Super User

Super User

Page 4 of 13

Istilah narkoba sudah menjadi bahasa umum di telinga masyarakat Indonesia.Secara Terminologi makna narkoba adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa sakit hingga menimbulkan efek ketergantungan.  

Di Indonesia sendiri, barang haram jenis narkoba sudah dianggap sebagai musuh besar peradaban manusia. Pasalnya tak sedikit kasus-kasus besar seperti penyelundupan terbongkar, bukan hanya warga biasa melainkan artis papan atas juga terlibat menggunakan, atau lebih jauh lagi terungkapnya tempat-tempat produksi narkoba secara masal. Namun satu hal yang kadang tak luput disadari adalah proses terstruktur dan pasti penjajahan budaya suatu bangsa melalui narkoba. Proses penjajahan ini bukan hanya terjadi saat ini, tapi sudah berjalan lama bahkan sejak bangsa bermata biru Eropa memasuki nusantara.

Sejarah masuknya narkoba di nusantara telah berlangsung lama sebelum masa modern Indonesia. Menurut buku Opium to Java yang ditulis James Rush, penggunaan opium atau candu telah dikenal sejak abad ke-17. Penyebaran ini dibawa oleh pedagang-pedagang Arab dari daerah Bulan Sabit Emas di sekitar Afganistan dan Pakistan. Meski yang menggunakan secara aktif adalah warga keturunan Tionghoa, namun proses penyebarannya meluas hingga menembus pulau jawa.

Di pulau Jawa terutama kalangan bangsawan, penggunaan madat atau narkoba ini sudah menjadi seperti Life Style dan cukup popular pada masa itu. Setiap seorang bangsawan Jawa berkunjung ke kediaman bangsawan lainnya, kudapan tambahan seperti madat kerap ditemukan. Bahkan ketika bangsa Belanda mulai menginvasi nusantara, mereka melihat gaya hidup menggunakan madat ini sebagai salah satu peluang pemulus niat mereka menanamkan kekuasaan. Impor madat atau narkoba mulai dilakukan secara besar besaran, distribusinya tidak dilarang sama sekali. Malah ditemui pos-pos penjualan madat di pasar, pos penjagaan Belanda, dan tempat keramaian lainnya. Usaha Belanda ini bukan sia-sia. Disinyalir pada saat perang diponegoro, sebagian bangsawan dan prajurit jatuh sakit karena kurang pasokan madat atau Narkoba. Oleh karena itu, penggunaan madat ini pula menjadi salah satu factor langgengnya kekuasaan Belanda di nusantara selama tiga setengah abad.

Di era modern, madat atau yang biasa dikenal dengan narkoba tidak lagi hanya menjamah para dewasa yang ada di kalangan atas. Tujuan dari diproduksinya barang haram ini pula tidak hanya menyebabkan bangsa menjadi lemah secara fisik, namun lebih ke penghancuran mental dan psikis generasi muda. Salah satu efek dari penggunaan narkoba yaitu halusinogen, membuat generasi muda pemakainya senang berkhayal tentang hal-hal yang tidak nyata. Mereka terbuai dengan imaginasi yang lama kelamaan akan menghancurkan semangat hidup dan kekuatan mental dan psikis seseorang. Lebih jauh lagi, dampak kecanduan atau addicted dari narkoba menjadikan seorang pencandu akan melakukan apa saja ketika membutuhkannya. Seorang rela mencuri uang orang tua, menjual barang-barang pribadi, bahkan menipu untuk mendapatkan uang.

Hal ini sudah barang tentu sangat merugikan bagi kelangsungan eksistensi suatu negeri. Di kala generasi muda sudah dapat dihancurkan, maka bangsa itu bisa kehilangan generasi penerus dan dengan mudah dikuasai oleh bangsa lain. Namun jika diperinci lagi,terlihat bahwa aspek-aspek dasar suatu negara seperti ekonomi, sosial, iptek, dan kenegaraan akan terdegradasi oleh pengaruh narkoba.

