Super User

Super User

Page 3 of 13

Penyalahgunaan narkoba mengandung zat psikoaktif yang mampu memengaruhi secara negatif sistem kendali tubuh. Daya ingat yang terus menurun merupakan dampak paling ringan yang diderita oleh pemakai narkoba. Bahkan, seseorang bisa saja lupa dengan hal-hal sederhana yang biasanya mudah diingat.

Kondisi yang demikian berdampak pula pada kondisi kejiwaan si pemakai. Ada perasaan sebagai seseorang yang gagal, dan itu terus menghantui. Pikiran yang rusak oleh narkoba pun akan berdampak pada kehidupan sehari-hari dan tidak ada manfaatnya. Survei yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) menyimpulkan, satu dari empat anak muda akan tinggal kelas bila menjadi pemakai narkoba. Selain itu, pengguna narkoba sulit untuk mencetak prestasi karena mereka memilih untuk berada di kondisi high. Sementara, ketika mereka mencoba untuk meraih kesuksesan, kegagalan demi kegagalan pun datang silih berganti.

Kegagalan itu pun semakin menguatkan alasan agar mereka terus terlena dengan narkoba. Bagi mereka, narkoba adalah jalan keluar dari tiap masalah dan rasa nikmat palsu sesaat, termasuk pencapaian dalam diri. Dengan kata lain, pemakaian narkoba malah semakin menjerumuskan ke dalam lubang kesengsaraan.

Imbas negatif lainnya yang dihasilkan narkoba adalah hancurnya masa depan. Sulit dibayangkan seseorang akan mendapat pekerjaan atau mampu bekerja dengan baik, bila ia memiliki masalah kejiwaan dan tidak punya percaya diri sama sekali. Penyalahgunaan narkoba tidak hanya menjauhkan hubungan kita dari Tuhan Yang Maha Esa, melainkan juga dengan hubungan sosial lainnya seperti keluarga.

Bagi Anda yang sudah terlanjur jatuh dalam jerat narkoba dan punya keinginan untuk berhenti, jangan ragu. Segera hubungi keluarga atau kerabat dekat yang bisa Anda percaya. Biarkan mereka membantu. Kemudian, ikutlah program rehabilitasi dari BNN.

Indonesia sebagai bangsa besar dan dihuni ratusan juta manusia tidak bisa lepas dari kenyataan pahit tentang budaya narkoba. Laporan yang dibuat oleh tim Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkapkan, ada lima juta orang pengguna narkoba yang terdeteksi di Indonesia. Dari jumlah tersebut, setiap harinya diperkirakan ada 50 orang yang meninggal akibat narkoba. Lantas, bagaimana awal mula narkoba bisa masuk ke Indonesia?

Narkoba rupanya telah masuk jauh sebelum Indonesia berdiri dan merdeka. Hal ini pun erat kaitannya ketika Bumi Pertiwi  masih dijajah oleh Belanda terutama di era VOC. Indonesia yang kala itu masih disebut pemerintahan Hindia Belanda turut andil dari perdagangan opium. Setidaknya 164 ton opium mentah diperdagangkan pada 1877. Tak hanya menjual produknya, 850 rumah candu legal di Pulau Jawa pun dipersiapkan untuk menarik pengunjung. Pemasukan dari narkoba saat itu digunakan untuk modal perang.

Budaya narkoba pun kian mengakar sejak saat itu, meski negara ini hidup berlandaskan dengan Pancasila dan agamais. Pemerintah Indonesia di bawah Presiden Jokowi pun terus menyatakan perang terhadap narkoba. Sejumlah langkah telah diambil guna menurunkan angka pemakai narkoba, antara lain menerapkan hukuman mati pengedar narkoba dan tidak memberikan hukuman bagi pemadat yang mau ikut program rehabilitasi BNN.

Langkah-langkah yang dilakukan pun mulai menunjukkan hasil nyata. Berdasarkan survei BNN, sebanyak 8,6 persen anak muda di Indonesia terutama dari wilayah perkotaan mengonsumsi narkoba pada 2006. Setelah satu dekade berlalu, angka tersebut turun menjadi 3,8 persen.

