Super User

Super User

Page 5 of 13

Beberapa orang bilang, musik rock adalah musik yang disukai orang-orang yang kekanak-kanakkan. Yang namanya kekanak-kanakkan, sepertinya belum dewasa. Nah, ini berarti mereka yang menyukai musik rock, jiwanya selalu muda.

Kalau begitu, benar ada ungkapan yang bilang, “If it’s too loud, then you’re too old.” Terjemahan bebasnya kira-kira: Kalau kuping kamu sudah nggak bisa mentolerir musik yang bising, berarti ya kamu sudah terlalu tua!

Berarti cool friends, mereka yang meskipun sudah uzur alias tua, selama dia masih bisa mentolerir dan menikmati musik rock, ‘di dalamnya’ tetap muda. Ozzy Osbourne dari Black Sabbath, Iggy Pop dari The Stooges, Mick Jagger dari The Rolling Stones, Roger Daltrey dari The Who, Achmad Albar, Ian Antono dan Donny Fattah dari Godbless adalah segelintir opa-opa yang masih berjiwa muda.

Tiga nama terakhir, masih pantas terlihat memakai skinny jeans. Masih keren, bandingkan nama-nama tadi, dengan kakek-kakek di sekitar rumah kamu yang sudah nggak kuat mendengar musik keras. Yakin deh, meskipun usianya relatif sama, tapi penampilan dan semangatnya jauh berbeda.

“Banyak orang bilang, musik rock musiknya anak muda,” begitu kata Roxx dalam lagu Rock Bergema.

“Usiaku tak bertambah muda, tapi sikapku menolak tua,” kata Seringai dalam lagu Alkohol.

Salah satu semangat yang ditawarkan musik rock adalah semangat selalu muda. Musiknya yang agresif, iramanya yang menghentak, liriknya yang bersemangat, mungkin adalah formula untuk awet muda.

Musik rock biasanya melawan kemapanan, liar, kadang tak peduli aturan, dan berlawanan dengan jiwa orang-orang tua. Makanya, orang yang usianya sudah tua, tapi masih mendukung semangat yang ditawarkan musik rock, berarti jiwanya belum tua.

Suatu ketika, ada teman yang bilang, dia sudah tak kuat lagi mendengarkan irama yang terlalu bising. Saya jadi bertanya-tanya, jangan-jangan dia tak kuat karena hatinya sudah menolak, jiwanya sudah tak semuda dulu, atau lingkungan tempat dia tinggal membuat dia semakin tua jiwa dan raganya sehingga musik rock sudah tak cocok lagi di kupingnya.

Soalnya, ada juga teman-teman yang masih setia menyambut musik rock dengan gembira karena mereka tinggal di lingkungan yang sebagian besar masih berjiwa muda.

Jadi, apakah kita menua lalu tak kuat lagi mendengarkan musik rock, ataukah karena kita berhenti mendengarkan musik rock lalu menua? Ini adalah salah satu misteri hidup.

Ayo, sekarang tanyakan pada diri kamu sendiri. Berapa umur kamu sekarang? Kalau menjelang kepala 4, kemungkinan sudah termasuk tua, kalau yang masih kepala 2 atau belasan sih, sudah pasti kamu masih muda.

Nah, buat yang sudah dikategorikan tua, seberapa sering kamu mendengarkan musik rock dalam sehari? Kalau kadarnya masih banyak, berarti kamu masih berjiwa muda.

Kalau kadar musik rock yang kamu dengarkan semakin lama semakin berkurang, bahkan kamu sudah tak menganggap keren lagi musik rock yang dulu kamu puja, kemungkinan kamu akan menuju ke jurang kaum tua.

Ayo, sebelum terlambat. Tetaplah konsumsi ‘asupan’ musik rock dengan teratur, supaya jiwa kamu tetap muda. Tak perlu itu ramuan pengencang kulit, atau pergi ke Haji Jeje dan Dr Tompi demi terlihat muda. Musik rock adalah jawabannya.

Oke oke, mungkin sebagian dari kamu bilang saya sok tahu dan menyebalkan, dengan menganggap bahwa mereka yang masih kuat mendengarkan musik rock adalah mereka yang berjiwa muda dan masih menyenangkan.

Tapi sayakan sudah bilang, ada penelitian yang mengatkan bahwa mereka yang mendengarkan musik rock, adalah mereka yang masih kekanak-kanakkan.

