Super User

Super User

Page 8 of 13

Selasa, 12 November 2013, JAKARTA -  Puluhan mahasiswa Universitas Negeri Bengkulu (UNB) dipimpin Dosen Pembimbing Lapangan Fakultas Hukum, Dr. Herlambang, SH. MH, berkunjung ke Kantor Badan Narkotika Nasional (BNN), untuk berdiskusi seputar bahaya penyalahgunaan narkoba dan  memahami Undang-Undang No.35 Tahun 2009 Tentang Narkotika serta mengetahui lebih dalam mengenai tugas dan fungsi BNN di dalamnya.

Ilham, salah satu mahasiswa UNB mempertanyakan fenomena yang terjadi di lapangan bahwa ada berbagai putusan hakim yang berbeda pada pecandu narkoba. Apakah dipenjara atau direhabilitasi.  Dikotomi vonis tersebut, membuat para mahasiswa kebingungan,”Jujur, saya masih bingung dengan penegakan hukum bagi korban narkoba dan bandar narkoba. Ada bandar yang divonis rehabilitasi, tapi ada juga korban yang divonis penjara, ini yang sering membingungkan masyarakat, yang berakibat pada enggannya masyarakat melaporkan diri atau melaporkan keluarganya yang menjadi korban narkoba,” kata Ilham dalam diskusi yang digelar di ruang rapat lantai 7 Gedung BNN, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (12/11).

Selanjutnya Ilham, mengharapkan, agar para korban penyalahgunaan narkoba tidak dituntut penjara, tapi sebaiknya rehabilitasi sesuai dengan semangat BNN yang ingin merehabilitasi seluruh korban narkoba yang saat ini berjumlah sekitar 4 juta jiwa.

Menanggapi harapan sejumlah mahasiswa tersebut, Direktur Diseminasi Informasi Deputi Bidang Pencegahan, Gun Gun Siswadi, menjelaskan, apabila hanya menjadi pecandu, maka mereka adalah korban dan wajib untuk direhabilitasi, sedangkan apabila mereka menjadi kurir atau pengedar tentunya ada proses hukum yang harus dijalani,”Untuk itulah Badan Narkotika Nasional sedang gencar melakukan sosialisasi Depenalisasi dan Dekriminalisasi,” jelas Gun Gun.

Dalam UU No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dijelaskan dalam pasal 4 yang menyatakan, menjamin pengaturan rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial bagi penyalah guna dan pecandu narkotika,”Dalam UU tersebut sudah sangat jelas, bahwa konban dan pecandu narkotika harus direhabilitasi, jangan dipenjara,” tambah Gun Gun.

Sebagai seorang akademisi, Gun Gun mengharapkan agar para mahasiswa UNB memiliki pengetahuan yang mendasar mengenai narkoba, sebagai bekal mereka saat menekuni profesi praktisi hukum dikemudian hari. (pas)

Selasa, 12 November 2013, JAKARTA - Ketua Umum DPP Partai Hanura, Wiranto menginstruksikan kepada para kader dan calon anggota legislatif partainya untuk menjadi agen-agen bagi masyarakat dalam upaya penanggulangan narkotika, “Setiap caleg Hanura  di seluruh Indonesia, saya minta  melakukan sosialisasi pencegahan narkoba  dengan membantu memberikan pengarahan kepada seluruh masyarakat Indonesia tentang bahaya narkoba, BNN harus didukung oleh seluruh masyarakat,” kata Wiranto, dalam diskusi interaktif dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) di DPP Partai Hanura, Jakarta Senin (11/11).

Sementara itu, Kepala BNN, Anang Iskandar menekankan, bahwa partai politik juga dapat berperan serta dalam penanganan narkoba,“Selain telah diamanatkan dalam undang-undang narkotika dalam pasal peran serta masyarakat, peran partai politik juga menjadi salah satu resolusi Sidang Umum PBB tahun 1998 dalam mencegah penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba,” kata Anang.

Lebih lanjut Anang mengungkapkan, berbagai data dan permasalahan narkoba yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini harus membangkitkan kesadaran bersama seluruh pemangku kepentingan bahwa pengguna narkoba harus direhabilitasi bukan dipenjara,“Penjara telah menjadi tempat para pecandu melanjutkan kebiasaannya menyalahgunakan narkoba,” ujar Anang.