Selain itu, sebuah fakta mengejutkan adalah semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin besar pula potensi seseorang menggunakan narkoba. Mahasiswa menempati peringkat pertama dengan total 54 persen pada 2016 sebagai pihak paling rentan mengkonsumsi narkoba. Oleh karena itu, perlunya langkah khusus bagi mereka agar tidak terjerumus dalam jerat barang haram itu. Kesadaran bahwa mereka penerus bangsa perlu ditekankan

Banyak salah kaprah beredar di masyarakat terkait penggunaan narkotika dan obat-obatan. Salah satunya, menganggap ganja sebagai jenis yang aman untuk dikonsumsi. Bahkan, sebuah organisasi bernama Lingkar Ganja Nusantara (LGN), baru-baru ini membuat gerakan utnuk melegalkan penggunaan cannabis sativa (atau cannabis indica) di Indonesia.

Penggunaan ganja sendiri dikategorikan berbahaya bagi tubuh. Efeknya, terbagi menjadi jangka panjang dan pendek. Adapun lembaga Drug Free World mengkategorikan ganja sebagai jenis yang berbahaya bagi tubuh, dengan ragam dampak negatif seperti paranoid, depresi, cepat lupa, sering cemas, halusinasi, dan risiko serangan jantung.

Lebih lanjut, pemakaian ganja biasanya dilakukan dengan cara menghisap asap dari hasil pembakaran tumbuhan yang sudah dikeringkan. Hal ini dapat menyebabkan gangguan pernapasan. Terlebih, bagi mereka yang secara berkala menggunakan ganja. Asap yang masuk ke dalam tubuh membuat iritasi lapisan saluran pernapasan manusia. Itu sebabnya, pengguna ganja kerap menderita batuk  kronis, hingga yang paling ekstrem: infeksi paru-paru.  

Dilansir dari Drugabuse.gov, sebuah penelitian yang dilakukan di Selandia baru menemukan, pemakaian ganja jangka panjang sejak usia muda menyebabkan penurunan intelegensi. Bahkan, sekalipun individu telah berhenti menggunakan ganja, kemampuan IQ tersebut tidak akan kembali ke level normal. Dengan kata lain, pengguna ganja amat berisiko mengalami penurunan kemampuan berpikir.

Rendahnya kemampuan berpikir pun akan berimbas pada kehidupan sehari-hari si pengguna. Mereka akan cenderung sulit berpikir dan menyelesaikan sesuatu yang kompleks sehingga menyebabkan rendahnya pencapaian dalam hidup. Lambat laun mereka akan minder, mengucilkan diri dari lingkungan sosial, dan terus mencari kenyamanan melalui konsumsi ganja. 

Jadi, jangan pernah mengatakan ganja “ramah” bagi tubuh. Mulai sekarang, katakan “tidak” pada konsumsi ganja, atau justru tawaran untuk coba-coba.

Penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang atau narkoba memang dapat berujung fatal. Barang haram ini tidak hanya menyerang kesehatan fisik saja, melainkan juga memengaruhi kondisi kesehatan jiwa si pemakai. Bahkan, sekali terjerat dalam belengu narkoba, kondisi kejiwaan si pengguna lebih sulit untuk dipulihkan.

Ada dua dampak negatif utama penyalahgunaan narkoba terhadap kondisi psikis seseorang. Hal ini akan dijabarkan, agar Anda semakin yakin untuk tidak mencoba narkoba. Berikut ulasannya.

Pertama, pengguna narkoba kerap berhadapan dengan sugesti untuk terus memakai obat-obatan terlarang itu. Sugesti ini seperti suara-suara yang terdengar di dalam kepala seseorang dan membuat orang tersebut sulit untuk berhenti mengkonsumsi narkoba. Walau sudah melalui proses rehabilitasi, bekas pengguna narkoba pun bisa kembali jatuh di lubang yang sama. Salah satu cara untuk menghilangkan sugesti menggunakan narkoba kembali adalah punya keteguhan untuk “berhenti”, menjauhi narkoba, mengisi waktu luang dengan aktivitas, dan tidak sendirian atau ditemani dengan orang-orang yang mendukung proses pemulihan.

Kedua, bila tahap sugesti dibiarkan begitu saja, pengguna dapat dikategorikan termasuk dalam individu dengan pikiran dan perilaku obsesif kompulsif. Di tahap ini, gangguan kejiwaan seseorang mulai termanifestasi melalui tindakan yang di luar akal sehat dan sulit untuk diprediksi. Sebagian individu ada yang berupaya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan narkoba. Ada pula individu yang malah kecewa dengan diri sendiri, kemudian mulai menyakiti diri, dan berujung pada bunuh diri. Di sisi lain, ada pula kasus di mana si pecandu narkoba merasa diri paling hebat sehingga ringan tangan terhadap sesama.