Saya mungkin kekanak-kanakkan dengan mengagungkan musik rock dan mereka yang meskipun tua tapi masih mendengarkan musik rock; tapi yang penting, saya tahu bahwa meskipun sudah kepala 3 ternyata masih ada jiwa muda bergelora di dada.

Pinggang boleh saja sudah gampang sakit. Kaki boleh saja sudah gampang pegal. Nafas boleh saja sudah mudah tersengal-sengal, tapi kuping saya masih bisa menerima hingar bingarnya musik rock. Yah, meskipun energinya sudah agak berkurang, setidaknya jiwa muda saya masih oktan tinggi! **GP**

Disarikan dari tulisan Soleh Solihun di supermusic.id

Jakarta, 23 Desember 2015 Badan Narkotika Nasional (BNN) terus optimalisasikan kinerja di seluruh lini dalam Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN). Langkah-langkah perbaikan, loyalitas, serta dedikasi dilakukan oleh seluruh anggota BNN dalam rangka pencapaian sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. Hal tersebut berjalan linier dengan adanya penurunan prevalensi pecandu dan penyalah guna Narkotika yang menurut hasil penelitian pada tahun 2008 oleh BNN bersama pusat penelitian dan kesehatan (Puslitkes) Universitas Indonesia,diproyeksikan pada tahun 2015 mencapai angka 2,8%, namun pada penelitian terbaru pada tahun 2015 tercatat angka prevalensi hanya sekitar 2,2% yang berarti terdapat adanya penurunan sebanyak 0,6%.

Sepanjang tahun 2015 BNN telah mengungkap sebanyak 102 kasus Narkotika dan TPPU yang merupakan sindikat jaringan nasional dan internasional, dimana sebanyak 82 kasus telah P21. Kasus-kasus yang telah diungkap tersebut melibatkan 202 tersangka yang terdiri dari 174 WNI dan 28 WNA. Berdasarkan seluruh kasus Narkotika yang telah diungkap, BNN telah menyita barang bukti sejumlah 1.780.272,364 gram sabu kristal; 1.200 mililiter sabu cair; 1.100.141,57 gram ganja; 26 biji ganja; 95,86 canna chocolate; 303,2 gram happy cookies; 14,94 gram hashish; 606.132 butir ekstasi; serta cairan prekursor sebanyak 32.253 mililiter dan 14,8 gram. Sedangkan dalam kasus TPPU total asset yang berhasil disita oleh BNN senilai Rp 85.109.308.337.

Selain itu, pada tahun ini BNN juga menemukan 2 jenis zat baru (new psychoactive substances) yaitu CB-13 dan 4-klorometkatinon. Sehingga total NPS yang telah ditemukan BNN hingga akhir tahun 2015 yakni sebanyak 37 jenis, yang dapat dilihat selengkapnya di www.bnn.go.id.

BNN melakukan penindakan tanpa pandang bulu, baik pria, wanita, warga negara Indonesia, warga negara asing, karyawan, mahasiswa, oknum aparat yang terbukti terkait dalam kasus Narkotika. Hal ini dibuktikan dengan adanya tindakan yang tegas terhadap oknum yang terbukti terlibat kasus peredaran gelap Narkotika, yang saat ini sedang menjalani proses hukum dan kode etik. BNN juga tidak segan-segan menggunakan senjata untuk penegakan hukum dalam memerangi para kurir dan bandar. Kesungguhan BNN dalam menghentikan penyelundupan serta peredaran gelap Narkotika diharapkan dapat ditindaklanjuti dengan memberikan sanksi hukuman yang seberat-beratnya terhadap para tersangka, termasuk dalam penetapan hukuman mati.

Berdasarkan data Direktorat Tindak Pidana Umum Lainnya, Kejaksaan Agung RI, sampai dengan pertengahan Desember 2015, terdapat 55 orang terpidana kasus Narkotika yang mendapatkan vonis hukuman mati, dimana 14 orang terpidana mati kasus Narkotika diantaranya sedang menunggu eksekusi hukuman mati.

Seiring dengan gencarnya pemberantasan, BNN juga terus berupaya melakukan pencegahan dan pemulihkan bagi para pecandu dan penyalah guna dari ketergantungannya terhadap Narkotika. BNN menyediakan balai besar (Babes) rehabilitasi sebagai media dalam proses penyembuhan dan pemulihan pecandu dan penyalah guna Narkotika.

