Super User

Super User

Page 6 of 13

Senin, 18 November 2013, JAKARTA - Hingga kini penyebaran narkoba belum  bisa dicegah. Mengingat hampir seluruh penduduk dunia dapat dengan mudah mendapat narkoba dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Upaya mencegah dan memberantas narkoba pun sudah sering dilakukan namun masih ada saja korban narkoba dari kalangan remaja maupun dewasa, bahkan anak-anak usia SD dan SMP pun banyak yang terjerumus menyalahgunakan narkoba, “Upaya yang paling efektif untuk mencegah penyalahgunaan Narkoba pada anak-anak yaitu dari pendidikan keluarga dan kasih sayang keluarga. Orang tua diharapkan dapat mengawasi dan mendidik anaknya untuk selalu menjauhi Narkoba,” kata Aktivis Perempuan Tika Kartika, ketika ditemui di Sekretariatnya, Jakarta, kemarin.

Menurut kesepakatan Convention on the Rights of the Child (CRC) yang juga disepakati Indonesia pada tahun 1989, setiap anak berhak mendapatkan informasi kesehatan reproduksi (termasuk HIV/AIDS dan narkoba) dan dilindungi secara fisik maupun mental. Namun realita yang terjadi saat ini bertentangan dengan kesepakatan tersebut, ditemukan anak usia 7 tahun sudah ada yang mengkonsumsi narkoba jenis inhalan (uap yang dihirup). Anak usia 8 tahun sudah memakai ganja, lalu di usia 10 tahun, anak-anak menggunakan narkoba dari beragam jenis, seperti inhalan, ganja, heroin, morfin, ekstasi, dan sebagainya (riset BNN bekerja sama dengan Universitas Indonesia).

Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), kasus pemakaian narkoba oleh pelaku dengan tingkat pendidikan SD hingga tahun 2007 berjumlah 12.305. Data ini begitu mengkhawatirkan karena seiring dengan meningkatnya kasus narkoba (khususnya di kalangan usia muda dan anak-anak, penyebaran HIV/AIDS semakin meningkat dan mengancam. Penyebaran narkoba menjadi makin mudah karena anak SD juga sudah mulai mencoba-coba mengisap rokok. Tidak jarang para pengedar narkoba menyusupkan zat-zat adiktif (zat yang menimbulkan efek kecanduan) ke dalam lintingan tembakaunya.

“Hal ini menegaskan bahwa saat ini perlindungan anak dari bahaya narkoba masih belum cukup efektif. Walaupun pemerintah dalam UU Perlindungan Anak Nomor 23 tahun 2002 dalam pasal 20 sudah menyatakan bahwa Negara, Pemerintah, Masyarakat, Keluarga, dan orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak (lihat lebih lengkap di UU Perlindungan Anak). Namun perlindungan anak dari narkoba masih jauh dari harapan,” ujar Tika.

Menurut Tika, narkoba adalah isu yang kritis dan rumit yang tidak bisa diselesaikan oleh hanya satu pihak saja. Karena narkoba bukan hanya masalah individu namun masalah semua orang. Mencari solusi yang tepat merupakan sebuah pekerjaan besar yang melibatkan dan memobilisasi semua pihak baik pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan komunitas lokal, “Sangat penting bekerja sama dalam rangka melindungi anak dari bahaya narkoba dan memberikan alternatif aktivitas yang bermanfaat seiring dengan menjelaskan kepada anak-anak tentang bahaya narkoba dan konsekuensi negatif yang akan mereka terima,” kata Tika.

Anak-anak membutuhkan informasi, strategi, dan kemampuan untuk mencegah. Salah satu upaya dalam penanggulangan bahaya narkoba adalah dengan melakukan program yang menitikberatkan pada anak usia sekolah (school-going age oriented).

