Berlari GWK ke GBK untuk Kampanye Anti Narkoba

0
129

 

Hari ke tigapuluh,

Kantor BNN Pusat Cawang – The Last Sunday Run – Al Bina GBK

Every party must come to an end. Begitu pepatah Inggris. Dan akhir kampanye kami adalah pagi hari ini.

Lebih dari sebulan sejak saya meninggalkan Jakarta dengan menggunakan mobil pada Rabu tanggal 28 November 2018 dan tiba di Denpasar esoknya. Semuanya dimulai jam 05:00 pagi, tanggal 1 Desember di halaman kawasan Garuda Wisnu Kencana, jujur dengan penuh kegamangan.

Dan melalui hari demi hari, kami berlari, bertemu ribuan sahabat di sepanjang lintasan, kami mendapat energi dan kepercayaan tersendiri.

Sepanjang 30 hari, kami mendapat informasi dari BNN Prov, Kabupaten dan Kota tentang pemberantasan narkoba, bertemu dengan pimpinan Perguruan Tinggi, diundang Walikota dan Bupati, berbagi cerita dengan berbagai komunitas pelari maupun Ormas sangat mencerahkan kami. Dan dari sana mendapat harapan dan dukungan untuk kami bisa menyelesaikan dengan selamat sampai Gelora Bung Karno. Selalu ada titik air mata yang menggenang pada saat setiap hari hal tersebut terjadi.

Berlari di hari ketiga puluh, dari Kantor Pusat BNN ke Parkir Timur Senayan menjadi keharuan dan kebanggaan tersendiri. Sekitar seratus pelari dan goweser hadir siap mengiringi kami berempat. Bapak Kepala BNN melepas kami semua tepat jam 05:30. Dan perlarian ini 10km ini menjadi semacam Victory Run bagi kami. Sepanjang jalan rasa berlari semua sahabat seperti melayang. Jarak dan tanjakan Pancoran dan Kuningan seperti tidak terasa apa-apa bagi mereka. Di belakang, saya menengok, puluhan sahabats pelari dengan berbagai seragam indah komunitasnya disinari matahari terbit pagi. Mereka berlari bersemangat dan sangat bergembira.

Saatnya tiba di GBK dari Pintu Sepuluh sudah menyambut masa pelari yang lebih besar. Mereka adalah peserta The Last Sunday Run 2018 yang akan bersiap start jam 07:00. Mas Fajar, Event Organizer dari Synergi Run, bekerja sama dengan BNN sengaja mengundang kami untuk finish disini. Sebuah keharuan dan kebanggan sendiri untuk semua yang berlangsung pagi ini.

Tidak lama kemudian, kami para pelari bertemu Bapak Agus Gumiwang, Menteri Sosial; Bapak Pramono Anung, Sekretaris Kabinet RI; Bapak Nanan Soekarna, Mantan Waka Polri; dan Bapak Heru Winarko, Kepala BNN sendiri; serta berbagai undangan BNN lainnya. Tidak terbayang kami mendapat sambutan kehormatan sedemikan rupa pagi ini.

Di kalungkan bunga di leher, di sampaikan sertifikat penghargaan oleh BNN, bersalaman dengan pejabat yang hadir, menjawab pertanyaan media, dikelilingi dan berfoto dengan ratusan sahabat pelari, membuat saya tidak mampu menuliskannya dengan kata-kata lagi. Jujur saya katakan, semua ini buat saya, sungguh-sungguh momen sekali seumur hidup.

Angan saya segera melayang, ingin sekai saya membagikan momen pagi hari ini kepada semua pejuang dan aktivist anti narkoba, kepada para sahabats yang sedang di rehab, dan kepada keluarga yang mendukung kesembuhannya. Semoga Allah SWT senatiasa memberikan harapan dan kekuatan untuk semua upayanya.

Al Bina – Gelora Bung Karno

Setelah selesai gelaran The Last Sunday Run, maka saya berjalan ke Masjid Al Bina GBK. Di sini finish saya pribadi sebenarnya.

Mengguguk saya bersujud, berucap syukur tak terhingga kepada Allah SWT. Atas semua berkah kesehatan, kekuatan dan keselamatan yang dilimpahkan Allah SWT kepada kami berempat untuk mampu berlari selama 30 hari dijalanan raya.

Apa selanjutnya?

Pertama, saya mewakili sahabat Mak Del, Mas Cokro dan Mas Amin mengucapkan terima kasih atas seluruh dukungan dan doa sahabat. Saya memohonkan balasan dari Allah SWT atas budi baiknya. Tidak sanggup kami membalasnya, hanya doa kami panjatkan untuk sukses di tahun mendatang. Sekaligus kami mengucapkan: Selamat menyambut datangnya Tahun Baru 2019.

Kedua, dengan kampanye anti narkoba di sepanjang lintasan lebih 1500km, dalam 30 hari berlari, melalui 6 Ibu Kota Provinsi dan puluhan Kabupaten dan Kotamadya, berziarah ke 3 makam Presiden RI, maka kami dedikasikan lintasan GWK hingga GBK kepada Badan Nasional Narkotika. Saya berharap bisa digunakan lagi untuk kampanye Anti Narkoba di masa mendatang.

Ketiga: Kami mohon ijin pulang ke rumah kami masing-masing. Kembali menikmati keseharian kami kembali dan tidak menyampaikan catatan harian lagi. Dan dengan semangat sharing dan  silaturahmi, saya siap menerima saran dan berbagi  pengalaman untuk kegiatan anti narkoba berikutnya.

#stopnarkoba #cegahnarkoba #berlaribersatuberantasnarkoba

Gatot Sudariyono

Minggu, 30 Desember 2018.

 

Hari ke duapuluhsembilan,

Kantor Balai Kota Bogor – Kantor BNN Pusat Cawang

Setelah hari ke 29 berlari dan tinggal satu hari lagi besok,  banyak sahabat sudah bertanya kepada saya beberapa pertanyaan. Apa rencana proyek lari saya di tahun 2019? Pertanyaan lain seperti: Sudah mendapat ilham, percikan pemikiran, ide-ide dan perspektif baru apa saja selama berlari? Berat sekali pertanyaannya.

Saya menerima pertanyaan diatas sebagai kehormatan dan sekaligus tantangan. Walaupun semua pengalaman saya berlari jauh, apalagi yang sampai selama 28 hari, sering menghadapi tantangan lintasan yang menguras mental dan fisik.

Pada intinya saya meyakini bahwa saya harus memberi makna lebih. Dalam bahasa Inggris dapat disebut dengan istilah Beyond Running. Atau lebih dari sekedar berlari.

Kali ini lintasan GWK GBK kami tambahkan makna sebagai kampanye anti narkoba dengan tema Berlari, Bersatu dan Berantas Narkoba. Dan dukungan dari BNN Dan Kemensos, serta berbagai pihak selama dilapangan mengukuhkan makna yang ingin kami inginkan.

Semangat beyond running diatas sangat dilandasi oleh semangat kutipan sebagai berikut:

Dalam sebuah iklannya Nike menyampaikan Running is a gift. Berlari adalah berkah.

Satu poster lain mengatakan: Run grateful. Every mile is a gift.

Bahkan ada satu ungkapan yang lebih menyentuh hati saya, sebagai berikut: I run because I can. When I get tired. I remember those who can’t run. What they would give to have the simple give I take for granted. And I run harder for them. I know they would do the same for me.

Hari ini kami mendapat berkah tersendiri. Walau dengan koordinasi dan komunikasi dalam waktu pendek, semalam sebelumnya Bapak Bima Arya, Walikota Bogor, berkenan melepas kami pagi ini jam 06:00 di halaman Balai Kota Bogor.

Dan sudah berkumpul di halaman Balaikota jam 05:30 sekitar 150 pelari dari berbagai komunitas. Saya mencatat paling tidak 6 komunitas lari di Bogor hadir.

Dalam sambutannya sebelum kami start berlari, Bapak Walikota menyampaikan dukungan atas prakarsa kampanye anti narkoba yang kami laksanakan dengan berlari dari GWK hingga GBK. Dan komitmen kepemimpinan beliau di kota Bogor akan semakin memasyarakatkan olah raga khususnya berlari jauh, mencanangkan Bogor sebagai City of Runners, menyelenggarakan berbagai event berlari dan demikian menjauhkan warga kota Bogor dari Narkoba.

Setelah start, kami berlari bersama menyusuri jalan depan Istana Bogor hingga Jalak Harupat, dan berpisah di Persimpangan Lippo Mall. Bapak Walikota meneruskan memutari Kebun Raya dan Istana, kami berbelok ke Jalan Pajajaran untuk terus ke jalan raya Bogor Jakarta. Bersama kami turut sekitar 15 pelari. 6 pelari mengiringi kami sampai ke kantor pusat BNN di Cawang. Yang lainnya mengantarkan hingga Cibinong.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Kang Agus Syah dan Ibu Yayuk atas semua yang kami peroleh di Balai Kota Bogor pagi ini.

Berlari di hari weekend, di jalan raya Bogor ke Jakarta melalui Cibinong dan Cililitan sangat menyenangkan. Lalu lintas tidak terlalu padat.

Pemandangan yang bagus saya dapat saat melintas di jembatan layang Cibinong dan  berbalik badan menghadap kearah selatan. Tampak dua gunung tepat dikanan kiri kota Bogor. Di sebelah kanan Gunung Salak dan disebelah kiri Gunung Gede Pangeango. Tentu saja, saya tidak bisa berlama-lama menikmatinya.

Sedang pemandangan yang sangat menggoda terdapat didepan Pasar Induk Kramat Jati. Penjual buah-buahan berderet sepanjang jalan. Dan yang paling memikat adalah durian. Tetapi kami memutuskan terus berlari tidak berhenti untuk menikmatinya. Padahal tulisan harganya terpampang sangat murah sekali.

Karena terus berlari jam 16:00 saya sebagai pelari terakhir dapat tiba di Kantor Pusat BNN sebagai tempat finish hari ini.

#stopnarkoba #cegahnarkoba

Gatot Sudariyono

Sabtu, 29 Desember 2018.

 

Hari ke duapuluhdelapan,

Bundaran Cianjur – Tugu Kujang Kota Bogor

Sore ini saya berdua Kang Fuad dari Bogor Runner berlari menyusuri jalanan turunan Sukasari menuju Terminal Baranangsiang.

Lalu lintas di Jalan Pajajaran Bogor penuh oleh motor dan mobil, sehingga kami “berjalan” ditrotoar. Saya sempat menengok ke arah kiri. Saya tertegun sendiri.

Pemandangan Gunung Salak dengan awan tipis menggantung di puncaknya. Cahaya matahari yang akan tenggelam berubah merah lembayung. Awan yang tipis-tipis di langit memantulkan warna kemerahannya. Kota Bogor ke arah Barat sepertinya mempunyai lukisan indah setiap sorenya yang luar biasa. Sedangkan di kanan saya melihat ribuan manusia bergegas pulang ke rumah dengan kendaraan masing-masing. Saya yakin pemandangan yang saya lihat, tidak sempat mereka nikmati.

Selepas Terminal Baranangsiang, tibalah akhirnya saya di Tugu Kujang Kota Bogor. Waktu menunjukan jam 17:45. Waktu tersebut saya baca di jam digital besar di salah satu gedung sebelum Tugu Kujang.  Selesailah lari kami hari ini. Disambut Kota Bogor menjelang Maghrib dan seperti biasa saya pelari yang masuk paling belakang.

Perlarian hari ini sejujurnya, sangat menekan semangat saya. Start jam 05:30 di Bundaran Cianjur langsung disambut tanjakan tanpa henti sampai Istana Cipanas. Selanjutnya disambung tanjakan lagi sampai Puncak Pass. Membayangkan bagian ini yang sempat menekan semangat.

Saya sampai di Puncak Pass jam 11:30 setelah persis 6 jam berjalan. Tidak ada kekuatan sama sekali otot kaki saya untuk saya buat berlari. Sementara tiga teman saya dan Kang Fuad dari Bogor Runners yang ikut bergabung sejak dari Bandung, melesat berlari seperti kakinya terbuat dari baja. Padahal baru saja kami menyelesaikan 3 hari berturut-turut sebelumnya yang “memakan” lutut, telapak kaki, paha dan betis kami. Ada lintasan sebelum Kota Sumedang dengan tanjakan Nyalindung-nya, lintasan meninggalkan Kota Sumedang dengan Cadas Pangeran-nya, serta lintasan meninggalkan Bandung dengan jalan berkelok-kelok di Citatah Padalarang.

Hanya karena indahnya pemandangan pagi ke arah Gunung Gede Pangrango dari sebelum Cipanas sampai di Ciloto, yang mampu membuat saya bisa berjalan 6 jam tanpa henti.

Sesudah melewati Puncak Pass, saya segera berlari ke Masjid At-Ta’awun untuk ikut bergabung Sholat Jumat. Ini sholat Jumat ke 4, kami di perjalanan. Dan tanpa program berlari ini, bisa jadi saya tidak pernah ada kesempatan bisa sholat di masjid yang megah dan indah ini.

Berlari setelah sholat Jumat sepenuhnya jalan menurun. Tetapi suasana liburan membuat Puncak penuh lalulintas. Sehingga semua kendaraan berjalan lambat bahkan sering macet dari Cisarua, Cipayung, Cibogo sampai Ciawi dan Kota Bogor. Lalulintas yang lambat membuat berlari menjadi sangat aman.

Satu persatu tempat-tempat yang menjadi Water Station di ITB Ultramarathon saya lintasi lagi. Bayangan kenangan perjuangan para peserta baik umum maupun para alumni ITB dengan team supportnya muncul di benak saya. Kenangan yang luar biasa.

Melewati 5 hari berturut-turut di Tanah Priangan, tidak salah kiranya ungkapan Bimbo melukiskan keelokan Bumi Priangan. Dalam salah satu lirik lagunya, Bandung, Bimbo melukiskan tanah Pasundan “seperti diciptakan Tuhan ketika tersenyum”. Elok dan menawan.

#stopnarkoba #cegahnarkoba

Gatot Sudariyono

Jumat, 28 Desember 2018.