Menurut Anang, dekriminalisasi dan depenalisasi menjadi alternatif yang harus dijalankan untuk menangani permasalahan narkoba yang saat ini seolah terus meluas. Namun, permasalahan lanjutan adalah masih kurangnya fasilitas rehabilitasi yang ada di Indonesia baik yang dimiliki oleh pemerintah ataupun swasta, “Jumlah masyarakat kita yang terlanjur telah memakai narkoba sebanyak 4 juta orang. Bila tidak direhabilitasi akan menjadi pasar yang tetap terbuka dan membuka peluang bagi sindikat narkoba,” ujar Anang.

Menyikapi hal ini, Anang berharap adanya kesediaan seluruh pemangku kepentingan, bukan hanya para pejabat pemerintah daerah namun juga seluruh lapisan masyarakat untuk mau memberikan perhatian serius dalam penanganan narkoba. Hal ini bisa dilakukan mulai dari sisi pencegahan, pemberdayaan masyarakat maupun pemberantasannya.

Menanggapi pertanyaan peserta diskusi mengenai perbedaan paradigma antara BNN dengan Polri dalam penanganan pecandu, Anang menyampaikan bahwa hal itu merupakan dinamika dalam penerapan undang-undang,“Ibarat orang yang bersaudara dalam suatu keluarga, antara kakak dan adik, bisa saja terjadi perbedaan pendapat tetapi bukan menjadi perpecahan. Kita tetap mensosialisasikan paradigma ini ke semua pemangku kepentingan,” ujar Anang.

Wishnu Dewanto, Ketua Umum DPP Pemuda Hanura yang hadir dalam diskusi tersebut menekankan komitmen kelompok pemuda untuk berperan dalam penanganan narkoba,“Kami dari Pemuda Hanura siap secara kongkret bekerjasama dengan BNN di seluruh Indonesia untuk melakukan aksi nyata pencegahan bahaya narkoba,” ujarnya. (pas)

Senin, 11 November 2013, JAKARTA - Kepala Seksi Advokasi Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Maluku, Benny Timisela, mengungkapkan, para Pelajar membutuhkan informasi yang benar tentang narkoba, dan strategi serta kemampuan untuk mencegah dirinya dari bahaya penyalahgunaan Narkoba, karena menyalahgunakan narkoba bisa menimbulkan penyakit penyerta seperti HIV-AIDS, “Salah satu upaya dalam penanggulangan bahaya Narkoba adalah dengan melakukan program yang menitikberatkan pada anak usia sekolah (school-going age oriented),” kata Benny Timisela dihadapan peserta seminar sehari dalam Reuni Alumni SMP Kristen Ambon angkatan 1985, di Ambon, belum lama ini.

Lebih lanjut Timisela mengatakan, bagi para Pelajar yang ingin mengadakan kegiatan pencegahan atau program sekolah anti narkoba, perlu mengikut sertakan keluarga, untuk  mendorong kegiatan-kegiatan anti narkoba di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal, “Dalam hal ini guru dan murid harus bersinergi dalam melakukan pendekatan, bukan hanya berbasis pengetahuan tetapi juga pendidikan karakter dan perilaku. Pendekatan ini mempromosikan kesempatan yang lebih besar bagi interaksi personal antara guru dan murid,” ujar Timisela.

Oleh sebab itu, tamhah Timisela, mulai saat ini dunia pendidik, para pengajar, dan orang tua, harus sigap serta waspada, akan bahaya Narkoba yang sewaktu-waktu dapat menjerat anak-anak kita di lingkungan pendidikan, “Dengan berbagai upaya tersebut, mari kita jaga dan awasi anak didik dari bahaya narkoba, sehingga harapan untuk menciptakan generasi yang cerdas dan tangguh di masa yang akan datang dapat terealisasikan dengan baik,” harap Timisela. (pas)

Senin, 11 November 2013, JAKARTA - Kelompok Peduli Pemberdayaan Masyarakat (KPPM) RT 04 RW 06 Kelurahan Kelapa Dua Wetan Ciracas Jakarta Timur, turut peduli terhadap permasalahan pencegahan penyalahgunaan narkoba. Mereka mengundang beberapa keluarga yang tinggal di lingkungan tersebut untuk berdiskusi dan diberikan pengetahuan tentang bahaya menyalahgunakan narkoba.