“Di Indonesia, perkembangan pencandu narkoba semakin pesat. Para pencandu narkoba itu pada umumnya berusia antara 11 sampai 24 tahun. Artinya usia tersebut ialah usia produktif atau usia pelajar. Pada awalnya, pelajar yang mengonsumsi narkoba biasanya diawali dengan perkenalannya dengan rokok. Karena kebiasaan merokok ini sepertinya sudah menjadi hal yang wajar di kalangan pelajar saat ini. Dari kebiasaan inilah, pergaulan terus meningkat, apalagi ketika pelajar tersebut bergabung ke dalam lingkungan orang-orang yang sudah menjadi pencandu narkoba. Awalnya mencoba, lalu kemudian mengalami ketergantungan,” jelas Tika. (pas)

Senin, 18 November 2013, JAKARTA - Pergaulan dan perilaku remaja saat ini cukup memprihatinkan. Berbagai kasus yang melibatkan remaja hampir setiap hari menghiasi pemberitaan di media massa. Kondisi tersebut cukup membuat kita miris. Apa jadinya, jika anak yang kita cintai terlibat dalam hal-hal yang dapat merusak masa depannya?

Berbagai kasus terjadi di kalangan remaja, diantaranya, tawuran, seks bebas, penyalahguaan narkoba dan lain sebagainya. Padahal sesungguhnya, dari tangan-tangan mereka itulah perjalanan negara ini akan dilanjutkan. Jika mereka terus terlibat dalam perbuatan negatif tersebut, bagaimana kelanjutan bangsa ini nantinya?

Masa remaja merupakan periode antara masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Masa ini sangat berperan penting bagi perkembangan kehidupan remaja pada masa mendatangnya. Bila seorang remaja pernah memakai narkoba, jika tidak cepat diantisipasi, maka kemungkinan besar dia akan menggunakan narkoba hingga ia dewasa. Hal itu tentu saja dapat merusak kehidupan dan cita-citanya pada masa mendatang.

Pada periode remaja, rasa ingin tahu (mencoba-coba), mengikuti trend, gaya hidup, bersenang-senang, dan rasa untuk dihargai oleh teman-temannya sangatlah besar. Sehingga hal itu dengan mudah dapat membuat remaja untuk menggunakan narkoba dalam kehidupannya. Berdasarkan data yang diperoleh dari sejumlah referensi, terbukti yang paling banyak mengonsumsi narkoba adalah dari kelompok remaja.

Masalah ini semakin sulit lagi jika mereka menggunakan narkoba yang menggunakan jarum suntik secara bergantian. Sehingg berbagai penyakit rentan menular seperti HIV/AIDS yang dapat menyebar dengan mudah. Bila terus dibiarkan akan merusak kehidupan anak bangsa dan tentunya akan merusak sumber daya manusia suatu negara.

Dalam kondisi ini, kita tidak serta merta menyalahkan mereka. Peran orang tua, guru, dan pemerintah sangat penting dalam hal ini. Segala usaha haruslah kita lakukan guna bisa menyelamatkan mereka dari lingkaran hitam narkoba.

Sejumlah cara dapat dilakukan untuk menghindarkan mereka dari bahaya narkoba. Misalnya, pertama, memberikan penyuluhan/penyebaran informasi akan bahaya narkoba. Hal ini dapat dilakukan melalui banyak cara, contohnya, penyuluhan di sekolah, melalui iklan layanan masyarakat, pendekatan melalui keluarga, dan melalui kegiatan positif yang berhubungan dengan anti narkoba. Instansi pemerintah, harus lebih banyak berperan pada tahap intervensi ini. kegiatan dilakukan seputar pemberian informasi melalui berbagai bentuk materi KIE yang ditujukan kepada remaja langsung dan keluarga.

Kedua, melakukan kegiatan positif misalnya berolah raga, dan melaksanakan bakti sosial sehingga remaja tidak akan berpikiran untuk menggunakan narkoba karena mereka sibuk dengan aktifitas baik yang mereka lakukan. Ketiga, peduli dengan kawan yang mungkin akan atau sudah menggunakan narkoba dengan memberikan peringatan serta nasihat kepada mereka.