Berdasarkan data pada tahun 2015, BNN bersama bersama lembaga rehabilitasi instansi pemerintah dan komponen masyarakat telah melaksanakan program rehabilitasi kepada 38.427 pecandu, penyalah guna, dan korban penyalahgunaan Narkotika yang berada di seluruh Indonesia dimana sejumlah 1.593 direhabilitasi melalui Balai Besar Rehabilitasi yang dikelola oleh BNN, baik yang berada di Lido – Bogor, Baddoka – Makassar, Tanah Merah – Samarinda, dan Batam – Kepulauan Riau. Angka tersebut mengalami peningkatan, dimana pada tahun sebelumnya hanya sekitar 1.123 orang pecandu dan penyalah guna yang direhabilitasi.

Berangkat dari data yang menunjukan adanya peningkatan pecandu dan penyalah guna yang direhabilitasi berbanding dengan penurunan prosentase prevalensi angka penyalah guna, maka langkah yang akan diambil BNN ke depan adalah upaya menghentikan penyalahgunaan Narkotika dengan membendung imun masyarakat terhadap penyalahgunaan Narkotika dan mempersempit ruang peredarannya.

Oleh sebab itu, ke depan BNN berencana untuk memberikan penguatan pada bidang pencegahan dan pemberdayaan masyarakat, sebagai upaya preventif dalam pengentasan penyalahgunaan Narkotika yang diharapkan dapat lebih efektif dalam menekan laju peredaran gelap Narkotika. Penguatan dalam bidang pencegahan ini juga merupakan salah satu usaha membentuk masyarakat yang memiliki ketahanan dan kekebalan (imun) terhadap bahaya penyalahgunaan Narkotika, salah satu contohnya yakni dengan memasukan pendidikan bahaya Narkoba ke dalam kurikulum di sekolah.

Dalam bidang pencegahan, di tahun ini BNN telah melakukan sosialisasi bahaya penyalahgunaan Narkoba kepada 490 pelajar, 7.400 mahasiswa, 1.750 pekerja swasta, 2.110 pegawai pemerintah, dan 1.750 masyarakat yang berada di wilayah pusat dan sebanyak 688.240 orang di seluruh daerah di Indonesia yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, swasta, instansi pemerintah, dan masyarakat. Selanjutnya, sebagai rencana ke depan BNN akan lebih mendorong upaya pencegahan sebagai salah satu kunci dalam membebaskan Indonesia dari kondisi darurat Narkoba.

Di samping upaya pencegahan, upaya pemberdayaan masyarakat juga akan dijadikan sebagai salah satu langkah alternatif yang akan menjadi fokus dalam penekanan laju peredaran gelap Narkotika di Indonesia. Tercatat pada tahun 2015 sebanyak 350 warga di wilayah rawan dan rentan penyalahgunaan Narkoba telah mendapatkan pelatihan peningkatan kemampuan sebagai upaya pemberdayaan masyarakat dalam peningkatan lifeskill.

Selain peningkatan kemampuan di daerah rawan penyalahgunaan Narkoba, BNN melalui BNN Provinsi juga telah membentuk satgas anti Narkoba di seluruh daerah di Indonesia dengan total 18.544 orang yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, swasta, instansi pemerintah, dan masyarakat. Melalui pemberdayaan masyarakat diharapkan akan menjadi sebuah strategi jitu dalam menciptakan kondisi masyarakat yang kondusif dan meningkatkan angka partisipatif masyarakat sehingga secara otomatis akan mempersempit ruang dari bahaya penyalahgunaan maupun peredaran gelap Narkotika.

Namun demikian, BNN menyadari sepenuhnya bahwa penghentian kejahatan Narkotika adalah sebuah upaya yang harus dilakukan secara holistik. Oleh karenanya, di samping melakukan berbagai upaya ke dalam, BNN juga melakukan berbagai upaya ke luar dengan menjalin kerja sama dengan berbagai instansi, organisasi, maupun negara-negara lain.

BNN juga aktif turut serta dalam pertemuan-pertemuan regional maupun internasional terkait dengan pemberantasan dan penyalahgunaan obat terlarang. Sebuah bentuk konkret dari partisipatif BNN dalam pemberantasan peredaran gelap Narkotika di wilayah regional yakni dipercaya sebagai tuan rumah dalam menyelenggarakan Bali Meeting on ASOD Work Plan : Securing ASEAN Community Against Illicit Drugs 2016 – 2025 yang dihadiri oleh seluruh perwakilan dari negara ASEAN.

