Super User

Super User

Page 7 of 13

Kamis, 14 November 2013, JAKARTA - Selama ini pencandu narkoba masih dihinggapi rasa takut untuk melaporkan diri kepada Badan Narkotika Nasional (BNN) atau Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) . Padahal hukumannya akan jauh lebih berat apabila mereka tertangkap sebagai pengguna narkoba, “Hukumannya akan lebih berat kalau yang bersangkutan tertangkap tangan,” tandas Deputi Pencegahan BNN Yappi Manafe, dihadapan ratusan Mahasiswa yang mengikuti sosialisasi Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) di ruang auditorium Jusuf Ronodipuro RRI Jakarta, Kamis (14/11).

Layanan Terapi dan Rehabilitasi yang ada di BNN , Kata Yappi adalah  “Gratis”. Tidak dipungut biaya apapun. Semua dibiayai Negara,”Oleh karena itu, pencandu narkoba sebaiknya melaporkan diri atau dilaporkan untuk mendapat layanan terapi dan rehabilitasi secara gratis, asal pencandu tidak merangkap sebagai Bandar atau pengedar,” ujar Yappi.

Dengan jumlah penyalahguna yang sudah mencapai 4 juta orang, diakui Yappi, menimbulkan persoalan tersendiri. Kemampuan pusat rehabilitasi yang dimiliki oleh BNN masih sangat terbatas, “Saat ini BNN baru bisa merehabilItasi sekitar 18 ribu pecandu narkoba di seluruh Indonesia. Pihak swasta, Pemerintah Daerah dan Masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi lebih diminta untuk mendirikan pusat rehabilitasi guna membantu saudara kita yang menjadi korban narkoba,”imbau Yappi.

Ihwal peningkatan jumlah penyalahguna yang kian memprihatinkan, Yappi menjelaskan, Indonesia adalah surga bagi para sindikat narkoba. selama masih ada permintaan terhadap barang haram itu sindikat akan menari-nari dan bersuka cita, “Kepada seluruh mahasiswa saya berpesan untuk berhati-hati dalam bergaul. Secara khusus saya memperingatkan tentang pemanfatan social media seperti facebook, whats app, twitter secara cerdas dan bertanggung jawab . Karena tidak jarang dalam menjalankan aksinya sindikat merekrut kurir melalui jejaring social,” pesannya.

Mahasiswa yang hadir mengapresiasi langkah BNN untuk merehabilitasi pecandu narkoba. seperti diungkapkan Muhammad dari Universitas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Menurutnya, rehabilitasi Pecandu narkoba adalah langkah bijak yang harus didukung. Kita harus mampu menempatkan pencandu narkoba sebagai warga negara yang perlu mendapat pertolongan dan pengobatan,”katanya.

Dr. Jody Joseph dari Rehabiltasi BNN menjelaskan, proses rehabilitasi pecandu narkoba sedikitnya membutuhkan waktu satu tahun untuk dapat pulih dan kembali ke masyarakat. Ini terjadi  karena narkoba menyerang sistem saraf otak, dan semua orang bisa saja menjadi korban penyalahgunaan narkoba, “Hal ini terjadi karena rasa nyaman yang ditimbulkan akibat mengkonsumsi narkoba. Pada periode itu otak akan merekam dan akan terus diingat. Jadi pencandu narkoba akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan narkoba. Pecandu bisa  menjambre, mencuri, merampok dan menodong. Sedangkan pecandu wanita bisa menjual diri untuk mendapatkan barang haram itu,” jelas Jody. (pas)

Kamis, 14 November 2013, JAKARTA - Saat ini Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri sudah mencapai 2,7 orang, sebagian besar bekerja di Malaysia dan Arab Saudi. TKI menyumbangkan pemasukan uang ke negara sekitar Rp 22.9 triliun pertahun melalui kiriman uang untuk keluarganya di tanah air, itu sebabnya TKW disebut sebagai pahlawan devisa negara.

