PONDOK PESANTREN BISA MENJADI TEMPAT REHABILITASI SOSIAL

0
66

Rabu, 12 Pebruari 2014, JAKARTA – Narkoba dalam pandangan agama Islam, haramnya sama dengan Khomer, yaitu minuman keras yang memabukan dan bisa membuat orang kehilangan akal sehat ketika mengkonsumsinya. Begitu juga dengan narkoba, yang efeknya lebih merusak jika dibandingkan dengan minuman keras,”Karena narkoba bisa membuat otak pengkonsumsinya bolong-bolong sehingga terlihat seperti orang yang tidak waras, dan cenderung kriminal, mencuri untuk memenuhi kebutuhan narkoba,” kata Eko Wibawati S.Ip dari Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam Diskusi Publik dengan Pelajar Pesantren Al Mawadah Jagakarsa, Ciganjur, Jakarta Selatan Rabu(12/2).

Selanjutnya Eko menambahkan, para Penyalahguna narkoba, memiliki kecenderungan malas belajar dan acuh tak acuh terhadap lingkungan, sekaligus mengecewakan orang tuanya,”Orangtua mengharapkan nak-anaknya tumbuh menjadi anak yang baik dan soleh, tapi malah mengkonsumsi narkoba, hingga menghancurkan masa depannya sendiri,” ujar Eko.

Sementara itu, Ustad Wawan, salah satu guru di Ponpes Almawadah mengatakan, dengan pendidikan berbasis keagamaan bertujuan agar para lulusan dari Pesantren memiliki bekal ilmu formal sekaligus memiliki iman dan taqwa yang kuat dalam membedakan mana yang dilarang dan diperintahkan dalam agama, hidup sehat dan disiplin dan tidak lupa berdoa kepada Tuhan merupakan pola yang diterapkan Pesantren,

Husnuk Mukti, Santri kelas 2 SMA Ponpes Al Mawadah, menanyakan, dengan efek shabu yang sedemikian dahsyat, yang merusak tubuh dan pikiran manusia apakah mungkin bisa untuk disembuhkan?

Menjawab pertanyaan tersebut, Eko, menjelaskan, bahwa penyalahguna narkoba hanya bisa dipulihkan dari ketergantunganya, pulih disini memiliki maksud bahwa ada kemungkinan besar para penyalahguna narkoba bisa kembali menggunakan,”Sehingga saya sarankan jika ada teman yang menggunakan narkoba, berikan saran kepada mereka agar mau melapor ke IPWL ( Institusi Penerima Wajib lapor), nanti disana para penyalahguna narkoba akan diberikan terapi untuk melawan keinginanya mengkonsumsi narkoba, tidak akan dipenjara, selama mereka hanya penyalahguna dan bukan pengedar,” jelas Eko.

IPWL bisa merupakan Puskesmas Atau Rumah Sakit, tambah Eko, sehingga nanti akan dilakukan assessment sejauh mana tingkat ketergantunganya terhadap narkoba, “Selanjutnya akan dilakukan proses rehabilitasi, minimal dilaksanakan selama 3 bulan tergantung level ketergantunganya,” tambahnya.

Pondok Pesantren juga bisa menjadi institusi rehabilitasi social yang berbasis agama. Dimana teknik pemulihanya adalah dengan mengedepankan ilmu agama dan menanamkan dalam hati bahwa narkoba itu adalah barang haram yang benar – benar harus dijauhi, “Oleh karena itu, saya mengharapkan kepada para jajaran pengurus Pesantren agar ikut berpartisipasi dalam memulihkan para pecandu narkoba. Karena masalah narkoba adalah masalah kita semua, narkoba mengancam masa depan dan nyawa anak kita, teman kita saudara kita,” tandas Eko. (pas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here