Ketua MPR RI Zulkifli Hasan mengakui bahwa Narkoba merupakan faktor terdepan yang merusak moral dan budaya bangsa Indonesia. Kasus-kasus peredaran barang haram narkoba di tanah air sepertinya sudah sangat membahayakan kelangsungan hidup generasi muda bangsa. Untuk meminimalisir hal itu semua pihak harus bergerak dan bersatu terutama para orang tua untuk mendidik dan memberikan pondasi agama lebih kuat, sehingga nilai-nilai budaya bangsa tetap bertahan.

Satu setengah abad yang lalu, tepatnya pada tahun 1834-1842, sejarah telah mencatat begitu berbahayanya narkoba. Salah satu peristiwa sejarah yang menarik perhatian diantaranya ialah perang Candu yang berlangsung di Cina.

Inggris memang cerdas dalam menerapkan taktik untuk mendapatkan hasil alam Cina. Tanpa mengeluarkan banyak uang, Inggris cukup menawarkan sutra dan teh yang Cina miliki dengan ganja. Cina tentu tidak mau menukar ganja dengan sutra dan teh yang dimilikinya. Pada saat itu, Cina hanya ingin sutra dan tehnya ditukar dengan uang, alias dibeli bukan dibarter. Akhirnya didapatlah strategi untuk mengenalkan candu kepada rakyat Cina oleh Inggris.

Semakin hari, semakin banyak rakyat Cina yang terjerat candu karena ketagihan. Banyaknya rakyat Cina yang ketagihan inilah yang pada akhirnya membuat Cina bukan hanya rela, melainkan dengan senang hati sutra dan tehnya dibeli dengan ganja! Proses transaksi ini pun berlangsung dengan cukup lama dan makin hari makin banyak saja pasokan candu ke Cina.

Rakyat Cina dibuat semakin ketagihan, dan akhirnya disadari juga oleh sang raja bahwa efek candu telah merusak rakyatnya. Tak ada pilihan lain, China akhirnya menutup hampir semua pelabuhannya bagi kapal-kapal dagang Eropa. Tujuannya tiada lain untuk menghentikan pasokan candu yang masuk ke wilayah Cina.

Inggris tidak langsung kehabisan akal,mengingat tingginya tingkat ketagihan rakyat China terhadap candu, Inggris berani menyatakan perang. Satu persatu wilayah Cina jatuh ke pangkuan Inggris. Tak lama setelah ini, Cina menyatakan diri menyerah kalah. Kecanduan rakyat Cina termasuk anggota militernya membuat mereka mudah ditaklukan Inggris. Bisa dibilang, mereka sudah kalah sebelum berperang akibat efek candu yang masih menjerat mereka.

Akibat kekalahan ini, Cina harus mengikuti berbagai ketentuan yang semakin merugikan bangsanya! Itulah episode kelam bangsa Cina. Uraian Peristiwa tersebut hanyalah satu dari beragam cerita yang menyuratkan bahayanya mengonsumsi obat terlarang. Kita jelas tidak ingin seperti yang dialami oleh Cina kala itu. Kita tak ingin bangsa ini hancur dari dalam karena jerat narkotika dan obat-obat terlarang (narkoba). Kini obat bernama Narkoba sudah menjadi musuh dunia, anehnya barang haram itu tetap saja ada dan terus berusaha diproduksi secara masal.

Dari sumber catatan Kompasiana menyebutkan Narkoba merupakan obat dari golongan analgesik atau penghilang rasa sakit jenis opium (morfin, heroin), ganja, amfetamin (shabu-shabu, ekstasi atau DMDA), kokain, dan obat-obat penenang seperti senyawa turunan barbital. Paling sedikit, kelima jenis inilah yang sering disalahgunakan karena sifatnya yang tidak hanya addiktif, tetapi juga sangat merusak tubuh.

Sebelum mengetahui bahaya narkoba, maka sangat penting bagi kita untuk mengetahui terlebih dahulu tahapan-tahapan dalam penyalahgunaan narkoba. Sedikitnya Ada empat tahap dalam penyalahgunaan narkotik dan obat-obat terlarang.