Pimpinan Balai Latihan Kerja Luar Negeri (BLKLN) Mutiara Putra Mandiri, Cicih Sunarsih, mengungkapkan, TKI yang bekerja di Luar Negeri sangat rentan dan dekat dengan penyalahgunaan narkoba yang semakin marak belakangan ini, dimana para sindikat narkoba sering memanfaatkn TKI untuk dijadikan kurir ataupun sebagai pembawa suaka. Untuk itu dengan digelarnya Focus Group Discussion (FGD) di BLKLN, sangat bermanfaat bagi calon TKI yang akan bekerja di Luar Negeri,”Dengan pengetahuan tentang dampak buruk penyalahgunaan narkoba yang diperoleh dalam FGD ini, bisa mencegah bujuk rayu para sindikat yang ingin memanfaatkan TKI, karena mereka sudah mengetahui strategi sindikat narkoba dalam menjerat para TKI,” kata Cicih, ketika ditemui usai mengikuti FGD yang digelar Direktorat Diseminasi Informasi Deputi Bidang Pencegahan, Badan Narkotika Nasional (BNN), di BLKLN, Pasar Minggu, Jakarta, Rabu (13/11).

Sementara itu, Tim Asistensi BNN, Paulina G. Padmo Hoedojo, menghimbau kepada calon TKW untuk selalu waspada terhadap segala bentuk bujuk rayu para sindikat narkoba, termasuk dari orang yang dikenal sekalipun karena sering terjadi para TKW tanpa mereka sadari menjadi kurir hanya karena alasan cinta dan ekonomi, “Dipacari, dinikahi, atau hanya di ajak jalan-jalan keluar negeri secara gratis, namun saat kembali ke tanah air mereka dititipi narkoba,” kata Paulina.

Menurut Paulina, kejahatan narkoba, selain menyebabkan kerugian ekonomi, juga bisa berdampak pada kesehatan dan penyakit ikutan yang menyertainya, seperti HIV AIDS. Namun ODHA (Orang dengan HIV AIDS) tidak harus dikucilkan, “Virus HIV AIDS akan langsung mati bila bersinggungan dengan Oksigen, jadi kalau hanya berpegangan tangan atau berteman tidak akan tertular. Upayakan saja agar tidak memakai jarum suntik yang sama, terkena air liur dan darah ODHA,” imbau Paulina. (pas)

Rabu, 13 November 2013, JAKARTA – Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana, Indri Sulistiyanti, memiliki kiat khusus untuk menghindari narkoba. Ia mengungkapkan,  pemahaman atas bahaya narkoba memang sangat penting, namun untuk menghadapi godaan narkoba, ketaatan dalam beragama memegang peranan yang sangat penting.

“Selain itu pedoman dan petuah dari orangtua tetap saya pegang. Mungkin terdengar klise, tapi rasa hormat terhadap orangtua dan ketakutan untuk mengecewakan mereka seringkali jadi pemikiran untuk menghindari hal-hal negatif,” kata Indri Sulistiyanti, ketika ditemui usai mengikuti pelatihan kader anti narkoba, di Kampus Mercu Buana, Selasa (12/11).

Menurut Indri, pencegahan penyalahgunaan narkoba itu bisa berasal dari dalam diri sendiri, dengan berpikir ke masa depan tentang apa dan bagaimana kita selanjutnya setelah ini,”Selain itu, media massa pun sangat berperan, dimana segala sumber informasi dapat diterima atau diakses dengan mudah,” kata Indri.

Pada dasarnya, narkoba memang menyasar para remaja tanggung yang rentan dengan tingginya rasa keingintahuan akan hal-hal baru. Untuk itulah strategi komunikasi tidak cukup diberikan hanya hari ini, melainkan secara berkelanjutan dan berkesinambungan.