Terkait dengan kondisi kejiwaan akibat efek negatif narkoba, Ketua Tim Assessment Badan Narkotika Nasional (BNN) dr. Benny menegaskan, rehabilitasi merupakan solusi jitu untuk mengatasi masalah ini. Lama waktu rehabilitasi pun tidak sembarangan. Masa pemulihan itu disesuaikan dengan berapa lama si pecandu menggunakan narkoba. Adapun lembaga anti narkoba itu siap untuk memberikan rehabilitasi gratis bagi pengguna obat-obatan terlarang selama tiga bulan pertama.

Keberadaan Narkoba saat ini memang sudah masuk pada level darurat, barang haram itu banyak tersebar dan dikonsumsi oleh semua kalangan, tak terkecuali kalangan pelajar, data Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat pengguna narkoba dikalangan pelajar mencapai 22 persen dari total penduduk Indonesia.Itu artinya bahwa Narkoba sudah meracuni generasi penerus bangsa.

Berdasarkan Undang-ndang nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika (Narkoba) disebutkan bahwa narkotikaadalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintesis maupun semi sintesis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Meski situasinya sudah pada level tertinggi, penyalahgunaan barang haram ini sudah seharusnya dilakukan tindakan preventif, karena mencegah jauh lebih baik dibanding mengobati bukan ? orang tua menjadi peran penting dalam upaya pencegahan narkoba terhadap anak. Dan berikut langkah pencegahan narkoba secara dini:

1. Mempelajari masalah Narkoba 

Tidak mungkin kita  mencegah, jika kita tidak tahu apa yang sedang kita coba untuk mencegahnya. Ambillah kesempatan untuk mempelajari masalah narkoba. Dengan membaca, mendengarkan ceramah, berdiskusi, dan membahas masalah narkoba di majalah, koran, atau pada program televisi dan radio. Anda harus mengerti jenis-jenis narkoba dan bahaya menggunakan narkoba yang nantinya kita akan sampaikan kepada anak kita sebagai proses pendidikan tentang narkoba.

2. Mengajarkan Anak tentang Masalah Narkoba 

Umumnya anak dan remaja menerima informasi tentang narkoba dari luar rumah, sebagian besar dari teman sebayanya. Sangat berbahaya ketika anak mengetahui suatu hal yang baru hanya setengah-setengah. Kita katakan setengah-setengah karena biasanya anak hanya tahu enaknya saja tidak mengerti dampak yang ditimbulkan akibat penyalahguanan narkoba. Untuk itu orang tua perlu mengajarkan tentang narkoba secara detai kepada anak sehingga anak mengerti secara utuh dan mampu mengambil langkah yang benar.

3. Melarang Pemakaian Narkoba

Melarang anak melakukan pemakaian narkoba jenis apapun, termasuk rokok dan minuman beralkohol,dan ini harus menjadi peraturan keluarga, orang tua juga harus menjelaskan tentang peraturan larangan memakai narkoba. Selain itu Jelaskan pula pada anak bahwa peraturn ini berlaku tetap, kapan saja, dan dimana saja, baik dirumah, di sekolah, maupun dirumah teman dan ditempat lainnya.

4. Cegah Pengaruh Negatif Berita Kriminal

Amati apa yang ditonton anak di televisi. Anda tidak perlu menyensornya, akan tetapi anda perlu mengambil kesempatan untuk menjelaskan kepadanya tentang berita kriminal. Berita kriminal  yang ditanyangkan ditelevisi hanya sepenggal dan sekilas saja, hal ini membuat anak penasaran dan akan mencari tahu informasi itu diluar. Sebelum itu terjadi berilah penjelasan dan informasi dari berita-berita itu. Hal ini dapat mecegah anak untuk mencoba-coba khususnya tentang penyalahgunaan narkoba. 

5. Mewaspadai Sikap dan Perilaku Sendiri

Keluarga adalah lingkungan terdekat yang mempengaruhi perkembangan perilaku anak. Anak akan meniru perilaku orang tuanya karena anak memandang orang tua adalah sebagai figur mereka. Hingga usia remaja anak akan meniru perilaku orang tuanya jadi yang perlu diwaspadai adalah sikap dan perilaku anda. Apakah anda merokok? Apakah anda minum-minuman keras? Atau bahkan anda memakai narkoba? hmm…Sangat disayangkan jika hal itu masih anda lakukan. Jangan salahkan anak jika mereka nantinya mengunakan narkoba, karena mereka mendapat contoh perilaku yang seperti itu. Jadi hemat saya, jadilah teladan yang baik bagi anak. Jika anda merokok mulai dari sekarang berhentilah. Jika anda suka minuman keras, hentikanlah. Sayangilah anakmu, generasimu!