Pertama ialah sekedar tahap coba-coba alias ingin tahu, pada tahap ini banyak dari mereka yang bisa berhenti. Kedua adalah pemakai regular alias memakainya kadang-kadang namun tak sering,  pada tahap ini belum ada perubahan mendasar yang dialami pemakai, mereka umumnya tetap melakukan rutinitas sebagaimana mestinya seperti sekolah, kuliah serta ngantor, sementara pada tahap ketiga adalah ketagihan, disini Pemakai sudah mulai merasa berkeinginan untuk memakainya berulang-ulang karena
merasa  nyaman.

Namun, pada tahap ini pengguna masih memiliki kesempatan untuk berhenti. Dan terakhir adalah tahap ketergantungan, Pada tahapan ini yang sangat berbahaya. Pasalnya hal ini meliputi ketergantungan dibagian psikis dan fisik.Jika telah mencapai ketergantungan fisik, ini lebih berbahaya lagi, karena pada tahap ini pengguna sangat sulit untuk bisa berhenti dari obat. Dan Jika dilepas begitu saja, akibat yang muncul adalah rasa sakau yang amat sakit. Namun apabila diteruskan, fungsi fisiologis tubuh juga semakin rusak dan peluang mendekati ajal semakin dekat. Jalan utamanya ialah tiada lain dengan memberikan obat tersebut terus menerus dengan penurunan dosis berkala untuk menghilangkan rasa sakaunya. Sayangnya, di Indonesia sendiri pengguna narkoba sudah sangat banyak. Para pelajar SMA bahkan SMP rawan akan hal ini.

Si pengedar sudah sangat berani menjual barang yang disalahgunakan di sekitar sekolah serta komplek kampus. Namun tetap saja polisi masih kesulitan meringkusnya karena teknik yang dilakukan antara pengedar dan pengguna tergolong professional! Inilah yang menyebabkan jumlah pemakai narkoba di Indonesia terus terjadi peningkatan,  fenomena ini ibarat gunung es dimana Jumlah pengguna, pengedar, dan bandar yang tampak di permukaan hanya sebagian kecil dibandingkan yang tidak
tampak di permukaan.

"Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia." (Ir. Soekarno)

Jika menilik sejarah, bangsa Indonesia dapat bangkit dari segala bentuk penjajahan tak lain karena jasa para pemuda. Sejarah mencatat, pada 20 Mei 1908 berdiri organisasi pergerakan pemuda bernama Budi Utomo yang dimotori Dr. Soetomo. Hal tersebut menjadi tonggak lahirnya pergerakan pemuda dan menginspirasi pemuda-pemuda lain untuk bersatu menentang segala bentuk penjajahan di Indonesia. Sampai saat ini, setiap 20 Mei selalu diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Namun kini peringatan tersebut hanya bersifat seremonial. Tak ada lagi yang namanya pergerakan pemuda seperti 107 tahun silam. Pemuda saat ini telah bertransformasi menjadi pemuda yang tak punya jati diri. Banyak dari mereka terjerumus ke lubang hitam. Mereka semakin dimanjakan dengan perkembangan era globalisasi yang membuatnya buta. Buta akan kebenaran.

Kata pemuda secara bahasa dalam KBBI didefinisikan sebagai seseorang yang akan menjadi pemimpin bangsa. Namun, sekarang definisi tersebut telah bergeser. Pemuda kian identik dengan hal-hal buruk, salah satunya yakni narkoba. Memang tak bisa dimungkiri, maraknya penyimpangan perilaku generasi muda tersebut dapat membahayakan keberlangsungan hidup bangsa Indonesia di kemudian hari. Karena pemuda sebagai generasi yang diharapkan menjadi penerus bangsa malah semakin hari semakin rapuh digerogoti zat-zat adiktif penghancur syaraf. Akibatnya, generasi harapan bangsa yang tangguh dan cerdas hanya akan tinggal kenangan.

Banyaknya pemuda pecandu narkoba tersebut didasari oleh gaya hidup instan yang menjadi impian mereka tanpa memikirkan dampak buruknya ke depan. Belum lagi perkembangan teknologi dan informasi yang begitu pesat membuat mental pemuda dimanjakan oleh berbagai fasilitas. Terkadang karena tidak adanya filter iman dan takwa, pemuda mudah terlena oleh fasilitas tersebut.