"Pentingnya strategi komunikasi dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba salah satunya dengan membangkitkan jaringan komunikasi yang secara aktif ataupun pasif," tutur Indri.

Komunikasi sejatinya memang alat ampuh dalam menyebarkan informasi apapun, baik dalam lingkup yang luas ataupun sempit. Melalui komunikasi tak ada pesan yang tak tersampaikan. Termasuk dalam menyampikan sosilisasi mengenai pencegahan penyalahgunaan narkoba, strategi komunikasi termasuk cara paling tepat. Dapat melalui strategi komunikasi berbasis keluarga, pendidikan, instansi atau lembaga, keagamaan dan media massa.(pas)

Rabu, 13 November 2013, JAKARTA - Universitas Budi Luhur (UBL) keluar sebagai jawara Kampus Bersih Narkoba 2013 se-Jabodetabek, yang diselenggarakan Badan Narkotika Nasional (BNN). Kampus ini memperoleh skor tertinggi dari kriteria penilaian kreativitas branding anti narkoba di lingkungan kampus, tembang dan cipta lagu tentang narkoba, seminar sehari tentang narkoba, karya tulis tentang narkoba dan sajak tentang narkoba.

Berdasarkan hasil putusan juri yang dipimpin oleh Subarkah Hadi, Wakil Rektor IKJ, UBL memperoleh total nilai 675, kemudian disusul Universitas Islam Negeri Jakarta, dengan total nilai 655, dan disusul juara ketiga Universitas Mercu Buana dengan total nilai 645. Dengan prestasi yang ditorehkan, UBL berhak menggondol trofi beserta uang sebesar Rp 18 juta.

UBL mengalahkan 26 kontestan kampus lainnya yang turut berlomba dalam mengekspresikan kreativitas anti narkoba. Ketua Yayasan Budi Luhur Cakti, Kasih Hanggoro tidak dapat menyembunyikan rasa bangganya atas keberhasilan seluruh civitas akademika di UBL yang telah berupaya mewujudkan kampus yang bersih dari narkoba. “Kami harap anugerah lomba ini jadi motivasi untuk berperan lebih maksimal dalam membentengi seluruh civitas akademika dan masyarakat dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba,” ujarnya ketika ditemui usai menghadiri puncak Lomba Kampus Bersih Narkoba 2013, di Hotel Kartika Chandra, Selasa (12/11).

Sementara itu, Rektor UBL Suryo Hapsoro menegaskan, upaya penanggulangan masalah narkoba di lingkungan mahasiswa mutlak dilakukan, agar kecerdasan mahasiswa baik dalam konteks kecerdasan pikir, hati dan perasaan dapat terlindungi sehingga mahasiswa bisa membangun peradaban yang lebih baik ke depannya.

Kepala BNN, DR. Anang Iskandar, memberikan apresiasi kepada 27 universitas yang berperan serta dalam upaya mengimunisasi masyarakat kampus dari godaan penyalahgunaan narkoba. “Yang terpenting adalah proses bagaimana mahasiswa berperan mencegah penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, bukan hanya membidik hadiahnya,” ujar Anang Iskandar.

Penanggulangan masalah narkoba bukan masalah kelembagaan, akan tetapi menjadi tanggung jawab individu. Karena itulah, Kepala BNN berharap civitas akademika lebih memberikan peran dalam penanggulangan masalah narkoba. Dua kerangka pemikiran yang harus terus didukung adalah dekriminalisasi dan depenalisasi terhadap penyalah guna narkoba, sebagai paradigma penanganan narkoba yang proporsional,“Melalui lomba kampus ini, mahasiswa diharapkan dapat mendorong perubahan paradigma dalam penanganan masalah narkoba,” kata Anang.

Menpora, Roy Suryo yang hadir dalam puncak kegiatan tersebut mengatakan, bahwa prevalensi penyalahgunaan narkoba harus ditekan, karena trendnya selalu mengalami peningkatan. Roy berpesan agar para pemuda sebagai bonus demografi, tidak tercemari oleh penyalahgunaan narkoba, sehingga terus dapat berkarya dalam membangun bangsa.