 

Hari ke duapuluhtujuh,

Kampus ITB Bandung – Bundaran Cianjur

Jam 06:30 sudah hadir Bapak Rektor ITB, Prof Kadarsyah dan jajarannya dan Rektor Ujani, Prof Bambang Sutjiarmo, Bapak Kepala BNN Prov Jawa Barat dan jajarannya di gerbang pintu masuk Kampus ITB. Dan ditambah puluhan runner dari kalangan dosen ITB dan komunitas gowes lintas angkatan ITB. Dan catatan ini akan penuh nama Profesor dan Doktor, kalau saya terus menyebutkan semua yang hadir tadi pagi.

Kemeriahan yang mendadak terjadi untuk melepas kami berlari menuju Jakarta, sangat mengharukan saya. Saya pribadi awalnya tidak berani membayangkan akan dilepas Rektor ITB. Karenanya dari start di Bali belum mengajukan permohonan kepada beliau. Takut saya tidak sanggup sampai di Bandung. Tetapi saat kami sudah sampai Cirebon, saya lebih percaya diri untuk menyampaikan permohonan dilepas beliau pagi ini. Dan beliau berkenan. Bangga benar rasa hati kami. Untuk acara pagi ini, saya berhutang kepada rekan saya Bang Mahdi dan mbak Mindri.

Dan yang tidak kalah penting, saya mempunyai kesempatan untuk memperkenalkan Kepala BNN Provinsi Jabar dengan Rektor ITB. Seperti halnya saat kami dilepas Profesor Joni Hermana, Rektor ITS di Surabaya. Saya juga memperkenalkan Ibu Kepala BNN Kota Surabaya kepada beliau. Tetapi bisa jadi itu ge-er saya. Jangan-jangan mereka sudah berkenalan di  kesempatan yang lain.

Dalam sambutannya, Kepala BNN menyampaikan statistik yang sangat membuat miris. Ada 40 persen generasi muda mempunyai potensi terpapar narkoba. Dari 40 persen itu 10 persen sudah sangat tergantung dan cenderung tidak bisa diselamatkan. 20 persen masih bisa direhab. Sedang 70 persen adalah yang ingin mencoba-coba narkoba untuk pertama kali. Bagian terbesar inilah yang harus dicegah.

Bapak Rektor ITB dalam sambutannya mengatakan pada tahun 2035 setengah negara-negara didunia akan kekurangan secara significant populasi anak mudanya. Dan itu akan membuat produktivitas ekonominya terancam. Sedang negara Indonesia tidak termasuk, dan malah menikmati bonus demografi karena masih banyak penduduknya yang berusia muda. Hanya saja dibutuhkan skenario untuk mencegah dan melindungi mereka dari narkoba. Dengan demikian skenario pencegahan narkoba harus dibayangkan sangat berdimensi jauh hingga ke tahun 2035.

Bendera Start dikibarkan Bapak Rektor dan Bapak Kepala BNN Provinsi Jabar jam 07:20. Tentu saja sebelumnya diselenggarakan foto bersama dari semua yang hadir dan bersifat wajib .

Kami diiringi dua-puluhan runner dan sepuluh goweser sampai Kota Baru Parahyangan.

Selanjutnya kami menempuh lintasan ke Cianjur dengan tambahan dua pelari, yaitu Mas Icak, (dosen Teknik Industri ITB) dan Kang Puad dari Bogor runner yang akan menyertai kami sampai besok ke Bogor.

Perlarian dan route ke Cianjur dan Insya Allah nanti melewati Cipanas, Puncak Pass, Bogor, Cibinong, Pasar Rabu dan Cawang, adalah route ITB Ultramarathon 170K dalam versi dibalik. Sudah ribuan pelari alumni ITB menyelesaikan route dari Jakarta ke Bandung sejak ITB UM diselenggarakan tahun 2017. Jadi saya tidak akan banyak menceritakan perlarian di lintasan ini. Lintasan berlari ini pada dasarnya sudah seperti rumah sendiri.

Saya “ditarik” berlari kencang oleh Mas Icak sejak Padalarang. Dan tiba di bundaran Cianjur jam 18:00. Semoga malam ini kaki saya bisa recovery untuk besok dipakai (berjalan) menanjak ke Pucak Pass.

Jam 20:00 kami berpisah dengan Mas Icak setelah selesai makan malam. Dan dia harus kembali ke Bandung.

Dengan acara pelepasan tadi pagi yang membanggakan, sampai diantar ke Kota Parahyangan, saya menyampaikan terima kasih kepada semua pihak atas kelancaran semua perlarian hari ini.

#stopnarkoba #cegahnarkoba

Gatot Sudariyono

Kamis, 27 Desember 2018.

 

Hari ke duapuluhenam,

Alun Alun Sumedang – Gedung Sate Bandung

Lima pelari Bandung pagi itu sudah hadir semua di Sumedang dari semalam, yaitu: Abah Buche, Taofik Bandrex, Ilham Syabuga Runners, Uda Lendra  (ITB 80 Runners) dan Mbak Fafa dari Indramayu.

Dan yang jauh mengejutkan kami semua pagi ini adalah hadirnya Mas Lexi Rohi khusus dari Jakarta bersama istrinya. Dia bahkan sudah di hotel kami sejak jam 03:00 menunggu kami bangun. Bagi sahabat yang belum mengenal Mas Lexi, dia adalah Race Director dari berbagai lomba Ultramarathon di Indonesia. Diantaranya Sumbawa 320K, ITB Ultramarathon 170K. Kami para ultramarathoner di Indonesia hampir semua adalah sentuhan tangan dingin dia.

Dia hadir pagi ini di Sumedang sepertinya berusaha memastikan “keutuhan” kami berempat setelah menempuh 25 hari perlarian.

Dan kami semua meminta dia mengibarkan bendera Start di Alun Alun Sumedang. Saat itu sedang turun hujan pagi yang cukup deras, sehingga kami semua harus menggunakan jas hujan. Teringat kami saat start di Semarang yang juga harus menikmati hujan.

Satu jam berlari hujan akhirnya reda. Sesudahnya kami menikmati dengan cukup detail keindahan kawasan di Cadas Pangeran. Kabut menggantung di kanan kiri bukitnya. Teringat saya pengalaman berlari Minang Geopark dari Kelok Sembilan ke Lembah Arau bulan Oktober lalu. Di sebelah kiri sawah berundak-rundak seperti kebanyakan sawah di Ubud. Benar-benar pemandangan bintang lima. Kalau tidak harus berlari ke Bandung, ingin rasanya saya berhenti lama disini.

Selesai dari Cadas Pangeran ke Jatinangor, kawasan dengan berbagai kampus PT besar disana. Saya mencatat ada ITB, Unpad, APDN, dan Ikopin. Bahkan sebelumnya ada UPI dan UNWIM, niversitas swasta. Terbayang saya bisa jadi populasi mahasiwa-mahasiswi per km persegi tertinggi di Indonesia.

Berlari terus sampai di Cileunyi dan hujan kembali turun lebat. Saatnya pakai jas hujan lagi. Setengah jam berikutnya terang lagi. Benar-benar sdh saatnya musim hujan yang penuh.

Tiba di depan halaman Gedung Sate sdh menyambut kami Bapak Kepala BNN Jawa Barat lengkap dengan jajarannya, puluhan anggauta organisasi FKPPI Jawa Barat dan Angkatan Muda Siliwangi, kawan saya dari Wanadri, dan belasan sahabats ITB 80. Susah untuk saya menahan haru atas semua sambutan ini.

Dalam sambutannya Kepala BNN Provinsi Jabar menginformasikan kepada yang hadir berbagai program yang dilakukan untuk mencegah dan memberantas narkoba di Jabar. Diantaranya kerja sama dengan berbagai Perguruan Tinggi di Jabar, program Desa Bersinar – desa bersih narkoba dan kerjasama dengan sekolah menengah atas.

Terbayang kerja besar pemberantasan narkoba bagi Provinsi besar seperti Jabar, Jateng dan Jatim yang sudah kami lewati sebelumnya. Kami berdoa untuk keberhasilan semua jajaran BNN di Indonesia.

Dan foto bersama adalah sesi wajib untuk akhir acara sore hari ini.

Terselenggaranya acara sore tadi, saya berhutang budi kepada sahabat saya Setiyo Utomo dari Mesin ITB 80. Hanya dalam hitungan 24 jam bisa mengkoordinasikan dan mengundang semuanya.

#stopnarkoba #cegahnarkoba

Gatot Sudariyono

Rabu, 26 Desember 2018.

 

Hari ke duapuluhlima,

Saya mengucapkan selamat merayakan hari Natal 2018, bagi sahabat yang merayakan. Dan bagi kita semua, selamat menyambut datangnya Tahun Baru 2019. Semoga tahun baru memberi kita sekeluarga kegembiraan dan kesejahtraan yang lebih baik lagi. Aamiin

Kecamatan Kadipaten, Majalengka – Alun Alun Sumedang

Dengan jarak yang “tidak terlalu jauh” untuk lintasan hari ini, kami memulai start jam 07:00 pagi, di Kadipaten yang masih termasuk wilayah Kabupaten Majalengka. Jadi dengan demikian, kami masih sempat sarapan di penginapan untuk yang kedua kalinya. Biar nggak rugi.

Saatnya kami tidak lagi menghitung hari seperti saat mulai pada tanggal 1 Desember. Kami menghitung mulai hari pertama dan selanjutnya. Mulai sekarang hitungan kami balik menjadi countdown, dimana hari ini adalah H-6 menuju finish. Sedikit memberi sugesti berbeda.

Kami berlari kearah Sumedang dengan jalan mulai menanjak. Gunung Tampomas dikanan jalan dan Sungai Cimanuk dikiri jalan, merupakan bonus pemandangan indah tersendiri.

Hanya saja sejak dari Masjid Raya Nyalindung, jalan menanjak dan meliuk-liuk tidak habis-habisnya. Belum lagi lalulintasnya juga cukup padat. Tanjakan jenis ini yang saat menjalaninya akan menghamburan kata-kata “manis”. Tetapi saat selesai finish, membuat kangen melewatinya lagi.

Sering saya disapa penduduk setempat, menanyakan hendak berlari kemana. Dan tentu saja kali ini dalam bahasa Sunda. Saya menjawab dalam bahasa Indonesia. Yang menarik adalah sejak dari Bali, saya sudah mencatat beberapa bahasa dan dialek yang berbeda. Dan itu kalau dalam bahasa anak muda hari ini adalah pengalaman sekali. Kalau boleh saya ingat, mulai dari bahasa Bali, masuk bahasa Madura, bahasa Surabaya, bahasa Jawa Mataraman dari Mojokerto sampai Semarang, berbeda lagi sejak Pekalongan, Tegal, Brebes dan Cirebon. Dan sekarang di Majalengka dan Sumedang. Terakhir mungkin akan berbeda sejak nanti di perbatasan DKI.

Sedikit tambahan juga, saya mencatat perubahan pelat nomor mobil yang juga berganti-ganti. Tetapi saya tidak hafal untuk menyebutnya.

Terbayang kalau ada yang berlari dari Sabang sampai Kupang. Seperti apa ya catatan hariannya?

Benar-benar bangsa Indonesia yang besar tidak hanya teritorinya dan beragam budayanya tetapi juga besar jiwanya untuk hidup bersatu.

Dan seperti tema kami: Berlari, Bersatu, Berantas Narkoba. Dimana guna memberantas narkoba kita-pun harus bersepakat untuk bersatu.

Sedang berlari 2 km menuju alun-alun, saya dihampiri seseorang bersepeda. Rupanya saudara Wanadri saya Kang Herman yang berdomisi di Sumedang. Dengan WA Group, dia sdh mendengar kami akan lewat Sumedang dan finish di alun alun. Fenomena pertemuan saya dan Kang Herman ini sering disebut juga sebagai The Power of Social Media. Pokoknya sangat-sangat jaman Now lah.

Tiba di alun-alun Sumedang jam 14:00 sudah disambut BNN Kabupaten Sumedang dalam suasana hujan deras.

Juga pas benar hadir di alun-alun, Uda Syailendra, sahabat berlari saya dari satu Angkatan di ITB. Dia khusus naik bis dari Bekasi, untuk besok menemani berlari ke Bandung. Sampai sore hari, telah hadir di Sumedang 5 pelari Bandung yang besok pagi akan bersama kami berlari ke Bandung. Lagi-lagi sangat tidak disangka sekali buat saya. Karena liburan mereka digunakan untuk menemani kami berlari dan berkampanye berantas narkoba.

#stopnarkoba #cegahnarkoba

Gatot Sudariyono

Senin, 25 Desember 2018.

 

Hari ke duapuluhempat,

Kami menyampaikan turut berduka cita atas korban bencana alam tsunami di pesisir Banten dan Lampung. Semoga korban meninggal mendapat tempat yang layak di sisi Allah SWT. Serta keluarga korban mendapat kekuatan dan ketabahan. Aamiin.

Lapangan Kejaksan Cirebon – Kadipaten, Majalengka

Sudah hampir 24 hari kami berlari dan setiap hari menginap di penginapan yang berbeda. Tidak pernah sekalipun kami menikmati sarapan pagi di penginapan. Selalu kami minta dibungkus dan sarapan setelah dua jam berlari. Hal ini terjadi karena start kami selalu jam 05:00 dan meninggalkan penginapan jam 04:30 sedang layanan makan pagi belum tersedia.

Hari ini, sengaja kami ingin start jam 07:00. Dengan demikian kami sempat menikmati sarapan di Hotel. Hal ini kami lakukan karena kebetulan hari ini saya ulang tahun. Itu saja alasannya. .

Start kami lakukan di alun alun Kejaksan Cirebon. Mesjid At Takwa berdiri megah disisinya. Di kejahuan tampak indah Gunung Cermai. Hujan lebat semalam menyisakan udara sejuk dan jalanan yang masih basah.

Segera kami berlari kearah Jatiwangi di Kabupaten Majalengka, kami melewati Pasar Trusmi dan Pintu Toll Palimanan. Tetapi setelahnya beberapa kali kami berlari menyeberangi jalan toll. Sedikit bingung juga membayangkan route berlari kami dengan posisi jalan toll.

Jalanan mulai menjadi hanya dua jalur dan menanjak halus. Sementara aroma laut sudah tidak terasa dan pepohonan dikanan kiri jalan menjadi lebih rindang. Sedang lalu lintas bukan main ramainya. Sehingga sulit kami berlari dibagian aspalnya.

Untuk makan siang hari ini, kami memutuskan ke sebuah rumah makan Padang. Sudah sejak berlari kami tidak masuk RM Padang. Mak Del yang asli Minang kami tugasi untuk berbicara dalam bahasa Minang kepada pemiliknya. Dan rupanya terjadi komunikasi yang fasih. Cukup ini kami anggap sudah akan menggaransi rasa masakannya.

