Super User

Super User

Page 9 of 13

Jumat, 8 November 2013, JAKARTA - Penyalahguna atau korban penyalahgunaan narkoba tidak bisa disembuhkan, hanya bisa dipulihkan. Untuk itu, bagi mereka yang belum terkena narkoba, jangan coba-coba memakanya, karena sekali coba, akan terjerat selamanya.

Hal itu, diungkapkan Pelaksana Bimbingan Teknis Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN), Eva Fitri Yuanita, dihadapan Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI), saat menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Kampus Bina Nusantara, Jakarta Barat, Jumat (8/11).

Selanjutnya Eva mengatakan, tempat hiburan yang sering didatangi oleh para pekerja untuk melepas lelah atau me-lobby klien, merupakan salah satu lokasi peredaran narkoba yang strategis, “Untuk itu pengetahuan bahaya penyalahgunaan narkoba perlu diberikan sebagai bekal bagi para sarjana komunikasi yang akan memasuki dunia kerja dan sering dihadapkan pada keahlian untuk menghadapi orang banyak,” kata Eva.

Menurut Eva, saat ini, gaya hidup tidak bisa dilepaskan dari masyarakat urban. Para mahasiswa membutuhkan aktualisasi diri dalam bersosialisasi dengan lingkungan luar. Mudah dan cepatnya akses dalam menerima informasi, seperti dua sisi mata uang, “Pergaulan tanpa batas seringkali dimanfaatkan oleh para pengedar sebagai akses masuknya narkoba. Hal ini sebagai sebuah fenomena yang perlu dikritisi dan diwaspadai,” imbau Eva.

Dalam kesempatan tersebut, Eva memperlihatkan gambar otak yang bebas narkoba dan pengguna narkoba sebagai bukti bahwa otak yang sudah rusak tidak bisa diperbaiki kembali,”Bagaimana kita bisa berkarya dan mengaplikasikan ilmu yang sudah kita pelajari dalam dunia kerja apabila otak kita sudah rusak,” tandas Eva.

Pengguna yang sudah dinyatakan pulih pun dapat relapse atau kambuh apabila tidak ada keinginan yang kuat serta dukungan dari keluarga. Oleh karena itu, tidak memulai sama sekali untuk menggunakan narkoba adalah langkah pertama yang harus segera dipijak, karena sekali mencoba sama saja membunuh diri sendiri dan merusak masa depan. (pas)

Jumat, 8 November 2013, JAKARTA - Dekriminalisasi dan depenalisasi bagi penyalah guna narkoba yang semakin akrab di tengah masyarakat Indonesia, harus terus didengungkan agar paradigma penanggulangan narkoba di negeri ini proporsional.

Dalam konteks ini, peran civitas akademika baik itu, dosen, mahasiswa dan unsur lain di dalamnya, dapat direvitalisasi sehingga dapat membantu mempercepat konstruksi dekriminalisasi dan depenalisasi terhadap penyalah guna narkoba.

Lantas peran seperti apa yang bisa dimainkan oleh akademisi dalam mendorong percepatan konsep di atas? Menjawab hal ini, Kepala BNN, DR Anang Iskandar mengemukakan, pembentukan Community Based Unit (CBU) berbasis lingkungan pendidikan dapat dikembangkan di kampus.

“Dengan CBU ini, para civitas akademika akan lebih menghadapi tantangan yang nyata, karena program yang dijalankan akan langsung berkaitan dengan konseling hingga pendampingan terhadap penyalah guna narkoba untuk mengarahkan mereka agar menjalani rehabilitasi medis dan sosial,” kata Anang Iskandar, di ruang kerjanya.

Sebagai salah satu langkah pemberdayaan kampus dalam mendukung gerakan penanggulangan narkoba, BNN menggandeng Universitas Budi Luhur (UBL) untuk dapat berperan serta dalam melakukan aksi nyata dalam program Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN). Kerjasama yang dibangun kedua pihak ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara BNN dengan UBL, di Ruang Rapat BNN lantai 7, Kamis (7/11), kemarin.

Usai penandatangan nota kesepahaman ini, UBL diharapkan akan dapat lebih berperan serta dalam penanggulangan masalah narkoba. Dalam aspek prevensi, kampus ini akan proaktif melalui kader anti narkobanya untuk mengampanyekan bahaya penyalahgunaan narkoba.

Sedangkan dalam bidang rehabilitasi, kampus ini diharapkan agar dapat membentuk dan memaksimalkan fungsi CBU, serta mendorong para penyalah guna narkoba untuk melaporkan dirinya ke Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL). Tidak kalah penting pula, kampus ini akan berupaya membersihkan lingkungannya dari penyalahgunaan narkoba melalui kegiatan tes urine. (pas

Kamis, 7 November 2013, JAKARTA - Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) dan Badan Narkotika Nasional (BNN) terus meningkatkan kerjasama yang sudah terbangun baik sosialisasi pencegahan adanya pemanfaatan jasa tenaga kerja Indonesia (TKI) sebagai kurir narkoba, “Saya sangat mengharapkan BNN bisa bekerjasama dengan BNP2TKI untuk mencegah TKI menjadi kurir Narkoba,” ujar Kepala BNP2TKI, Moh Jumhur Hidayat yang didampingi Direktur Sosialiasi dan Kelembagaan, Rohyati Sarosa ketika ditemui di ruang kerjanya, Jakarta, Rabu (6/11).