6. Pola Hidup Sehat dalam Keluarga

Hal yang perlu diwaspadai dalam lingkunagn keluarga adalah keharmonisan. Penyalahgunaan narkoba merupakan salah satu bentuk kenakalan anak. Faktor penyebab kenakalan remaja yang utama adalah keluarga yang tidak harmonis. Maka dari itu, ciptakan keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang. Jika anak mendapatkan kasih sayang dirumah sendiri mereka tidak anak mencari diluar yang akhirnya lari ke narkoba.

Indonesia saat ini sudah masuk menjadi Negara darurat narkoba. Hal ini disebabkan angka penyalahgunaan di Indonesia pada survey tahun 2015 mencapai 2,20% dari seluruh penduduk Indonesia atau lebih dari 5 juta orang, diantara dari mereka akibat coba pakai, dan pecandu. Jumlahnya sangat fantastis, dan bukan perkara mudah bagi bangsa Indonesia untuk mengatasi masalah penyalahgunaan narkoba ini.Presiden Joko Widodo bahkan berkali-kali menegaskan bahwa Bandar narkoba harus dihukum seberat-beratnya untuk mengatasi penyakit masyarakat ini.

Sementara itu disektor lain Badan Narkotika Nasional (BNN) juga menargetkan akan merehabilitasi 100 ribu pecandu dan penyalahguna narkotika dan obat-obatan berbahaya (narkoba) sesuai amanat Undang-Undang No.35 tahun 2009 tentang narkotika.Dalam masalah ini BNN berusaha menekan jumlah pecandu sampai titik terendah lewat program-program rehabilitasi.

Selain itu para pengedar dan Bandar harus dihukum seberat-beratnya, masalah narkoba ini bukan permasalahan yang dianggap sepele, karena akibat masalah ini, berbagai kejahatan dan kriminal terjadi.Hal itu dikarenakan pecandu narkoba tidak dapat berpikir dan berfungsi secara normal sehingga kemudian melakukan tindakan diluar batas.

Banyak alasan pecandu kenapa mereka bisa terjatuh ke dunia narkoba satu diantaranya adalah tidak mendapatkan kenyamanan di dalam keluarganya. Apabila dalam rumah tangga terjadi disfungsi keluarga, maka perkembangan anak dan remaja beresiko untuk menyimpang.

Sejumlah Penelitian membuktikan bahwa dalam keluarga yang mengalami disfungsi keluarga, kemungkinan terjadi, apabila ayah yang meninggal maka pengaruh negatif terhadap anak laki-laki bisa terjadi sebesar 35%, sedangkan anak perempuan pengaruh negatifnya hanya 13%.sementara apabila yang meninggal ibu maka pengaruh negatif pada anak laki-laki hanyalah 18%, sedangkan pada anak perempuan pengaruh negatifnya jauh  lebih kecil.Sementara Kondisi keluarga yang masih buruk atau dapat dikatakan tidak ada perubahan, maka resiko anak dan remaja laki-laki maupun perempuan menjadi nakal 60%.

Hal lain yang bisa mempengaruhi perkembangan anak atas kondisi itu adalah disebabkan dari hubungan antara ayah dan ibu yang kurang baik, dari data tersebut menunjukan akan berpotensi resiko cukup signifikan 40% terhadap kenalakan antara anak dan remaja laki-laki maupun perempuan.Sementara itu jika hubungan antara anak dan remaja laki-laki maupun perempuan dengan kedua orangtuanya baik, resiko anak dan remaja laki-laki maupun perempuan potensi kenakalnnya hanya10%.

Apabila keluarga memberikan hal positif terhadap anak maka akan tercipta tingkah dan perilaku yang positif bagi anak begitu pula sebaliknya.Karena sebagian besar sebab seseorang jatuh kedunia gelap seperti narkoba, banyak mendominasi akibat disfungsi keluarga. Kondisi keluarga yang baik-baik tentu akan memberikan tingkah dan prilaku yang baik namun sebaliknya jika kondisi keluarga yang buruk potensi anak melakukan tindakan tidak baik bukan tidak mungkin terjadi.

Oleh karena itu peran keluarga dalam pemulihan pecandu sangatlah besar, karena pecandu sangat membutuhkan sosok yang namanya dorongan atau motivasi dari keluarga agar bisa bebas dan  keluar dari jerat gelap barang haram bernama narkoba.

Page 3 of 13
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…