Jam 14:00 kami sudah tiba di Jatiwangi. Daerah ini terkenal karena produksi gentengnya. Penjual genteng berderet di kanan kirinya. Karena masih ada waktu, kami memutuskan menambah berlari sampai Kadipaten. Dengan demikian besoknya akan mengurangi jarak berlari ke Sumedang menjadi lebih dekat.

Lagi-lagi setelah finish, hujan sore turun dengan lebatnya. Sangat terasa sudah datang musim hujan.

#stopnarkoba #cegahnarkoba

Gatot Sudariyono

Senin, 24 Desember 2018.

 

Hari ke duapuluhtiga,

Halaman DPRD Kota Tegal – Brebes – Cirebon

Start hari ini, diselenggarakan di taman di depan DPRD Kota Tegal. Bendera start dikibarkan jam 05:00 oleh Bapak Kepala BNN Tegal. Tetapi yang menarik Bapak Kepala BNN rupanya turut berlari bersama kami juga selama lebih dari satu setengah jam dengan pace yang cukup tinggi. Rupanya masih ada sisa-sisa saat mudanya sebagai runner.

Di perbatasan Kabupaten Brebes, setelah berlari 8km, telah menunggu kami Bapak Wakil Bupati dan jajarannya.

Menarik sekali acara pagi ini bersama Bapak Wakil Bupati. Kami mendapat kain batik Brebes, yang dibatik dengan seruan anti narkoba dalam 4 bahasa, yaitu: bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa Indonesia dan bahasa Brebes sendiri.

Belum lagi seorang Ustadz yang menghadiahi kami dengan buku kumpulan syair yang dikarangnya. Salah satu-nya syair Anti Narkoba. Dan bersama-sama kami melantunkan syair Anti Narkoba yang ditulis dalam bahasa Brebes. Sang Ustadz mengatakan kepada kami bahwa syair ini yang sering dilantunkan saat dia memimpin pengajian di berbagai kesempatan di Kabupaten Brebes.

Bapak Wakil Bupati, menyampaikan tekad yang besar dan menggunakan berbagai sarana dan saluran untuk mengingatkan masyarakat Brebes akan bahaya penyalahgunaan narkoba. Sungguh upaya yang sangat mengedepankan kearifan lokal.

Sesudah itu Bapak Wakil Bupati mengibarkan bendera start untuk kami berlari lagi. Kali ini berlari melintasi Kota Brebes dan akhirnya mengarah ke perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Pantura sejak jam 08:00 menampakan matahari dan langit yang bersih tanpa awan. Membuat berlari menjadi lambat, bahkan untuk saya sudah sepenuhnya berjalan cepat. Energi dan otot tiba-tiba serasa “kempes” terkena terik matahari. Sementara rekan-rekan saya seperti tanpa masalah.

Berlari menuju perbatasan kabupaten Brebes dan kabupaten Cirebon, lima pengemudi ojek online mengawal kami. Mereka rupanya bagian dari berbagai komunitas di Brebes yang menyatakan anti Narkoba. Sungguh terasa nyaman berlari dengan kawalan mereka.

Begitu tampak gapura perbatasan di sebelum dan sesudah sungai Cisangarung, saya berfoto selfie sejenak. Saat itu jam menunjukan jam 13:30.

Sedikit flash back, membayangkan kami memasuki Jawa Tengah dari Cemoro Sewu Tawangmangu di kaki Gunung Lawu dengan hujan lebat serta udara dingin sekali dan sekarang meninggalkan Jawa Tengah di barat Kabupaten Brebes dengan udara panas terik.

Kami sudah melintas secara diagonal selama 8 hari.

Selamat jalan Jawa Tengah dan Selamat Datang Jawa Barat.

Dan saat memasuki bagian Kabupaten Cirebon, melintas di benak saya berbagai kenangan indah sepanjang berlari di Bali, Jawa Timur, DIY, dan Jawa Tengah.

Sejak start tadi pagi, kami telah berlari sekitar 40km, dan menambah lagi 10km berlari, kemudian memutuskan berhenti berlari untuk hari ini di tanda pal batu 20km sebelum Kota Cirebon.

Jam menunjukan jam 16:00, tiba-tiba udara berubah berawan hitam tanda mau turun hujan. Kami segera naik kendaraan dan menuju Kota Cirebon dengan diakhiri di salah satu restaurant empal gentong. Dan saat empal gentong sedang kami nikmati, hujan sore yang deras mengguyur kota Cirebon. Bersyukur sekali  akhir hari ini tanpa mesti basah kuyup.

#stopnarkoba #cegahnarkoba

Gatot Sudariyono

Minggu, 23 Desember 2018.

 

Hari ke duapuluhsatu,

Kantor Polsek Gringsing di Batang – Alun Alun Kota Batang

Mendengar nama Alas Roban, kenangan saya kembali ke masa SD dulu di Malang. Guru kelas 4 saya, saat pelajaran Ilmu Bumi Pulau Jawa, bercerita tentang beberapa hutan (alas – bahasa Jawa-nya), yang terkenal sangat wingit, jalmo moro jalmo mati, sato moro sato mati serta gung liwang liwung.

Kalau boleh diringkas mungkin artinya sangat menyeramkan. Saya tidak tahu kenapa disebut begitu oleh guru saya, 50 tahun yang lalu.

Beberapa disebut yang saya ingat, antara lain: Alas Purwo dan Alas Baluran di Banyuwangi, Alas Saradan di Kabupaten Ngawi, dan Alas Roban di Kabupaten Batang. Saya sudah melalui Alas Baluran di hari ke empat perlarian kami.

Lintasan berlari hari ini adalah kawasan Alas Roban. Tetapi saya dan teman-teman tentu saja lebih menghitung berapa banyak tanjakan dan turunannya saja. Bukan bagian wingitnya. .

Karenanya selesai dari finish di Gringsing kemarin sore, mumpung masih terang, kami dengan mobil berniat survey dulu kearah Batang. Padahal penginapan sudah kami pesan di Kota Kendal, 20 km sebelum Gringsing. Yang terjadi rupanya ada kemacetan lalu lintas sepanjang hampir 10 km kearah kembali ke Kendal karena proyek perbaikan jalan. Dan kalau kami paksakan kembali ke timur, kami akan mengalami beberapa jam bermacet ria. Karenanya kami memutuskan menginap di Kota Batang. Ditambah informasi bahwa jalan tol Trans Jawa bagian Pemalang – Batang – Waleri – Semarang sudah diresmikan tadi sore akan dibebaskan untuk umum, maka sekaligus kami ingin mencobanya pagi ini.

Tepat jam 06:00 rupanya dibuka gratis diujicobakan untuk umum. Kami masuk Pintu Toll Batang dan keluar di Pintu Toll Waleri, persis setelah jembatan merah Kali Kutho. Dan hanya perlu waktu 30 menit saja. Kemarin melihat dari jauh diresmikan Presiden. Pagi ini bisa mencobanya melewati bagian bawah lengkungannya yang ikonik. Rejeki pertama kami hari ini yang luar biasa . . .

Jam 07:00 di Kantor Polsek Gringsing, Ibu Kepala BNN Kab Kendal dan jajarannya mengibarkan bendera start untuk kami memulai berlari. Sekaligus harus berpisah setelah baru kemarin siang kami berkenalan.

Lintasan Alas Roban kami lalui dengan “gembira”, karena sudah kami survey kemarin sore, dan juga langit masih mendung tanpa hujan dan tanpa matahari. Rejeki hari ke dua yang luar biasa. Berlari di Pantura lagi tanpa kepanasan.

Sebelum sembahyang Jumat kami sudah menempuh 34 km an. Sesudah sembahyang Jumat menempuh tambahan 8km dan kami tiba di Alun-alun Kota Batang. Bapak Kepala BNN Kabupaten Batang dan jajarannya sudah menyambut.

Kami bersama ke kantor BNN Kabupaten Batang. Sudah menyambut juga disana komunitas pelari Batang dan Pekalongan.  Komunitas ini adalah sahabat nya Mas Amin. Mereka akan menemani berlari lagi ke Alun-alun Kota Pekalongan dan finish di Museum Batik Pekalongan. Jaraknya sekitar 5km. Mas Cokro, Mas Amin dan Mak Del didaulat untuk berlari bersama.

Saya mendapat discount berlari dengan naik mobil karena harus tiba terlebih dahulu di tempat finish. Salah satu tugasnya adalah menyambut para pelari. Pelari menyambut pelari.

Sudah menunggu di Museum Batik,  Kepala Dinas Pariwisata, Kepala BNN Kab Batang dan SekJen PP FKPPI beserta Pengurus PC FKPPI (Pengurus Cabang Forum Komunikasi Putra Putri Purnawairawan dan Putra Putri TNI dan Polri) Kota Pekalongan. Mbak Anna Sentot dan Mbak Yayak Tarigan hari ini khusus datang dari Jakarta pagi ini untuk mendukung team pelari B3 N (Berlari, Bersatu, Berantas Narkoba) GWK – GBK untuk memberi dukungan moril kepada kami. Di FKPPI saya sendiri adalah anggauta.  Jelas sangat menambah kepercayaan diri kami menapaki sisa 9 hari mendatang.

Berbincang-bincang di Museum Batik dari semua yang hadir sangat mengesankan kami. Jangan-jangan diperlukan ada event kolaborasi berlari dan kampanye batik Pekalongan.

Sesudahnya sesi foto bersama merupakan bagian terbaik dari semua event perlarian. Karena bagi kami para pelari, yang paling penting dan indah adalah sesi foto. Sementara berlarinya sendiri seringnya menjadi bagian yang paling menderita.

Selesai kami berlari hari ini. Di kota Pekalongan – kota Batik. Tidak sempat waktu kami menikmati dengan leluasa. Pada waktu mendatang khusus Pekalongan, saya ingin datang lagi.

#stopnarkoba #cegahnarkoba

Gatot Sudariyono

Jumat, 21 Desember 2018.

 

Hari keduapuluh,

Kantor BNN Provinsi Jateng di Semarang – Kantor Polsek Gringsing di Batang

Hari-hari kami berlari sudah menginjak angka dua pada digit pertamanya. Artinya dua pertiga waktu perlarian sudah kami selesaikan.

Start pukul 05:15 di halaman kantor BNN Provinsi Jateng, dengan bendera dikibarkan Bapak Kepala BNN Prov Jateng sendiri. Tujuh pelari dari Semarang Runners bergabung, 1 orang sampai Kendal, lima orang sampai Gringsing dan 1 orang akan turut sampai Pekalongan alias dua hari.

Saat start pagi masih cerah dan kami sudah siap membayangkan panasnya Pantura Jawa Tengah. Tetapi tidak disangka-sangka, baru berlari 10 menit, hujan pagi deras sekali berlangsung setengah jam. Kami memutuskan meneruskan berlari. Alhasil basah kuyup juga dibuatnya.

Arah keluar kota Semarang saat reda, kami disambut pemandangan karyawan masuk kerja dengan naik motor di kawasan industri Semarang Barat sampai Kendal yang luar biasa banyaknya. Sepertinya mempunyai motor wajib hukumnya.

Berlari hari ini sangat luar biasa. Sepanjang hari mendung, tidak muncul matahari dan tidak turun hujan lagi. Salah satu teman berkomentar, seperti rejeki baik yang diterima pelari baik.

Sampai kami di perbatasan Kabupaten Kendal sudah disambut Ibu Kepala BNN Kab Kendal dan jajarannya dan kami bersama-sama berlari sampai alun-alun Kendal.

Selanjutnya kami dikawal sampai masuk Gringsing di Kabupaten Batang.

Saat menentukan titik finish hari ini di Google Maps, pertimbangannya hanya masalah jarak 50-an km dari Semarang. Ternyata tepat di Gringsing adalah pintu keluar masuk toll untuk Kab Kendal dan pemandangan megah dan indah Jembatan Kali Kutho.

Dan sore tadi, saat kami finish di sana, dari kejauhan tampak persiapan peresmian oleh Presiden Jokowi. Dari berita malam ini, kami mengetahui bahwa upacara peresmian dititik Jembatan Kali Kotho, menandai tersambungnya Trans Jawa dari Merak di Banten sampai Grati Pasuruan di Jawa Timur. Benar-benar kebetulan yang membuat kami semua turut bahagia menyaksikan momen bersejarah ini dari kejauhan di jalan nasional pantura.

Hanya saja ada satu pertanyaan yang muncul dikepala saya, sbb: “Kalau hari ini jalan toll Trans Jawa tersambung sampai Banyuwangi dan diteruskan Toll Utara – Selatan Pulau Bali; Apakah kelak masih ada orang atau pelari yang akan berlari GWK – GBK lagi?”. Padahal naik kendaraan di jalan toll dijamin lebih nyaman khan? Saya masih berharap masih ada orang lain yang akan melakukannya. Entah oleh siapa, kapan serta untuk alasan yang berbeda.

Saatnya kami mengantar teman-teman pelari Semarang Runners kami yang ikut sampai finish di Gringsing ke terminal bis. Kami berkenalan pagi – bersama berlari – makan debu jalanan yang sama – dan sore harinya kami berpisah lagi.

Dan peresmian oleh Bapak Presiden, tersambungnya Trans Jawa di Jembatan Kali Kutho tadi sore mengakhiri per-lari-an kami hari ke-dua puluh.

#stopnarkoba #cegahnarkoba

Gatot Sudariyono

Kamis, 20 Desember 2018.

 

Hari kesembilan belas,

Kantor Polsek Bawen – Tugu Muda Semarang

Seperti yang sudah saya sampaikan dalam catatan kemarin, saat sore kami finish di kantor Polsek Secang Magelang. Dari berbagai masukan sahabat Magelang Runners dan juga dua Ibu Kepala BNN Magelang dan Temangung, tampaknya jalan raya Secang – Pring Surat sampai Ambarawa, tidak direkmomendasikan untuk jalur berlari. Selain turun naik yang banyak, berliku-liku, kendaraan berat dan bus cenderung ngebut semua, dan yang paling parah tidak selalu ada ruangan di sisi kiri jalan untuk berlari. Jadi diputuskan kami mendapat “discount” lintasan dan start dilakukan di kantor Polsek Bawen di Kabupaten Semarang. Dan yang luarbiasa Ibu Kepala BNN Temanggung sendiri yang akan mengibarkan bendera startnya. Karena itu disepakati start jam 06:00 pagi. Satu-satu start kami di luar jam 05:00. Jadi ada juga discount waktu start.