Keempat, orang tua selalu melakukan pendekatan kepada anaknya. Ada beberapa trik dan tips yang dapat dilakukan saat berkomunikasi dengan anak adalah, diantaranya, perhatikan ekspresi/mimik muka dan bahasa tubuh anak. Apakah si anak gugup atau merasa tidak nyaman, seperti merengut, memainkan tangannya, menggoyang kaki, tidak berani menatap mata kita atau seringkali melihat jam dan sebagainya?  Atau si anak terlihat tenang, tersenyum atau menatap langsung mata kita? Bacalah tanda-tanda ini untuk mengetahui perasaan si anak yang sebenarnya.

Sepanjang diskusi dengan si anak berlangsung, perhatikan apa yang dikatakannya. Bila diskusi ini dilakukan dengan posisi duduk, dekatkanlah diri denganya. Bila dilakukan dengan berjalan, peluklah bahunya. Dan sering-seringlah melakukan kontak mata.

Tanggapilah apa saja yang dikatakan oleh sang anak. Remaja sangat suka apabila apa yang dikatakanya ditanggapi oleh pendengar. Namun, gunakanlah bahasa yang baik dan tidak momojokkannya pada posisi yang tidak menguntungkannya. Jangan mengabaikan hal yang tidak mau didengar darinya. Karena, biasanya hal itulah yang merupakan hal penting dari masalah tersebut.

Berusahalah mengerti apa yang dirasakan si anak pada posisi itu. Jangan langsung memberikan nasihat atas apa dari setiap kata yang diucapkan oleh anak. Sebaiknya selesaikan hingga ia selesai, yakinkan bahwa kita mengerti apa yang dimaksud oleh sang anak.

Buah hati kita adalah harapan untuk masa depan. Bagaimana masa depan mereka akan indah jika dalam perjalanannya telah "dihabisi" oleh narkoba. Untuk itu, peran kita semua menyelamatkan mereka dari bahaya "barang-barang haram" itu harus kita tingkatkan. Jika semua pihak ikut andil dalam menyelamatkan generasi penerus bangsa dari bahaya narkoba, Insya Allah, kita akan bisa melihat senyum mereka di masa depan. (pas)

Jumat, 15 November 2013, JAKARTA – Penyalahguna narkoba di Indonesia kini telah mencapai 4 juta orang, mereka dari berbagai kalangan, termasuk anak di bawah umur, remaja sebagai generasi muda, hingga orangtua. Untuk itu diperlukan kewaspadaan semua pihak dalam menjaga keluarganya, lingkungan tempat tinggalnya agar tidak dimasuki sindikat narkoba,”Kami sangat berterima kasih ke petugas Badan Narkotika Nasional yang telah memberikan informasi tentang dampak buruk dan bahayanya menyalahgunakan narkoba,” kata Ketua RW 02 Kelurahan Kelapa Dua Wetan, Ciracas, Jakarta Timur, Sugian, ketika ditemui usai mengikuti Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Direktorat Diseminasi Informasi Deputi Bidang Pencegahan, Badan Narkotika Nasional (BNN), di Gedung Serba Guna RW. 02 Kelapa Dua Wetan, Jakarta Timur, Jumat (15/11).

Selanjutnya Sugian mengharapkan, informasi akan bahaya narkoba yang telah didapat dari FGD bisa disebarluaskan dan dimengerti oleh warga Ciracas, sehingga penyuluhan ini pun menjadi bermanfaat bagi kehidupan warga Ciracas.

Sementara itu, Analis Pengembangan Model Pencegahan Bahaya Narkoba dari BNN, Kombes Pol Ir. Sri Hayati, M.Si, mengungkapkan, narkoba memiliki dampak tak hanya terhadap kesehatan saja, melainkan melibatkan faktor sosial, budaya, dan ekonomi,”Untuk itu, narkoba harus di cegah dari lingkup paling kecil, yakni keluarga," ungkapnya.

Semua informasi tentang bahaya, jenis, dampak dari narkoba dipaparkan secara gamblang oleh Sri Hayati kepada warga Ciracas, dengan harapan warga akan memiliki komitmen bersama dalam mencegah narkoba serta membuat lingkungan bebas narkoba, “Lingkungan terkecil seperti keluarga pun sangat berperan dalam pencegahan bahaya narkoba, dimana orangtua agar selalu dapat memberikan arahan positif kepada anak-anak, dan turut serta sebagai agen dalam pencegahan narkoba,” ujar Sri.