Pergerakan bandar narkoba di negeri ini memang sangatlah cantik. Ironisnya, hal tersebut didukung oleh para aparat negara. Pemasaran narkoba dilindungi secara “laten” oleh pihak pengaman negeri ini. Bahkan di kota-kota besar pasarnya sudah dibuat sedemikian baik. Orang yang bertugas sebagai pelindung negara malah menjadi penghancur negara.

Berkaca dari hal tersebut, penegakan hukumlah yang menjadi kekuatan untuk memberantas peredaran narkoba. Namun, semua tetap kembali kepada kesadaran pribadi masing-masing khususnya pemuda untuk menjauhi bahaya narkoba yang dapat mengancam nyawa, menghabiskan waktu, menyita banyak materi dan menghapuskan harapan yang telah dibangun sejak dini.

Pemuda zaman sekarang seharusnya dapat mencontoh semangat dan perjuangan pemuda zaman dulu ketika mereka berjuang mati-matian mengusir para penjajah. Sudah saatnya pemuda zaman sekarang juga berjuang mati-matian memberantas peredaran narkoba sampai ke akar-akarnya.

Pemuda pada hakikatnya adalah agen perubahan yang sudah lama didambakan oleh rakyat Indonesia. Seseorang yang selalu dielu-elukan keberadaannya sebagai generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, dengan kombinasi semangat masa lalu dan tren masa kini mari mulai langkah kecil kita dengan selalu menjauhi narkoba serta selalu memberikan sosialisasi mengenai bahaya narkoba. Semoga ke depannya benar-benar tercipta generasi bangsa yang dapat menjawab tantangan zaman dengan tindakan yang nyata dengan melakukan gerakan melawan Narkoba semoga bias terwujud, Amin

Sobat sehati, mengonsumsi sarapan sangat penting bagi kamu untuk mendapatkan energi guna memulai aktivitas harian kamu. Nah, dari sekian banyak jenis makanan yang baik untuk dikonsumsi saat sarapan pagi, salah satunya adalah telur, yang merupakan sumber protein berkualitas tinggi.

Salah satu jenis olahan telur sederhana yang direkomendasikan untuk sarapan adalah telur rebus. Selain tinggi protein, telur juga mengandung berbagai vitamin dan asam amino yang baik untuk otak.

Namun, nggak cuma itu saja sobat sehati, masih ada 5 alasan perlunya mengonsumsi telur untuk sarapan, seperti dikutip dari laman Boldsky:

Sarapan berprotein tinggi

Bahkan, dua butir telur yang disajikan dengan dua iris roti panggang gandum mengandung setidaknya 20 gram protein. Ini berarti, konsumsi telur di pagi hari setidaknya dapat memenuhi 25% kebutuhan protein kamu untuk beraktivitas seharian.

Sumber yang kaya nutrisi

Lupakan sereal olahan, minuman sarapan dan yoghurt manis, karena nutrisi tinggi yang dibutuhkan pada saat sarapan ada pada telur. Selain mengandung lebih dari 20 vitamin dan mineral termasuk lemak esensial dan antioksidan, telur juga praktiks dikonsumsi hanya dalam beberapa menit dengan sayuran segar.

Kenyang lebih lama

Sebagian dari kita mungkin telah mengetahui kalau protein juga dapat membantu menjaga kita kenyang lebih lama. Fakta ini ternyata pernah dipublikasikan dalam European Journal of Clinical Nutrition yang menemukan bahwa individu yang mengonsumsi telur sebagai menu sarapannya, makan jauh lebih sedikit sepanjang hari.

Membantu menurunkan berat badan

Dalam penelitian yang diterbitkan International Journal of Obesity, disebutkan, pelaku diet yang menikmati telur melaporkan hasil penurunan berat badan yang lebih baik selama 8 minggu sebagai bagian dari diet kalori terkontrol.