Pada saat kami diantar dari penginapan kami di Magelang ke Bawen, melewati jalan yang di discount diatas, semua kondisi yang digambarkan diatas, benar adanya. Tidak ada kata lain selain terima kasih atas masukannya. Benar-benar “brutal” lintasannya. Padahal pemandangan ke arah kanan jalan luar biasa indahnya. Tampak puncak Merapi, Merbabu, Telomoyo dan Andong berjajar gagah sekali. Sinar mentari merah semburat terbit di sela-sela puncak tadi.

Berlari dari Bawen ke Tugu Muda, relatif lancar. Tetapi lalu lintas tidak berbeda dengan setiap pagi hari kerja dari arah luar Jakarta menuju Jakarta. Ratusan mobil dan motor mengalir seperti air. Entah karena akan berkantor ke Semarang atau bekerja di pabrik-pabrik di sekitar Ungaran. Pemandangan yang luar biasa sibuknya.

Pukul 12:00, Mas Amin, Mak Del dan Mas Cokro sudah tiba di Tugu Muda, dan saya menyusul satu jam berikutnya. Jalanan yang banyak turunan di Kota Semarang tidak mudah juga untuk dipakai berlari. Lintasan dari Bukit Gombel sampai bagian bawah bahkan tidak ada ruangan sisa di kirinya. Tetapi kebawahnya pemandangan kota Semarang dan terlihat di kejauhan laut Jawa, benar-benar hadiah luar biasa buat saya. Pagi hari menikmati pemandangan 4 gunung di kanan jalan dan 1 gunung kearah Bandungan di kiri jalan. Sementara siangnya pemandangan pantai.

Finish di Tugu Muda berfoto dengan latar belakang Gedung Lawang Sewu dan Kantor PemKot Semarang bersama jajaran BNN Provinsi Jateng adalah protokol wajib sifatnya. Demi untuk disampaikan segera ke Medsos kami masing2.

Diundang ke Kantor BNN Prov Jateng

Selanjutnya kami mendapat undangan ke Kantor BNN Provinsi Jateng di Jalan Madukoro Raya di daerah dekat Airport. Bertemu langsung dengan Kepala BNN Provinsi dan jajaran lengkap, lagi-lagi kami berbagi pengalaman dengan akrab dan menyenangkan.

Dengan jarak yang sudah didiscount serta finish lebih awal, maka memiliki waktu yang relatif cukup panjang untuk istirahat. Masih ada lintasan Pantai Utara Jawa Tengah dari Semarang sampai Cirebon yang harus kami “nikmati” dalam 4 hari mendatang.

Dan pertemuan tadi siang mengakhiri per-lari-an kami hari ke-sembilan belas.

#stopnarkoba #cegahnarkoba

Gatot Sudariyono

Rabu, 19 Desember 2018.

 

Hari kedelapan belas,

Monumen Serangan Umum Titik 0 Jogyakarta – Magelang – Kantor Polsek Secang

Saat merencanakan berlari untuk Jogyakarta – Semarang saya agak sedikit sulit. Kalau ditentukan Jogya – Magelang maka jaraknya “terlalu” pendek, nantinya etape Magelang – Semarang jaraknya jadi jauh. Tetapi untuk dibuat tiga hari jadi terlalu lama. Karenanya muncul Secang sebagai tempat finish hari ini. Dan sebagai penanda yang mudah di Google Maps, saya berasumsi adalah Kantor Polsek Secang.

Start di Jogya kami lakukan dari Monumen Serangan Umum 1 Maret di Malioboro. Dikenal juga sebagai Titik Nol. Pagi itu jam 05:00, yang mengibarkan bendera start adalah Kepala BNN Prov DIY dan Ibu Yayuk dari Kemensos RI. Sekitar 10 pelari Jogya mendampingi sampai perbatasan DIY dan Kabupaten Magelang. Salah satunya adalah Mas Maryanto Satria Nusantra dan Mas Maryadhi adiknya. Kedua pelari ini sudah beberapa kali berlari bersama-sama kami di berbagai event lari jauh. Jadi kami seperti reuni saja pagi ini.

Belum lagi hadir di tempat start hadir dua kawan lama kuliah satu angkatan di ITB dahulu Mas Bambang dan Mas Erlangga. Sudah 30 tahunan kami tidak bertemu. Dan pagi itu kami hanya berbincang sebentar saja. Banyak yang ingin kami bincangkan dalam waktu pendek tadi tetapi bahasa batin lebih menyelesaikan komunikasi kami pagi tadi.

Berlari pagi hari di kota Jogya menuju perbatasan rupanya lalu lintas sudah ramai. Mobil dan motor tidak ada yang kecepatan rendah. Jogya terasa seperti di Jakarta. Warganya sudah bergegas sejak pagi hari.

Saat berlari, dari jauh pemandangan Gunung Merapi tanpa kabut. Pemandangan bintang lima, kata teman saya. Mirip kemarin pagi dari Solo menuju Jogya, kami melihat utuh kedepan Gunung Merapi dan Merbabu, dan kalau menengok kebelakang terlihat cantik Gunung Lawu.

Berhenti di perbatasan DIY – Kabupaten Magelang, kami semua menyempatkan sarapan. Sedikit “upacara” serah terima atlit dari BNN DIY ke BNN Kab Magelang. Dan tentu saja perpisahan dengan Mas Maryanto cs yang akan kembali ke Jogya.

Menuju kota Magelang jalanan turun naik. Matahari merayap tinggi dan panas. Mas Amin dan Mas Cokro sudah melesat penuh sampai Alun-alun Magelang. Saya dan Mak Del berlari dan berjalan lambat.

Melintas jalanan dari Sleman sampai Muntilan, saya mengingat 3 event lari yang pernah alami di jalan, yaitu: Sleman Merapi 100K (2016), Borobudur 120K (2016), RTC 150K (2018) dan yang sedang kami laksanakan hari ini GWK – GBK.

Kami berempat bertemu lagi  di Alun-Alun Kota Magelang,  hadir juga beberapa pelari Magelang Runners makan siang bersama. Sesudahnya segera kami menempuh jarak 10km lagi menuju Secang.

Kota Magelang sempat diguyur hujan lebat saat kami menuju Secang. Beruntung kami tidak sempat kehujanan.

Di Kantor Polsek Secang sudah menunggu Ibu Kepala BNN Kab Magelang dan Ibu Kepala BNN Kab Temanggung dan juga Kapolsek Secang dan jajarannya. Kedua Ibu Kepala BNN rupanya baru selesai pertemuan dua hari anev di Semarang. Senang sekali kami berbincang-bincang dalam suasana yang sangat akrab dan terbuka dan tentu saja tidak kami duga sebelumnya. . Semua terjadi hanya karena Google Maps.

Dan pertemuan tadi mengakhiri per-lari-an kami hari ke-delapan belas kami dengan selamat.

#stopnarkoba #cegahnarkoba

Gatot Sudariyono

Selasa, 18 Desember 2018.

 

Hari ketujuh belas,

Balaikota Solo – Candi Prambanan – Kantor Dinas Sosial Provinsi DIY

Kembali lagi pagi ini kami berkumpul di Balaikota Surakarta jam 04:45. Kepala BNN Surakarta sudah bersiap pagi ini. Teman-teman relawan BNN juga sudah bersiap disana.  Mas Nurjaman, sahabat pelari kami dari Solo, menyatakan akan ikut berlari sampai JogJa.Dia spesial cuti hari ini untuk bergabung bersama kami.

Setelah dikibarkan bendera start jam 05:00, masing-masing kami melesat berlari. Saya berlari paling belakang bersama para relawan BNN dan Mas Akbar dari Alumni ITB 82 yang berdomisili di Solo. Selama dua jam berlari dan sesudahnya kami berpisah.

Berlari kearah JogJa cukup sejuk, walaupun lalu lintas cukup ramai. Jalanan empat jalur menuju Kota Klaten dan terus sampai Prambanan.

Tampaknya 5 kawan pelari (Mas Amin, Mak Del, Mas Cokro, Mas Nurjaman, dan Bayu – pelari muda yang dititipkan dari Kediri) terus melaju tanpa istirahat dan finish di depan Candi Prambanan lebih awal dari dugaan saya. Jam 13:00 sdh tiba disana. Kami mendapat pengawalan dari PJR Polres Klaten. Dan lagi-lagi saya tertinggal satu jam dibelakang.

Di depan kawasan Candi Prambanan kami sudah disambut staf BNN Provinsi DIY. Kami memutuskan makan siang dan finish disini serta menuju ke hotel terlebih dahulu.

Jam 16:00, kami hadir di acara yang diselenggarakan oleh Kepala Kantor Dinas Sosial DIY dihadiri Kepala BNN Prov DIY dan Direktur Rehab Napza Kemensos RI.

Bapak Kusumo, Direktur Rehab Napza, ini juga yang melepas kami di GWK Bali. Betapa antusias kami bertemu lagi dan sepertinya melihat saya cukup detail untuk memastikan apakah saya masih cukup kuat untuk melanjutkan ke Jakarta.

Acara dihadiri seratus-an relawan IPWL dan Pekerja Sosial DIY, dihibur oleh Kelompok Pemusik King Cobra berlangsung meriah.

Disampaikan dalam sambutannya Kepala BNN situasi perang terhadap Narkoba di DIY. Didalam survey tahunannya, narkoba yang dua tahun lalu masih menyasar kelompok pekerja swasta dan juga pegawai negeri, hari ini rupanya sudah marak menyasar pelajar dan mahasiswa. Kampanye pencegahan serta upaya memutus rantai peredaran menjadi prioritas utamanya. Yang paling banyak dan tentu saja paling berbahaya adalah yang pertama kali mencoba-coba.

Tetapi optimisme terpancar dari ketiga pimpinan diatas karena mengetahui benar situasi Jogyakarta dan upaya pencegahannya.

Selesai juga berlari hari ke-tujuh belas kami berlari dengan selamat.

#stopnarkoba #cegahnarkoba

Gatot Sudariyono

Senin, 17 Desember 2018.

 

Hari keenam belas,

“Bengawan Solo.

Riwayatmu ini.

Sedari dulu jadi

Perhatian insani. . “

(Gesang)

Kantor Kecamatan Tawangmangu – Astana Giribangun – Balaikota Solo

Pagi jam 04:45 di Tawangmangu masih dingin. Hujan deras semalam membuat suasana sangat segar. Puncak Lawu tampak penuh dilapis sedikit kabut.

Tetapi di Minggu pagi inj semua BNN Kota Surakarta, Bapak Camat, dan Muspika (Dan Ramil dan Kapolsek), serta Dispora dari Kabupaten Karanganyar serta Dan Ramil Matesih dimana Astana Giribangun berlokasi juga sudah hadir. Semua berpakaian seragam dinasnya masing-masing. Beberapa sahabat dari Komunitas Sikso Rogo Runners dari Solo juga sudah hadir siap menemani berlari ke Surakarta.

Suguhan Bapak Camat di pendopo menemani kita ngobrol sebelum saat start. Sungguh keakraban dan kerjasama dari semua pihak yang luar biasa yang saya rasakan pagi.

Empat bendera start dikibarkan oleh Bapak Kepala BNN Surakarta, Bapak Camat, Bapak Dan Ramil dan Bapak Kapolses. Selesai doa Bapak Camat dan hitung mundur, kami memulai lari hari ini.

Dalam waktu dua jam, dengan jalanan sepenuhnya turunan, kami tiba di Astana Giribangun, makam Bapak Suharto. Selama berlari dua jam saya ditemani Mas Imoeng dari Komunitas Sikso Rogo yang sudah “lulus” individu ITB UM 179K bulan Oktober lalu. Jelas bukan pelari pemula. Dan gilirannya saya yang kececeran karena masih tersisa pegal karena tanjakan Sarangan – Cemoro Sewu kemarin.

Selanjutnya  kami berziarah. Selama kami di cungkup makam, hujan pagi turun lagi dengan deras selama setengah jam. Tetapi kami tidak sempat kehujanan.

Bapak Suharto pada saat menjabat sebagai Presiden mendapat gelar Bapak Pembagunan. Pembangunan dengan azas tri-loginya, dilaksanakan dengan sistem politik yang berbeda sama sekali dengan yang dimiliki Indonesia hari ini. Sedikti terbayang bagaimana para produsen dan pengedar narkoba yang jelas mengganggu pembangunan akan ditangani dijaman Pak Harto.

Dengan selesai ber-ziarah Bapak Suharto, kami sudah berziarah di tiga makam Presiden RI sebagai bagian perlarian GWK – GBK kami.

Mengingat sedang di Surakarta, dan senyampang akan datang tahun 2020 dimana Indonesia “baru” akan menginjak usia 75 tahun, saya teringat sebuah pepatah Jawa, yang mengatakan: mikul dhuwur mendhem jero. Kepada semua  pendiri bangsa, dan para pemimpin yang telah mendahului kita, kita harus kenang kebaikan utama dari mereka dalam konteks tantangan zamannya masing-masing.

Untuk itu teringat saya suatu saat ucapan Bapak Jusuf Kalla, sbb: Semua masa ada pemimpinnya. Semua pemimpin ada masa-nya.

Ah, lega rasanya perlarian GWK – GBK kami mendapat makna tambahan.

Selanjutnya berlari kearah Solo dengan hujan sudah reda terasa nyaman. Melalui jalan ternatif menuju Karanganyar pemandangan indah dikanan kiri desa-desa dan persawahan.

Tidak lama kemudian kami sudah tiba di Jembatan Bengawan Solo yang besar. Tanda kami sudah masuk Kota Surakarta. Terngiang ditelinga lagu keroncong abadi ciptaan almarhum Gesang.

Tiba di Balaikota saya lagi-lagi menjadi pelari terakhir. Sudah menunggu sepuluh anggauta Solo Runners yang menjemput tiga teman kami terdahulu dari Jembatan Bengawan Solo. Disamping itu Ormas Granat dan jajarannya hadir disana. Dan segera kami berbincang-bincang dengan dipimpin Bapak Kepala BNN Surakarta. Tampak wajah seluruh jajaran BNN yang lega, mengingat mereka sudah hadir bersama kami dari sejak kemarin di Tawangmangu. Dan dua hari ini adalah weekend yang seharusnya diluangkan bersama keluarga.