Dalam kesempatan tersebut, Sri Haryati mengemukakan, bahwa pecandu narkoba yang murni pemakai harus direhabilitasi untuk dipulihkan secara psikis dan sosial, mengacu pada Undang-Undang No. 35 tahun 2009 Tentang Narkotika. (pas)

Jumat, 15 November 2013,  JAKARTA - Badan Narkotika Nasional (BNN) menemukan tiga zat baru yang memiliki kandungan narkotika berbentuk lembaran kertas menyerupai LSD (Lysergic Acid Diethylamid) yang beredar di masyarakat. Ketiganya memiliki bentuk berupa lembaran kertas seukuran prangko.

"Ketiga zat yang ditemukan Oktober dan November ini bentuknya berupa lembaran kertas yang sebelumnya mengandung LSD hasil tangkapan BNN yang diperiksa di laboratorium BNN," kata Kepala Humas BNN Kombes Sumirat Dwiyanto dalam jumpa pers di kantornya, Cawang, Jaktim, Jumat (15/11).

Senyawa  25C-NBOMe dan 25I-NBOMe yang merupakan turunan dari fenetilamine dan memiliki efek psychedelic (reaksi menenangkan yang jika berlebihan dapat mengakibatkan tidak sadarkan diri bagi tubuh manusia. Sedangkan 25B-NBOMe memiliki efek halusinogen saat dikonsumsi dan zat ini juga merupakan turunan dari fenetilamine.

Sumirat lalu menjabarkan awal mula penemuan 3 zat baru yang kini menambah jumlah zat baru yang ditemukan sejak Januari-November 2013 menjadi 24 zat tersebut,"Terkait zat berbentuk lembaran kertas seperti perangko, itu dari laporan masyarakat ke BNN yang 25I-NBOMe," ucapnya.

Kedua adalah yang dilakukan dari hasil penangkapan Direktorat Tindak Pidana Narkotika Bareskrim Polri di Cikokol, Tangerang berisi 25B-NBOMe. "Lalu kita juga mendapatkan laporan dari bea cukai dan Direktorat tindak kejar, sekarang sedang menelusuri barang tersebut dan hasil laboratorium kandungan 25CNBOME," ucapnya.

Kedua zat tersebut pertama kali ditemukan oleh Ralf Heim di Free University Berlin tahun 2004. Di beberapa Negara di Dunia, kedua zat tersebut memang populer digunakan sebagai bahan pembuat narkoba berbentuk kertas. Tapi di Indonesia narkoba kertas yang mengandung zat 25B-NBOMe dan 25C-NBOMe baru pertama kami ditemukan dan belum terdaftar di dalam UU No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.(pas)

Jumat, 15 November 2013, JAKARTA - Badan Narkotika Nasional (BNN) kembali menangkap bandar narkotika di wilayah Semarang, Jawa Tengah dengan barang bukti sabu seberat 500 gram. Tersangka yang diketahui bernama Toni, ditangkap petugas BNN di Hotel Holiday Inn di wilayah Semarang, Jawa Tengah pada Kamis (14/11) kemarin. Tersangka yang awalnya berprofesi sebagai pedagang roti ini kedapatan memiliki sabu seberat 500 gram yang diterima dari seorang kurir bernama Chandra.

"Sabu itu diambil oleh kurir dari Jakarta untuk diberikan kepada Toni di sebuah hotel di Semarang," ujar Kabag Humas BNN, Kombes Sumirat Dwiyanto, dalam jumpa pers di BNN, Cawang, Jakarta Timur, Jumat (15/11).

Berawal dari keinginan Toni yang semula sebagai seorang pedagang roti, ingin mengubah nasibnya dengan mencari keuntungan yang lebih besar. Dari seorang pecandu, ia berniat menjadi pengedar. Awalnya menjadi pengedar kecil-kecilan, lantas berkembang hingga mencapai 500 gram.