Charles Simamora, salah seorang warga yang hadir dalam diskusi mengungkapkan, ia sangat meyayangkan masih adanya oknum aparat penegak hukum yang ikut terlibat dalam penyalahgunaan narkoba, “Bagaimana masyarakat mau percaya, sementara para aparat penegak hukum banyak yang terlibat sindikat narkoba,” kata Charles, dalam diskusi yang digelar Direktorat Diseminasi Informasi Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN), di Ciracas, Jakarta Timur, Jumat (8/11).

Selanjutnya Charles mengatakan, bahwa selama ini, masyarakat belum banyak yang tahu tentang wajib lapor bagi korban penyalahgunaan narkoba agar bisa direhabilitasi,”Masyarakat belum banyak yang tahu, korban penyalahgunaan narkoba kalau melaporkan diri akan direhabilitasi dengan biaya negara dan tidak dipidana. Ini sebenarnya berita gembira bagi mereka yang keluarganya menjadi korban narkoba, untuk itu perlu disosialisasikan ke masyarakat,” kata Charles.

Menurut Charles, selama ini masyarakat merasa takut kalau harus melaporkan keluarganya atau tetangganya yang menjadi korban narkoba, mereka beranggapan melaporkan diri sama saja dengan menjerumuskan mereka ke penjara,”Kadang-kadang ada juga tekanan-tekanan dari pihak lain terhadap putra-putri kami dari kelompok-kelompok yang entah darimana datangnya, yang memprovokasi untuk tidak melapor. Dengan adanya diskusi ini, membuat hati kami terbuka dan kami banyak mendapatkan manfaat, terutama tentang wajib lapor dan bahayanya menyalahgunakan narkoba,” ujar Charles.

Dalam kesempatan tersebut, Charles juga memohon agar masyarakat bisa mendapatkan perlindungan yang baik dari pemerintah agar terhindar dari narkoba, “Saya akan mencoba untuk mengumpulkan keluarga-keluarga lainnya untuk membentuk satgas-satgas anti narkoba, yang dimulai dari lingkungan RT terlebih dahulu, selanjutnya menyebar ke lingkungan yang lebih luas,” harap Charles.

Sebelumnya, Kasi Media Tradisional Direktorat Diseminasi Informasi Deputi Bidang Pencegahan BNN, Ahmad Soleh, menghimbau bahwa keluarga mempunyai kesempatan berperan serta dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba, salah satunya dengan mengikuti kegiatan diskusi, “Kemudian apa yang sudah didapat harus diberikan kembali kepada keluarga, hal ini yang harus dilakukan secara berkesinambungan. (pas)

Senin, 11 November 2013, JAKARTA - Sekitar 100 pelajar sekolah dasar menyambut kedatangan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di wilayah RW 6 Kelurahan Cibubur, Jakarta Timur, Sabtu (9/11) sekitar pukul 13.00, dengan nyanyian anti narkoba.

Suasana yang panas di tempat berlangsungnya acara tidak membuat siswa yang rata-rata berumur enam hingga sembilan tahun itu kehilangan semangat untuk memeriahkan lomba kampung bersih narkoba. Mereka berulang kali menyanyikan mars ”Antinarkoba” walaupun wajah bercucuran keringat.

Sikap anak-anak itu mewakili semangat para warga untuk memberantas peredaran narkoba di wilayah RW 6 Kelurahan Cibubur. Wilayah itu termasuk salah satu peserta yang berhasil menembus peringkat 10 besar kampung bersih narkoba. Total peserta yang mengikuti lomba 26 kelurahan. Sembilan kelurahan lainnya yang berhasil lolos adalah Kapuk Muara, Kalideres, Malaka Sari, Duren Tiga, Bidara Cina, Kampung Bali, Galur, Warakas, dan Pejaten Barat.

Timing Inius, Ketua Panitia Pelaksana Lomba Kampung Bersih Narkoba di Kelurahan Cibubur, mengatakan, saat ini tidak terdapat lagi pemakai narkoba di wilayahnya. Hal itu merupakan pencapaian yang membanggakan bagi mereka mengingat lima tahun lalu wilayah itu masih rawan peredaran narkoba. Bahkan, dua warganya meninggal dunia karena menjadi pencandu narkoba.

Kerja keras warga

Semua ini karena kerja keras warga selama beberapa tahun terakhir. Salah satu bentuk kerja keras ialah pembentukan Komunitas Masyarakat Anti-Narkotika dan Obat Terlarang (Komando). Dalam organisasi itu terdapat 60 petugas yang merupakan warga dari enam RT di wilayah RW 6. Komando bertugas membina warga tentang bahaya narkoba dan menangani warga yang menjadi pencandu narkoba.