Selesai juga berlari hari ke-lenam belas kami berlari dengan selamat.

#stopnarkoba #cegahnarkoba

Gatot Sudariyono

Minggu, 16 Desember 2018.

 

Hari kelima belas,

Alun Alun Madiun – Cemoro Sewu

Perlarian hari ini sangat istimewa. Hari ini setengah dari waktu perjalanan GWK -GBK berhasil terlampaui serta mengkahiri Provinsi Jawa Timur.

Selain itu kami mengalami beberapa keistimewaan lainnya, yaitu:

Kami harus melewati tanjakan super sejak meninggalkan Magetan. Sebenarnya ada dua alternatif menuju Cemoro Sewu dari Magetan, yaitu jalur lama yang pendek tetapi menanjak. Dan jalur baru yang landai tetapi memutar jauh. Kami memilih berlari di jalur lama. Dan membuat perlarian (tepatnya berjalan) menjadi sangat menantang. Menguji betis, paha, lutut, dan pinggang. Karenanya sedikit sekali kesempatan untuk berfoto dan melihat pemandangan indah kearah belakang. Dan saya pribadi tidak menyarankan jalur ini untuk pelari pemula.

Sebelumnya, saat kami selesai  menempuh jarak Madiun – Magetan, tiba di Kota Magetan sedang berlangsung parade dan festival drum band. 40-an drumband dari madarasah se-kabupaten berdefile dari Stadion Magetan ke arah Alun-alun Magetan. Sungguh meriah menyaksikan anak-anak kecil dengan aneka warna bajunya dan aneka pilihan lagu yang dimainkan pasukan simbal masing-masing kelompok.

Mendekati Pendopo Kabupaten, jam 09:00, kami diarahkan staf Kabupaten untuk masuk. Dan sungguh kejutan tersendiri, Bupati Magetan mengundang kami dan komunitas pelari dari Madiun dan Magetan makan pagi bersama. Selesai satu jam makan pagi dan ramah tamah, diakhiri dengan pesan beliau untuk kami pelari dan berfoto bersama serta melepas kami.

Mendekati Cemoro Sewu, udara berkabut tebal, dan tiba-tiba hujan turun deras sekali di kawasan Gunung Lawu. Saya segera mencari tempat berteduh berupa bekas warung kosong yang tidak terpakai. Hujan berlangsung setengah jam membuat badan menggigil kedinginan dan harus berdiri. Setelah penuh 14 hari selalu dengan hari yang panas dan terik. Hari ini kami harus basah kuyup kedinginan.

Selesai hujan, saya meneruskan lari hingga Cemoro Sewu – tepat di gerbang perbatasan Jawa Tengah Jawa Timur. Disini banyak warung yang buka. Segera saya meminta kepada mobil ambulance yang mengirinhi untuk berbalik dan menjemput semua teman-teman pelari Magetan yang tercecer dibelakang dan mengangkut berkumpul. Setelah semua pelari berkumpul dan segera memesan masing-masing makan hangatnya. Selesai makan, kami berpisah dengan semua sahabat baru dari Magetan yang tidak terlalu menggigil lagi. Raut muka mereka lega semua, walaupun belum merasa puas berlari bersama kami.

Sore itu kami memutuskan finish disini. Karena sudah menunggu di Tawangmangu, Kepala BNN Kota Solo dan stafnya serta Muspika Kecamatan Tawangmangu, yaitu Camat, Dan Ramil serta Kapolsek. Pembicaraan kami berkisar antara pengalaman berlari hingga survive 15 hari dan tantangan tanjakan Magetan – Sarangan – Cemoro Sewu. Serta ucapan selamat datang di Provinsi Jawa Tengah.

Sungguh istimewa hari kelima belas. Setelah tadi pagi kami Start dari Alun Alun Madiun jam 05:00 tanpa membayangkan berbagai kejutan istimewa yang akan kami alami seharian.

Selesai juga berlari hari ke-lima belas kami berlari dengan selamat. Mohon doa untuk setengah waktu berikutnya.

#stopnarkoba #cegahnarkoba

Gatot Sudariyono

Sabtu, 15 Desember 2018.

 

Hari keempat belas,

Alun-alun Nganjuk – Alun-alun Madiun

Bertemu lagi hari Jumat. Hal tersebut mengingatkan kami bahwa hari ini sudah dua minggu kami berlari. Dan sejak hari ini Mas Amin bergabung berlari dari Nganjuk. Maka lengkap team kami lengkap empat orang.

Start kami pagi hari ini dilepas oleh Bapak Kepala BNN Kabupaten Nganjuk sendiri di alun-alun Nganjuk. Bersama kami berlari juga 15 pelari dari Nganjuk Runners sampai dengan Wilangan, daerah perbatasan Kabupaten Nganjuk dan Madiun. Di Wilangan ini juga ada pintu toll. Sementara kami bertemu satu pintu toll lagi menjelang masuk Kota Madiun.

Di perbatasan ini menjemput kami Mas Fataha dan Mas Bima dari Madiun Runners. Berikutnya bergabung lagi dua rekan pelari dari Caruban Runners. Selain itu lalu lintas tidak terlalu ramai, kemungkinan karena sdh terdistribusi dengan jalan toll yang baru diresmikan.

Menuju Madiun kami melewati Caruban, Ibu Kota Kabupaten Madiun.

Udara kembali sejuk dan langit berawan tebal, setelah kami selesai Sembahyang Jumat dan makan siang di Caruban.

Berlari ke arah Madiun terasa nyaman. Kanan kiri sawah memasuki musim tanam.

Di perbatasan Kota Madiun beberapa pelari Kota Madiun menjemput dan kami berlari hingga Alun-Alun Kota Madiun. Jam 16:00 kami akhirnya tiba di alun alun. Setelah kami berfoto bersama akhirnya turun gerimis kecil. Lega rasanya tidak perlu kehujanan saat berlari.

Selesai istirahat di penginapan. Sore itu kami akhiri bersama-sama makan malam pecel Madiun yang sudah kami bayangkan dari paginya.

Selesai juga berlari hari ke-empat belas kami berlari dengan selamat.

#stopnarkoba #cegahnarkoba

Gatot Sudariyono

Jumat, 14 Desember 2018.

 

Hari ketiga belas,

Alun Alun Tulung Agung – Alun Alun Nganjuk

Hari ini kami menginjak hari ke tiga belas. Tiga belas bukan angka yang ada pada kebanyakan lantai gedung tinggi dan angka di lift-nya. Tetapi ini cerita gedung tinggi di Barat sana. Bukan cerita hari-hari untuk kami berlari dari GWK dan GBK.

Start kami pagi hari ini dilepas oleh Bapak Kepala BNN Kabupaten Tulung Agung sendiri di alun-alun Tulung Agung. Seluruh staf dan lima belas TAG runners berlari bersama. Sejam kemudian kami berpisah dengan Bapak Kepala. Dan yang luar biasa selebihnya berlari terus sampai perbatasan Kabupaten Tulungagung dan Kediri. Semua rupanya berkepentingan hadir “menyerahkan” kami dengan selamat kepada BNN Kota Kediri.

Setelah 3 jam berlari, kani tiba di perbatasan. Yang mengharukan adalah puluhan pelari dari Kediri Runners sudah menunggu kami. Ada empat komunitas, yaitu: Trabas Trail Runners, Jums Jums Runners, Kediri Runners dan Winner Runners. Mereka hadir dengan seragamnya kebanggaannya masing-masing. Belum lagi seluruh staf BNN Kota Kediri dengan Bapak Kepala BNN Kota nya sendiri hadir.

Kami berlari memasuki kota Kediri dengan formasi berlari yang meriah. Dan sedikit terbesit pertanyaan, semuanya apakah ambil cuti pada hari Kamis ini? Atau ada pepatah yang diikuti mereka bahwa lari tidak boleh menggnggu pekerjaan.

Kami berlari sampai jam 10:30 di alun alun Kediri. Istirahat di Masjid Agung. Sebelum dilepas kembali oleh Kepala BNN Kota Kediri menuju Nganjuk.

Kami berpisah dengan seluruh runner Kediri di depan Taman Sekartaji didekatnya bangunan Gereja Merah-nya. Tetapi ada 6 pelari muda yang akan berlari bersama ke Nganjuk. Bahkan satu pelari muda bernama Bayu “dititipkan” kepada kami oleh komunitasnya untuk ikut berlari sampai Yogyakarta. Mereka berharap Bayu bisa belajar dari kami menjadi pelari seperti bis AKAP (Antar Kota Antar Propinsi).

Perkenalan dan perpisahan yang cepat tetapi ketulusan dan keramahan BNN Kota Kediri dan seluruh runners terasa membekas dalam. Seumur ini saya masih sentimentil rupanya.

Berlari menuju Nganjuk kembali ada prosesi serah terima dari kedua pimpinan BNN di perbatasan Kabupaten Kediri dan Nganjuk. Tidak terasa hari ini kami berlari melintasi 4 wilayah pemda tingkat 2, mulai dari Tulungagung, Kab Kediri, Kota Kediri, dan Kab Nganjuk.

Udara mendung tebal sejak jam 13:00, saya sudah khawatir akan segera turun hujan. Sudah dua belas hari berlari kami belum pernah kehujanan. Saya pikir di hari ketiga belas ini saatnya. Tetapi sampai kami tiba di alun-alun Nganjuk tidak turun juga hujannya. Jadinya kami berlari di cuaca yang tidak panas sama sekali. Syukur Alhamdullilah kami panjatkan.

Dan sejak itu mulai saya merasa ada keanehan. Setiap persimpangan jalan ada dua polisi bertugas. Kami yang tercecer dalam 3 kelompok lari masing-masing dikawal oleh satu PJR. Nah lho?? . . Saya kok merasakan seperti protokol VVIP yang mau lewat. Belakangan ternyata saya mendapat penjelasan bahwa kami mendapat penghormatan Polres Nganjuk. Wah?? Terima kasih sangat. .

Dan akhirnya tibalah kami di Alun Alun nganjuk jam 17:00. Setelah berfoto dan berpisah dengan pelari Kediri kami berkenalan dengan pelari dari Nganjuk yang akan menemani kami besok ke Madiun.

Diskusi di Kantor BNN Kab Nganjuk.

Selesai cepat di Alun Alun Nganjuk, kami ke kantor BNN Kab Nganjuk. Kami mendengarkan berbagai hal tentang profil dan berbagai pencapaian BNN Kab Nganjuk. Menambah informasi dan pemahaman saya tentang P4GN dan relevansinya dengan B3N. Bingung? P4GN – Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) nya BNN.  Berlari, Bersatu, Berantas Narkoba (B3N) tagline kami. Singkatan baru yang kami dapat hari ini.

Selesai juga berlari hari ke-tiga belas kami berlari dengan selamat.

#stopnarkoba #cegahnarkoba

Gatot Sudariyono

Kamis, 13 Desember 2018.

 

Hari kedua belas,

Kantor Walikota Blitar – Alun Alun Tulung Agung

Start kami pagi hari ini dilepas oleh Bapak Walikota Blitar

jam 05:00 di halaman Alun-alun Kota Blitar. Kepala BNN Kab Blitar dan jajarannya menemani kami berlari selama satu jam, sebelum kemudian berpisah. Sementara 5 orang pelari muda dari Komunitas Patria Runners Blitar menemani kami sampai Alun Alun Tulungagung. Mereka semua ternyata alumni penamat Full Marathon Borobudur Marathon, November kemarin.  Jadi semua larinya kencang sekali. Dua jam saya masih bisa bersama mereka. Sisa 3 jam berikutnya saya harus sudah berlari melambat.

Sebulan lalu Patria Runners mengirim 37 pelarinya mengikuti Borobudur Marathon di Magelang. Mereka menggunakan satu bis dari Blitar. Tahun depan mereka berencana mengirim peserta dua bis.

Terbayang oleh saya wisatawan domestik tumbuh masif karena event lari seperti Borobudur Maratahon. Event semacam ini tidak hanya menarik pelari dari Jakarta atau Magelang sekitarnya. Tapi sudah sampai pelari di kota Jawa Timur. Kalau setiap kota komunitas larinya seperti Blitar, maka sebuah fenomena positif atas masifnya sport tourism.

Lintasan menuju Tulungagung datar dan lurus. Pohon asem besar tumbuh rindang dikanan kirinya. Bahkan awan sering menutupi matahari pagi serta angin pagi sering bertiup. Belum lagi tiga kali kami berpapasan dengan rangkaian kereta api penumpang dari dan menuju Malang. Berlari pagi ini suasananya nyaman sekali. Sejak berbelok ke jalur selatan dari Surbaya, semuanya lebih “dingin” dibandingkan jalur pantura Banyuwangi – Surabaya. Jalanannya memang lebih kecil tetapi lalu lintas bukan kendaraan berat yang supirnya sering ugal-ugalan.

Diperbatasan Blitar dan Tulungagung, dilakukan “upacara” serah terima pelari dari BNN Kab Blitar ke BNN Kab Tulungagung. Upacara disini maksudnya foto-foto yang banyak didepan spanduk Selamat Datang yang disiapkan BNN Kab Tulungagung.

Terima kasih kepada semua sahabat BNN Kab Blitar. Sebentar bersama-sama dari kemarin sore dan pagi ini kami mempunyai kegiatan bersama yang indah.

Setelah beberapa kali beristirahat, akhirnya kami tiba bersama-sama finish di Alun Alun Tulungagung jam 11:00 pagi. Baru kali ini kami finish dibawah jam 12:00 siang. Sengaja jarak ini dirancang pendek agar istirahat cukup bagi kami.

Ditempat finish kami bertemu dengan dua puluh-an anggauta komunitas lari TAG Runners. TAG disini mungkin singkatan dari Tulungagung.

Sesudahnya kami semua bersama-sama kekantor BNN Kabupaten Tulungagung.

Dari sana sahabat runers Blitar ijin berpisah kembali ke Blitar diantar dengan kendaraan BNN Tulungagung. Senang hati saya melihat orang muda sehat dan hobi berlari.

Kami melanjutkan makan siang dan diskusi berbagai hal bersama Bapak Kepala BNN Kabupaten Tulungagung dan stafnya.

Kami mempunyai waktu istirahat yang cukup sore ini, kami masih akan menghabiskan 3 hari kedepan berlari di Jawa Timur. Dan sesudahnya kami akan memulai perlarian di Provinsi Jawa Tengah.