Kegiatan tersebut membahas mengenai perumusan ASEAN work plan, dimana salah satu hasilnya yakni memperkuat kerja sama pada tataran bilateral dalam hal sharing informasi dan intilijen dalam pengungkapan sindikat Narkotika Internasional. Melalui berbagai upaya yang telah, sedang, dan akan dilakukan tersebut, BNN berharap dapat membebaskan Indonesia dari kondisi darurat Narkoba dengan menciptakan generasi sehat, generasi yang bebas dari Narkoba.

Mengatasi peredaran gelap dan penyalahgunaan Narkotika adalah tanggung jawab bersama, oleh karena itu harus menjadi musuh bersama. Aparat pemerintah harus bersinergi, menyatukan kekuatan untuk menghadapi kejahatan ini. Apalagi melihat kondisi saat ini yang sebentar lagi akan diberlakukan Masyarakat Ekonomi ASEAN, karena Indonesia merupakan bagian dari ASEAN Community sehingga semua aparat negara dan semua elemen masyarakat harus mewaspadai ini. Jangan sampai kemudahan dalam ASEAN Community ini dimanfaatkan oleh mafia Narkotika Internasional dan Nasional untuk menyelundupkan Narkotika ke Indonesia.

BNN memberikan apresiasi dan terima kasih kepada aparat terkait yang selama ini telah bekerjasama secara efektif sehingga berhasil mengungkap jaringan peredaran gelap dan penyalahgunaan Narkotika, termasuk dalam hal melakukan pencegahan dan rehabilitasi. Selain itu, disampaikan juga terima kasih kepada masyarakat yang telah berpartisipasi secara aktif dalam tugas-tugas BNN.

Semoga Tuhan senantiasa memberikan pentunjuk-Nya kepada kita semua, dan semoga cita-cita mewujudkan generasi emas segera terwujud. (Humas BNN)