Siswandi, pelaksana kegiatan ini mengatakan, ide lomba awalnya dicetuskan saat BNN menggelar Rakor dengan 41 kampus, pada April 2013. “Dari 41 kampus itu, 27 kampus di antaranya menyatakan komitmennya untuk berpartisipasi dalam lomba untuk mengadu kreativitasnya dalam membentuk branding kampus yang bersih dari penyalahgunaan narkoba.

“Kami  memberikan apresiasi yang tinggi pada para mahasiswa yang berkomitmen penuh dalam menciptakan karyanya. Kegiatan ini bukan hanya sekedar mencari juara, tapi yang terpenting adalah menciptakan komitmen di wilayah kampus dalam melaksanakan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN),” tutur Siswandi.

Siswandi berpesan agar kampus lebih berwaspada dengan lingkungannya. Ia menekankan agar kampus jangan sampai dimasuki oleh mata rantai sindikat narkoba

Di samping itu, Siswandi juga menekankan agar pihak kampus dapat berperan serta dalam melakukan gerakan rehabilitasi pada penyalah guna narkoba. “Dorong mahasiswa yang terkena narkoba untuk melaporkan dirinya pada Institusi Penerima Wajib Lapor, agar direhabilitasi”, lanjut Siswandi.

Dalam rangkaian kegiatan puncak acara ini, Jaya Suprana, selaku Ketua MURI menyerahkan rekor MURI  atas tanda tangan terbanyak dalam menunjukkan komitmen anti narkoba. BNN  berhasil mengumpulkan 2.000.2015  tanda tangan anti narkoba dari seluruh kalangan masyarakat. (pas)

Rabu, 13 November 2013, JAKARTA – Penyalahgunaan narkoba tidak mengenal umur, ekonomi dan status sosial. Setiap orang bisa saja terlibat dalam penyalahgunaan narkoba, karena peredaran gelap narkoba di Indonesia sudah sangat memprihatinkan, “Memberi Narkoba sudah seperti membeli kacang goreng, mudah dan ada dimana-mana,” ujar Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Fisip, Universitas Nasional, Mada Bagus, saat Sosialisasi Pencegahan dan Pemberantasan penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) bagi kelompok pelajar di Auditorium RRI Jakarta Selasa 12/11 .

Lebih lanjut Mada Bagus mengatakan, diperlukan kerja keras semua pihak untuk menekan angka prevalensi  penyalahahguna narkoba yang sudah menembus angka 4 juta jiwa, “Tidak bisa membiarkan BNN bekerja sendiri,”Masyarakat terutama mahasiswa harus mengambil peran dalam upaya pencegahan narkoba,” tandasnya.

Mada menyarankan,  sebaiknya mahasiswa yang sudah mengikuti acara sosialisasi dapat menjadi folunteer yang kemudian menjadi duta anti narkoba di lingkungan kampusnya masing-masing.

Dr. Amrita Devi dari Rehabilitasi BNN mengingatkan dampak buruk yang timbul akibat penyalahgunaan narkoba. Secara medis, narkoba adalah zat yang sangat berbahaya bagi tubuh, “Mengkonsumsi narkoba diluar resep dokter dapat mengakibatkan penurunan daya ingat karena kerusakan pada sistem saraf (terutama otak).  Makanya penyalahguna narkoba memerlukan waktu yang sangat lama untuk dapat dipulihkan,” katanya.

Menurut Amrita, mahasiswa sebagai penerus tonggak kemerdekaan agar tidak berkompromi dengan barang haram itu, “Saya minta adik-adik mahasiswa jangan sampai terlibat dalam penyalahgunaan narkoba  karena akan merusak otak dan menjadikan masa depan suram.