Selesai juga berlari hari ke-dua belas kami berlari dengan selamat.

#stopnarkoba #cegahnarkoba

Gatot Sudariyono

Rabu, 12 Desember 2018.

 

Hari kesebelas,

Alun-Alun Alun Pare – Candi Panataran – Makam Bung Karno – Kantor Walikota Blitar

Kami start hari ini jam 05:00 di Kantor Camat Pare. Ibu Dewi, kepala BNN Kab Kediri dan jajarannya beserta Ibu Camat Kecamatan Pare mengibarkan bendera start bersama.

Beberapa staf BNN menemani kami berlari sampai perbatasan Kediri – Blitar. Kami diantar dengan formasi penuh. Didepan mobil PJR dan dua motor besar. Dibelakang mobil BNN biru besar.

Pada jam 11:00 kami sudah tiba di titik perbatasan Kabupaten Blitar dan Tulung Agung. Terus disambut team BNN Kab Blitar serta didahului serah terima 3 “atlit” pelari Anti Narkoba. Itu istilah dari BNN. Kepala BNN Kab Blitar, Bapak Agus, menyambut sendiri kami di perbatasan.

Dari sana kami berlari non-stop sampai kawasan Candi Pentataran. Sebuah kompleks bangunan candi yang terbesar di Jawa Timur. Luar biasa sekali melihatnya. Dilanjutkan makan siang dan istirahat sebentar.

Lari selanjutnya adalah ke Makam Bung Karno. Tiba disana kami disambut 200-an pelari. 100 orang Patria Runner dan IndoRunner Blitar. 50 orang Babinsa se Kota Blitar serta staf BNN Kota dan Kabupaten Blitar. Mereka berbaris rapi dan membuat kejutan tersendiri bagi saya. Bagaimana tidak, rasanya tidak terbayang di hari kerja jam 15:00 sore, rekan-rekan komunitas lari menyempatkan diri hadir untuk kami. Segera sesak dada saya dan mbrebes mili mata saya merasakannya.

Setelah bersalaman sana sini, kami bertiga ber ziarah ke makam Bung Karno.

Dan dengan pengaturan yang sangat rapi. Seluruh pelari, berbanjar tiga-tiga kebelakang, mengikuti kami bertiga didepan. Dan bendera start dikibarkan lagi di Makam Bung Karno, untuk kami semua melanjutkan berlari ke Kantor Walikota Bogor.

Dikawal didepan oleh PJR diikuti mobil penerangan Pemda yang terus melakukan siaran menerangkan konvoi yang kami lakukan kepada masyarakat sepanjang jalan. Sesudah itu dibelakang baru para pelari. Dan terlahir diikuti oleh babinsa.

Jarak berlari 3 km ini, ratusan pelari berlari gagah memasuki kota Blitar. Begitu masuk jalan Merdeka sudah kosong alias disterilkan untuk kami. Baru kemudian berbelok masuk halaman Kantor Walikota Blitar.

Bapak Walikota menyambut sendiri kami. Dibuatkan upacara khusus dengan protokoler yang penuh. Hadir seluruh Forum Pimpinan Kota Blitar, antara lain Dandim, WakaPolres, Kejari, Ketua Umum Koni dan Ketua BNN Kab Blitar sendiri.

Pidato sambutan Bapak Walikota dengan suara bariton-nya sangat menggugah kami. Dibumi Bung Karno, begitu bahasa beliau menyebut Kota Blitar, harus bebas narkoba. Pemuda/pemudinya harus bercita-cita tinggi, berprestasi dan sekaligus menjauhkan diri dari narkoba. Kemandirian bangsa Indonesia dengan Trisakti yang dicanangkan Bung Karno tidak akan pernah tercapai, kalau pengedar narkoba merajalela, dan banyak pemuda harapan masa depan-nya menjadi korban narkoba.

Di makam Bung Karno, saya teringat juga kata-kata Bung Karno, sbb: “Berikan saya 1000 orang tua, saya akan pindahkan Gunung Semeru. Tetapi berikan saya 10 pemuda, akan saya guncangkan dunia”. Dan saya mohon ijin menambahkan bahwa 1000 orang tua dan 10 pemuda yang dimaksud Bung Karno pasti bukan yang terkena narkoba.

Sesudahnya adalah silaturahmi dan makan sore. Ratusan orang tumpah ruah menyerbu hidangan yang disediakan.

Tidak ada kata lain selain ucapan terima kasih, terima kasih, terima kasih. Dan lagi-lagi terbit titik airmata harus saya mengalami semuanya.

Bisa jadi saya tahan panas dan jauhnya lintasan tetapi dengan cepat saya terharu atas budi baik saya dapatkan 11 hari ini.

Semoga semua menjadi energi baik untuk sahabat dalam tugas dan aktivitas sehari-hari.

Selesai juga berlari hari ke-sebelas kami berlari dengan selamat.

#stopnarkoba #cegahnarkoba

Gatot Sudariyono

Selasa, 11 Desember 2018.

 

Hari kesepuluh,

Alun-Alun Mojokerto – Makam Gus Dur – Alun Alun Pare

Pagi itu di alun alun kota Mojokerto, telah menunggu Ibu AKBK Harsi, Kepala BNN Kota Mojokerto dan stafnya serta 10 orang sahabat Mojopahit Runners. Mereka rupanya mau menemani kami berlari selama dua jam. Didepan sudah siap mengantar satu mobil PJR. Dan dibelakang beberapa mobil BNN beserta mobil birunya. Begitu bendera start dikibarkan kami langsung beramai-ramai berlari kearah Jombang. Pemandangan yang indah sekali.

Jam 07:00 tepat kami berpisah di luar kota Mojokerto. Tidak ada kata lain kecuali terima kasih dan kenangan indah dari perkenalan yang singkat sejak finish kemarin sore dan diantarkan berlari pagi ini.

Secepatnya pagi itu kami berlari ke arah daerah makam Gus Dur. Jam 11:00 kami tiba disana. Dengan menggunakan kain sarung kami menuju kompleks makam. Siang itu banyak penziarah juga selain kami. dari masuk kota Jombang beberapa baliho besar dipasang yang menginformasikan ada acara besar tanggal 14-16 Desember berkaitan haul Gus Dur. Sayang kami cuma lebih awal seminggu.

Di nisan Gus Dur tertulis “Di sini berbaring seorang pejuang kemanusiaan”.

Dan saya meyakini perang terhadap narkoba serta rehab korbannya adalah pekerjaan kemanusiaan yang luar biasa berat dan besar skalanya yang harus dilakukan semua pihak. Andai Gus Dur masih hidup saya yakin almarhum akan marah dan geram dengan produsen dan  jaringan pengedarnya yang anti kemanusiaan.

Di kompleks makam rupanya kami disusul oleh tiga orang Jombang Runners, yang sengaja ingin bisa bertemu.

Dari makam kita lanjutkan ke rumah makan didekatnya untuk berdiskusi tentang perlarian dan komunitasnya di Jombang. Sayang sekali makan siang itu harus kami lakukan di dekat makam Gus Dur. Padahal jam 09:00, saya melintasi Warung Makan milik Tokoh Besar asal Jombang yaitu almarhum Asmuni. Disini saya hanya sempat befoto saja.

Generasi saya mengenang beberapa tokoh besar dari Jombang selain alm Gus Dur yaitu alm Nurcholis Madjid dan alm Asmuni.

Dari makam Gus Dur kami melanjutkan perlarian ke alun-alun Kecamatan Pare. Diperbatasan Jombang Kediri, kami sudah disambut oleh BNN Kabupaten Kediri dan bersama-sama berlari menuju alun-alun Pare dilanjutkan ke Pendopo Kecamatan Pare.

Sambutan di Pendopo Kecamatan Pare, Kediri.

Di Pendopo rupanya sudah menunggu 100 pelajar SMA dan SMK di Pare, 10 rekan mahasiwa/i dan 10 orang dari komunitas lari, Ibu AKBP Dewi, Kepala BNN Kab Kediri, Ibu Camat Pare, perwakilan dari Polres dan Koramil Pare.

Serasa selebritis ditunggu fansnya. Hilang seluruh lelah dan panas hari ini. Ibu Dewi dan Ibu Camat rupanya sudah bekerja keras menyelenggarakannya.

Mike segera diserahkan saya mewakili pelari. Saya diminta bercerita ide berlari GWK ke GBK untuk kampanye berantas narkoba.

Sahabat, saya harus akhiri ceritanya disini. Karena kalau saya sdh diberi mike, maka saya bisa panjang lebar ceritanya dan senyap audience mendengarnya.

Terima kasih Ibu Dewi dan Ibu Camat dan seluruh siswa/i serta mahasiwa/i yang hadir di Pendopo. Masing2 perwakilan mereka menyampaikan  no WA-nya. Dan tiba-tiba saya mempunyai ratusan calon pemirsa untuk berlari 20 hari berlari berikutnya. Terima kasih social media.

Selesai juga berlari hari ke-sepuluh kami berlari dengan selamat.

#stopnarkoba #cegahnarkoba

Gatot Sudariyono

Senin, 10 Desember 2018.

 

Hari kesembilan,

Kebun Binatang Surabaya – Alun-Alun Mojokerto

Mojokerto kota yang dikenal dekat lokasi Ibu Kota Mojopahit. Sore itu kami finish di Alun-Alun Mojokerto, dan saya membayangkan selayaknya saya berlari masih di jaman Majapahit. Karena disana telah menunggu lima belas sahabat komunitas Mojopahit Runners dan tentu saja Kepala BNN Mojopahit dan para stafnya.

Start di Kebun Binatang Surabaya, terasa sekali bangganya saya. Dilepas oleh Kepala BNN Surabaya, Dinsos Kota Surabaya, Direktorat Rehab Napza Kemensos RI, Ketua Ikatan Alumni ITB Jawa Timur, dan Prof Joni Hermana – Rektor ITS, daftar yang panjang.

Dan tentu saja perwakilan komunitas lari di Surabaya yang mendampingi kami berlari sampai Krian – Sidoharjo. Pelari kecil bernama Radith (9thn) benar-benar istimewa, dia bersama Mas Fauzi ayahnya yang anggota IndoRuners Gresik sudah dua kali menemani kami. Kemarin sore dari Carefour sampai Tugu Pahlawan dan sekarang dari KBS sampai Krian.

Yang luar biasa, Mas Bagus Nugroho, rekan saya satu Angkatan 1980, menemani saya berlari penuh sampai finish.

Berlari kearah Mojokerto tidak seramai dari Bali ke Surabaya. Kemungkinan karena adanya jalan tol Surabaya Mojokerto. Tetapi tetap saja panas sekali. Untungnya sejak jam 13:00 berubah mendung, dan sempat gerimis sebentar di depan pabrik Ajinomoto yang sudah dekat dengan alun alun Mojokerto.

Andai bukan karena ide GWK ke GBK, sama sekali tidak terbayang saya sampai berlari ke “telatah” Ibu Kota Kerajaan Besar Nusantara, Kerajaan Majapahit.

Diskusi di Alun -Alun Mojokerto, di alun alun Mojokerto senang sekali saya melihat teman2 komunitas Mojopahit Runners berkenalan dengan pimpinan BNN dan staf. Saya berharap muncul ide kolaborasi pencegahan narkoba di Mojokerto.

Sesudahnya diskusi di lanjutkan di Kantor BNN Mojokerto. Informasi yang disampaikan Ibu Kepala BNN Mojokerto, antara kabar kegembiraan dan keprihatinan. Satu bulan ini BNN Mojokerto berhasil melakukan operasi penindakan dengan barang bukti yang sangat material. Menyedihkannya, ternyata Mojokerto yang “hanya” 19 km persegi sudah menjadi target pasar yang penting oleh jaringan narkoba. Andai tidak tertangkap terbayang angka puluhan miliar rupiah yang dapat disedot dari Mojokerto oleh jaringan. Belum lagi kerusakan sosial kepada generasi muda dan masyarakat Mojokerto. Sangat memperihatinkan dan menggetirkan.

Dan selesai juga berlari hari ke-sembilan kami berlari dengan selamat.

#stopnarkoba #cegahnarkoba

Gatot Sudariyono

Minggu. 9 Desember 2018.

 

Hari kedelapan,

Alun-Alun Bangil – Tugu Pahlawan Surabaya

Alun-alun Bangil pagi ini terasa sejuk. Semalam hujan turun di Bangil. Telah bersiap-siap sepuluh sahabat kami dari Pasuruan Runners untuk menemani kami berlari ke Surabaya. Mereka dipimpin oleh Mas Angga – sang kapten dan Mas Pandu. Ada empat pelari andalan mereka. Mereka membawa dua motor untuk marshal  dan satu mobil kijang sebagai mobile water station support. Tampak sekali mereka bersemangat dan membuat saya cukup gentar untuk “diseret” oleh kecepatan mereka selama berlari ke Surabaya nanti .

Kami memulai start di depan Alun-Alun Bangil jam 05:00. Benar sekali saya berusaha berlari 1 jam pertama menyamai mereka. Untungnya Mak Del dan Mas Cokro mampu mengimbangi. Dan untungnya mereka berhenti di kawasan Lapindo untuk melihat danau lumpurnya.

Saya memutuskan terus berlari. Lalu lintas Sidoharjo pagi ini luar biasa padatnya. Tidak beberapa lama saya kembali disusul sebelum kami semua istirahat makan pagi di Alun-Alun Sidoharjo.

Setelah istirahat, kami melanjutkan ke Surabaya. Saya sudah tidak berlari lagi dan hanya sanggup jalan cepat sampai Carefour di pinggir Surabaya.

Sampai di sana saya melihat teman-teman sudah beristirahat untuk juga menumpang sembahyang Dzuhur. Para penyambut kami dari Surabaya, agak ge er menyebutnya sudah tiba di Carefour. Pimpinan Dinas Sosial Surabaya, ibu Yayuk dari Kemensos RI, Ibu Eva Suntoro mempin beberapa pelari dari Surabaya.

Terima kasih Carefour yang mengijinkan kami bergelatakan istirahat dihalaman depannya.