Menurunkan risiko diabetes

Secara khusus, asam amino leusin yang ditemukan pada telur dapat membantu mengontrol kadar insulin dalam tubuh. Insulin adalah hormon yang mengatur metabolisme lemak dalam tubuh dan tingkat insulin yang terkontrol dengan baik dapat membantu pengendalian berat badan dan mengurangi risiko terkena diabetes tipe 2. **MS

Sobat sehati, upaya pemberantasan peredaran dan penyalahgunaan narkoba kian marak dilakukan berbagai pihak. Salah satunya adalah Rektor Universitas Hasanuddin, Prof Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu, yang mempersilakan petugas merazia kampus, untuk memastikan ada tidaknya narkoba.

Hal ini ditegaskan Dwia di sela-sela kegiatan penandatanganan MoU Penanggulangan Penyalahgunaan Bahaya Narkoba bersama Kepala BNN Komjen (Pol) Budi Waseso, di kantor PT Pelindo IV di Makassar beberapa waktu lalu.

“Salah satu bentuk kerja sama yang bisa kita lakukan bersama BNN setelah penandatanganan MoU ini adalah dengan mempersilakan petugas masuk ke kampus untuk gelar razia, sweeping yang bukan hanya terhadap mahasiswa tapi juga civitas akademik lainnya,” terang Dwia, seperti dilansir dari Merdeka.com.

Selanjutnya, ujar Rektor Unhas ini, penjagaan dan pengawasan ketat ini akan dimulai dengan tes urine terhadap mahasiswa baru yang sudah diberlakukan. Kemudian secara terstruktur akan dites lagi saat mahasiswa naik tingkat semester dan saat hendak dilantik jadi sarjana akan dilakukan tes urine, darah maupun rambut.

“Kita akan buat sistemnya sehingga akan terbentuk efek-efek pengawasan dan penjagaan yang ketat,” tandasnya mengulang.

Ditambahkan, perguruan tinggi selama ini steril dari pengawasan petugas, karenanya perguruan tinggi jadi sasaran paling empuk untuk pengedaran narkoba padahal civitas akademika khususnya mahasiswa adalah kader bangsa yang harus dijaga, jangan sampai lengah.

“Kita ingin kampus ini clean dan clear. Sanksinya berat jika terbukti terlibat. Mahasiswa bisa diberi skorsing hingga pemecatan. Jika PNS yang terlibat maka kita akan usulkan ke kementerian untuk diberikan sanksi. Ada regulasinya,” pungkas Dwia. **MS

Sobat sehati, Indonesia sepertinya memang telah menjadi pasar strategis penyebaran narkotika jaringan internasional. Berbagai macam cara juga dilakukan para bandar narkoba, untuk memasukkan barang haram tersebut ke Tanah Air.

Baru-baru ini, anggota DPR Komisi III, Aboe Bakar Alhabsyi menuturkan, yang lebih mengkhawatirkan lagi, sekitar 30,9 persen mahasiswa di Indonesia telah menjadi korban narkoba.

“Ini mengkhawatirkan. Sekitar 4.333 dari 7 juta mahasiswa perguruan tinggi, 30,9 persen mahasiswanya pengguna narkotika,” kata Aboe Bakar di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (6/8), seperti dilansir dari Merdeka.com.

Aboe Bakar menambahkan, 15.000 masyarakat Indonesia meninggal karena narkoba. “Belum lagi kerugian ekonomi Rp 50 Triliun per tahun dari narkoba ini,” ucapnya.

DPR mendesak agar BNN dan Polri semakin gencar memberantas narkoba. Bukan hanya bandarnya saja, melainkan jika memang ada aparat hukum yang membekingi. “BNN harus merajalela dengan tangkapi terus, jangan sampai kendor,” tegasnya.

“Harus ditelusuri. Penting itu, jangan sampai lewat. Pemberantasan narkoba itu penting sebab efeknya (narkoba) lebih parah daripada teroris. Intinya telusuri dengan baik, tak perlu emosional dan berlebihan, lakukan penyelidikan dengan baik,” pungkas Aboe Bakar. **MS

Page 4 of 13
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…