Dalam beberapa bulan terakhir, Komando telah melakukan enam kali sosialisasi kepada warga. ”Kami pun bertugas mengamankan warga yang menjadi pengedar narkoba kepada pihak yang berwajib,” kata Timing yang juga Ketua Komando.

Selain itu, Komando menyelenggarakan sejumlah kegiatan bagi pemuda-pemudi di wilayah tersebut. Kegiatan itu meliputi pembuatan batik khas Cibubur dan lomba kesenian grafiti.

”Kami ingin para remaja di kampung ini selalu aktif melakukan kegiatan yang positif. Dengan upaya ini dapat mengalihkan perhatian mereka untuk tidak terjerumus dalam pemakaian obat-obatan terlarang,” ujarnya.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengharapkan warga RW 6 Kelurahan Cibubur dapat mengubah stigma negatif tentang pencandu narkoba.

”Apabila ada anggota keluargamu atau warga yang memakai narkoba, segera laporkan ke puskesmas untuk menjalani rehabilitasi. Mereka bukanlah aib yang harus disembunyikan. Malah upaya kalian akan menyelamatkan kehidupannya,” kata Basuki.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendukung sepenuhnya kelanjutan program kampung bersih narkoba itu. ”Ke depan, Pemprov DKI akan menganggarkan dana khusus untuk program kampung bersih narkoba,” ujarnya.

Jumat, 8 November 2013, JAKARTA - Badan Narkotika Nasional (BNN) kembali memusnahkan barang bukti hasil pengungkapan kasus peredaran gelap narkotika seberat 8.104,38 gram sabu, 12.182,4 gram ganja, 194,9 gram heroin serta 4,9 gram tablet non narkotika.

Menurut Kabag Humas BNN, Kombes Pol Sumirat Dwiyanto, pemusnahan barang bukti ke-26 ini merupakan bentuk implementasi Undang-Undang RI No.35 Tahun 2009 tentang narkotika, pasal 75 yang menerangkan bahwa barang bukti tindak pidana narkotika harus dimusnahkan maksimal 7 hari setelah mendapat ketetapan pemusnahan barang bukti dari kejaksaan negeri,"Barang bukti yang dimusnahkan merupakan hasil pengungkapan 5 kasus tindak pidana narkotika sejak Oktober 2013," ujar Sumirat kepada wartawan usai pemusnahan barang bukti narkotika di Lapangan Parkir BNN, Jakarta (7/11).

Menurutnya dengan barang bukti yang mencapai 8.293,58 gram sabu, 12.214 gram ganja, 199,9 gram heroin serta 5,7 gram tablet non narkotika tersebut, BNN menyisihkan 189,2 gram sabu, 32,5 gram ganja, 5 gram heroin dan 0,8 gram tablet non narkotika untuk keperluan laboratorium atau pembuktian perkara.

Barang bukti tersebut, kata Sumirat didapat dari 10 tersangka yakni MH, SA, MD alias KO, WAR, RA, TH, AH, DR, WA dan AD. Para tersangka tersebut berprofesi sebagai kurir yang mengantarkan barang haram tersebut dengan iming-iming jumlah uang yang besar, "Seperti MH yang diperintah membawa 5.176 gram sabu dari Malaysia ke Surabaya dengan iming-iming upah sebesar Rp 15 juta," tegas Sumirat.

Lanjut Sumirat,  untuk tersangka lain seperti WA membawa barang sabu setelah dititipi dalam sebuah tas jinjing oleh WNI yang ditemui saat transit di Taiwan untuk membawa ke Surabaya.

"WA mengaku baru mengetahui isi tas berisi sabu sebesar 1.527,7 gram," ungkap Sumirat.

Untuk tersangka SA yang merupakan ibu rumah tangga diduga merupakan bagian jaringan sindikat narkoba yang ditangkap bersama rekannya yakni MD alias KO dan mantan suaminya WAR.

"Barang bukti dari tangannya seberat 87,18 gram sabu, 12.214,9 gram ganja dan 199,9 gram heroin," tambah Sumirat.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, seluruh tersangka terancam pasal 114 ayat (2) jo pasal 132 ayat (1), subsider pasal 112 ayat (1) jos pasal 132 ayat (1), lebih subsider pasal 137 huruf (A) dan huruf (B) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.

Page 8 of 13
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…