Jam 13:00 kami meneruskan berlari ke Tugu Pahlawan. Saya masih memerlukan dua jam, disamping sudah “ngaplek”, tetapi saya ada alasan lain yaitu menikmati trotoar luar biasa bagus dan lebarnya serta rindangnya. Serasa bukan Surabaya yang saya bayangkan. Luar biasa manusiawinya sebuah kota. Dan lagi setelah 7 hari melalui Kota Kabupaten, sekarang kami masuk lagi Ibu Kota Provinsi.

Saya juga berpapasan dengan para Bonek fans Persebaya. Sepertinya ada pertandingan sepakbola malam ini di Surabaya. Saya seperti serasa disambut mereka juga. Belum lagi waktu  lewat jalan Tunjungan yang sedang mempersiapkan untuk acara Car Free Night-nya. Andai tidak harus istirahat cukup malam ini, maka CFN sangat sayang untuk dilewatkan. Lain kali saya akan hadir lagi di Surabaya untuk CFN-nya.

Finish di Tugu Pahlawan sungguh membanggakan dan menggentarkan hati saya. Tugu yang menjulang ke langit, simbol kepahlawanan pemuda Surabaya di tahun 1945, memberi tenaga tersendiri untuk saya melanjutkan perlarian dihari-hari berikutnya.

Diskusi di Tugu Pahlawan Setelah finish, saya bertemu sahabat BNN Kota Suarabaya, TKSK 15 Kecamatan di Surabaya, dan rekan ITB 80 saya yang domisili di Surabaya. Satu kelompok demi satu kelompok saya diskusi pendek dengan mereka dan tentu saja berfoto bersama. Diskusi dikawasan Tugu Pahlawan walau sebentar tetapi mendalam.

Terakhir bagian yang tidak mudah adalah berpisah dengan rekan pelari dari Pasuruan Runners yang harus kembali ke Pasuruan. Berlari selama seharian memberi kenangan berarti. Terima kasih untuk semuanya. Dan berharap bisa kembali bertemu dengan mereka di event lari tahun depan.

Dan selesai juga berlari hari ke-delapan kami berlari dengan selamat.

#stopnarkoba #cegahnarkoba

Gatot Sudariyono

Sabtu, 8 Desember 2018.

 

Hari ketujuh,

Alun-Alun Probolinggo – Alun Alun Bangil.

Tidak terasa hitungan hari sudah sampai angka 7. Saat memulai di hari Sabtu, 7 hari yang lalu, saya menunggu benar tibanya hari ke tujuh ini. Berarti satu siklus dalam bentuk satu minggu sudah bisa kami kenali. Antara bersyukur dan waswas bahwa perjalananan masih jauh.

Sejujurnya terdapat perbedaan bumi dan langit, antara saat saya menyiapkan proposal kegiatan, meyakinkan tiga teman saya untuk ikut berlari, serta menawarkan untuk kampanye kepada BNN Pusat maupun Kemensos RI. Kenyataan di lapangan banyak sekali yang berbeda dan membutuhkan senantiasa penyesuaian. Salah satunya, suhu yang terus menerus panas membuat kecepatan berlari berkurang, dan lainnya.  Tetapi kegembiraan juga tidak kurang-kurang kami jumpai sepanjang tujuh hari ini.

Saya tidak akan banyak bercerita tentang perlarian hari ini. Situasinya masih sama sejak dari Kota Situbondo. Jalanan datar dan udara panas sekali. Kendaraan berat, bus dan mobil boanyaak sekali dan ngebut semua. Sehingga untuk menyeberang jalan mau membeli es buah saja, saya harus menunggu 5 menit agar lalu lintas bisa diseberangi. Kalau saya mencoba berlari si garis putih di aspal, seringnya terasa desir angin bis besar san kencang lewat. Saya merasa malaikat pelindung kami bertiga kerja keras sekali hari ini.

Hari ini hari Jumat, dan kami harus berlari sedemikian rupa untuk bisa tiba di satu mesjid sebelum sembahyang Jumat, dan langsung bisa mencari rumah makan dekat sana untuk makan siang.

Niat diatas , entah bagaimana ceritanya, terpenuhi dengan baik sekali saat kami bertemu Masjid Baiturachman di Kompleks Pabrik PT Cheil Jedang Indonesia. Kami tiba disana setelah berlari 30 km dari Probolinggo. Dan kami makan siang di warung makan diseberang jalannya bersama-sama karyawan.

Bertemu dengan Komunitas Runner Pasuruan

Menjelang finish, kami ditemani mas Pandu dari Pasuruan Runner dan teman-teman nya berlari memasuki Alun Alun Bangil. Senang sekali “disambut oleh sesama pelari”. Mereka yang besok akan menemani kami menempuh lintasan Bangil – Tugu Pahlawan Surabaya. Terbayang sudah penderitaan dan kegembiraan saya akan “ditarik” mereka yang muda-muda sebagai pacer ke Surabaya nanti.

Selain mereka sudah menunggu kembali seluruh staf BNN Kota Pasuruan. Dan lebih istimewa lagi, Bapak Erlang (Kepala BNN Pasuruan) sendiri yang mengawal kami berlari sejak Alun Alun Probolinggo hingga Alun Alun Bangil.

Menerima kebaikan dari begitu banyak sahabat yang baru bertemu di sore ini, saya merasa mendapat energi baru sekaligus melengkapi dengan manis siklus satu minggu dari GWK – GBK ini.

#stopnarkoba #cegahnarkoba

Gatot Sudariyono,

Jumat, 7 Desember 2018.

 

Hari keenam,

Pagi ini kami memulai start di depan Kantor PolSek Bungatan jam 05:00, tidak lama berlari bertemu pemandangan Pantai Bletok.

Pagi yang masih sepi di jalan raya untuk berlari, tetapi kantuk saya semalam belum benar-benar menghilang, membuat saya lebih banyak berjalan cepat. Dua teman saya berlari sangat kencang meninggalkan saya didepan.

Jalanan yang datar dengan pemandangan cantik disebelah kiri jalan kearah Kabupaten Bondowoso. Bukit nya tampak sambung menyambung dikejauhan. Sementara dikanan jalan sepenuhnya sawah. Di satu baliho besar jalan ke arah Bondowoso tertulis Welcome to Bondowoso High Land. Ingin juga kapan-kapan bisa berlari ke Bondowoso Highland.

Jalanan berganti tanjakan di Wisata Hutan Tampora. Dengan hutan bakau dikanan kirinya. Yang selanjutnya disambung dengan kawasan pembangkit tenaga listrik Paiton. Pemandangan pembangkit yang menggentarkan dengan 6 cerobong besarnya. Dimana saya sempat berpikir-pikir, jangan-jangan listrik yang ada di HP dan di powerbank saya, diproduksi disini.

Sampai di Paiton Mak Del dan Mas Cokro sudah menunggu cukup lama. Berarti saya tertinggal cukup jauh.

Perjalanan lari kearah Alun-Alun Kraksaan sangat datar dan tidak terlalu berat. Hanya saja berlari di berm jalan, membuat kerikil sering masuk ke dalam sepatu. Sehingga harus sering berhenti membuka sepatu.

Diakusi dengan teman-teman BNN Pasuruan di Alun2 Kraksaan

Setelah finish, tidak lama kemudian kami bertemu dengan 10 staf BNN Pasuruan yang dipimpin Mas Aris. Kami berdiskusi banyak hal berkaitan dengan potensi upaya kampanye pencegahan narkoba dengan kolaborasi berbagai komunitas dan berbagai event. Kali pertama ini digagas event GWK ke GBK.

Sesudah itu bagian yang paling penting bagi kami adalah adalah foto bersama. Kata Pak Aris, sengaja staf BNN Pasuruan ingin bertemu dan berfoto dengan tiga pelari GWK GBK.

Lho? Sepertinya kami di BNN sudah menjadi selebriti saja rasanya.

Dan selesai juga berlari hari ke-6 kami berlari dengan selamat.

#stopnarkoba #cegahnarkoba

Gatot Sudariyono

Kamis, 6 Desember 2018.

 

Hari kelima,

Pusat Latihan Tempur Marinir Asem Bagus sd Kantor Polsek Bungatan

Pagi ini kami memulai start di halaman depan Puslatpur Marinir. Jam menunjukan 4:30. Kami berangkat dari penginapan jam 04:00. Tetapi jangan dibayangkan seperti di Jakarta. Waktu diatas sudah cukup terang. Dibelakang kami ratusan siswa pendidikan sedang melakukan kegiatan berlari sambil menyanyi lagu-lagu pasukan. Masing-maisng regu dengan lagunya sendiri. Sangat instansi militer sekali suasana pagi itu.

Dengan berlatar belakang suara bersemangat mereka kami memulai berlari setelah dua bendera start dikibarkan oleh komandan perwira jaga dan Bpk Anang dari BNN Kabupaten Lumajang.

Berlari menyusuri jalan raya Asembagus sampai Kota Situbondo sangat datar. Sepanjang jalan sudah dipenuhi baliho dan spanduk para caleg dapil Situbondo. Rupanya di Situbondo pasar politik sudah bergairah.

Bayangan matahari pagi yang mengenai tubuh kami mulai dari sangat panjang sampai akhirnya memendek saat jam 10:00 pagi. Dan tentu saja suhu mulai memanas. Hal ini karena arah lintasan bergerak tepat kearah barat. Sampai kami di alun-alun Asembagus, terus tiba ke kota Situbondo, kami sudah menempuh jarak 36km.

Sepanjang jalan di kanan kiri tumbuh pohon asem besar. Dimana diameternya lebih dari tiga bentangan tangan laki-laki besar. Dari sini mungkin nama kecamatan Asembagus diambil.

Di Situbondo kami istirahat makan siang dan meneruskan kearah Kecamata  Panarukan. Pemandangan keluar Panarukan sangat cantik. Laut di sisi kanan dan gunung disisi kiri. Monumen besar dibuat disebelah kiri untuk menandakan jarak 1000km dari Panarukan ke Anyer. Luar biasa Daendles membangun jalan Pos ini sepanjang itu. Untungya kami tidak perlu sampai ke Anyer, dan hanya cukup berlari sampai Jakarta saja.

Jalanan tetap datar, matahari sore tidak terlalu terik karena mendung tebal mendadak berkumpul di langit Situbondo. Tepat jam 16:30 kami finish di Kantor Polsek Bungatan Pasir Putih dan hujan mulai turun. Sambutan yang sangat bersahabat.

Sosialisasi Pencegahan Narkoba oleh BNN di Wisma Bhayangkara

Dari tempat finish kami ke Wisma Bayangkara di Pasir Putih. Disana sudah terkumpul 30 warga didekat lokasi  wisata Pantai Pasir Putih. Mereka diundang oleh BNN untuk mendapat sosialisasi tentang bahaya Narkoba dan pencegahannya. Utamanya adalah melawan para pengedar di daerah wisata.

Menjelang maghrib, selesai sudah rangkaian penjelasan dari BNN diakhiri foto bersama.

Dan selesai juga berlari hari ke-lima kami berlari dengan selamat.

#stopnarkoba #cegahnarkoba

Gatot Sudariyono

Rabu, 5 Desember 2018.

 

Hari keempat,

Ketapang – Pusat Latihan Tempur Asem Bagus

Memulai lari pagi ini di Pelabuhan Ketapang dengan sedikit pengalaman ganjil. Kami yang 3 hari terbiasa dengan waktu di Bali. sekarang sudah di Pulau Jawa dimana waktunya maju satu jam. Kami sepakat akan berlari jam 05:00 seperti 3 hari di Bali. Dan ternyata saat itu di Ketapang sudah terang benderang.

Kami berlari berempat, Mas Wildan (22) pelari ultra dari Banyuwangi akan turut berlari untuk etape ini saja.

Sesampainya di Watu Dodol, sahabat saya Dr Taufik Hidayat (Direktur RSUD Banyuwangi) menyusul. Untuk itu dilakukan lagi prosesi mengibarkan bendera start yang dikibarkan oleh Dr Taufik. Mirip seperti kemarin di Desa Budheng oleh Bapak Kades.

Dr Taufik Hidayat buat saya adalah salah satu mutiara Banyuwangi. Saya menghabiskan 3 jam, tadi malam ngobrol. Dan saya ijin menilai, kira-kira kalau lemari baju saya penuh oleh aneka baju lama, maka lemari bajunya dr Taufik penuh diisi aneka piagam pengakuan prestasi ybs sebagai Direktur sebuah Rumah Sakit Umum milik Kabupaten Banyuwangi. Perlu satu tulisan tersendiri untuk menerangkan semua pencapaiannya.

Sungguh kebanggaan dan keharuan sendiri pagi itu kami dilepas berlari oleh dr Taufik.

Selepas Watu Dodol hari mulai panas terik. Dua puluh enam km kami berlari dengan langit biru pekat seperti warna air Selat Bali. Saya belum pernah memperhatikan saat langit siang tanpa ada sepotong awanpun. Artinya di langit hanya ada matahari sendirian.

Karenanya, sebentar-sebentar saya harus buka sepatu dan kaos kaki karena telapak sudah mulai panas. Ini saya lakukan supaya tidak ada bahgian kaki dan telapak yang melepuh. Sementara satu bongkah es yang saya beli diwarung, saya letakan di tengkuk dan dengan cepat menguap. Paling tidak ini mencegah dari Heat Strock. Sungguh udara Banyuwangi yang terik dan panas.

Memasuki perbatasan Kabupaten Situbondo, kami berlari melewati hutan jati Taman Nasional Baluran. Di kanan kiri pohon jati tinggi dan sdh mulai berdaun lagi. Sebenarnya jika berada disana, kita akan merasakan keindahan pemandangan dan kekaguman akan luasnya sebuah taman Nasional. Tetapi lintasan yang hanya ada mobil, bus dan truck ngebut, tanpa ada penduduk, jalan menanjak terus menerus sepanjang 16km dan udara sangat panas sekali, saran saya, ini lintasan memang sangat “enak” untuk dipakai latihan berlari.

Dengan kondisi medan seperti diatas, kami berempat berlari tercecer. Mas Cokro dan Wildan bisa “nyaman” dan melesat satu jam didepan saya dan Mak Del. Kelihatan usia kami yang menjadi sebabnya.

Dan akhirnya jam 16:30 saya tiba juga di Pustlatpur.