Sejak 5-6 tahun Jumhur memimpin BNP2TKI belum pernah terjadi TKI tertangkap membawa narkoba, “Kasus itu baru muncul 2-3 tahun belakangan ini. Salah satu penyebab TKI menjadi kurir narkoba ialah akibat adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) secara sepihak oleh majikan,” ujar Jumhur.

Di Hongkong, katanya, dengan adanya PHK sebelum 7 bulan masa percobaan oleh majikan, banyak TKI yang kemudian dijanjikan bekerja di Macau, China. Nah, karena terpaksa harus terus bekerja demi keluarga, tidak sedikit para mafia trafficking (perdagangan orang) ini meminta TKI untuk membawa titipan barang untuk majikan yang barunya. Namun ketika tertangkap petugas tiba bandara, TKI baru menyadari bahwa barang yang dibawanya ternyata barang Narkoba. “Kasus TKI menjadi kurir Narkoba terjadi di bandar luar negeri,” terang Jumhur.

Kepala BNP2TKI menghimbau agar TKI di luar negeri jangan  mudah dirayu, dan diajak bergaul dengan orang yang tak dikenal. Dari salah pergaulan bebas ini baik melalui perkenalan langsung maupun melalui media sosial ini bisa berakibat buruk dijadikan kurir Narkoba.

Karena itu, Jumhur sangat mengharapkan agar BNN bisa terus melakukan sosialisasi baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Jumhur mengajak agar BNN bisa   melakukan roadshow ke Hongkong dan Singapura untuk langsung berdialog dengan TKI guna mencegah upaya pemanfaatan agensi maupun perorangan di luar negeri yang memanfaatkan jasa TKI sebagai kurir Narkoba.

Diakuinya, secara kuantitas memang masih relatif kecil TKI yang terkena hukuman karena membawa narkoba. Jumlahnya sekitar 6 orang di luar negeri yang tertangkap aparat di bandara karena membawa narkoba. Namun demikian, meski jumlah hanya 1 orang pun kalau bisa dicegah tentu akan lebih baik.

Jumhur menjelaskan, di BNP2TKI setiap TKI yang akan berangkat ke luar negeri sudah diberi penguatan tentang bahaya Narkoba pada kegiatan Pembekalan Akhir Pemberangkatan (PAP).  Jumlah TKI yang berangkat per harinya berjumlah 1500-2000 orang.

Meski sudah ada PAP,  Jumhur tetap mengharapkan agar BNN terus meningkatkan program pencegahan narkoba kepada TKI. “Urusan pencegahan Narkoba, BNN tentu lebih menguasai,” pungkasnya. (pas)

Kamis, 7 November 2013, JEMBER - Dua bintang tim nasional U-19, Sabeq Fahmi Fachrezy dan Paulo Oktavianus Sitanggang, mengajak pelajar di Jember, Jawa Timur, untuk menjauhi narkoba. Ajakan itu disampaikan saat mereka hadir dalam seminar bertajuk Sumpah Pemuda Jember Melawan Narkoba, di Jember, Kamis (7/11).

Menurut Sabeq, narkoba sangat berbahaya bagi kehidupan, terutama masa depan generasi penerus bangsa. "Jadi, jangan sekali-kali mendekati, bahkan mencoba narkoba. Sekali saja kita mencoba, pasti rusak masa depan kita," kata Sabeq di hadapan ratusan pelajar Jember.

Banyak hal, kata Sabeq, yang bisa dilakukan generasi muda untuk mengharumkan nama bangsa Indonesia. Salah satunya ialah dengan menunjukkan kemampuan serta bakat. "Kalau kalian bisa berprestasi di bidang olahraga, buktikan. Saya yakin, kalian bisa mengharumkan nama bangsa ini," cetusnya.

Senada dengan Sabeq, Paulo mengajak kepada generasi muda agar berikrar untuk menjauhi narkoba. "Say no narkoba, say yes prestasi," katanya disambut tepuk tangan pelajar.

Paulo juga mengimbau kepada orangtua siswa agar betul-betul menjaga putra-putrinya dari orang-orang tidak bertanggung jawab. "Kalau di rumah pasti bisa dijaga, namun kalau di luar peran orangtua harus benar-benar maksimal," ujarnya.

Acara seminar tersebut ditutup dengan Deklarasi Pemuda Jember untuk melawan narkoba. Dua bintang timnas U-19 tersebut didaulat untuk memimpin acara deklarasi pelajar ini. (pas)

Kamis, 7 November 2013, JAKARTA – Ketua Yayasan A. Djojohadikusumo, Aryo PS Djojohadikusumo menyatakan tekadnya untuk menggerakan Yayasan A.Djojohadikusumo untuk melawan penyalahgunan narkoba. Caranya dengan memanfaatkan seluruh penyuluh dan relawan di yayasan untuk menyosialisasikan bahaya narkoba. "BNN masih perlu bantuan untuk mencapai kondisi ideal untuk memberantas narkoba. Maka dari itu, kesadaran masyarakat untuk membantu BNN sangat diperlukan," kata Aryo, dalam diskusi yang digelar di Posko Yayasan A. Djojohadikusumo, kemarin.