Toni, si pelaku mengaku pertama kali mencoba sabu di tahun 2010. Kala itu ia membeli sabu dari seorang pengedar. Saat ditangkap Toni kedapatan memiliki sabu seberat 500 gram yang diterima dari kurir bernama Chandra yang baru datang dari Jakarta.

Rencananya, sabu itu akan diedarkan di wilayah Semarang dengan dibantu oleh kaki tangan tersangka Toni bernama Iwan. Bahkan peredaran narkoba jenis sabu itu telah dilakoninya sejak empat tahun lalu,"Jadi setelah usaha rotinya gulung tikar, dia beralih jual sabu. Tapi awalnya dia  memang pecandu," kata Sumirat.

Sementara itu, tersangka Chandra yang juga teman dekat Toni bertugas sebagai kurir bisnis narkoba yang dijalankan. Dari pengakuannya, Chandra mengaku nekat menjadi kurir narkoba, lantaran dirinya masih memiliki hutang sebesar Rp 10 juta kepada Toni.

Ia  mengaku terpaksa mengikuti segala yang diperintahkan Toni kepada dirinya untuk menutupi hutangnya tersebut. "Hutangnya baru dibayar sekitar seperempat dari pinjaman," tandasnya. (pas)

Jumat, 15 November 2013, JAKARTA - Maraknya penyalahgunaan narkoba saat ini bisa dibilang sangat keterlaluan, kalau dahulu banyaknya penyalahgunaan narkoba disebabkan faktor kurangnya informasi, tapi saat ini banyak informasi yang dapat diperoleh dari berbagai macam media, baik elektronik maupun non elektronik tentang bahaya penyalahgunaan obat terlarang tersebut,”Untuk itu, mahasiswa sebagai pelopor dan pemuda yang hidup dengan teknologi tentu punya ide-ide yang kreatif dengan melakukan kegiatan positif dalam mendukung program pemerintah menanggulangi bahaya penyalahgunaan narkoba,” kata Penyuluh Diseminasi Informasi Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN), Sayyid Aranjaya, daam Focus Group Discussion (FGD) di Indonesian Banking Scool, di Kemang Raya Jakarta Selatan, Kamis (14/11).

Selanjutnya Sayyid mengatakan, bahwa sekarang ini masalah narkoba merupakan extra ordinary crime yang menyebabkan hilangnya suatu generasi. Kalau saat ini masih banyak yang menyalahgunakan, terlebih dikalangan mahasiswa merupakan hal yang sangat memperihatinkan, “Karena mahasiswa merupakan generasi suatu bangsa dan pioneer yang harusnya meneriakkan anti penyalahgunaan narkoba,” katanya.

Menurut Sayyid, semua orang punya peluang yang sama untuk terjerumus ke dalam penyalahgunaan narkoba, “Kita hanya bisa menjauhinya atau mencegahnya. Disinilah peran mahasiswa untuk melakukan upaya-upaya pencegahan,” ujar Sayyid.

Laras, salah satu peserta, yang ditemui usai mengikuti FGD, mengaku senang dan melalui kegiatan ini, ia menjadi lebih mengetahui apa itu narkoba, dampak, dan ciri-ciri penggunanya.

Sementara Ian, mahasiswa Indonesian Banking School, meminta kepada pemerintah untuk mempertegas larangan merokok, “Karena rokok adalah salah satu pintu menuju narkoba dan diperlukan informasi seperti ini yang berimbang dari BNN yang perlu disampaikan ke masyarakat dan mahasiswa seperti kami bisa juga melakukan hal yang sama agar setiap warga negara Indonesia memahami hal seperti ini,” kata Ian.

Melalui acara ini, diharapkan akan timbul kesadaran dalam diri masing-masing peserta untuk dapat mempraktekkan bagi dirinya, terlebih mahasiswa dengan kemampuan berpikirnya yang harus lebih kritis sekaligus dapat menjadi corong penyampaian informasi tentang bahaya penyalahgunaan narkoba di lingkungannya masing-masing, sehingga Indonesia bebas narkoba tahun 2015 dapat terwujud. (pas)

Page 6 of 13
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…