Jakarta, 23 Desember 2015 Badan Narkotika Nasional (BNN) terus optimalisasikan kinerja di seluruh lini dalam Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN). Langkah-langkah perbaikan, loyalitas, serta dedikasi dilakukan oleh seluruh anggota BNN dalam rangka pencapaian sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. Hal tersebut berjalan linier dengan adanya penurunan prevalensi pecandu dan penyalah guna Narkotika yang menurut hasil penelitian pada tahun 2008 oleh BNN bersama pusat penelitian dan kesehatan (Puslitkes) Universitas Indonesia,diproyeksikan pada tahun 2015 mencapai angka 2,8%, namun pada penelitian terbaru pada tahun 2015 tercatat angka prevalensi hanya sekitar 2,2% yang berarti terdapat adanya penurunan sebanyak 0,6%. 
Sepanjang tahun 2015 BNN telah mengungkap sebanyak 102 kasus Narkotika dan TPPU yang merupakan sindikat jaringan nasional dan internasional, dimana sebanyak 82 kasus telah P21. Kasus-kasus yang telah diungkap tersebut melibatkan 202 tersangka yang terdiri dari 174 WNI dan 28 WNA. Berdasarkan seluruh kasus Narkotika yang telah diungkap, BNN telah menyita barang bukti sejumlah 1.780.272,364 gram sabu kristal; 1.200 mililiter sabu cair; 1.100.141,57 gram ganja; 26 biji ganja; 95,86 canna chocolate; 303,2 gram happy cookies; 14,94 gram hashish; 606.132 butir ekstasi; serta cairan prekursor sebanyak 32.253 mililiter dan 14,8 gram. Sedangkan dalam kasus TPPU total asset yang berhasil disita oleh BNN senilai Rp 85.109.308.337. 
Selain itu, pada tahun ini BNN juga menemukan 2 jenis zat baru (new psychoactive substances) yaitu CB-13 dan 4-klorometkatinon. Sehingga total NPS yang telah ditemukan BNN hingga akhir tahun 2015 yakni sebanyak 37 jenis, yang dapat dilihat selengkapnya di www.bnn.go.id. 
BNN melakukan penindakan tanpa pandang bulu, baik pria, wanita, warga negara Indonesia, warga negara asing, karyawan, mahasiswa, oknum aparat yang terbukti terkait dalam kasus Narkotika. Hal ini dibuktikan dengan adanya tindakan yang tegas terhadap oknum yang terbukti terlibat kasus peredaran gelap Narkotika, yang saat ini sedang menjalani proses hukum dan kode etik. BNN juga tidak segan-segan menggunakan senjata untuk penegakan hukum dalam memerangi para kurir dan bandar. Kesungguhan BNN dalam menghentikan penyelundupan serta peredaran gelap Narkotika diharapkan dapat ditindaklanjuti dengan memberikan sanksi hukuman yang seberat-beratnya terhadap para tersangka, termasuk dalam penetapan hukuman mati. 
Berdasarkan data Direktorat Tindak Pidana Umum Lainnya, Kejaksaan Agung RI, sampai dengan pertengahan Desember 2015, terdapat 55 orang terpidana kasus Narkotika yang mendapatkan vonis hukuman mati, dimana 14 orang terpidana mati kasus Narkotika diantaranya sedang menunggu eksekusi hukuman mati. 
Seiring dengan gencarnya pemberantasan, BNN juga terus berupaya melakukan pencegahan dan pemulihkan bagi para pecandu dan penyalah guna dari ketergantungannya terhadap Narkotika. BNN menyediakan balai besar (Babes) rehabilitasi sebagai media dalam proses penyembuhan dan pemulihan pecandu dan penyalah guna Narkotika. 
Berdasarkan data pada tahun 2015, BNN bersama bersama lembaga rehabilitasi instansi pemerintah dan komponen masyarakat telah melaksanakan program rehabilitasi kepada 38.427 pecandu, penyalah guna, dan korban penyalahgunaan Narkotika yang berada di seluruh Indonesia dimana sejumlah 1.593 direhabilitasi melalui Balai Besar Rehabilitasi yang dikelola oleh BNN, baik yang berada di Lido – Bogor, Baddoka – Makassar, Tanah Merah – Samarinda, dan Batam – Kepulauan Riau. Angka tersebut mengalami peningkatan, dimana pada tahun sebelumnya hanya sekitar 1.123 orang pecandu dan penyalah guna yang direhabilitasi. 
Berangkat dari data yang menunjukan adanya peningkatan pecandu dan penyalah guna yang direhabilitasi berbanding dengan penurunan prosentase prevalensi angka penyalah guna, maka langkah yang akan diambil BNN ke depan adalah upaya menghentikan penyalahgunaan Narkotika dengan membendung imun masyarakat terhadap penyalahgunaan Narkotika dan mempersempit ruang peredarannya. 