Sementara itu Direktur Diseminasi dan Informasi, Deputi Bidang Pencegahan BNN, Drs. Gun Gun Siswadi mengatakan, akan terus mendorong peran mahasiswa agar terlibat aktif dalam Pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di kalangan generasi muda, “Kedepan kita harapkan agar mahasiswa membuat program-program anti penyalahgunaan narkoba di lingkungan kampusnya. Karena langkah itu menurut Gun Gun jauh lebih efektif untuk menjangkau mahasiswa yang jumlahnya sangat banyak. 

Pada kesempatan itu Gun Gun juga menghimbau untuk melaporkan pencandu narkoba  kepada BNN atau Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) untuk mendapat layanan terapi dan rehabilitasi. (pas)

Selasa, 12 November 2013, JAKARTA – Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Mercu Buana, Dana Santoso, mengungkapkan, semakin meluasnya peredaran dan penyalahgunaan narkoba, menjadi fokus perhatian dari berbagai pihak dan pemangku kepentingan,“Data menunjukkan bahwa mahasiswa dan pelajar berada di urutan kedua penyalahgunaan narkoba, ini harus menjadi perhatian dunia pendidikan dan perlu melakukan inovasi dan terobosan guna menekan fakta dan indikasi beredarnya narkoba di lingkungan sekolah dan kampus yang mestinya steril narkoba,” katanya saat menghadiri pelatihan kader anti narkoba yang diselenggarakan Direktorat Advokasi Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN), bagi Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi se-DKI Jakarta, di Kampus Universitas Mercu Buana, Jakarta, Selasa, (12/11)

Selanjutnya Dana Santoso menekankan pentingnya kampus mewadahi dan menyalurkan energi yang dimiliki oleh para mahasiswa ke dalam berbagai kegiatan positif,“Penting adanya fasilitas yang ditujukan untuk menyalurkan kreatifitas para mahasiswa. Karenanya kami sangat mendorong dan mendukung berbagai kegiatan positif mulai dari sisi akademik, organisasi kemahasiswaan, seni, budaya dan olahraga,” ujarnya. 

Dana meyakini bahwa penyaluran kreatifitas yang disertai dengan pemahaman atas bahaya penyalahgunaan narkoba akan dapat menghindarkan generasi muda kita dari keinginan untuk mencoba dan akhirnya akan menjadi pecandu narkoba.

Indri Sulistiyanti, mahasiswa semester I Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana memiliki kiat khusus untuk menghindari narkoba. Menurutnya, pemahaman atas bahaya narkoba memang sangat penting, namun untuk menghadapi godaan narkoba, ketaatan akan agama memegang peran yang sangat penting,“Selain itu, pedoman dan petuah dari orangtua tetap saya pegang. Mungkin terdengar klise, tapi rasa hormat terhadap orangtua dan ketakutan untuk mengecewakan mereka seringkali jadi pemikiran untuk menghindari hal-hal yang negatif,” ujarnya.

Dari sisi yang berbeda, Hana Maulidina, salah seorang peserta pelatihan, menekankan pentingnya diberikan pemahaman tentang bahaya narkoba sejak dini,“Hal ini harus terus menerus disampaikan. Bukan rahasia lagi bahwa banyak juga adik-adik kita yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba. BNN harus lebih jauh menyentuh hingga ke anak-anak sekolah dasar,” ujarnya.

Kasubdit Masyarakat BNN, Siti Alfiasih, menyampaikan bahwa penyalahgunaan narkoba memang tidak mengenal batasan umur maupun pengelompokan lainnya. Siapa saja bisa menjadi korban. Penanganannya membutuhkan peran seluruh pihak,“Karenanya kami sangat berharap agar para kader yang kita latih selama dua hari ini akan dapat menggulirkan kembali kepada masyarakat. Tanpa kepedulian masyarakat, saya rasa akan sulit kita menangani permasalahan narkoba,” ujarnya. (pas)

Page 7 of 13
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…