Iskandar, mengatakan saat ini di Provinsi Jambi tercatat sebanyak lebih kurang 33 ribu orang pengguna narkoba,”Bagi para pengguna narkoba tersebut, saya menghimbau agar mereka segera menjalani rehabilitasi,” katanya usai menghadiri pelantikan Walikota Jambi dan menghadiri rapat internal di BNN Provinsi Jambi, Senin (4/11).

Selanjutnya mantan Kapolda Jambi ini menjelaskan, bahwa saat ini tengah diupayakan untuk mendirikan lokasi rehabilitasi bagi pengguna narkoba di Provinsi Jambi,”"Saya sudah bicarakan masalah ini dengan walikota yang baru serta Pak Gubernur. Akan ada langkah-langkah untuk mengupayakan lahan untuk tempat rehabilitasi di Jambi," kata Anang Iskandar.

Secara nasional saat ini Jambi berada di peringkat 12 untuk jumlah pengguna narkoba. Jumlah pengguna narkoba di Jambi masih di bawah rata-rata,"Untuk tingkat nasinal posisi Jambi tidak top, peringkat 12. Namun yang 33 ribu pengguna narkoba ini tetap menjadi masalah kita bersama," ujarnya.

Berkaitan dengan penyalahguna narkoba yang dikirim ke tempat rehabilitasi adalah bagi penyalahguna bila ditangkap polisi atau ditangkap penyidik tanda-tandanya barang bukti yang di temukan jumlahnya di bawah 1 gram sabu, 8 butir ektansi, 5 gram untuk ganja dan  membawa untuk kepentingan diri sendiri, orang itu yang harus di bawah ke tempat rehabilitasi, meskipun begitu perlu dilakukan assesment terlebih dahulu, untuk memastikan perlu atau tidak di rehabilitasi. (pas)

Page 10 of 13
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…