Sosialisasi Pencegahan Narkoba oleh BNN di Puslatpur. Sore itu di aula terbuka Puslatpur sdh terkumpul 100 warga desa binaan disekitar Puslatpur. Mereka diundang oleh Puslatpur untuk mendapat sosialisasi tentang bahaya Narkoba dan pencegahannya. Tiga staf BNN Kabupaten Lumajang memberi presentasi. Pada saat saya tiba disana sedang berlangsung tanya jawab. Saya menyaksikan pertanyaan yang antusias dari peserta kepada BNN. Sesudahnya saya diminta untuk juga menyampaikan cerita Kampanye Berlari Anti Narkoba yang lamanya sebulan. Saya masih menggunakan pakaian “dinas” pelari jauh saat bercerita tentang Kampanye dan Berlari. Dan alkisah mereka ingin sekali mendapat juga cerita harian saya kedepan. Satu peserta menyampaikan no WA nya untuk mewakili menerima cerita dan foto berlari kami.

Sungguh kerja sama yang membanggakan antara pihak BNN Kabupaten Lumajang dan Puslatpur yang mengundang penduduk untuk bersama-sama memahami bahaya Narkoba.

Menjelang maghrib, selesai sudah rangkaian penjelasan dari BNN, dan selesai juga berlari hari ke-4 dengan selamat.

#stopnarkoba #cegahnarkoba

Gatot Sudariyono

Selasa, 4 Desember 2018.

 

Hari ketiga,

sopo kang wis nate

tindak menyang bali

pulo dewata endah

ngelami-ngelami

putra-putri pada sesaji ing puri

kekembangan matur

ka dewa kang suci

( Bali – Koes Plus, Pop Jawa Vol 1, 1974).

Kami meninggalkan Bali sore ini setelah selesai hari ke tiga berlari antara Pasar Yehembang hingga Gilimanuk.

Kami tadi pagi mulai berlari jam 05:30 dari Pasar Yehembang. Jalanan masih sepi membuat berlari serasa nyaman. Dari rumah di kanan kiri jalan besar keluar satu persatu pelajar SMP yang akan berangkat sekolah dengan menunggu angkutan umum. Saya membayangkan mereka-lah yang kelak akan menjadi penerus masa depan Bali dan Indonesia.

Sementara petugas kepolisian sudah bertugas mengamankan semua simpang jalan yang ada.

Desa Budheng – Desa Bebas Narkoba

Jam 08:00 kami tiba di Negara dan sudah ditunggu rombongan Bapak Ketut dari BNN Provinsi untuk bersama-sama menuju Desa Budheng. Lokasi berjarak 2 km dari jalan raya Denpasar – Gilimanuk.

Desa Budheng desa luar biasa, dimana seluruh komponen desa sudah berikrar untuk menjadikan desanya bebas narkoba. Kami mengobrol dengan Kepala Desa Bapak I Putu Libra Setikawan dan jajarannya yang menerima kami. Kepala Desa adalah pemimpin yang dipilih langsung rakyat desa untuk 6 tahun. Saat ini adalah periode pertamanya.

Segera saya mendapat keterangan bagaimana Desa Budheng mengikrarkan sebagai desa bebas narkoba. Dengan penduduk berjumlah 1900 orang, Bapak kades kenal satu persatu warganya. Dan juga memiliki kesempatan berinteraksi dengan untuk menyampaikan bahayanya narkoba. Pengguna akan menjadi beban bagi keluarga dan desa, begitu salah satu pesannya. Berbagai sarana digunakan untuk menyampaikan pesan, seperti melalui dhalang pertunjukan wayang kulit yang digelar oleh desa. Sebagai desa administratif, Bapak Kades memilih pendekatan persuasif dan kebapakan untuk menjaga warganya dari bahaya narkoba. Sementara beberapa desa adat dapat menggunakan perarem sebagai aturan desa dengan sangsi sosial untuk mencegah narkoba.

Dan yang lebih menarik, lagi-lagi Bapak Kades hafal penduduk nya memiliki smartphone dan juga sosial media mereka, seperti facebook. Dan lagi-lagi sarana ini digunakan dengan baik untuk menyampaikan berbagai pesan kepada warganya. Salah satu pesannya secara reguler adalah kewaspadaan akan narkoba.

Bapak Kades sudah kerap sekali diundang sebagai nara sumber untuk urusan pencegahan narkoba. Dan BNN Pusat juga pernah mengundangnya Jakarta.

Bali dan Turisme Global

Bali – mengutip lagu Koes Plus diatas – sebagai provinsi dengan ekonomi andalannya adalah turisme internasional, dapat dibayangkan bagaimana berbagai ancaman produk sampingannya. Terbayang peran BNN Provinsi Bali dan terbayang inisiatif dalam sekala Desa Budheng.

Semoga semua upaya diatas dapat menjaga Pulau Bali dimasa kini dan masa depan. Bali yang terus berjaya di industri pariwisata tetapi aman dan ancaman perusakan akibat narkoba bagi warganya.

Selesai satu jam bincang-bincang, saya dan dua teman pari berfoto bersama dengan semua jajaran staf kantor desa. Yang lebih membanggakan, kami dilepas Bapak Kades dan Bapak Ketut dengan kibaran bendera start didepan kantor desa. Walaupun start kami, untuk hari ini sudah bermula 17 km sebelumnya.

Terima kasih pencerahannya kepada BNN Provinsi Bali dan Bapak Kades Budheng, Kabupaten Jembarna.

Negara – Gilimanuk

Sisa – jarak menuju Gilimanuk, ternyata tidak juga mudah. Panas terik menunggu kami berlari. Setelah tangan dan muka dapat diselamatkan dengan sun cream, ternyata betis saya terlupa. Dan terasa perih terbakar matahari dari arah belakang.

Lintasan ternyata masih turun naik walaupun jalanan dekat dengan pantai. Sedikit agak menyenangkan di lintasan Taman Nasional Bali Barat. Jalanan yang rindang dan matahari sudah sore, membuat nyaman untuk berlari agak cepat.

Kami mengakhiri berlari jam 16:00 disimpang tiga Gilimanuk dan Singaraja. Dan dengan ferry kami menuju Ketapang.

Selesai sudah berlari hari ketiga dengan selamat.

#stopnarkoba #cegahnarkoba

Gatot Sudariyono

Senin, 3 Desember 2018.

 

Hari kedua,

Denpasar moon, shining on an empty street

I returned to the place we used to meet

Denpasar moon, shine your light and let me see

That my love is still waiting there for me

( Denpasar Moon – Maribeth)

Lagu diatas yang paling cepat mengingatkan saya pada Kota Denpasar. Walaupun saat ini di Denpasar belum lagi saatnya bulan purnama. Tadi pagi kami jam 05:00 meninggalkan Denpasar untuk start lari hari kedua di titik Finish kemarin sore di Tabanan.

Di tempat start sudah menunggu Mas Udayana, sahabat saya saat kuliah di Jurusan Mesin ITB dulu. Saat ini sudah pensiun dan memutuskan kembali ke Tabanan Bali. Jam 06:30 dengan bendera Start dikibarkan Mas Udayana, dan kami bertiga berlari kearah Negara. Senang hati saya atas kesempatan bertemu sahabat lama dalam suasana yang diluar dugaan kami berdua.

Dua jam pertama saya hanya bisa berjalan cepat. Sisa pegal semalam belum hilang benar.

Setelahnya saya mulai bisa kecepatan jogging. Matahari berubah terik sekali. Membuat lari kembali melambat.

Di tengah jalan kami bertemu dengan rombongan Kang Hendra Wijaya yang sdh berlari dari sejak tanggal 18 November lalu dari Bogor menuju Lombok. Saya kebetulan hadir saat Kang Hendra start didepan Balai Kota Bogor. Tema lari Kang Hendra berkaitan dengan bencana alam di Lombok dan Palu yaitu Run to Rebuild Hope. Rombongan lari Kang Hendra luar biasa dahsyat. Didepan sekali satu mobil PJR. Dibelakangnya Kang Hendra dengan sekitar 20 orang dari komunitas pelari dan 20 orang dari polisi bersama-sama berlari. Baru dibelakangnya beberapa mobil support Kang Hendra. Benar-benar rombongan yang luar biasa.

Menuju Negara walaupun menyusuri pantai ternyata tidak berarti lintasannya landai. Yang ada justru turun naik dan kadang-kadang meliuk. Hadiahnya adalah pemandangan laut Selat Bali yang terlihat dari sejak Pantai Soka hingga Pantai Sembilih. Bahkan saya sempat istirahat makan siang dan tertidur di balai-balai milik restaurannya. Dari jauh terlihat ombak bergulung panjang. Angin pantai yang semilir dingin mempermudah lelap.

Menyusuri lintasan ke Negara sesudahnya di warnai pemandangan sawah berundak di sebelah kanan. Sekaligus lintasan yang turun naik lagi. Tetapi mendung sejak jam 14:00 membuat saya berlari agak cepat lagi.

Lalu lintas nya sangat ramai dengan bis dan truck yang menuju Gilimanuk yang rata-rata bekecepatan tinggi. Menjadikan berlari dibagian aspal di kiri jalan bisa berbahaya. Seringnya saya harus berlari dibagian tanah jika mendengar dari belakang suara truck atau bis mendekat. Menjadi pelari jauh sepertinya harus tahu berbagai suara mobil besar dan hukum Dopler juga.

Akhirnya jam 17:00, kami memutuskan finish di depan Pasar Yehembang di Kecamatan Mendoya dan berjarak masih 15 km dari Negara.

Selesai sudah kami berlari hari kedua dengan selamat.

#stopnarkoba #cegahnarkoba

Gatot Sudariyono

Negara, 2 Desember 2018.

 

Hari pertama,

“Perjalanan seribu mil selalu dimulai dengan langkah pertama”.

Pagi jam 05:00 di kawasan depan pintu masuk GWK (Garuda Wisnu Kencana) masih gelap. Telah berkumpul sekitar 75 staf BNN Provinsi Bali, Dinsos Provinsi Bali, Kemensos RI, dan saya serta dua rekan saya pelari.

Tepat 05:30 setelah menyanyikan Indonesia Raya, Berdoa dan sambutan yang menggentarkan hati saya dari Kepala BNN Provinsi Bali, Direktur Rehab Napza Kemensos RI dan sahabat saya Bang Demer Linggih – Anggauta DPR RI Dapil Bali. Upaya besar mencegah, memberantas narkoba dan merehab korban Narkoba jelas tidak bisa dikerjakan satu dua instansi. Maka “bersatu-nya” seluruh elemen dan komponen bangsa adalah keharusan mutlak untuk keberhasilan upaya mencegah ancaman besar bangsa dari Narkoba. Demikian disampaikan dari BNN dan juga Kemensos. Bersamaan benar dengan Tema event ini yaitu: Berlari. Bersatu. Berantas Narkoba.

Yang menarik adalah yang disampaikan Bang Demer yang memaknai tempat start di GWK yg mempunyai nilai spiritual dan GBK (Gelora Bung Karno) yang mempunyai sifat duniawi, karenanya upaya pemberantasan memerlukan semangat spiritual untuk mengatasi berbagai masalah duniawi yang diakibatkan narkoba. Perspektif ini akan menjadi energi saya pribadi membawa misi berlari ini.

Sementara di tengah upaya besar berbagai instansi pemerintah, saya dan teman saya pelari hanya bisa membantu dengan dua lutut kami masing-masing.

Mereka berempat akhirnya mengibarkan 4 bendera start untuk saya dan dua teman saya Mak Del dan Mas Cokro para pelari AKAP ( Antar Kota Antar Provinsi). Bayangkan prosesinya seperti kalau kami mengikuti event race marathon yang pesertanya puluhan ribu.

Pagi tadi, pagi yang lama kami tunggu sejak saya ingin menggagas event ini beberapa tahun lalu. Dan tibalah langkah pertama untuk rencana jarak 1500km – an. Seperti kata pepatah diatas, semua harus dimulai dengan langkah pertamanya.

Saya ditemani selama 10 km, lebih dari 25 staf BNN Provinsi Bali yang dipimpin Bapak Kepala BNN Provinsi Bali, Bapak Putu sendiri menuju arah Lapangan Renon Denpasar. Luar biasa sekali rasanya berlari paling depan sambil menikmati pemandangan pagi hari saat dua pasar di Jimbaran sudah sangat sibuk berkatifitas. Dan jarak sisanya menuju Lapangan Renon melewati indahnya pemandangan jalan-jalan By Pass menuju Sanur yang indah. Pemandangan yang hanya saya nikmati sekelebat jika naik kendaraan, tetapi pagi ini dengan berlari menjadi lebih detail.

Jam 09:30 tiba di Lapangan Renon sudah menunggu di sana mobil dan staf BNN Kota Denpasar, Ikatan Alumni ITB Provinsi Bali, pengurus FKPPI Provinsi Bali serta Rivano sahabat pelari saya dengan beberapa rekan pelari dari Denpasar.

Apa selanjutnya yang terjadi? Sudah pasti berfoto dengan semua yang hadir. Dan akhirnya diselesaikan di Bubur Ayam dan Kupat Tahu yang lezat di rumah makan “Pak Lik” di depan Pintu Selatan Lapangan Renon.

Perjalanan lanjutan terpaksa baru bisa dimulai jam 11:00 menuju arah Kota Tabanan. Hari berganti hujan deras menuju Terminal Ubung. Dan diganti panas terik dari Terminal Ubung ke arah Denpasar Utara, Kab. Badung dan akhirnya di Kota Tabanan. Jarak yang kami tempuh baru 55km tetapi waktu sudah menunjukan jam 16:30.

Jalanan dengan lalu lintas yang ramai antara Denpasar – Tabanan menjadi satu tantangan sendiri untuk ekstra hati-hati. Belum lagi jalan tanjakan dan turunan harus juga dinikmati dengan senyum. Tetapi semua terbayar dengan berbagai toko patung baru di sekitar Mengwi. Dan tentu saja aneka baliho dari para caleg berbagai tingakatan dan partai sudah terpampang disepanjang jalan.

Jadi hari pertama kami akhiri dengan menempuh jarak tersebut dan kurang sekitar 14 km dari rencana semula finish di Pantai Soka. Besok dan hari Senin jarak yang kurang akan kami selesaikan sebelum akhirnya menyeberang ke Bali.

Hari ini saya merasa semua berlangsung lancar. Dua teman saya juga menyelesaikan berlari tanpa ada kesulitan.

Tentu saja, semua berkat dukungan pihak-pihak yang membantu di lokasi dan tentu saja doa dari jauh sahabat semua kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.

#stopnarkoba #cegahnarkoba

Gatot Sudariyono

Denpasar, 1 Desember 2018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here