Politikus Partai Gerindra   itu juga mengatakan, ada banyak cara untuk mencegah dan memerangi narkoba. Salah satu bentuk pencegahan adalah dengan bermain catur. "Ada penelitian yang mengatakan orang yang bermain catur secara reguler tidak akan mengkonsumsi narkoba sebab otaknya diajak berlatih saat bermain," ucapnya.

 Aryo juga setuju dengan pendekatan penegakan hukum terhadap para pecandu narkoba. Menurutnya, pendekatan humanis lebih tepat ketimbang pendekatan hukum negatif seperti pemidanaan. "Tapi kalau bandar ya tetap harus dipidanakan seberat-beratnya," tukas Aryo.

 Ia mengatakan, kepastian terhadap penegakan hukum serta peran aktif masyarakat adalah kunci utama dalam memerangi peredaran narkoba di Tanah Air. Namun, diperlukan proses bertahap untuk menciptakan Indonesia bebas narkoba. "Indonesia bebas narkoba tahun 2015 susah karena narkoba adalah candu, Kita harus realistis sebab butuh bertahun-tahun untuk menyembuhkan para pecandu. Tapi yang terpenting kita bantu mereka untuk fokus rehabilitasi," kata Aryo.

Sementara itu, Kasi Kelompok Masyarakat BNN, Sudirman, mengungkapkan, bahwa BNN baru menyentuh sedikit dari total 4 juta pecandu narkoba di seluruh Indonesia. Jumlah personel BNN yang terbatas dan minimnya tempat rehabilitasi menjadi masalah klasik yang harus dihadapi, “Oleh karena itu, dibutuhkan peran aktif masyarakat yang sudah terintegrasi untuk memberikan penyuluhan mengenai bahaya narkoba. BNN sebenarnya ingin semua pecandu tersentuh, kita sudah ke sana ke mari. Tapi yang tersentuh baru sebagian kecil saja," ungkapnya.

Sudirman juga mengatakan, peran serta masyarakat dalam melakukan pencegahan dan memberikan pengetahuan terhadap bahaya narkoba sangat diharapkan. Hal ini bisa meringankan kerja BNN sekaligus menjadi alat sosialisasi yang efektif. "Kita mengharapkan semua masyarakat bergerak. Kalau perlu masyarakat menjadi penyuluh dan kami akan mendampingi," kata Sudirman.

 Ia menambahkan, idealnya ditiap provinsi memiliki tempat rehabilitasi bagi para pecandu narkoba. Apalagi, pemerintah telah sepakat bahwa pecandu narkoba dianggap sebagai individu yang sakit dan harus disembuhkan dengan pendekatan humanis. "Memerangi narkoba harus menjadi kesadaran kolegial seluruh masyarakat," kata Sudirman. (pas)

Kamis, 7 November 2013, JAKARTA - Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Indonesia semakin hari semakin memprihatinkan. Setiap tahun jumlah penyalah guna narkoba semakin meningkat. Berdasarkan survei Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia pada 2011, ada peningkatan persentase jumlah penyalahgunaan narkoba yang cukup signifikan setiap tahunnya.

Karena itu, untuk meningkatkan upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba (P4GN), BNN menjalin kerja sama dengan Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Kementerian Kesehatan, beberapa waktu lalu.

Menurut Deputi Pencegahan BNN, Yappi Manafe, yang ditemui di ruang kerjanya, Kamis (7/11), dalam kerja sama itu, BBPK Kemenkes akan memberikan kontribusi dalam hal pengembangan kompetensi widyaiswara, narasumber, serta fasilitator pendidikan dan pelatihan. Selain itu, soal pengkajian kebutuhan pendidikan dan pelatihan pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

“BNN berharap BBPK Kemenkes juga dapat berperan dalam pelaksanaan diseminasi informasi dan advokasi tentang P4GN serta pelaksanaan sosialisasi wajib lapor dan rehabilitasi bagi pecandu atau korban penyalahgunaan narkoba,” ujar Yappi.

Lebih lanjut Yappi, menjelaskan, bahwa saat ini telah berkembang narkoba jenis baru. Di Indonesia terdapat 21 narkoba jenis baru yang berhasil diidentifikasi oleh Laboratorium BNN,”Jenis-jenis baru itu diciptakan para sindikat narkoba. Untuk ditingkat dunia sendiri telah ditemukan sebanyak 251 narkoba jenis baru yang sengaja dibuat untuk menghindari jerat hukum yang diatur oleh undang-undang di tiap negara,” jelas Yappi.

Yappi berharap, melalui pendidikan dan pelatihan yang akan dikembangkan oleh BBPK ini diharapkan para narasumber serta fasilitator pendidikan dan pelatihan akan lebih memahami narkoba, terutama dari segi bahaya penyalahgunaannya. (pas)

Page 9 of 13
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…