Oleh sebab itu, ke depan BNN berencana untuk memberikan penguatan pada bidang pencegahan dan pemberdayaan masyarakat, sebagai upaya preventif dalam pengentasan penyalahgunaan Narkotika yang diharapkan dapat lebih efektif dalam menekan laju peredaran gelap Narkotika. Penguatan dalam bidang pencegahan ini juga merupakan salah satu usaha membentuk masyarakat yang memiliki ketahanan dan kekebalan (imun) terhadap bahaya penyalahgunaan Narkotika, salah satu contohnya yakni dengan memasukan pendidikan bahaya Narkoba ke dalam kurikulum di sekolah. 
Dalam bidang pencegahan, di tahun ini BNN telah melakukan sosialisasi bahaya penyalahgunaan Narkoba kepada 490 pelajar, 7.400 mahasiswa, 1.750 pekerja swasta, 2.110 pegawai pemerintah, dan 1.750 masyarakat yang berada di wilayah pusat dan sebanyak 688.240 orang di seluruh daerah di Indonesia yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, swasta, instansi pemerintah, dan masyarakat. Selanjutnya, sebagai rencana ke depan BNN akan lebih mendorong upaya pencegahan sebagai salah satu kunci dalam membebaskan Indonesia dari kondisi darurat Narkoba. 
Di samping upaya pencegahan, upaya pemberdayaan masyarakat juga akan dijadikan sebagai salah satu langkah alternatif yang akan menjadi fokus dalam penekanan laju peredaran gelap Narkotika di Indonesia. Tercatat pada tahun 2015 sebanyak 350 warga di wilayah rawan dan rentan penyalahgunaan Narkoba telah mendapatkan pelatihan peningkatan kemampuan sebagai upaya pemberdayaan masyarakat dalam peningkatan lifeskill. 
Selain peningkatan kemampuan di daerah rawan penyalahgunaan Narkoba, BNN melalui BNN Provinsi juga telah membentuk satgas anti Narkoba di seluruh daerah di Indonesia dengan total 18.544 orang yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, swasta, instansi pemerintah, dan masyarakat. Melalui pemberdayaan masyarakat diharapkan akan menjadi sebuah strategi jitu dalam menciptakan kondisi masyarakat yang kondusif dan meningkatkan angka partisipatif masyarakat sehingga secara otomatis akan mempersempit ruang dari bahaya penyalahgunaan maupun peredaran gelap Narkotika. 
Namun demikian, BNN menyadari sepenuhnya bahwa penghentian kejahatan Narkotika adalah sebuah upaya yang harus dilakukan secara holistik. Oleh karenanya, di samping melakukan berbagai upaya ke dalam, BNN juga melakukan berbagai upaya ke luar dengan menjalin kerja sama dengan berbagai instansi, organisasi, maupun negara-negara lain. 
BNN juga aktif turut serta dalam pertemuan-pertemuan regional maupun internasional terkait dengan pemberantasan dan penyalahgunaan obat terlarang. Sebuah bentuk konkret dari partisipatif BNN dalam pemberantasan peredaran gelap Narkotika di wilayah regional yakni dipercaya sebagai tuan rumah dalam menyelenggarakan Bali Meeting on ASOD Work Plan : Securing ASEAN Community Against Illicit Drugs 2016 – 2025 yang dihadiri oleh seluruh perwakilan dari negara ASEAN. 
Kegiatan tersebut membahas mengenai perumusan ASEAN work plan, dimana salah satu hasilnya yakni memperkuat kerja sama pada tataran bilateral dalam hal sharing informasi dan intilijen dalam pengungkapan sindikat Narkotika Internasional. Melalui berbagai upaya yang telah, sedang, dan akan dilakukan tersebut, BNN berharap dapat membebaskan Indonesia dari kondisi darurat Narkoba dengan menciptakan generasi sehat, generasi yang bebas dari Narkoba. 
Mengatasi peredaran gelap dan penyalahgunaan Narkotika adalah tanggung jawab bersama, oleh karena itu harus menjadi musuh bersama. Aparat pemerintah harus bersinergi, menyatukan kekuatan untuk menghadapi kejahatan ini. Apalagi melihat kondisi saat ini yang sebentar lagi akan diberlakukan Masyarakat Ekonomi ASEAN, karena Indonesia merupakan bagian dari ASEAN Community sehingga semua aparat negara dan semua elemen masyarakat harus mewaspadai ini. Jangan sampai kemudahan dalam ASEAN Community ini dimanfaatkan oleh mafia Narkotika Internasional dan Nasional untuk menyelundupkan Narkotika ke Indonesia. 
BNN memberikan apresiasi dan terima kasih kepada aparat terkait yang selama ini telah bekerjasama secara efektif sehingga berhasil mengungkap jaringan peredaran gelap dan penyalahgunaan Narkotika, termasuk dalam hal melakukan pencegahan dan rehabilitasi. Selain itu, disampaikan juga terima kasih kepada masyarakat yang telah berpartisipasi secara aktif dalam tugas-tugas BNN. 
Semoga Tuhan senantiasa memberikan pentunjuk-Nya kepada kita semua, dan semoga cita-cita mewujudkan generasi emas segera terwujud. (Humas BNN)
 

Selasa, 19 November 2013, JAKARTA – Para orangtua diminta untuk mewaspadai dan memperhatikan anak-anaknya dalam mengkonsumsi permen karet. Karena belum lama ini terbongkar pabrik narkoba Red Ice yang mirip permen karet di Apartemen kawasan Sunter, Jakarta Utara dan Tamansari.

Beragam modus dilancarkan mafia narkoba internasional. Salah satunya dengan menyulap kamar apartemen menjadi pabrik untuk memproduksi narkoba berbentuk permen karet,”Ini sungguh-sungguh memprihatinkan dan mengerikan, para mafia narkoba berusaha mengelabuhi penegak hukum dengan menyamarkan narkoba sebagai permen karet. Padahal permen karet banyak dikonsumsi anak-anak, ini harus diwaspadai,” Kata Purwanti, guru SMPN 3 Bekasi, ketika dimintai komentarnya berkaitan dengan terbongkarnya pabrik narkoba berbentuk permen karet, Selasa (19/11).

Selanjutnya Purwanti mengharapkan kepada para orangtua agar menjaga anak-anaknya agar tidak tergiur bujuk rayu bandar narkoba yang menawarkan permen karet kepada anak-anak,”Kami menghimbau kepada para orangtua agar menjaga putra-putrinya dan tidak sembarangan membeli jajanan yang berbentuk permen karet,” himbau Purwanti.

Seperti diberitakan, belum lama ini, Polda Metro Jaya berhasil membongkar peredaran narkoba jenis yang terbaru berbentuk permen karet yang dibuat di apartemen. Sebanyak 16 tersangka ditangkap, termasuk seorang narapidana.

Wakapolda Metro Jaya Brigjen Pol. Sudjarno menjelaskan, dua jenis narkoba baru diproduksi di apartemen di kawasan Sunter, Jakarta Utara dan Tamansari, Jakbar. Narkoba itu berlabel ‘Yaba’ dan ‘Red Ice’, bentuk dan kandungannya tidak seperti narkoba umumnya,“Bahan baku dikirim dari China yang masuk melalui pelabuhan tikus. Di sini mereka tinggal mencetak,” katanya, Senin (18/11).

Dari apartemen itu, polisi meringkus 16 pelaku, empat di antaranya warga negara asing (WNA). “Tiga orang warga Malaysia dan seorang warga China,” kata wakapolda yang didampingi Dirnarkoba Kombes Pol. Nugroho Aji.

Selanjutnya Sudjarno menjelaskan, kasus itu berawal dari informasi warga melalui SMS 1717. Dipimpin Kasubdit II AKBP Parulian Sinaga, petugas mendatangi kamar apartemen di Sunter, Jumat (1/11) dan mengamankan HD. Polisi menemukan 708 butir Yaba serta 3,5 kilogram bahan baku. Hasil pengembangan, petugas kembali meringkus 6 pelaku di daerah Jl Hayam Wuruk, Slipi dan Kemayoran. Mereka itu FH, TT, ACH, LB, RN dan JW berikut barang bukti 1.000 butir Yaba seta 1 ons shabu yang siap dipasok ke diskotik.

“Mereka mengaku barang itu dikirim melalui napi di Cipinang bernana BR. Dan BR sendiri mengaku bahan baku sabu dan Yaba dikirim oleh BL dari Guang Zho, China. BL kini masih buron. Dari BR itu, petugas kembali meringkus pelaku lain di Tamansari, VCK, LYH, MKC, SGF, ISL, KSM, MM, dan AND,” jelas Sudjarno.

Sementara itu, Dir Narkoba Polda Metro Jaya, Kombes Nugroho Aji mengungkapkan, Yaba biasa dikonsumsi oleh para pekerja di Thailand, Myanmar dan Birma. “Yaba mengandung zat Methamphetamin, yakni zat yang terkandung dalam ekstasi. Bentuknya suplemen seperti pil, di negara-negara tersebut Yaba dikonsumsi untuk menambah semangat,” ungkapnya.

Untuk narkoba jenis Red Ice, tambah Nugroho Aji, bentuknya mirip permen karet dan memiliki kandungan yang ada pada shabu. Dijual pergram sebesar Rp400 ribu.

Sindikat ini sudah dua bulan memproduksi Yaba dan Red Ice. Dalam sehari bisa mencetak 1.000 butir. Dari pengungkapan itu polisi menyita 2.008 butir Yaba, 4,5 kilogram bahan baku, 1,1 kilo sabu, 1.500 butir ekstasi dengan nilainya mencapai Rp12 miliar. (pas)

Senin, 18 November 2013, JAKARTA - Maraknya peredaran narkoba kini telah menjadi ancaman nasional yang menginfeksi berbagai lapisan masyarakat. Dari tahun ke tahun, penyalahgunaan narkoba terus meningkat dan tidak pernah kunjung tuntas. Peningkatan jumlah penyalahguna atau pecandu berbanding lurus dengan maraknya jaringan sindikat narkoba.

“Peredaran Narkoba saat ini sudah begitu luas. Tidak hanya di tempat hiburan, bahkan narkoba kini telah merambah di perkantoran. Menurut survey yang dilakukan ILO (International Labour Organization), sekitar 70 persen alkoholik dan 60 persen penyalahguna narkotika berada di tempat kerja. Mayoritas penyalahguna berumur antara 10-59 tahun dan 70 persennya adalah para pekerja dari berbagai profesi,” jelas Direktur Advoaksi Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN), dalam Pelatihan Kader Anti Narkoba, di lingkungan Perbankan, di Bank Mega, kemarin.

Selanjutnya Victor mengatakan, salah satu penyebab meningkatnya penyalahgunaan narkoba adalah, kurangnya informasi tentang bahaya narkoba baik dikalangan para guru, maupun perannya sendiri sebagai orang tua yang harus memiliki kemampuan parenting skill dalam menginformasikan tentang bahaya narkoba, “Sesuai dengan hal tersebut, dan merujuk pada Undang-Undang No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, Direktorat Advokasi Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN) mengadakan Advokasi Pelatihan Kader Anti Narkoba di lingkungan perbankan sebagai tempat yang memiliki potensi besar dalam penyebaran dan penyalahgunaan narkoba,” kata Victor.

Sesuai Inpres Nomor 12 tahun 2011 tentang pelaksanaan Kebijakan dan Strategi Nasional P4GN bidang Pencegahan, focus bidang Pencegahan adalah menjadikan para pekerja dalam hal ini para banker untuk memiliki pola pikir, sikap dan terampil menolak penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba serta mensosialisasikan bahaya narkotika baik pada rekan di tempat kerja maupun keluarga masing-masing.

Melalui Pelatihan Kader Anti Narkoba, diharapkan makin banyak masyarakat khususnya para Pegawai Bank Mega dapat meningkatkan pengetahuan untuk diimplementasikan dalam mengembangkan kepribadian sebagai seorang kader/relawan anti narkoba, baik bagi keluarga, tempat tinggal, khususnya sekolah sebagai tempat strategis bagi para pengedar narkoba. Adapun yang menjadi tujuan jangka panjang dari pelatihan kaderisasi ini untuk meningkatkan daya tangkal akan ancaman bahaya penyalahgunaan narkoba bagi keluarga dan masyarakat menuju Healthy Community Without Drugs. (pas)

Senin, 18 November 2013, JAKARTA - Kejaksaan Agung mengeksekusi mati seorang gembong narkoba yang berasal dari Pakistan, Muhammad Abdul Hafeez (44), Minggu (17/11/2013). Hafeez dieksekusi oleh tim jaksa dari Kejaksaan Tinggi Banten dibantu oleh anggota Satuan Brimob Polda Metro Jaya,"Hafeez dieksekusi oleh tim jaksa eksekutor Kejati Banten dibantu Brimob Polda Metro Jaya serta rohaniawan dan dokter di sekitar Tempat Pemakaman Umum Desa Suradita, Tangerang Selatan," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Setia Untung Arimuladi, melalui pesan singkatnya, yang disebarkan ke sejumlah wartawan, Senin (18/11).

Hafeez ditangkap pada 26 Juni 2001 lalu, setelah terbang dari Psawar, Pakistan, menuju Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta. Ketika ditangkap, Hafeez kedapatan membawa 1.050 gram heroin yang disimpan dalam bungkusan makanan ringan.

Atas perbuatannya, lanjut Untung, Hafeez dianggap telah melanggar Pasal 82 Ayat (1) huruf a Undang-Undang RI No  22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Kejaksaan telah memberikan kesempatan kepada Hafeez untuk mengajukan upaya hukum mulai dari banding hingga grasi. Namun, permohonan grasi yang dimohonkan Hafeez ditolak berdasarkan surat keputusan Nomor 15/G Tahun 2004 tertanggal 9 Juli 2004.

Begitu pula, sambung Untung, pengajuan Peninjauan Kembali pertama yang diajukan terpidana kepada Mahkamah Agung juga ditolak berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor 68.PK/PID/2005 tanggal 28 Juli 2005. Kurang puas, terpidana kemudian mengajukan Peninjauan Kembali kedua ke Mahkamah Agung.

"Mahkamah Agung menolak permohonan PK terpidana berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor 96.PK/Pidsus/2008 tertanggal 18 Februari 2009," ucap Untung.

Untung mengatakan, proses eksekusi terhadap Hafeez dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Terpidana telah mendapatkan haknya untuk mengajukan upaya hukum kembali atas kasusnya.

Untung menuturkan, eksekusi mati Hafeez merupakan eksekusi kelima yang dilakukan Kejagung sepanjang 2013. Kendati demikian, masih ada sejumlah terpidana mati yang belum dieksekusi lantaran masih mengajukan upaya hukum kembali. (pas)

Page 5 of 13
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…